
Mama Amel masih saja mengomel dan menyusul sang anak ke kamarnya. Arya yang masih merasakan sakit di sekujur badannya pun merasa kesal karena sang Ibu terus saja berceloteh hingga telinganya berasa mendengung.
Ma, kalau Mama kesini cuma mau ngomel mending Mama keluar aja! Pusing Arya denger omelan Mama yang mirip terompet bolong!"
"Kurang ajar ya kamu Arya! Kamu samain Mama sama terompet bolong!"
"Ma, please! Mama pergi dulu deh! Biarin Arya sendiri dulu dan istirahat. Apa Mama mau Arya mati karena dengerin ocehan Mama yang ga ada habisnya?"
"CK! Ya udah dech Mama keluar. Tapi setelah ini kamu harus nurut sama omongan Mama. Kalau nggak kamu beneran anak durhaka! Mama kutuk kamu jadi abu gosok!"
"Hemmmm, ya sudah Mama pergi dulu sana! Arya mau tidur!"
Mama Amel pun bergegas keluar dari kamar Arya. Namun, baru saja kakinya sampai di depan pintu kamar Arya dan baru saja menutup nya, wanita itu sudah kembali berteriak. Kali ini dia memanggil Vina, sang menantu yang tidak ia sukai.
"Ada apa sih, Ma? Telingaku nggak tuli, Ma!"
"Dasar mantu kurang ajar! Dipanggil bukannya jawab yang baik ini malah ngelawan! Lama-lama ngelunjak kamu ya! Ini nih! Kalau si Rendra terlalu belain istrinya, ye begini jadinya! Besar kepala!"
"Kan Mama duluan yang manggil aku sambil teriak, kok aku balas agak ketus Mama marah? Ada apa sih Ma?"
"Kamu belanja ayam sekilo, daging sekilo, udang sekilo! Jangan lupa brokoli sama kembang kol! Mama mau bikin sayur capcay udang, rendang, sama ayam kecap!"
Kening Vina berkerut, "Banyak amat, Ma? Mau ada tamu agung rupanya?"
"Gak usah banyak tanya! Bukan urusan kamu! Cepet berangkat!"
"CK, ya sudah! Mana uangnya?" Vina menadahkan tangannya pada Mama Amel yang di balas dengan pelototan tajam dari Mama Amel.
"Kok minta sama Mama! Pakai uang mu!"
"Loh, yang mau belanja kan mama! Ya pake uang Mama lah, kok pake uang Vina! Gimana ceritanya?"
"Heh! Dasar menantu pelit! Kamu tinggal disini itu kan numpang! Sudah seharusnya segala keperluan rumah tangga seperti belanja ya kamu yang tanggung dong! Lagian yang kamu pakai itu uang si Rendra, anakku!"
Vina tersenyum kecut mendengar ucapan mertuanya yang menurutnya sangat tidak punya otak itu.
"Mamah mertuaku, yang paling cantik dan cettaar sejagat raya, gini yaaah! Memberi tempat tinggal yang layak buat Vina itu sudah tanggung jawab Mas Rendra sebagai suami Vina. Jadi, kalau Vina tinggal di sini dan Mama anggap menumpang, kenapa nggak Mama katakan saja pada Mas Rendra? Biar dia bawa
Vina keluar dari rumah ini biar kita ngontram sendiri! Aku ada disini karena aku ikut suami aku! Jadi yaaa, bukan aku yang numpang tapi suami aku! Kan sudah kewajiban dia buat ngasih aku tempat yang layak! Dan soal kebutuhan di rumah ini, bukannya setiap bulan aku yang bayar listrik dan WiFi di rumah ini? Hampir sejuta looh tiap bulannya. Belum lagi setelah Mas Rendra gajian! Aku selalu membelikan beras, minyak, gula, kopi dan juga telur. Dan masih banyak lagi! Apa semua itu belum cukup Ma? Apa maunya Mama aku menanggung semua beban hidup Mama, begitu?"
"Maaf, Ma! Aku bukan menantu bodoh seperti itu. Kalau Mama berani kenapa nggak Mama katakan langsung sama Mas Rendra. Jadi kesimpulannya, kalau Mama mau makan enak di luar jatah yang jumlahnya aku dan Mas Rendra sudah sepakati, yaa ..mama kasihlah uang sama aku! Kan tiap bulan aku sama mas Rendra sudah ngasih jatah uang bulanan sebanyak dua juta. Itu juga duit lhoo Ma! Bukan uang mainan atau sobekan kertas aja."
Panjang lebar Vina mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini ia pendam. Entah kekuatan darimana dia bisa melawan Mama Amel. Karena biasanya ia hanya akan diam ketika dicerca dan di maki. Mungkin, karena kemarin dia melihat Nissa dengan begitu beraninya melawan sang mertua ketika ia mengancam akan membatalkan pernikahan.
Vina pikir, Nissa akan maju dan menuruti Mama Amel. Namun, nyatanya ia salah besar! Nissa lebih rela melepaskan manusia toxic macam Arya dan Mama Amel daripada mempertahankan demi satu kata cinta.
"Hah! Udah sana! Udah gak mood aku buat masak. Mending aku pesan dari restoran aja! Lagian masakan kamu nggak enak!"
"Gak enak tapi kok selalu menghabiskan lauk di meja makan kalau aku habis masak!"
Mama Amel mengentak kakinya, kini Vina sudah bisa membantahnya. Sedangkan Vina terkikik geli melihat mertuanya pergi dengan perasaan kesal.
"Ternyata melawan itu enak juga ya, hati rasanya plong, kenapa ngga dari dulu aja ya aku tegas begini," batin Vina yang langsung masuk ke kamar.
...*****...
__ADS_1
Tok,tok, tok....
"Arya, buka pintunya Ar!" Suara Mama Amel yang mengetuk pintu kamar Arya terdengar di telinga pria yang baru putus dengan Nissa itu.
Tok, tok, tok ...
"Arya, bangun Ar! Ada tamu penting yang mau ketemu sama kamu!"
"Duh, apaan sih Ma, aku masih ngantuk ini!"
"Buka dulu pintunya! Itu ada yang mau ketemu sama kamu!"
"CK, siapa sih?"
"Buka dulu! Nanti kamu juga tahu!"
Arya dengan malas akhirnya membuka mata
dan berjalan menuju pintu kamarnya, dia memutar kunci lalu membuka pintunya.
"Ada apa sih Ma? Kan udah aku bilang, biarkan aku tidur lebih dulu! Aku nih capek, Ma! Badanku sakit semua!"
"Ar! Dengerin Mama dulu, itu di luar ada teman Mama dan anaknya yang datang. Kebetulan katanya di kantor sepupunya ada Lowongan buat staf HRD gitu!"
Seketika, mata Arya yang terpejam langsung terbuka.
"Lowongan staf HRD ya Ma?"
"Iya! Makanya Mama bangunin kamu. Sana gih, kamu temuin dulu tamunya sekalian kenalan. Siapa tahu jodoh kan? Kamu tahu nggak? temen Mama ini dari keluarga kaya loh! Anaknya juga cantik, gak kalah cantik sama Nissa, Mama yakin kamu pasti suka."
"Ck, ayolah! Kapan lagi ada kesempatan kan? Sana, cuci muka dan gosok gigi dulu, mulutmu bau kandang sapi! Udah sana buruan, Mama tungguin di depan."
"Iya, iya Ma!"
Arya pun berlalu meninggalkan Mama Amel kemudian masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya.
Melihat Arya yang sudah masuk ke kamar mandi, Mama Amel kembali ke depan menemui tamunya yang tidak lain adalah teman dekatnya semasa SMA dulu.
Terjadi perbincangan hangat di antara mereka, hingga tak lama kemudian Arya datang dengan memakai celana jeans sebatas lutut, dan kaos lengan pendek warna coklat yang sesuai dengan warna kulitnya. Kedatangan Arya menyita perhatian perempuan yang bernama Indri, anak dari teman Mama Amel. Pandangannya terus tertuju pada Arya, yang artinya ada ketertarikan dari Indri. Ekspresi Indri pun di tangkap oleh Mama Amel dan Mamanya Indri, membuat kedua mama itu saling berpandangan dan melempar senyum.
"Indri, ini anak Tante. Namanya Arya," ucap Mama Amel memperkenalkan putranya yang sudah berdiri disebelahnya. Arya gegas mengulurkan tangan memperkenalkan diri pada tamu Mama Amel.
"Lumayan juga nih cewek! Meski nggak secantik Nissa tapi wanita karir juga. Jika nanti kami berjodoh dan sudah menikah setidaknya dia tidak merepotkan ku dalam urusan keuangan," batin Arya ketika bersalaman dengan Indri.
Melihat pemandangan itu, dua orang dewasa itu kembali saling berpandangan dan melempar senyum.
"Ehm," Arya berdehem, membuat Indri terkesiap dan melepaskan tangannya dari tangan Arya.
Terlihat Indri gugup, namun segera dia menutupi kegugupannya dengan merapikan helaian rambut yang sebenarnya masih sangat rapi itu.
Arya segera duduk di sofa yang ada di samping Mamanya.
"Arya! Ini anak gadisnya temen Mama. Cantik kan?"
Arya hanya menganggukkan kepalanya, namun hal itu berhasil membuat wajah Indri menghangat dan dua pipinya memerah.
__ADS_1
Obrolan basa basi pun mulai terdengar, hingga akhirnya Mama Amel menanyakan perihal pekerjaan yang tadi dikatakan Indri.
"Oh, iya In. Tadi kata kamu ada lowongan untuk staf HRD di kantor kamu kan, apa menurut kamu tampang Arya ini masuk dalam kriteria?" Tanya Mama Amel.
"Tentu bisa Tante, kan kata tante Mas Arya ini sudah berpengalaman dan sebelumnya sudah menjabat sebagai supervisor. Kalau memang Mas Arya pengen coba kerja di sana bisa saja Nanti biar Indri yang bantu buat masuk, dijamin 99,99% bakalan lolos dan diterima kerja. Soalnya, perusahaan itu milik sepupu Indri. Jadi bukan hal sulit buat Indri bawa masuk seseorang buat kerja di sana," ucap Indri tanpa ragu sedikitpun.
Sontak saja ucapan Indri membuat Arya dan Mamanya saling berpandangan penuh arti, kemudian keduanya kembali menatap Indri.
"Kalau boleh tahu, apa Mas Arya sudah lama resign dari tempat kerja yang dulu?"
Wajah Arya yang semula nampak biasa saja, kini berubah menjadi sedih. Tentu saja itu hanya pura-pura.
"Sebenarnya aku bukan keluar sendiri, lebih tepatnya aku dipecat."
Jawaban Arya membuat kening Indri berkerut, pasalnya jika seorang karyawan di pecat, itu artinya dia sudah membuat kesalahan besar.
"Dipecat kenapa? Apa melakukan kesalahan yang fatal?"
Pertanyaan beruntun keluar dari mulut Indri. Tanpa sadar keduanya kini semakin dekat dan tidak ada lagi rasa canggung di antara mereka. Melihat situasi yang sudah mencair, Arya mengajak Indri untuk mengobrol di teras untuk berbincang berdua saja, dengan alasan kurang nyaman jika bicara di depan dua wanita dewasa.
Mama Amel dan sahabatnya hanya geleng-geleng kepala sambil mengulas senyum mereka. Mereka merasa lega karena tidak butuh waktu lama untuk Indri san Arya dekat.
Ajakan Arya pun disambut oleh Indri, nampak gadis itu berdiri dari tempatnya duduk lalu melangkah menuju ke arah depan.
Arya berjalan di belakang Indri menuju teras rumah. Nampak gadis itu duduk di sebuah kursi yang memang ada di teras depan. Arya pun segera duduk di kursi yang ada di samping Indri.
"Sebenarnya gak ada masalah hingga aku dipecat dari perusahaan, padahal aku sudah lama bekerja di sana."
"Pasti ada alasannya kan Mas sampai kamu dipecat? Tidak mungkin perusahan melakukan pemecatan begitu saja. Apa kamu melakukan kesalahan fatal?"
"Aah, memangnya wajahku ini ada tampang laki-laki nggak beres gitu?" protes Arya..
"Nggak gitu, maksudnya. Maaf, mungkin tadi aku salah bicara, maaf ya Mas!"
"Sebenarnya alasan kenapa aku sampai di pecat itu karena aku membatalkan rencana pernikahan kami secara sepihak, dan dia tidak terima hal itu."
Indri nampak mengerutkan kening. "Memang wanita itu di posisi apa? Kok bisa main pecat begitu saja?"
"Dia pemilik perusahaan tempat aku bekerja."
"Oh." respon Indri singkat.
"Kalau kamu mau dengar aku bisa menjelaskan alasan kenapa aku sampai membatalkan rencana pernikahan itu begitu saja agar kamu tidak berpikiran buruk sama aku. Dia ketahuan selingkuh, tentu saja sebagai lelaki aku tidak terima. Itu sama saja mencabik-cabik harga diriku sebagai lelaki." Arya menjeda ucapannya. Terlihat dia mengambil nafas dalam-dalam lalu dia keluarkan secara perlahan seolah lelaki itu mengeluarkan rasa sesak yang luar biasa.
"Siapa yang sudi menikah dengan orang yang suka selingkuh? Bukankah lebih baik di akhiri daripada nanti pernikahan itu hanya makan hati." ucap Arya.
Tak butuh waktu lama untuk Indri mengerti dan bisa menarik kesimpulan saat ini, ternyata pemikirannya tentang Arya tadi salah.
"Ya, karena itulah aku di pecat. Sebab aku membatalkan pernikahan karena dia selingkuh." Arya tersenyum miris. "Jika dia profesional, pasti tidak akan mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Apalagi sebelumnya akupun sudah lama bekerja di sana."
Arya pun semakin mengeluarkan kesedihannya. Tanpa sadar tangan Indri mengukur menyentuh pundak Arya lalu memberikan tepukan bebera kali. Berniat untuk memberikan ketenangan pada Arya.
"Maaf, tadi aku sempat berfikiran buruk tentangmu. Kamu sabar saja ya, pasti ada hikmah di balik semua peristiwa ini. Kalau memang begitu, buat saja lamarannya. Nanti aku bantu masuk kesana. Aku yakin kamu pasti bisa masuk ke perusahaan sepupu ku. Perusahaan yang tidak lagi diragukan kualitas nya."
"Buktikan pada mantan kekasihmu itu, jika kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih bagus dari tempat yang sebelumnya. Buktikan, tanpa bekerja disana sekalipun kalian masih mampu bertahan hidup dan tetap bahagia. Dan yang paling penting, segera cari pengganti. Biar dia nyesel menduakan lelaki setampan kamu."
__ADS_1