Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Menghajar Arya


__ADS_3

Tangan Arya terulur meminta pertolongan pada Nissa. Tapi wanita itu acuh, bahkan tersenyum miris karena ternyata pria yang pernah dicintainya tak lebih dari seorang bajingan tengik. Nissa pun bergegas keluar dari ruangannya. Ia tinggalkan tubuh Arya yang masih tergeletak di lantai tanpa berniat membantu pria itu sedikitpun.


BRAAAAKKKK


Nissa membuka dengan keras pintu ruangannya hingga membentur dinding hingga membuat sekretaris nya yang duduk di dekat pintu terkejut.


"Bu Nissa? Ada apa?"


"Mana Sisil?"


"Emmm, Bu Sisil sedang menemui klien di luar kantor Bu,"


"Indah! Cepat kamu kamu panggilkan security kesini!"


"B-baik Bu!"


Karena melihat wajah kacau Nissa, Indah paham kalau bosnya itu sedang tidak baik-baik saja. Ia bergegas bangkit dan memanggil security di bawah. Panik yang mendera membuat dia lupa kalau ia hanya perlu menelepon sja maka security akan datang.


Ya, terkadang panik memang bisa membuat kita menjadi seorang yang sangat bodoh. Tidak lama kemudian Indah sudah kembali dengan dua orang security yang mengekor di belakangnya.


"Bu, ini security nya."


"Indah, bukankah kamu bisa memanggil mereka lewat telepon? Kenapa kamu turun ke bawah?"


"Eh, hehehe. Maaf Bu, habis saya panik pas lihat Ibu tampak kacau," Indah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya udah, kamu boleh kembali ke meja kamu!"


Indah pun mengangguk menanggapi perintah Nissa.


"Kalian berdua ikut saya masuk!" titah Nissa pada kedua security yang masih menunggu perintahnya itu.


"Baik, Bu!"


Kedua security yang bernama Hakim dan Rahmat terkejut ketika mendapati sosok Arya yang masih tergeletak sambil memegangi perutnya.


Keduanya saling melempar pandangan penuh tanya. Namun, keduanya tidak ada yang berani buka mulut bertanya pada Nissa.


"Kalian berdua berdirikan laki-laki itu, lalu dudukkan dia di kursi itu!" ucap Nissa sambil menunjuk kursi kosong yang tak jauh dari dirinya berdiri.


Tanpa menunggu apapun lagi, Pak Hakim dan Pak Rahmat segara melakukan apa yang Nissa perintahkan. Setelah Arya didudukkan dengan susah payah karena tubuhnya terasa berat, Nissa pun mendekat dan menatap tajam pria itu.


"Kalian silahkan tunggu di depan, tapi jangan tutup pintunya supaya kalian bisa dengar suara saya kalau terjadi apa-apa."


"Baik, Bu!"


Hakim dan Rahmat segera keluar dari ruang kerja Nissa dan menunggu di depan pintu ruangan wanita cantik itu.


"Apa maumu sebenarnya, Mas? Sepertinya kita perlu bicara dari hati ke hati!"


Kali ini Nissa sengaja tidak pakai otot, karena ia ingin membuat kesepakatan dengan pria itu. Ia lelah menghadapi kegilaan Arya karena bukan tidak mungkin lelaki itu esok akan kembali berulah.


Dilaporkan ke polisi pun rasanya percuma, karena CCTV di ruangannya mati, jadi dia tidak punya bukti. Sedangkan Nissa tidak sampai kehilangan kehormatannya. Namun, bukan berarti suatu saat Arya tidak akan kembali berulah bukan?


"A-aku hanya ingin kembali denganmu. Aku mencintaimu, Nis." Arya menjawab terengah-engah sambil meringis karena merasakan sakit di area perut dan dadanya.

__ADS_1


Nissa tersenyum sinis mendengar jawaban Arya. "Cinta??? Cinta uangku dan hartaku, maksudmu?"


"B-bukan Nis, aku mencintaimu. Aku tidak bohong, semua itu ide Mama Nis! Aku sebenarnya nggak pernah setuju sama ide Mama itu. Tapi mau gimana lagi, Mama itu orang tua aku. Aku hanya takut jadi anak durhaka, Nis!"


"Ya sudah kalau begitu, aku bebaskan kamu meneruskan baktimu pada Mamamu. Aku tidak akan menggangunya sedikitpun. Tapi, tentu saja aku mundur dari hubungan gak sehat ini. Karena aku baru tahu, ternyata Mamamu bersikap baik padaku selama ini hanya karena aku berharta. Seandainya aku tidak punya apa-apa, apakah Mamamu masih akan merestui hubungan kita? Kurasa tidak! Contohnya kakak iparmu, Mbak Vina. Dia diperlakukan sangat buruk oleh Mamamu, Mas! Dan aku tidak mau suatu saat aku juga mengalami hal seperti itu!"


Arya meluruhkan tubuhnya ke bawah, bersimpuh di kaki Nissa. Ia memegang kaki wanita yang pernah jadi calon istrinya itu.


"Please Nis, berikan aku kesempatan kedua. Aku janji tidak akan lagi mendengarkan ucapan Mama. Aku memang salah, tapi tolong berikan aku kesempatan kedua, Nis!"


"Maaf, Mas! Sayangnya, aku tidak bisa, hatiku sudah mati untukmu semenjak kamu dan Mamamu menghina dan mencaci maki aku karena aku tidak bisa menuruti permintaan kalian yang di luar nalar! Tidak ada kamusnya, pihak wanita dimintai mahar! Walaupun dengan alasan sebagai balas budi untuk seorang Ibu yang telah merawat anak laki-lakinya. Karena bagiku dan keluargaku, merawat anak adalah mutlak kewajiban orang tua. Seorang anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan, tapi orang tualah yang menginginkan kehadiran seorang anak. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini, karena aku tidak mau berada dalam lingkaran keluarga toxic macam keluarga kamu, Mas! Baru menjadi tunangan kamu saja, Mamamu sudah berani minta hal di luar nalar. Apalagi setelah kita menikah? Bisa-bisa aku terus dirong-rong hingga harta ku dan keluargaku habis. Apa itu yang kalian mau?"


"Enggak, Nis! Aku benar-benar cinta sama kamu! Please, jangan pernah putuskan hubungan ini!"


"Maaf, Mas! Aku nggak bisa, Aku nggak mau rumah tangga ku kelak akan hancur akibat ulah Mama kamu. Karena aku nggak yakin kamu akan membelaku di depan Mamamu. Sudahlah, Mas! Kita memang tidak berjodoh. Lebih baik, kamu cari saja pengganti ku, turutilah Mamamu. Cari penggantiku yang lebih segalanya dariku. Yang pastinya, bisa kalian jadikan mesin pencetak uang buat Mamamu. Sekarang kamu tanda tangan disini!"


Nissa menyerahkan selembar kertas kosong bermaterai dan bolpoin pada Arya karena Nissa selalu menyediakan kertas kosong dan materai di laci meja kerjanya.


Kening Arya berkerut saat Nissa menyerahkan kertas itu. "Untuk apa ini, Nis?"


Untuk membuat surat perjanjian. Tenang saja, isinya tidak akan merugikan kamu, Mas! Aku hanya akan membuat perjanjian yang usianya bahwa kamu, tidak akan menggangguku lagi Mas! Jika itu terjadi, maka aku akan melaporkan kamu ke polisi. Sebenarnya sekarang pun aku bisa melaporkan kamu ke polisi dengan bukti CCTV yang ada di ruanganku ini. Kamu tidak lupa kan, kalau ruang kerjaku ada CCTV nya??"


Tentu saja Nissa bohong, karena Nissa sendiri yang minta CCTV ruang kerjanya di nonaktifkan karena Nissa ingin privasi. Dan hal itu tidak banyak orang yang tahu, hanya Nissa, teknisi kepercayaannya , dan beberapa karyawan serta security terpercaya saja yang tahu hal itu.


"Tapi, Nis..."


"Cepat tanda tangan, Mas? Atau kamu mau aku lapir polisi dan kamu digelandang dua security yang berjaga di depan itu?"


Arya sontak menggeleng.


Dengan ragu, Arya mengambil bolpoin yang diberikan Nissa. Otak Arya menyuruh segara menandatangani, namun hatinya menolak! Bagaimanapun juga, lelaki itu tidak rela jika dia kehilangan sosok wanita yang sempurna seperti Nissa.


Cantik, wanita karir, dan berasal dari kalangan atas.


"Cepat, Mas!"


Arya masih diam, dia benar-benar tidak mau menandatangani kertas perjanjian itu. Melihat hal itu, emosi Nissa kembali meluap.


"Kamu pikir aku hanya menggertak mu saja dan bermain-main dengan ancaman ku? Oke! Kamu lihat saja, aku serius atau main-main!" Ucap Nissa begitu tegas. Arya menatap sayu ke arah wajah cantik itu.


"Pak Hakim, Pak Rahmat! Kalian masuk!" titah Nissa.


"Nis, semua bisa dibicarakan baik-baik. Nggak perlu pakai emosi seperti ini," Arya mengiba.


Nissa terdiam, sedikitpun dia tak berniat merespon ucapan Arya. Hingga tak lama terdengar suara derit pintu yang terbuka.


Dua security itu berjalan mendekat ke arah Nissa, dan berhenti tepat di depan Nissa duduk.


"Pak Rahmat, segera buka CCTV dan simpan file kejadian mulai 20 menit yang lalu. Dan pak Hakim, telepon polisi dan minta segera kemari."


Nissa memerintah dengan nada tegas.


Pak Rahmat hendak menjawab ucapan Nissa mengingatkan CCTV yang rusak. Nissa yang seolah tahu apa yang akan dikatakan Pak Rahmat segera memberikan kode dengan mengedipkan mata, hanya mereka saja yang bisa mengartikan.


"Baik, Bu!" ucap dua security itu serempak. Namun saat dia security itu akan melangkah, tiba-tiba Arya bersuara, "Jangan Nis. Oke, aku tandatangani, tapi tolong hentikan mereka!"

__ADS_1


Dengan cepat Arya membubuhkan tandatangan nya, dalam keadaan seperti inipun lelaki ini masih berfikir licik.


"Kalau aku masuk penjara, aku nggak akan bisa bujuk Nissa lagi. Baiklah, aku akan mengalah untuk saat ini!" batin Arya.


Melihat Arya sudah melakukan apa ia minta, seulas senyum tipis terukir di wajah cantik itu.


"Pak Hakim, Pak Rahmat. Berhenti!"


Serempak, langkah keduanya berhenti dan kembali berdiri di samping Nissa duduk.


Setelah Nissa mendapatkan tandatangan Arya, wanita itu gegas mengambil kertas yang masih ada di tangan Arya lalu beranjak dari tempatnya duduk dan melangkah menuju meja kerjanya untuk menyimpan kertas itu di laci meja kerjanya.


Setelah urusan surat perjanjian itu selesai, Nissa mendekat ke arah Arya. Jika tadi dia tak jijik duduk satu sofa dengan lelaki itu, berbanding terbalik dengan saat ini. Nissa berjalan ke arah belakang sofa yang diduduki Arya.


Dengan cepat Nissa menjambak rambut Arya hingga dia mendongak. "Pak Hakim, Pak Rahmat! Ingat baik-baik wajah lelaki bajingan ini! Jangan pernah sekalipun mengijinkan dia masuk ke wilayah kantor apalagi masuk ker ruangan saya! Jika lelaki ini kekeh atau memaksa, patahkan saja kakinya!" titah Nissa tegas membuat Arya menelan salivanya dengan susah.


Sungguh, ini adalah kali pertama Arya melihat sisi lain seorang Nissa. Aryabtidak menyangka jika Nissa adalah wanita yang begitu tega dan kejam. Namun meski demikian, tidak membuat niat Arya mendapatkan Nissa berkurang sedikitpun. Ambisi untuk hidup kaya dan bergelimang harta tanpa perlu susah payah bekerja lebih besar daripada ketakutan melihat sisi kejam Nissa.


"Baik Bu!" jawab dua security itu serempak. Mereka mulai menebak-nebak apa yang terjadi pada dua manusia dewasa itu mengingat berita pernikahan keduanya yang sudah menggema ke seluruh karyawan yang ada di kantor ini.


"Seret dia keluar!" Nissa melepaskan jambakannya sembari memberikan sedikit dorongan. Karena keadaan arya yang sudah melemah membuat tubuhnya tersungkur meski hanya dengan sebuah dorongan ringan. Untung saja ada meja yang menahan, hingga hanya benturan antara kepala dan meja saja yang terdengar.


Nissa ingin sekali tertawa, tapi dia tahu ini bukan saat yang tepat. Dan itu membuat sudut bibir Nissa berkedut karena menahan tawa yang akan meledak.


Mendapatkan perintah dari bos besar, kedua security itu bergegas membawa tubuh Arya keluar. Di sepanjang perjalanan, Arya yang dalam kondisi berantakan dan diseret security membuatnya menjadi pusat perhatian semua karyawan yang melihatnya.


Kasak kusuk terdengar hingga siapapun yang melihat kejadian itu memberikan kesimpulan jika hubungan sang pemilik perusahaan dengan Arya telah berakhir.


...*****...


Dengan kecepatan sedang, Arya mengendarai motor maticnya dengan pelan. Keadaannya tidak memungkinkan jika memacu motor dengan kecepatan tinggi. Hal itu tentuembuat waktu tempuh jadi lebih lama.


Puluhan menit berlalu, kini roda dua itu sudah masuk halaman rumah Mama Amel. Mama Amel yang sebelum Arya pergi tengah duduk di kursi ruang tamu bahkan hingga kini masih di sana hanya menoleh melihat kedatangan Arya melalui jendela kaca, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya bermain ponsel.


Arya bergerak turun dari motor lalu segara melangkah masuk ke rumah. Langkahnya yang terseok kembali menyita perhatian Mama Amel.


"Kamu kenapa, Arya?"


Arya mengurungkan niatnya yang semula akan masuk kamar. Lelaki itu lantas mendudukkan dirinya di kursi sebelah Mama Amel. Tubuhnya bersandar, sedangkan tangan nya terus memegangi area perut, membuat kening Mama Amel berkerut.


"Arya baru aja dihajar habis-habisan sama Nissa, Ma!" ucap Arya dengan suara lemah.


Mama Amel terperangah, seorang wanita mengalahkan laki-laki? Lelucon macam apa? Begitulah batin Mama Amel saat ini.


"Rasanya ada sebagian usus Arya yang pecah karena Nissa tadi menginjak dengan heels yang tinggi dan runcing."


"Astaga Arya,...lelaki macam apa kamu ini bisa kalah sama wanita?" ejek Mama Amel.


"Masalahnya Nissa ini bukan wanita biasa, Ma," ucap arya membela diri.


"Kalau bukan manusia biasa terus apa? Siluman? Atau hasil persilangan dua hantu yang berbeda?"


"Ma, jangan bercanda gitu dong! Nissa itu dulu pernah ikut taekwondo Ma, dan Arya tadi samsekali tidak ingat."


Mama Amel mendesah, kemudian ia menyuruh sang putra masuk kamar untuk istirahat.

__ADS_1


"Makanya, kalau dikasih tahu itu jangan ngeyel! Sudah dibilangin lupakan saja Nissa dan cari aja mangsa baru yang lebih bisa dibohongi dan dirayu. Kalau sudah begini kan kamu sendiri yang ngerasain sakitnya."


__ADS_2