Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Papa Nando


__ADS_3

"Heh Nissa, Tante kayak gitu itu karena Tante perhatian sama kamu! Karena Tante menganggap kamu saudara, kalau tante cuek dan nggak tanya soal itu sama kamu itu artinya Tante nggak sayang dan nggak menganggap kamu sebagai saudara Tante!" ucap Tante Gina membela diri. Dia tak terima ucapan nya di sanggah oleh Nissa.


"Kalau Nissa lebih milih di cuekin aja sih, Tan. Tante tengah aja, nggak udah julid nanya-nanya kenapa Nissa belum nikah. Nanti kalau Nissa nikah, bakal ngasih kabar kok ke semua saudara. Yang penting sekarang, tante kumpulin duit buat beli kado nanti pas Nissa nikah, minimal rubicon lah ya.... atau mah ngasih Nissa rumah mewah. Dengan senang hati Nissa bakal nerima hadiah kiriman dari tante!" jawab Nissa.


"Kalau soal batal nikah, wajar lah, Tan! Namanya juga nggak cocok. Nggak mungkinkan dipaksakan. Mending bubar dan pindah sebelum nikah daripada nanti setelah menikah cerai! Rugi dong Nissa! Hehehe... " imbuh Nissa.


"Nah, bener nih kata Nissa. Kami orang tuanya saja nggak keberatan kok Nissa batalin pernikahan nya karena dia memang punya balasan yang kuat, terus kenapa kamu yang jadi ribet, Gin?" tanya Mama Amel.


"Dasar emak sama anak sama-sama sombong. Nggak pernah mau dengerin nasehat dari orang lain. Harusnya kamu mikir lho Nis, kenapa kamu nggak nikah-nikah, bisa jadi itu karna buat kamu karena membatalkan pernikahan!"


"Lhoooo, Gin. Jangan salah, kritik, nasehat dan menghina itu beda lhoo!" Mama Imelda angkat bicara.


Nampak wajah Tante Gina yang semakin kesal hingga wanita itu pergi sambil menghentakkan kakinya mirip dengan anak kecil yang tidak diperbolehkan ibunya membeli gula-gula.


...*******...


"Sudah siap semua, Bi?"


"Sudah, Bu."


Lalu wanita itu mengecek hidangan yang ada di meja makan. Dadanya begitu sesak saat melihat ada menu favorit Indri. Putri kesayangannya, ingatan saat Indri sakit dan tidak nafsu makan. Anaknya itu hanya mau dibuatkan udang goreng mentega yang di makan tanpa nasi. Bahkan meski tidak sakit dan saat makan ada menu tersebut, maka Indri akan mengambil udang goreng mentega sebagai lauk dan juga sayuran lainnya.


Tanpa sadar tangan Mama Sofie terulur menyentuh menu favorit Indri tersebut, namun suara Indri yang menghardik nya berkali-kali demi membela lelaki yang saat ini jadi suami nya, kembali berputar dalam ingatannya. Lalu ia menarik tangannya dari sepiring udang goreng mentega yang tersaji di atas meja makan.


Wanita itu terlihat menarik nafas panjang klau menghembuskan perlahan hingga degup jantung nya kembali berdetak normal. Setelah itu Mama Sofie berjalan ke arah kamar.

__ADS_1


Perlahan Mama Sofie membuka pintu kamar. Lalu terlihat Papa Nando yang sedang terbaring di atas ranjang.


"Pa, makan dulu yuk!" ajak Mama Sofie setelah ada di samping Papa Nando.


"Belum lapar Ma, Mama aja dukun yang makan ya!" jawab Papa Nando sambil memejamkan mata.


"Belum lapar gimana, Pa? Siang tadi Papa juga belum makan Lho! Sarapan tadi Papa juga cuma makan roti aja! Papa lagi sakit?" tanya Mama Sofie sambil meraba kening Papa Nando.


"Papa baik-baik saja Ma, cuma lagi nggak nafsu makan aja!" jawab Papa Nando sambil. membuka mata dan menatap sayu pada Mama Sofie.


Mama Sofie mengerutkan kening karena tidak biasa Papa Nando seperti ini. Bahkan saat sakit, suaminya ini selalu memaksakan untuk makan meski hanya sedikit dan lidahnya terasa pahit. Tanpa banyak bicara, Mama Sofie keluar dari kamar mengambilkan makanan untuk sang suami.


Wanita itu kembali lagi ke kamar dengan membawa nampan uang berisi sepiring makanan untuk suaminya dengan lauk lengkap dan juga segelas air putih.


"Makan yuk, Pa! Sini, biar Mama suapin!" ucap Mama Sofie sambil duduk di sebelah Papa Nando.


"Pa, Papa harus jaga kesehatan. Papa jangan seperti ini! Yuk makan, Mama suapin Papa." ucap Mama Sofie masih berusaha membujuk suaminya agar mau makan meski hanya sedikit. Setidaknya ada yang masuk kedalam perutnya.


Karena Mama Sofie terus memaksa, akhirnya Papa Nando mau makan meski hanya lima suapan saja. Tapi itu sudah lumayan daripada perutnya kosong.


Mama Sofie meletakkan piring bekas makan Papa Nando di nakas dekat tempat tidur. "Papa mikirin apa sih?" tanyanya.


Papa Nando mengalihkan pandangan ke arah lain, lelaki itu menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Menurut Papa, tindakan kita ke Indri itu berlebihan atau nggak ya Pa?"

__ADS_1


Pertanyaan dari Mama Sofie menyita perhatian Papa Nando. Lelaki itu kembali menatap Mama Sofie.


"Kalau ditanya tega apa nggak, Papa juga nggak tega. Tapi mau bagaimana lagi? Semua ini kan juga buat kebaikan Indri! Papa benar-benar tidak rela jika apa yang Indri miliki dari jaman belum menikah dimanfaatkan oleh suami dan Mama mertua nya yang gila harta dan pengeretan itu! Meskipun itu cuma seribu perak, Ma!"


Mama Sofie terdiam, sebenarnya dia membenarkan dan menyetujui sikap yang diambil suaminya itu. Tapi, ketika melihat kondisi Indri, Mama Sofie merasakan kasihan dan tidak tega.


"Ma, Papa nggak tahu sampai kapan batas umur kita di dunia ini. Papa juga nggak tahu kapan Papa akan dipanggil kembali oleh Sang Pencipta. Tapi, selagi Papa masih hidup, sebisa mungkin Papa akan menyelamatkan masa depan Indri. Papa yakin, meski kita meng balikan semua aset Indri pasti suatu saat suaminya itu akan mencampakkan dirinya setelah uangnya habis." Papa Nando menghela nafasnya dalam.


"Mumpung semua belum terjadi, Papa lakuin hal itu. Seandainya nanti Papa lebih dulu dipanggil sang Pencipta. Papa titip Indri ya, Ma!


Mama jangan pernah lembek dan menyerah pada Indri meski dia memohon dan mengiba untuk mengembalikan semua hartanya. Mama boleh mengembalikan semuanya saat Indri benar-benar terlepas dari keluarga benalu itu."


Deg!


Seketika jantung Mama Sofie berhenti berdetak. Perasaannya menjadi tidak enak setelah mendengar penuturan suaminya itu.


"Papa ngomong apa sih? Kita semua bakal panjang umur, Pa! Kita akan menjadi bersama dan menyaksikan tumbuh kembang cucu kita. Jadi, Mama minta Papa jangan ngomong yang nggak-ngak ya.!" ucap Mama Sofie meninggalkan Papa Nando. Meski pada kenyataannya, Mama Sofie merasa anek dengan ucapan sang suami.


"Ma, usia manusia itu tidak ada yang tahu. Bisa jadi esok, lusa, atau entah kapan waktu nya Mama akan dipanggil menghadap yang kuasa. Sungguh, Papa akan merasa sangat tenang jika Mama bisa melakukan apa yang Papa minta tadi!"


"Pa.... " suara Mama sofie bergetar menahan tangis meski sudah ada setetes air mata dari sudut matanya.


"Kenapa Mama menangis? Maaf kalau ada ucapan Papa yang salah," ucap Papa Nando sambil menghapus air mata Mama Sofie yang mengalir di pipi wanita yang sudah menemaninya selama ini.


"Jangan pernah berucap seperti itu lagi Pa! Mama mohon, Mama akan selalu menuntut janji yang dulu Papa ikrarkan. Kita akan hidup dan menua bersama." Mama Sofie menghambur memeluk tubuh suaminya yang kembali terbaring di ranjang.

__ADS_1


"Mama tidak mau lagi mendengar Papa bicara seperti itu! Berjanjilah kita akan menua bersama. Menyaksikan anak dan cucu kita hidup bahagia. Berjanjilah, Pa!" ucap Mama Sofie sambil terus terisak di pelukan suaminya.


__ADS_2