
"Vina dengan Mama itu sangat berbeda. Rendra dengan Papa juga beda. Kalau Papa meninggalkan buruk, Rendra nggak mau Vina merasakan apa yang dulu Mama rasakan."
Jleb.....
Ucapan Rendra seperti belati yang menusuk dada Mama Amel.
"Kamu ini dibilangin orang tua kok nge... "
"Sudah Ma ya, Rendra lagi sibuk. Nanti kalau Rendra bisa kasik uang, Rendra bakal kabari. Tapi kalau Rendra nggak kasih kabar, berati Rendra nggak bisa kirim uangnya. Ya sudah, Rendra matikan telepon nya. Assalamu'alaikum."
"Eh, Ren... tunggu dong!"
Panggilan dimatikan begitu saja oleh Rendra meski dia mendengar dengan jelas kata-kata terakhir Mamanya.
Mama Amel hanya bisa mendesah, kini kepalanya semakin berdenyut nyeri. Wanita itu meremas ponsel yang ada di tangannya. Memikirkan bagaimana caranya dia bisa membayar cicilan yang jumlahnya tidak kecil itu.
Sedangkan di seberang sana, Rendra sedang terdiam. Lelaki itu mencoba menata pikirannya. Tidak bisa dia pungkiri, Kata-kata Mamanya tentang kehamilan sangat mengganggu pikirannya.
Jarum jam pun terus berputar. Hingga tiba saat jam istirahat. Seperti biasanya, saat istirahat pria itu akan memakan bekal dari istrinya.
Rendra menyuapkan nasi yang sudah dia campur dengan sayur asam, sambal terasi dan juga telur balado.
Masakan itu terasa sangat lezat di lidah Rendra, membuatnya sangat lahap saat memakan bekalnya itu. Hingga tak lama, bekal itupun habis tak bersisa sedikitpun.
Setelah menghabiskan bekal makan siangnya, Rendra menghubungi istri tercintanya, Vina.
"Assalamu'alaikum, Mas." suara lembut sang istri terdengar dari seberang sana saat sambungan telepon terhubung. Dada Rendra terasa berdesir. Entahlah, sejak tahu sang istri tengah hamil, rasa cintanya bertambah berkali-kali lipat. Setiap jam dia merasa sangat merindukan istrinya itu.
"Waalaikum salam, Sayang. Kamu lagi apa? Sudah makan belum, hem?"
"Sudah," jawab Vina singkat.
"Yang, Mama tadi telepon. Mama minta uang lagi, katanya uang yang kemarin Mas kasih hilang di jalan. Katanya sih gara-gara lupa nutup dompet. Katanya butuh dua juta, tapi Mas sudah bilang kalau nggak ada."
"Terus?"
__ADS_1
"Ya, Mas bilang cuma bisa ngasih lima ratus ribu aja. Itupun juga Mas nunggu persetujuan dari kamu. Kalau kamu izinkan ya Mas transfer, kalau enggak ya nggak jadi."
"Misalkan, Mas ngasih Mama lima ratus ribu. Terus, Mas apa masih ada pegangan? Soalnya uang Mas kasih ke aku kan buat belanja sama periksa kandungan nanti."
"Masih ada, Yang. Niatnya tadi emang mau pakai uang jatah transportasi Mas tanpa mengurangi uang belanja kamu. Tapi, bagaimanapun kan Mas harus ijin dulu sama kamu." jelas Rendra.
"Ya sudah, kalau Mas ada ya kirim saja. Tapi, aku kok ngerasa kalau itu cuma alasan Mama aja ya, Mas."
"Mas juga berpikir seperti itu, tapi mau bagaimana lagi. Kalau nggak di kasih, Mas juga kasihan sama Mama. Maaf ya, sayang. Sampai sekarang Mama masih saja merepotkan," ucap Rendra.
Bagaimana pun juga lelaki itu merasa tidak enak pada sang istri. Sebab, dari awal menikah saja keluarga sang istri tidak pernah merecoki rumah tangga mereka.
"Iya sudah, Mas kirim saja yang lima ratus ribu itu, nggak papa."
"Makasih ya sayang," ucap Rendra.
"Iya, Mas."
Setelah beberapa menit ngobrol dengan istrinya, akhirnya panggilan itupun dimatikan. Kini Rendra membuka aplikasi M-banking miliknya. Ia kembali mentransfer uang sebesar lima ratus ribu untuk Mamanya.
Pemberitahuan itu muncul sesaat setelah dia melakukan transaksi. Gegas, Rendra menghubungi nomor sang Mama.
"Ma, sudah Rendra transfer ya."
"Berapa? Dua juta?"
Rendra berdecak, "Kan tadi Rendra sudah bilang kalau segitu Rendra nggak bisa bantu. Seperti yang Rendra katakan tadi, Rendra cuma bisa bantu lima ratus ribu saja."
"Ish, istrimu itu emang pelitnya minta ampun.
Udah tahu lagi hamil, bukannya baik-baikin mertua biar di doakan yang baik. Malah kayak gitu."
"Ma, kalau istri Rendra bukan Vina, sudah bisa dipastikan kalau Mama nggak akan pernah dapat uang dari Rendra sama sekali. Bahkan kalau Rendra yang jadi Vina, Rendra pasti sudah memutuskan tali silaturahmi."
"Belain aja terus istri kamu itu, biar makin besar kepalanya. Lihat saja nanti, kalau kamu terus-terusan manjain istri kamu, membela dia. Pasti lama kelamaan kamu bakal di injak-injak olehnya."
__ADS_1
"Astagfirullah, Ma.... Ma... Mama itu sudah semakin tua, bukannya belajar mengontrol dan melembutkan tutur kata, malah semakin menjadi. Rendra jadi heran sama Mama." ujar Rendra sambil meraup udara banyak-banyak.
"Apa Mama nggak pengen, di masa tua Mama nanti, hidup Mama dikelilingi oleh anak dan cucu Mama. Kalau Mama terus seperti ini, bisa Rendra pastikan Mama akan kesepian. Siapa sih yang mau hidup dengan orang yang tiap ucapannya selalu menyakitkan hati."
Baru selesai bicara, sambungan telepon itu di putuskan oleh Mama Amel.
Rendra menjauhkan ponsel dari telinganya. Dilihatnya layar ponsel yang kembali gelap. Dan ternyata panggilan itu telah terputus.
Rendra hanya bisa menggeleng sambil menarik nafas dalam-dalam kemudian dia keluarkan perlahan.
...*****...
"Hah, sialan!! Punya anak, punya kerjaan tetap juga nggak berguna. Menyesal aku sudah membesarkan dia dengan penuh kasih sayang. Tahu begini, bagusnya aku masukin lagi ke dalam perut! Eh, nggak mungkin ya. Memang lagi-lagi cuma Arya yang setia sama aku. Yang selalu nurut sama aku. Nggak kayak kedua kakaknya yang durhaka itu."
Mama Amel terus saja menggerutu, pasalnya dia bingung bagaimana caranya mendapatkan uang lebih dari satu juta untuk membayar cicilan tersebut beserta bunganya dan juga denda karena terlambat bayar.
"Haaah, kepalaku pusing! Bagaimana ini. Dua hari lagi Bu Arini datang dan meminta uangnya. Mana Arya belum pulang lagi. Akh, sial.... emang kalau dia pulang bisa apa. Dia kan nggak punya uang, kerjaan aja belum dapat. Mana sekarang dia pergi entah kemana lagi."
Mama Amel berjalan mondar mandir tidak jelas. Ia berpikir keras bagaimana caranya mendapatkan uang hingga akhirnya dia mendesah karena tidak menemukan ide satupun.
"Apa aku harus menjual perhiasanku ya? Perhiasan memang banyak sih, tapi kan aku pakai ganti-ganti kalau pas arisan. Bisa malu aku kalau pakai perhiasan yang itu-itu saja. Haaah... pusing.... pusiiiiing...!"
Akhirnya Mama Amel masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya karena kepalanya terasa berdenyut nyeri. Hingga tanpa terasa dia ketiduran.
Sementara itu, Arya yang sedang mencari angin segar, sedang nongkrong di cafe yang ada ditengah kota. Lelaki itu berharap mendapat ide untuk melanjutkan hidup ke depannya.
Satu gelas es cappucino sudah dia nikmati setengahnya. Sisa setengah lagi kemudian akan habis. Tapi lelaki itu belum juga menemukan ide yang sekiranya bisa membuat masa depannya cerah. Tangannya terus mengaduk hingga matanya memicing saat melihat seseorang yang sangat dia kenali.
"Indri.... "
Yah, wanita itu datang seorang diri dan duduk di salah satu kursi yang menghadap keluar. Jadi dia tidak bisa melihat Arya.
"Indri? sedang apa dia disini? Ah, tentu saja untuk minum, kenapa aku jadi bodoh sekali. Tapi, aku dan dia kan belum resmi bercerai,tapi gayanya seperti wanita lajang saja. Kesana kemari tebar kecantikan. Aaah, sepertinya tiba-tiba aku punya ide."
#ide apa lagi upil biawak?????
__ADS_1