
"Sudah siap?" tanya Rendra pada Vina saat dia sudah duduk di jok bagian depan.
"Sudah, Mas. Ayo!"
Sedetik kemudian terdengar deru suara mesin motor. Hingga tak lama kemudian kendaraan roda dua itu bergerak perlahan keluar dari halaman rumah dan melewati pintu gerbang yang menjulang tinggi. Setelah itu, Rendra menambah laju kendaraannya. Di sepanjang jalan, sepasang suami istri itu membicarakan Mama Amel dan Arya yang tingkahnya di luar nalar.
"Aku bersyukur Mas, meskipun kamu anak kandung Mama dan juga kakaknya Arya. Tapi kamu memiliki sifat yang sangat jauh berbeda dari mereka." ucap Vina.
Mendengar pujian dari istrinya membuat Rendra jadi melambung tinggi. "Meski pernah tinggal din rahim yang sama, belum tentu akan memiliki sifat yang sama, Sayang." jawab Rendra.
"Iya, Mas. Kamu benar."
Suasana jadi hening, Rendra pun menambah kecepatan laju motornya. Hingga tak berselang lama mereka sampai di rumah kontrakan mereka. Tapi saat turun dari motor, tiba-tiba saja kepala Vina berdenyut nyeri. Bahkan tidak hanya itu, pandangan wanita itu terasa berkunang-kunang. Karena takut jatuh, dia akhirnya duduk di teras sambil memijat kening dengan kedua tangannya.
Rendra yang tak sengaja melihat Vina pun segera turun dari motornya dan bergegas menghampiri sangat istri. Dia terkejut saat melihat wajah Vina yang pucat, hal itu membuat Rendra sangat khawatir.
"Vin, kamu kenapa?" tanya Rendra saat tubuh Vina semakin lemas dan wajahnya tampak bertambah pucat. Kedua mata wanita itu tampak terpejam karena menahan rasa sakit yang kini menyerang.
"Kepalaku pusing, Mas," jawab Vina lirih.
"Kita masuk dulu, yuk! Kamu pasti lelah, karena beberapa hari ini kita banyak melakukan perjalanan dan mengurus banyak hal."
Rendra membantu istrinya itu berdiri. Namun belum sempat wanita itu berdiri sempurna, tiba-tiba Vina pingsan, dan itu membuat Rendra semakin khawatir dengan kondisi istrinya.
"Vin, bangun Sayang," ucap Rendra berusaha membangunkan Vina sambil menepuk kedua pipi Vina bergantian.
Rendra yang merasa kalut dan khawatir sampai tidak tahu harus melakukan apa. Namun saat Rendra terus berusaha membangunkan istrinya, seorang tetangga lewat melintasi mereka dengan berjalan kaki.
"Mas Rendra, itu mbak Vina kenapa?" tanya tetangga itu sambil berjalan mendekat ke arah Rendra.
"Pingsan, Mbak. Gimana ini?"
"Kita bawa ke klinik saja, Mas. Ayo, biar saya bantu pegang Mbak Vina dari belakang. Kalau dibonceng sendiri pasti jatuh, itu wajahnya sudah pucat sekali. Kasihan Mas. Secara bawa berobat saja sebelum terlambat."
Rendra mengangguk cepat, begitu tubuh Vina ditahan oleh tetangga nya itu, Rendra segera menyiapkan motornya. Kemudian dia orang itu saling membantu menaikkan Vina ke atas motor dalam keadaan lemas karena pingsan.
__ADS_1
"Terimakasih ya, Mbak, bantuannya. Tadi saya khawatir sampai-sampai tidak bisa berpikir harus apa," ucap Rendra.
"Sama-sama, Mas. Namanya tetangga kan harus saling bantu." jawab tetangga itu.
Vina memang memiliki kepribadian yang baik dan mudah bergaul. Itu sebabnya dia mudah dekat dengan tetangga sekitar rumah kontrakan mereka. Oleh sebab itu, Vina bisa dekat dengan para tetangga. Selain itu, Rendra dan Vina juga suka membantu tetangga sekitarnya, jadi hal itu membuat tetangga dengan mudahnya dan tidak merasa keberatan untuk membantu Rendra saat kesulitan seperti saat ini.
Saat ini, mereka berdua ada di ruang periksa dokter menemani Vina. Dan saat dokter melakukan tugasnya, Vina terbangun dari pingsannya. Wanita itu tampak mengerjapkan matanya berkali-kali karena pandangannya yang masih sedikit buram. Hingga tak lama kemudian, matanya terbuka sempurna.
"Alhamdulillah, akhirnya sadar juga. Ada yang dikeluhkan Bu?"
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga, Vin. Kamu kenapa tiba-tiba pingsan, Sayang? Muka kamu juga pucat, padahal tadi kan baik-baik saja. Kamu benar-benar membuat aku khawatir, Sayang." ucap Rendra saat mendengar ucapan dokter tadi. Ia yang semula duduk di depan meja dokter segera melangkah mendekat ke arah Vina yang terbaring di atas ranjang.
"Kepala saya pusing sekali, Dok."
"Sebenarnya istri saya sakit apa ya, Dok? Tadi dia baik-baik saja?"
"Kemungkinan saat ini istri anda sedang hamil, Pak. Lebih baik langsung di tes saja untuk memastikan kehamilannya,"
Vina dan Rendra nampak terkejut mendengar ucapan dokter itu. Bahkan kedua bibirnya menganga lalu saling berpandangan.
"Iya, silahkan di tes dulu ya, Bu Vina. Cukup ditampung saja urine nya, ini wadahnya." ucap dokter itu sambil menyerahkan satu wadah kecil. "Nanti langsung saja dibawa kesini, biar saya sendiri yang melakukan tes nya."
Vina hanya mengangguk saja.
"Pak, tolong ditemani istrinya ya. Takutnya nanti pingsan lagi."
"Baik, Dok."
Rendra kemudian membantu Vina turun dari brankar. Keduanya melangkah keluar dari ruang pemeriksaan menuju ke toilet. Tak lupa mereka membawa wadah penampung urine yang diberikan dokter tadi.
"Kamu benar-benar hamil, Vin? Kenapa kamu nggak ngomong sama, Mas?" tanya Rendra sambil tangannya tetap memegang pundak Vina. Rendra memapah istrinya untuk berjalan ke toilet.
"Aku juga nggak tahu, Mas. Bukan ini aku memang telat haid dua minggu. Tapi ini sudah biasa terjadi, tiap bulan aku selalu terlambat. Tapi saat di tes hasilnya selalu negatif."
Hingga akhirnya sepasang suami istri itu sudah sampai di depan toilet.
__ADS_1
"Aku bisa masuk sendiri, Mas."
"Tapi kalau ada apa-apa langsung panggil ya," ucap Rendra dan Vina mengangguk.
Rendra pun melepaskan tangannya dari pundak Vina. Membiarkan istrinya itu untuk masuk ke kamar mandi seorang diri. Namun, baru saja Vina menutup pintu, tiba-tiba saja Vina kembali membukanya.
"Ada apa, Sayang? Apa kamu merasa pusing lagi?" Rendra menatap Vina.
"Mas, misalkan nanti ternyata aku nggak hamil,.... ngak papa kan?" tanya Vina sambil berkaca-kaca.
"Nggak papa, Sayang! Memangnya pernah aku mempermasalahkan ini? Enggak kan? Sudah, jangan terlalu memikirkan hal ini. Mas memang berharap kamu benar-benar hamil, tapi jika belum pun Mas tidak apa-apa. Percayalah."
Tes...
Setitik air jatuh dari sudut mata wanita berwajah pucat tersebut. Tak bisa dipungkiri, mendengar perkataan suaminya itu dia merasakan sesak dan haru yang bercampur menjadi satu.
Di satu sisi, dia senang dan bangga dengan ketegaran suaminya selama ini. Namun di lain sisi dia juga merasa sedih karena belum bisa memberikan keturunan untuk suaminya di usia pernikahan yang terbilang tidak sebentar itu.
"Sana masuk. Kasihan nanti dokternya nunggu lama. Apapun yang terjadi, hamil ataupun tidak, yakinlah jika itu yang terbaik."
Vina menganggukkan kepala lalu kembali masuk ke dalam toilet dan segera melakukan apa yang diucapkan oleh dokter tadi.
"Ini, Dok!"
"Baik, silahkan ditunggu sebentar ya," ucap dokter itu tersenyum.
Vina dan Rendra mengangguk kompak.
"Semoga, apa yang dikatakan dokter tadi benar ya, Mbak. Ada janin yang saat ini tinggal dan tumbuh di rahim Mbak Vina." ucap tetangga mereka.
"Aamiin." jawab Rendra dan Vina kompak meng- Amin kan sebait doa tulus dari tetangga mereka yang masih setia menemani hingga saat ini.
Jantung Vina dan Rendra terasa berdebar-debar saat menunggu hasil tes dokter. Sesaat setelah menunggu, dokter itu kembali mendatangi mereka dengan membawa alat tes kehamilan. Seulas senyum tampak di bibir lelaki yang memakai snelli itu.
"Bagaimana, Dok?" tanya Rendra saat lelaki itu sudah duduk di kursi kebesaran nya.
__ADS_1
...**✿❀ 𝐻𝑎𝑝𝑝𝑦 𝑅𝑒𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 ❀✿**...