Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Debat seru


__ADS_3

"Nggak salah kamu ngasih uang Mama cuma segini?" tanya Mama Amel sambil mengucek matanya, barangkali dia yang salah lihat. Namun lembaran yang dia lihat masih sama saja jumlahnya.


Lima lembar uang pecahan seratus ribuan!!!


"Gaji Arya sekarang itu cuma dua juta lima ratus aja lhoo, Ma."


"Iya, Ar. Mama tahu, kamu kerja sekarang cuma jadi OB. Tapi masa' iya kamu cuma kasih Mama seuprit ini aja? Lalu mana yang dua juta? Kenapa nggak kamu kasih ke Mama?"


"Ya buat keperluan Arya, Ma. Buat ongkos jalan, buat pergi sama teman. Masa iya semua harus Arya kasih ke Mama."


"Kamu ngasih Mama segini mana cukup, Arya. Buat makan kamu sebulan sudah pasti kurang."


"Kan Mama masih dapat kiriman dari Mas Rendra satu juta, dari Mas Rifki dua juta. Itu kan sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan rumah ini selama satu bulan, Arya juga makan nggak pernah pilih-pilih kan, Ma. Apapun yang Mama masak pasti aku makan. Terus, kebutuhan mana lagi yang Mama maksud? Total semua sama uang yang aku kasih tiga juta lima ratus lhooo, Ma. Siang aku juga makan di kantin, nggak makan di rumah. Paling sarapan sama makan malam aja. Malah sekarang aku lebih sering sarapan di kantin kantor daripada di rumah. Jadi uang segitu itu utuh lhooo semua buat Mama. Maslah listrik, wifi, air kan Mama yang lebih sering di rumah, berarti kan Mama yang lebih banyak pakai. Kalau aku mah, pakainya cuma buat charge HP doang."


"Lhoooo.... lhooo... ya nggak bisa gitu dong, Ar! Uang dari kakak kamu itu ya cuma buat kebutuhan pribadi Mama aja. Buat bayar arisan dan beli perhiasan. Bukan buat kebutuhan beli makan."


"Ya sudah, kalau gitu uang lima ratus ribu nya aku ambil lagi aja, buat kebutuhan aku makan. Jadi Mama nggak perlu repot mikirin kebutuhan makan aku. Aku biar makan di luar saja nanti. Kalau buat aku sendiri, sejuta cukuplah buat makan sebulan. Buat beli bensin lima ratus ribu. Sisa sejuta lagi lumayan buat aku nongkrong sama temen-temen dan tambah beli keperluan lainnya."


"Lhooo... kok malah kamu minta lagi uangnya? Jadi ini maksudnya kamu nggak ada ngasih jatah Mama uang gitu?"

__ADS_1


"Maaa... please deh tolong ngertiin Arya. Uang gaji Arya itu kecill, Ma. Untuk makan Arya aja pas-pas an. Masih Arya kasih juga sedikit buat Mama. Bisalah Mama tambal kekurangan nya pakai uang dari Mas Rendra dan Mas Rifki. Kenapa Mama sekarang jadi pelit sama Arya, padahal biasanya nggak kayak gini."


"Ya karena selama ini kamu selalu kasih Mama uang tiga sampai empat juta an setiap bulannya. Makanya Mama nggak pernah protes. Lhaa.... kalau cuma lima ratus ribu gimana caranya Mama nambelin nya?"


"Oooh, jadi gitu. Kalau duit Arya banyak Mama nggak bakal marah-marah, gitu? Ya waktu itu aku bisa kasih Mama uang segitu karena gaji aku enam juta, Ma. Delapan juta aku terima uang gaji plus bonus dan tunjangan nya. Kalau sekarang aku harus kasih Mama tiga juta, tombok darimana aku Ma?"


"Ya nggak harus tiga juta juga, Ar. Gaji kamu kan dua juta lima ratus, kasihlah Mama duan juta, lima ratus nya buat pegangan kamu."


Mata Arya seketika melotot mendengar ucapan sang Mama.


"Ya nggak bisa gitu dong, Ma. Terus kalau Arya pengen jajan sama nongkrong bareng teman-teman, Arya uang darimana coba? Pas jalan sama Hanna juga."


"Hanna? Ooo... jadi perempuan itu yang udah bikin kamu berubah jadi kayak gini? Kalau hanya sekedar teman dari dulu kamu itu punya banyak teman, tapi nggak ada yang bikin kamu jadi pembangkang kayak gini sama Mama. Kalau soal jajan, untuk sementara ini kamu nggak usahlah jajan dulu. Bisa lah kamu bawa bekal aja dari rumah."


"Tapi, Ar... "


"Udahlah, Ma. Arya capek, mau istirahat sebentar aja. Kerjaan Arya sekarang itu berat, Ma."


"Ar, kamu sekarang kok jadi begini sih? Kamu mau jadi pembangkang kayak dia kakakmu itu? Iya? Sejak kapan kamu jadi berubah kayak gini, Ar? Sejak kapan? Sejak dekat sama Hanna itu ya?"

__ADS_1


"Ma... udahlah. Ini cuma masalah sepele tapi Mama ngereog kayak habis kena rampok. Kalau Arya ngasih segitu, berarti kemampuan Arya emang cuma segitu, Ma." ucap Arya.


Lelaki itu berusaha tetap bersikap tenang meski gejolak emosi di dalam dada tidak karuan. Baru kali ini dia berdebat masalah uang dengan sang Mama. Entahlah, seperti ada rasa tidak terima saat hasil kerja kerasnya digunakan sang Mama untuk bersenang-senang. Sedangkan dia sendiri harus berhemat ekstra ketat.


"Kalau kamu cuma ngasih Mama segini ya udah, ini anggap aja sebagai jatah buat Mama seperti kakak-kakak kamu yang lainnya untuk keperluan pribadi Mama. Untuk makan kamu ya sudah kamu cari aja sendiri!" ucap Mama Amel kemudian melangkah pergi.


Arya menghembuskan nafasnya dengan kasar, tubuhnya terlonjak kaget saat sang Mama menutup pintu kamarnya dengan kasar. Sampai-sampai suara dentumannya memekakkan gendang telinga hingga telinga Arya berdenging.


Arya segera membaringkan tubuhnya yang penat dan lelah karena bekerja seharian. Ia harus tampil segar saat bertemu dengan wanita pujaan hatinya. Peduli setan dengan mamanya yang saat ini sedang marah dengannya. Seperti kata Rendra, dia pun kini mulai lelah dengan segala aturan yang Mama nya buat. Seolah-olah dirinya hanyalah boneka yang harus selalu menuruti kemauan sang Mama. Begitulah batin seorang Arya saat ini.


Hingga tanpa terasa, karena saking lelah dan penatnya tubuh lelaki itu, tiba-tiba saja kelopak matanya terpejam.


Hingga akhirnya, lelaki itu tertidur di atas ranjang.


Dreeert.,.


Deerrt


Suara ponsel yang dia letakkan di dalam tasilk Arya terdengar bergetar kemudian berbunyi. Sayup-sayup dia mendengar suara hening ponsel miliknya.

__ADS_1


Perlahan, Arya mengerjapkan matanya beberpa kali sebelum akhirnya matanya itu benar-benar terbuka.


Arya tampak meraih tas ransel miliknya. Dan ia segera mengambil benda pipih yang ada di dalam sana. Seketika kedua bola mata Arya terbelala saat melihat nama Hanna sebagai gantinya.


__ADS_2