Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Ke rumah Indri


__ADS_3

Ren, bantu Mama keluar dari sini dong. Coba kamu temui mereka di rumahnya. Kamu nggak kasihan, melihat Mama dan adikmu tinggal disini?" tanya Mama Amel dan Rendra pun menggeleng.


"Entah bagaimana caramu, yang penting Mama dan Arya bisa bebas dan keluar dari tempat ini." ucap Mama Amel penuh penekanan.


"Iya, Ma! Akan Rendra usahakan."


"Jangan cuma diusahakan, Ren! Tapi harus berhasil!" ucap Mama Amel .


"Ma.... ma.... Sudah dalam keadaan begini tapi masih saja egois. Nggak bisa ya, minta tolong baik-baik? Nggak usah pakai maksa." Ucap Vina geram. Ia geram pada sikap sang Mertua. Sudah dalam keadaan seperti ini tapi masih saja angkuh.


Mama Amel langsung mendelik saat mendengar ucapan Vina. Ia tidak suka dengan apa yang dikatakan menantunya tersebut.


"Siapa yang menyuruhmu bicara? Terserah aku mau ku paksa, aku tekan, mau ku apakan saja apa urusanmu?"


"Lihatlah, Mas? Ternyata kelakuan Mama mu masih saja sama. Kenapa tidak bisa belajar dari kesalahan, tapi malah semakin menjadi. Kalau seperti ini, biarkan saja mereka tinggal disini untuk beberapa tahun ke depan. Siapa tahun keluar dari sini mereka bisa langsung sadar." ucap Vina kesal.


Braaakkk.


"Berani sekali kamu, Vin. Siapa yang suruh kamu kesini! Cepat kamu pergi dari sini!" pekik Mama Amel.


"Ma, Mama ini bisa nggak sih kalau ngomong sama Vina itu dengan cara baik-baik. Bagaimanapun juga, Vina itu istri Rendra. Setidaknya bersikap dan berbicaralah yang baik jika ingin pertolongan dari kami meski itu sedikit saja." ucap Rendra.


"Heh, Vina! Guna-guna apa yang sudah kamu berikan pada putramu itu, hah?" pekik Mama Arya.


"Cukup, Ma! Kalau Mama masih terus seperti ini, Rendra tidak akan pernah mau membantu Mama dan Arya untuk bisa segera bebas dari sini." ancam Rendra sambil menatap tajam Mamanya yang saat ini lebih memilih mengalihkan pandangannya.


"Dimana alamat rumah keluarganya, Ma?" tanya Rendra.


Akhirnya, Mama Amel menyebutkan alamat rumah besannya itu.


"Ya sudah, Rendra ke rumah orang tua istri arya dulu. Makanya, kalau punya anak bungsu itu jangan bisanya cuma dimanjain aja. Kalau salah ya katakan salah. Nggak udah dibelain! Kamu juga Ar! Harusnya kamu bisa mikir! Kalau


sekiranya yang Mama ucapkan salah, kamu nggak usah nurutin! Begini kan akhirnya! Meringkuk dalam penjara!"


"Udah deh Mas, kalau niat bantu ya udah nggak udah banyak bacot! Udah, sana buruan pergi. Keburu malam nanti, aku sudah nggak betah tinggal disini meski hanya sebentar saja!" ucap Arya protes. Membuat Rendra hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya yang salah arah itu.


Rendra pun segera bangkit lalu melangkah pergi bersama sang istri.


Puluhan menit berlalu, motor yang dikendarai Rendra akhirnya sampai juga di depan gerbang rumah Indri.


"Benar ini rumahnya, Mas?"

__ADS_1


"Dari alamat uang diberikan Mama, sepertinya benar. Yuk turun!" ajak Rendra.


Mata Vina memindai bangunan besar ya g ada dihadapannya. Bahkan pagarnya saja menjulang tinggi melebihi batas tinggi tubuh keduanya.


"Ternyata selera Arya itu jauh berbeda banget ya, Mas. Jika dibandingkan sama kamu!"


"Kenapa memangnya?"


"Iya, dulu Nissa sangat kaya. Pemilik perusahaan tempat Arya bekerja. Begitu putus dari Nissa, malah nikah sama Indri. ada di gerbangnya rumahnya saja, sudah bisa ditebak kalau mereka bukan dari keluarga sembarangan."


"Hmmm... bisa jadi sih, Vin! Terus apa hubungan nya sama ucapan kamu tadi?"


"Ya, kalau aku kan orang biasa-biasa saja, Mas. Makanya, Mama kamu nggak pernah suka sama aku. Adaaaa aja kesalahan aku di mata Mama."


"Husst, jangan ngomong gitu ya cantik! Aku milih kamu itu bukan karena harta. Harta buatku nomer sekian dan bisa kita cari bersama. Aku memilihmu karena kamu yang selalu bersikap apa adanya. Jadi, jangan pernah bandingkan dirimu dengan siapapun! Toh, buktinya biarpun istri Arya kaya, tapi rumah tangga mereka tidak baik-baik saja. Terbukti dengan Ma dan Arya yang saat ini ditahan di kantor polisi."


Vina mengangguk, membenarkan ucapan sang suami. Lalu setelah itu, keduanya segera turun dari motor lalu melangkah menuju gerbang dan memencet bel yang ada disana.


Tidak berapa lama, pintu itu terdengar berderit dan terbuka sedikit, hanya sebatas tubuh orang dewasa saja. Hingga tak lama keluar seorang lelaki dengan seragam khas security.


"Maaf, mau cari siapa ya?" tanya security itu ramah.


"Perkenalkan Pak, saya Rendra. Kakak kandungnya Arya." ucap Rendra memperkenalkan diri.


Arya mengangguk.


"Maaf, Bapak ada perlu apa? Soalnya Bapak sama Ibu sudah berpesan kalau ada keluarga Mas Arya yang datang katanya diusir saja. Tapi, karena Mas nya sopan makanya tidak saya usir."


Rendra tertegun. Apa separah itu rumah tangga adiknya dengan istrinyaistrinya yang baru seumur jagung? Terlihat dari perlakuan kedua orang tua Indri yang melarang keluarga Arya untuk masuk dan bertemu.


"Maaf, tapi saya ingin bertemu dengan Om Nando dan juga Tante Sofie. Ada sesuatu yang sangat penting untuk disampaikan." ucap Rendra.


Security itu diam sejenak sambil menatap Rendra. "Saya tanyakan sebentar ya, Mas. Maaf tidak bisa menyuruh kalian langsung masuk kedalam." ucap security itu.


"Baik, Pak. Terimakasih. Saya tunggu disini saja."


Security itu kemudian masuk dan meninggal Rendra juga istrinya di depan gerbang rumah.


Kebetulan pintu utama tidak dikunci, jadi security yang biasa dipanggil Pak Santo itu bisa langsung masuk ke dalam rumah dan kebetulan bertemu dengan Ina, salah satu ART di rumah Papa Nando.


"Ina... Ina.... " panggil Pak Santo.

__ADS_1


"Ada apa sih, Pak? Panggil-panggil?" tanya Ina.


"Itu, di depan ada tamu yang nyari Pak Nando sama Bu Sofie."


"Ya sudah sih, suruh masuk aja. Gitu aja kok repot!"


"Bukan begitu, maalahnya uang datang itu saudaranya Mas Arya. Kan Bapak sama Ibu sudah pesan kalau ada saudaranya Mas Arya langsung di usir saja."


"Ya sudah, tinggal usir aja kan? Gak becus amat jadi satpam ya....?"


"Dasar semprul, masalahnya Na. Kakaknya Mas Arya itu sopan banget. Beda banget sama Mas Arya yang gayanya songong dan belagu itu. Katanya ada hal penting yang mau disampaikan sama Bapak. Makanya, aku masuk kesini mau lapor sama Bapak dan Ibu. Eh, malah ketemu kamu. Tolong sampaikan ya, aku tunggu disini."


"Nyusahin aja! Ya sudah, tunggu sebentar ya!" jawab Mbak Ina.


Mbak Ina langsung masuk rumah dan menuju ke depan pintu kamar Papa Nando, karena kebetulan dua orang majikannya itu sedang berada di kamar.


Tok...


Tok....


Tok...


Mama Sofie yang sedang memijat pelan tangan sang suami sambil mengobrol dengan Indri yang baru pulang dari kantor polisi.


"Siapa?" tanya Mama Sofie dari dalam.


"Saya, Bu. Ina."


"Iya, masuk saja, Na!"


Mbak Ina membuka pintu dengan perlahan kemudian masuk dan mendekat ke arah Mama SofieSofie yang sedang disik di ranjang. Sedangkan Indri, rebahan di samping sang Papa.


"Ada apa Mbak Ina?" tanya Indri pada ART itu.


"Maaf, Pak. Maaf Bu, Mbak Indri. Di depan ada tamu yang mencari."


Ketiga orang itu saling pandang.


"Siapa Mbak?" tanya Indri lagi.


"Em, katanya Pak Santo, kakaknya Mas Arya. Sudah saya suruh usir, tapi katanya ada hal penting yang ingin disampaikan."

__ADS_1


"Maksudnya, Mas Rendra atau kakaknya yang lainnya?" tanya Indri. Meskipun dia belum pernah bertemu secara langsung tapi dia sudah pernah mendengar ceritanya dari Mama Amel dan juga Arya. Yang katanya durhaka dan pergi karena lebih memilih istrinya yang pembangkang.


__ADS_2