
Mama Sofie berjalan mendekati Mama Amel, kemudian dia berbisik di telinga besannya itu. "Cepat bawa anakmu yang nggak berguna itu pergi dari sini! Jika tidak, maka aku tidak akan segan-segan lagi melaporkan semua yang telah kalian lakukan pada putriku. Dengan semua bukti yang ku punya, aku yakin kalian berdua akan sukses membusuk di penjara!"
Mama Amel mengepalkan kedua tangannya. Sedangkan Mama Sofie terlihat menarik tubuhnya memberi jarak kemudian menampilkan senyum sinis pada Mama Amel. Dia tidak menyangka, jika sahabat baiknya sanggup berbuat seperti itu.
"Sialan Kamu Sofie!" bentak Mama Amel dengan wajahnya yang sudah memerah dan kedua tangan yang terkepal kuat.
"Kau masih mau menantang ku, Mel? Kamu pikir aku main-main dengan ucapan ku?" tanya Mama Sofie sambil menatap tajam kedua iris mata Mama Amel.
"Kamu tidak terima karena putra kesayanganmu dihajar putriku? Kamu pikir, aku bisa terima semua perlakuan kamu dan Arya pada putri kesayanganku? Asal kamu tahu saja Mel, seujung kuku ataupun sehelai rambut, aku dan suamiku tidak pernah sedikitpun menyakiti Indri. Tapi kalian orang yang baru datang dalam hidupnya, bahkan dengan tega memperlakukan dia seperti binatang yang menjijikkan. Andai aku mau, aku bisa membalas semua perlakuan kalian pada putriku bahkan lebih kejam dan pedih dari semua yang telah kalian lakukan!"
"Bahkan hanya untuk membunuh atau melenyapkan kalian semua tanpa ada orang yang menyadari itu hal yang mudah bagi kami dengan semua tumpukan uang yang kami miliki."
Pandangan Mama Sofie tidak beralih sedikitpun dari wajah Mama Amel. Kemudian kembali mendekatkan diri tepat di telinga sahabatnya itu malah berbisik, "Termasuk menghajar putramu, lalu mengambil uang yang sudah kalian rampas dari Indri."
"Jadi kau, yang sudah menyuruh orang untuk membegal Arya dan membuatnya sampai tak sadarkan diri?" Mama Amel terperangah tidak percaya.
"Pintar!" Mama Sofie memberikan senyuman yang merekah sempurna. "Padahal, itu hanya sebagai balasan lho, karena putramu itu sudah berani menampar putriku! Bisa kalian bayangkan bukan, kira-kira apa yang bisa aku lakukan saat aku mendapatkan kalian sedang menjambak, menyeret bahkan menendang Indri putriku."
"Kau... " teriak Mama Amel dengan nafas memburu.
"Apa?" potong Mama Sofie dengan nada yang tak kalah kerasnya. "Sudahlah, pergi saja daripada kalian semakin mempermalukan diri kalian sendiri." lanjut Mama Sofie.
"Nah, bener-bener definisi manusia yang tidak tahu malu ini mah."
"Ada ya, orang macam begini. Mending dimusnahkan aja sekalian. Nggak guna banget kan!"
Kembali, suara pengunjung yang bergunjing saling bersahutan. Hal itu membuat Mama Amel semakin murka, wanita itu terlihat menatap satu persatu orang yang bergerombol karena ulahnya tadi yang memancing perhatian para pengunjung. Mereka yang awalnya ada di pihaknya, namun kini berbalik menyerang nya.
"Sudah Ma, ayo kita pulang saja!" ajak Arya yang sudah tidak tahan dengan gunjingan yang ada di sekitar mereka. Rasanya mirip nyamuk yang terbang dang berdengung di sekitar telinga.
"Awas kamu Sofie, putraku akan segera menceraikan putri mu yang pembawa sial itu!" ancam Mama Amel.
__ADS_1
"Oh, bagus! Itu yang aku tunggu! Lebih baik anakku menjadi janda daripada harus hidup bersama keluarga toxic macam kalian!" jawab Mama Sofie.
Mama Amel berdecak sebal, kemudian ia melangkah pergi sambil mendorong kursi roda yang diduduki oleh Arya.
"Maaf, jika kejadian ini membuat ketenangan kalian semua terganggu." Ucap Indri.
Para pengunjung mengangguk lalu segera membubarkan diri tanpa perlu diminta lagi.
Setelah Mama Amel tak terlihat lagi, Mama Sofie mengajak Indri segera masuk. Tak lupa Mama Sofie menutup pintu dan berjalan mendekat pada suaminya.
"Kamu baik-baik saja, In?" tanya Papa Nando.
"Iya, Indri baik-baik saja, Pa." jawab Indri dengan muka yang agak pucat karena dia sedikit syok dengan kejadian yang baru saja dia alami.
Bayangan saat dia diperlakukan dengan sangat buruk kembali melintas saat melihat Mama Amel dan Arya. Dan itu membuat Indri merasakan sedikit rasa takut.
Mama Amel segera memeluk putri semata wayangnya saat melihat ekspresi sang anak. Dikecupnya puncak kepala Indri berharap putrinya itu sedikit merasakan tenang dengan sikap hangat yang dia berikan.
"Iya, Pa. Mama setuju. Mama juga berpikir seperti itu. Mereka itu orangnya nekat dan tidak tahu malu. Bagaimana menurut kamu, In?"
"Indri ikut apapun keputusan Papa dan Mama saja. Karena Indri yakin, keputusan kalian adalah yang terbaik untuk Indri."
Mendengar jawaban yang diberikan Indri, Papa Nando dan Mama Sofie saling pandang lalu sama-sama tersenyum.
Tok.... Tok.... Tok....
Indri yang semula sudah agak tengah mendadak menjadi sedikit gelisah saat mendengar suara ketukan pintu kamar rawat Papanya.
"Tenang sayang, pasti itu suster atau dokter yang mau mengecek kondisi Papa. Biar Mama saja yang buka pintunya."
Indri hanya mengangguk, kemudian Mama Sofie berlalu membuka pintu kamar rawat suaminya. Dan begitu pintu terbuka, terlihatlah wajah Marvell di depan matanya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Tante," sapa Marvell.
"Waalaikumsalam, Vell!"
Kini pintu itu terbuka semakin lebar. Memberi ruang pada Marvell agar bisa masuk ke dalam ruangan rawat Papa Nando.
Marvell melangkah masuk, dan langkahnya seketika berhenti saat melihat ada Indri di dalam ruang rawat Papa Nando. Ia menoleh ke arah Mama Sofie.
"Iya, Vell. Indri sudah menyadari semua kesalahannya." ucap Mama Sofie yang paham dengan arti dari tatapan Marvell.
"Waah, alhamdulillah." Ucap Marvell yang merasa senang karena sepupunya sudah kembali ke setingan awal. Meski Indri pernah membuatnya merasa sangat kesal, tapi dia tidak pernah membenci saudara sepupunya itu. Dan kesadaran Indri, adalah salah satu hal yang dia nantikan.
Indri hanya bisa menundukkan kepalanya karena merasa malu pada Marvell. Ia ingat, bagaimana kerasnya dia menentang Marvell dan membela Arya mati-matian. Bahkan semakin keras Marvell menentang, Indri pun semakin kuat membela Arya.
"Mas, maafkan Indri ya!" ucap Indri saat sudah berdiri di depan Marvell.
"Nggak papa, In. Mas maklum kok. Setidaknya dari peristiwa ini kamu bisa mengambil hikmah dan pembelajaran. Setelah ini jangan mudah percaya dengan mulut lelaki. Apalagi jika orang tua sudah tidak merestui, itu pasti akan ada akibat yang kamu tanggung."
"Tidak boleh mudah percaya dengan omongan lelaki ya, Mas?" tanya Indri yang mendapat anggukan dari Marvell.
"Termasuk omongan Mas Marvell?"
"Ish! Kamu ini. Nggak gitu juga konsepnya, In!"
Tiba-tiba saja, Marvell melihat luka lebam di wajah Indri. Seketika tawa lelaki itu berhenti. Dan menanyakan asal muasal luka lebam Indri, semua diceritakan dengan gamblang oleh Ma Sofie. Bahkan ia juga menceritakan sandiwara yang baru saja dibuat Mama Amel dan Arya dj rumah sakit.
"Lalu bagaimana rencana Om dan Tante selanjutnya?" tanya Marvell.
"Kami sepakat untuk melaporkan mereka ke kantor polisi Vell. Apalagi, kami juga punya banyak bukti perbuatan mereka. Kami khawatir jika mereka kembali mengganggu dan mengusik ketenangan Indri.
"Benar itu, Tan. Mereka berdua harus dikasih pelajaran. Jangan biarkan mereka lolos begitu saja!" ucap Marvell yang kemudian beralih menatap pada Indri.
__ADS_1
"Kalau bisa segera lapor pada polisi, In. Biasa ada batas waktu lapor. Soalnya kamu kan harus visum juga." ucap Marvell mengingatkan.