
Ddrrtt
Ddrrtt
Telepon Nissa kembali berdering, kali ini ponsel pribadinya, dan disana tertera nama Marvell.
"Ya Vell, hallo!"
"Nis, kita jadi nonton kan?"
"Jadi dong, ini aku sudah siap. Kamu mau jemput jam berapa?"
"Ini aku sudah di depan rumah kamu!"
Mata Nissa membulat karena dia pikir Marvell baru akan tiba sekitar dua puluh menit lagi. Tapi ternyata Marvell sudah sampai.
"Wah, cepat!"
"Iyaa, soalnya pakai mode kilat khusus."
Nissa tergelak mendengar jawaban Marvell.
"Ya kali kayak pos aja! Ya udah kamu masuk dulu aja, ada orang tua aku kok di bawah!"
"Oke tuan putri, hamba akan meminta ijin terlebih dahulu pada baginda raja dan baginda ratu terlebih dahulu."
Nissa hanya terkekeh geli lalu berakhir dengan menutup sambungan telepon mereka. Setelah itu Nissa kembali menatap ke cermin rias untuk memastikan riasan nya sudah pas dan sempurna.
Setelah dirasa cukup Nissa keluar dengan tas selempang di bahu sebelah kirinya.
"Ma!" Nissa memanggil Mamanya yang ternyata sedang berbincang dengan Marvel dan ternyata Papanya juga ada disana.
"Hai sayang? Kamu sudah siap? Nih Marvell nya udah jemput."
"Sudah siap, Ma, Pa, Nissa pergi dulu ya!"
Papa dan Mama Nissa mengangguk sebagai jawaban.
"Kami pamit dulu ya Om, Tante!"
"Hati-hati di jalan ya Nak Marvell. Ingat! Bawanya mulus, pulangnya juga harus kembali mulus!" ucap Papa Bram yang membuat orang-orang yang ada di sana tertawa.
Setelah berpamitan, akhirnya Nissa dan Marvel menaiki mobil Marvell yang sudah diparkir di halaman rumah Nissa.
Sekitar lima belas menit lamanya, mobil yang dikendarai Marvell dan Nissa sampai di parkiran mall yang ada di sisi kota. Keduanya turun dari mobil dan menuju dalam mall menaiki lift yang menyambungkan parkiran dengan mall.
Sesampainya disana, marvell dan Nissa langsung menuju ke bioskop yang ada di dalam mall.
"Kamu mau nonton apa?" tanya Marvell.
"Yang itu aja!" Nissa menunjuk poster film yang bergenre horor.
"Wah, kamu suka horor ya?"
"Hemm, lumayan!"
"Ya udah aku beli tiketnya dulu. Kamu tunggu di sini aja ya!" ucap Marvell yang dijawab Nissa dengan anggukan kepala.
Setelah urusan tiket selesai, Marvell pun membeli popcorn dan dua minuman untuk dia bawa nanti.
Ya, mereka memang tidak nampak seperti pemilik perusahaan karena biasanya orang-orang sekelas mereka akan menghabiskan waktu untuk sekedar dinner ataupun hal lain yang lebih mewah. Namun, baik Marvell maupun Nissa justru menghabiskan waktu seperti anak muda pada umumnya.
...*****...
Klunting
Suara notifikasi ponsel milik Indri terdengar. a Indri yang sedang melihat televisi di kamarnya segera meraih ponsel yang ia letakkan di sampingnya. Matanya berbinar ketika mengetahui ada notifikasi pesan dari Arya.
__ADS_1
[Besok aku jemput ya, Mama kangen sama kamu.]
Indri menarik kedua sudut bibirnya setelah membaca pesan dari Arya. Tangannya mulai menari di atas layar ponsel.
[Baiklah, aku ke rumah Mas Arya besok! Mama mu suka apa? Biar besok aku belikan.]
[Tidak usah repot-repot, kamu datang saja Mama pasti sudah senang.]
[Tidak repot kok Mas! Masa iya datang ke rumah calon mertua nggak bawa apa-apa.]
Indri tersenyum kala membaca lagi pesannya. Ia sendiri tidak menyangka jika dirinya benar-benar akan bersanding dengan pria yang dia cintai.
[Ya sudah, terserah kamu saja. Apapun yang kamu bawa nanti pasti Mama akan senang menerimanya.]
[Oke Mas! Oya, besok Mas kesini naik apa?]
[Naik motorku, sayang! Karena yang kupunya baru itu. Maaf ya,]
[Ah, nggak masalah kok, Mas! Akun nggak malu kok. Justru aku salut sama Mas Arya. Disaat pria seusia Mas Arya dengan pekerjaan dan gaji yang lumayan biasanya maksa buat ambil cicilan mobil, tapi Mas Arya masih tetap bertahan dengan kendaraan Mas Arya yang lama.]
[Ya, karena aku selalu diajarkan Mama untuk selalu hidup apa adanya. Tidak ada yang namanya gengsi.]
[Iya, aku setuju dengan didikan Mama kamu gitu Mas. Sungguh akun merasa sangat beruntung dan tidak sabar untuk bisa segera jadi istrimu Mas!]
[Aku juga sama, sayang.]
Pipi Indri memerah saat membaca panggilan sayang dari Arya.
[Jadi, kapan kamu dan Mama mu datang ke rumah secara resmi?]
[Makanya, besok kamu datang ya! Mama juga mau bahas itu juga.]
[Baiklah, besok jam sembilan pagi Mas Arya jemput ke rumah ya!]
[Oke!]
Setelah dirasa cukup baik Indri ataupun Arya mengakhiri percakapan mereka dan Indri kembali menonton serial drama Korea yang tadi dia tonton.
...*****...
"Nis?"
"Ya?"
Nissa yang sedari tadi memandang keluar jendela segera mengalihkan pandangannya ke wajah tampan Marvell yang ada di hadapannya.
"Boleh aku tanya sesuatu sama kamu?"
"Boleh, silahkan saja, Vell."
"Bagaimana perasaanmu pada mantan calon tunanganmu?"
"Maksudmu Arya?"
"Iya, apa kamu masih menyimpan rasa untuknya?"
"Hem, nggak sih. Meski pertunangan kami gagal, tapi dari awal menjalin hubungan aku tidak sepenuhnya memberikan hatiku padanya."
"Kalau boleh tahu, apa alasannya?" tanya Marvel lagi.
"Karena sudah ada rasa ragu sejak awal kebersamaan, apalagi saat awal dikenalkan dengan mamanya."
"Terus, kenapa lanjut sampai tahap pertunangan?"
"Awalnya aku berpikir selama Arya ada di pihakku dan mencintaiku, itu tidak masalah bagiku. Tapi ternyata itu hanya ada di pikiranku saja. Saat Mamanya minta mobil, kukira Arya akan berdiri membelaku. Tapi saat menolak, dia malah ikut-ikutan marah dan mencaci ku, bahkan sampai sekarang."
"Maksudmu sampai sekarang Arya masih sering mengganggumu?"
__ADS_1
Nissa hanya menganggukkan kepalanya.
"Kenapa tidak ganti nomer?"
"Sudah, yang nomer pribadi. Kita bertemu saat aku sudah pakai nomor ponsel baru. Sedangkan nomor yang untuk pekerjaan kan tidak mungkin diganti. Ada banyak nomor penting disana. Dan dia menggangguku di nomor itu, mau dimatikan juga jelas nggak mungkin kan, Vell?"
Marvell menganggukkan kepala paham dengan cerita Nissa. "Tapi kamu yakin sudah tidak ada perasaan buat Arya?"
"Seratus persen yakin, Vell! Emang kenapa sih? Tumben nanya nya aneh kayak begini?" tanya Nissa penasaran.
"Ah, tidak apa-apa kok. Cuma ingin tahu kebenarannya saja. Aku dapat kabar kalau Arya sudah melamar Indri. Aku tahunya dari orang kepercayaanku."
"Yah, aku sudah tahu. Soalnya sebelum kamu menghubungi aku tadi Arya sempat nelpon aku di nomor kantor." jawab Nissa.
"Terus gimana?"
"Ya biarkan saja. Mereka berdua sudah sama-sama dewasa. Yang penting kita sudah mengingatkan sebisanya. Untuk selebihnya biarkan Indri yang memutuskan karena dia yang akan menjalani semuanya. Siapa tahu pernikahan mereka nanti akan membawa dampak positif, khususnya buat Arya dan Mamanya."
"Hah, cuman mimpi kayaknya Nis!"
"Ga boleh ngomong gitu ah, yang namanya manusia satu detik saja bisa berubah lho Vell!Doakan saja yang terbaik buat mereka semua."
"Ya, kamu benar. Semoga saja Arya benar-benar tulus sama Indri. Karena biar bagaimanapun aku sudah mengganggap Indri seperti adikku sendiri."
...*****...
Keesokan harinya, Arya benar-benar menjemput Indri dengan motor bututnya. Ia sebenarnya malas dan ingin menggunakan taksi online saja. Hanya saja dia tidak mau jika Indri menganggapnya hobi bergaya.
Semua hanyalah bagian dari akting Arya demi menjerat mangsanya saja. Baru nanti setelah jeratnya berhasil dia akan menikam mangsanya.
Setelah lima belas menit, Arya tiba di rumah Indri. Dengan penuh percaya diri, dia menekan bell yang ada dipagar rumah Indri.
Setelah seorang ART membukakan pintu, diapun dipersilahkan masuk.
"Hai Mas! Yuk masuk. Ada Mama di dalam."
Arya mengangguk lalu mengikuti Indri dari belakang. Arya memperhatikan rumah calon mertuanya itu. Memang tidak sebagus dan sebesar rumah Nissa. Tapi jauh jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan rumah Ibunya.
"Assalamu'alaikum Tante, gimana kabarnya?"
tanya Arya menyalami tangan Mama Sofie sambil menundukkan badan. Mama Sofie tersenyum hangat karena Arya terlihat sangat sopan.
'Sepertinya apa yang dikatakan Marvell tidak benar. Apa iya anak sopan dan lemah lembut seperti ini dibilang lelaki brengsek? Pasti mantan tunangannya saja yang mengada-ada.' batin Mama Sofie sambil memandangi Arya. Arya yang merasa di pandangi sampai merasa kikuk sendiri.
"Mah, ditanyai sama Mas Arya tuh. Kok malah bengong?"
"Eh, iya maaf. Gimana-gimana?"
"Arya mau ijin ajak Indri ke rumah Arya, Tante. Soalnya Mama kangen sama Indri katanya. Apa boleh Tan?"
"Tentu saja boleh, tapi kamu jangan panggil tante lagi ya! Panggil aja Mama Sofie. Sama seprti Indri yang sudah panggil Mama juga ke Mama kamu!"
"Dengan senang hati, Tan! Eh, Mama!" jawab Arya.
"Ya sudah, kalian mau berangkat jam berapa?" tanya Mama Sofie.
"Sekarang, Ma. Kalau boleh." jawab Arya.
"Ya sudah, hati-hati di jalan ya!" ucap Mama Sofie.
Setelah mendapat izin dan mencium takzim tangan Mama Sofie, akhirnya Arya dan Indri menuju ke tempat di mana tadi Arya memarkirkan motornya. Namun baru saja Arya akan mengambil kunci motor disaku celananya tapi Indri sudah mencegahnya.
"Kenapa In?"
"Kita pakai mibilku saja ya Mas. Tapi maaf, aku mohon Mas Arya jangan tersinggung. Bukan berarti aku tidak mau naik motormu, tapi aku ingin mengajak Mama Amel jalan-jalan dan shoping hari ini. Kan kemaren kita gajian Mas, ditambah lagi kemaren kamu sudah melamar aku. Jadi hari ini, aku ingin berbagi kebahagian sama Mama Amel. Boleh kan?"
Arya tersenyum lebar. Umpan sudah dimakan. Masuk Pak Eko! Lanjut pasang jerat biar mangsa tidak terlepas.
__ADS_1
"Sedikit lagi kamu akan jadi milikku In. Aku dan Mama pastinya akan bebas meminta apapun sama kamu. Pastilah gaiimu sebagai manager keuangan sangat besar. Dan aku akan mengendalikan keuangan dalam rumah tangga kita." ucap Arya dalam hati.
...◌⑅⃝●♡⋆♡ hׁׅ֮ɑׁׅ℘℘ᨮׁׅ֮ ꭈׁׅꫀׁׅܻ݊ɑׁׅժׁׅ݊ꪱׁׁׁׅׅׅ݊ꪀᧁׁ♡⋆♡●⑅⃝◌...