Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Mama Amel (2)


__ADS_3

"Ingat! Denda tetap berjalan. Masih ingatkan? Telat satu hari, denda lima puluh ribu. Sampai saat ini sudah terlambat satu minggu. Nanti saat saya kesini dia hari lagi, berati total terlambat sembilan hari. Sembilan hari dikalikan lima puluh ribu, jadi denda yang harus dibayar sebesar empat ratus lima puluh ribu. Mengerti kan?


" I... iya Bu. Saya mengerti." ucap Mama Amel terbata-bata.


Setelah memberikan ancaman, Bu Arini segera pergi dari rumah Mama Amel. Setelah kendaraan mewah yang di tumpangi bu Arini pergi, Mama Amel segera masuk dan menutup pintu rumah kemudian melangkah pergi.


"Mau kemana, Ar?" tanya Mama Amel saat melihat Arya keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah ganti. Jika tadi mengenakan pakaian formal untuk bekerja, saat ini lelaki itu mengenakan kaos putih lengan pendek dengan celana jeans selutut."


"Mau keluar Ma, ketemu sama teman. Bentar aja kok!"jawab Arya. Lelaki itu hendak berlalu begitu saja. Tapi dengan sigap Mama Amel mencekal tangan putra bungsu kesayangannya itu.


" Ar, barusan yang datang itu Bu Arini."


"Bu Arini, siapa Ma?"


"Itu lhoo, tempat Mama ambil cicilan TV, sofa sama ranjang."


"Ya sudah, tinggal bayar aja kan, Ma. Gitu aja kok repot." jawab Arya enteng.


"Kalau Mama ada duit sudah Mama bayar dari kemarin, Arya. Masalahnya Mama itu lagi nggak ada duit. Kamu ada duit nggak?"


"Ya, nggak ada Ma. Ini tadi saja aku pulang interview minta uang sama Mas Rendra."


"Dikasih? Mana? Sini, buat Mama saja!"


Seketika cekalan tangan Mama Amel di lengan Arya terlepas. Tapi telapak tangan itu berubah terbuka dan terulur ke arah Arya.


"Dikasih cuma dua puluh ribu, Ma. Udah Arya belikan bensin eceran dapat sebotol aja."


Mendengar nominal uang yang diterima Arya, tangan yang tadi terulur seketika turun dan tubuh Mama Amel menjadi sedikit lemas. Kepalanya tertunduk, pusing darimana dia bisa mendapatkan uang.


"Rendra, makin lama makin pelit aja sama Mama. Dia sudah nggak kayak yang dulu. Mungkin karena sekarang mereka hidup ngontrak, jadi si Vina sialan itu bebas mempengaruhi Rendra agar nggak kasih uang ke Mama lagi," ucap Mama Amel yang lagi-lagi menyalahkan Vina akan perubahan sikap anak keduanya.


"Mama kan ada perhiasan, ya sudah jual itu aja dulu. Cukup kan, buat melunasi semuanya."


"Heh, enak aja. Mama malu lah sama teman-teman Mama kalau sampai nggak pakai perhiasan. Bisa hancur reputasi Mama kalau itu sampai terjadi, Ar!"

__ADS_1


"Terus gimana dong?" tanya Arya.


"Ya mana Mama tahu, Ar! Kalau Mama tahu, nggak mungkin Mama nanya jalan keluarnya ke kamu. Gimana sih?" gerutu Mama Amel, yang kepalanya semakin bertambah nyeri.


"Kalau saran Arya sih, jual aja dulu semua perhiasan itu kalau nggak mau barangnya ditarik. Arya mau berangkat dulu, sudah ditungguin sama teman." ucap Arya lalu berlalu pergi. Dia tidak peduli dengan beban yang saat ini dirasakan oleh sang Mama.


Rendra!!


Tiba-tiba saja nama putra keduanya itu melintas dalam pikirannya.


"Yaaa, Rendra pasti mau bantu." ucap Mama Amel berusaha berpikir positif. Wanita itu seakan lupa bagaimana perlakuannya terhadap putra keduanya itu hingga membuat Rendra memutuskan keluar dari rumah.


Mama Amel bergegas berjalan ke kamarnya kemudian mengambil ponsel yang ia letakkan di atas nakas samping tempat tidur. Tampak wanita itu duduk di pinggir ranjang sambil mengutak-atik benda pipih yang saat ini menyala.


"Halo, Ren. Kamu lagi sibuk nggak?" tanya Mama Amel saat sambungan telepon sudah terhubung.


"Lagi sibuk, Ma. Ini Rendra lagi kerja." ucap Rendra sambil kedua tangannya terus mengetik kan huruf demi huruf di atas keyboard yang ada di depannya. Sedangkan ponsel nya dia cepitkan diantara daun telinga dan pundak. Rendra benar-benar sibuk untuk saat ini.


"Ren, Mama lagi bingung. Mama lagi butuh uang buat belanja bulanan."


"Masalahnya, uang yang kamu berikan itu kemarin hilang. Waktu Mama habis dari ATM, uang yang kamu kirim itu Mama ambil semua dan saat itu juga uangnya langsung Mama masukkan ke dalam dompet. Mama Buru-buru keluar soalnya antriannya sangat panjang, Ren. Tapi saat sampai di rumah, ternyata uang itu nggak ada di dalam dompet Mama. Ternyata, Mama lupa menutup resleting nya, mungkin uang pemberian kamu itu jatuh di jalan. Sedangkan Mama nggak tahu, Ren" ucap Mama Amel berbohong.


Sepertinya wanita itu tidak tahun jika ucapan itu adalah doa, yang entah kapan akan jadi kenyataan. Apalagi dia itu seorang Ibu.


Rendra hanya diam, dia menyimak semua ucapan Mamanya itu.


"Mama butuh dua juta buat belanja bulanan, juga belanja sayur tiap hari, Ren. Cuma kamu yang bisa Mama harapkan saat ini. Mama mau minta ke kakakmu, juga nggak mungkin. Dia kan orangnya galak banget, bisa-bisa Mama ditelan bulat-bulat sama kakakmu itu, Ren." ucap Mama Amel dengan suara memelas agar mendapat belas kasihan dari putranya tersebut.


"Kalau sebanyak itu, Rendra nggak punya Ma. Kemarin kan sudah Rendra kirim satu juta sesuai jatah bulanan Mama. Jadi ya, nggak ada uang lagi. Kalau mau, ada lima ratus ribu. Itupun nanti, ngurangin jatah uang belanja Vina."


"Kok cuma lima ratus ribu sih, Ren. Mana cukup uang segitu. Cuma dapat beras sama minyak goreng aja."


"Rendra adanya cuma segitu, Ma. Itupun juga kalau Vina setuju. Kalau dia tidak setuju, Rendra nggak bisa kasih uang ke Mama. Kan itu Rendra ambil dari jatah belanjanya Vina."


"Loh.... loh... loh... nggak bisa gitu dong, Ren. Anak macam apa kamu yang membiarkan orang tuanya kelaparan? Punya istri sih punya istri, Ren. Tapi nggak gitu juga dong! Sampai nelantarin Ibu kandung nya."

__ADS_1


"Siapa yang nelantarin sih, Ma. Tiap bulan kan Rendra sudah transfer satu juta buat Mama sesuai kemampuan Rendra. Gaji Rendra itu cuma UMR, Ma. Tidak lebih dari lima juta. Rendra juga harus mencukupi kebutuhan rumah tangga Rendra, kasih jatah bulanan untuk Mama, belum juga mikir buat simpanan bayar kontrakan."


"Ya sudah, balik aja ke rumah kalau begitu!"


"Nggak deh, Ma. Makasih tawarannya."


Tampak dua bola mata Mama Male mendelik saat mendengar jawaban dari Rendra yang menolak mentah-mentah tawaran untuk kembali tinggal bersamanya. Dalam hatinya mengumpat. Kalau saja tidak sedang butuh, pasti wanita itu sudah mengeluarkan sumpah serapah nya.


"Jadi, kamu nggak bisa bantu Mama ini, Ren?"


"Maaf, Ma. Nggak bisa. Kalau Vina ngijinin, ya nanti cuma bisa transfer lima ratus ribu saja. Nggak lebih. Apalagi sekarang Vina sedang hamil, kebutuhan makin banyak. Nanti juga mau ke dokter kandungan." jawab Rendra.


"Halah, istri hamil itu jangan banyak di manjain. Nanti jadinya manja. Dikit-dikit dokter, kalau mau periksa ya di bidan aja yang deket sama rumah."


Rendra mulai malas menanggapi Mamanya.


"Dulu Mama hamil tiga kali juga periksa nya ke bidan aja. Toh sama-sama diperiksa. Jadi orang jangan sok kaya, periksa harus ke dokter spesialis kandungan. Kalau bayinya sehat, lahirnya pun sehat. Kalau bawaannya cacat, lahirnya juga cacat."


"Astaghfirullah, Mama. Kenapa Mama bisa ngomong seperti itu, itu cucu Mama loh."


"Mama cuma bicara apa adanya, Ren."


"Vina dengan Mama itu sangat berbeda. Rendra dengan Papa juga beda. Kalau Papa meninggalkan buruk, Rendra nggak mau Vina merasakan apa yang dulu Mama rasakan."


Jleb.....


Ucapan Rendra seperti belati yang menusuk dada Mama Amel.


"Kamu ini dibilangin orang tua kok nge... "


"Sudah Ma ya, Rendra lagi sibuk. Nanti kalau Rendra bisa kasik uang, Rendra bakal kabari. Tapi kalau Rendra nggak kasih kabar, berati Rendra nggak bisa kirim uangnya. Ya sudah, Rendra matikan telepon nya. Assalamu'alaikum."


"Eh, Ren... tunggu dong!"


Panggilan dimatikan begitu saja oleh Rendra meski dia mendengar dengan jelas kata-kata terakhir Mamanya.

__ADS_1


...Დ .•*””*• 𝐻𝑎𝑝𝑝𝑦 𝑅𝑒𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 •*””*•.დ...


__ADS_2