Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Jawaban Kiki


__ADS_3

Rahang Arya kembali mengeras. Entah kenapa, setiap mendengar sang Mama dihina ia pasti tidak terima. Meskipun terkadang dia juga tidak peduli pada Mamanya. Tapi tetap saja dia akan marah jika ada yang menjelek-jelekkan Mamanya.


"Kenapa? Kamu mau marah karena aku sudah menjelekkan Mamamu? Hei Arya yang sok ganteng, aku hanya bicara sebuah kebenaran. Kalau kamu seperti itu terus, aku jamin kamu tidak akan pernah bertahan lama dengan pasangan barumu nanti. Segeralah bertobat sebelum semua terlambat. Permisi!"


Indri meninggalkan Arya dan menuju ke kasir untuk membayar pesanannya meski pesanan itu belum datang. Dia sudah tidak mood lagu untuk sekedar makan ataupun minum di tempat itu.


"Aaargggh, sial!" Arya menggeram marah. Pria tersebut mengacak rambutnya kasar. Namun Indri tidak peduli, wanita itu terus saja berlalu setelah membayar pesanannya.


...****...


"Huuuh, gara-gara si upil biawak itu aku jadi gagal nongkrong di cafe itu sama Nissa. Padahala suasana cafe nya asik banget!" gerutu Indri saat masuk ke dalam mobil sambil mencari kontak Nissa yang belakangan ini akrab dengan dirinya.


"Hallo Nissa, tempat nongkrong pindah aja di cafe dalam Mall xxx ya!" Suara Indri terdengar din telinga Nissa yang saat ini sedang menggunakan ear phone sambil menyetir.


"Lhooo, kenapa In? Kan disana tempatnya enak buat nongkrong sambil ngobrol?"


"Masalahnya, aku barusan ketemu sama itu si upil biawak di cafe itu, Nis."


"Maksudnya si Arya? Kok bisa?" tanya Nissa.


"Iya siapa lagi kalau bukan dia? Aku juga nggak tahu Nissa, tiba-tiba saja dia datang ke mejaku. Mungkin saja dia sudah ada di sana lebih dulu tapi aku nggak melihat. Daripada merusak suasana hati, jadi mending kita pindah tempat aja."


"Oke, oke. Aku paham, ya udah aku langsung meluncur ke sana ya... Kamu juga langsung ke sama saja."


"Oke deh, kita ketemuan di dalam Mall saja ya."


"Oke!"


Setelah sambungan telepon dimatikan keduanya segera menuju ke tempat yang sudah disebutkan tadi. Semenjak Indri minta maaf tempo hari, keduanya jadi sangat akur dan sering nongkrong bareng sekedar melepas penat dari padatnya pekerjaan kantor.


...*****...


Saat jam menunjukkan pukul dua siang, Mama Amel terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam di layar ponsel nya sambil menguap. Ia berjalan ke kamar mandi hendak membasuh mukanya.


Setelah itu, Mama Amel menuju ke meja makan. Ia membuka tuding saji, tapi hanya ada nasi yang sudah dingin, sayur asam yang tinggal sedikit, sambal dan juga ikan asin yang tinggal tiga biji dan kecil-kecil.

__ADS_1


"Ck, aku ketiduran sampai jam segini. Mana laper, dan di meja makan cuma ada makanan kayak gini. Kalau ada Vina, pasti yang ada di meja makan nggak kayak gini modelnya. Haahh, bikin tambah kesel aja!"


Mama Amel akhirnya mendudukkan dirinya di kursi makan dan memijat pelipisnya.


"Duh, pusing sekali kepalaku ini. Makan dulu aja lah! Bodoh amat sama ikan asin aja, yang penting perutku kenyang. Si Arya ditungguin juga nggak ada kabar. Kerjanya ngelayap aja."


Nama Amel mengambil tiga centong nasi, kemudian menuang sayur di atasnya, tidak lupa ikan asin tiga ekor tadi. juga sambal, yang ia ambil sebanyak dia sendok. Yah, Mama Amel memang menyukai sambal dengan rasa yang pedas, rasanya tidak afdol jika makan tanpa ada sambal. Seperti mulutnya yang selalu saja suka berkata pedas.


"Apa aku telpon si Kiki aja ya? Rifki kan manager di kantornya, siapa tahu bisa masukin Arya ke kantornya. Ya udahlah, aku telepon habis makan aja."


Mama Amel pun melanjutkan makannya seorang diri.


...*****...


Ddrrtttt....


Drrrrtttt....


Suara ponsel Kiki terdengar saat wanita itu selesai melaksanakan sholat ashar. Setelah melepas mukena yang dia kenakan lalu melihat ke layar ponsel yang dia letakkan di atas nakas di dalam kamar.


Bergegas Kiki mengangkat telepon dari Mamanya itu.


"Hallo, Ma. Assalamu'alaikum."


"Hallo, Ki. Mama mau minta bantuan kamu dong!"


"Ma, kalau orang ucap salam itu, mbok ya dijawab dulu. Bukannya nyerocos aja kayak petasan." ucap Kiki.


"Iya, maaf. Habisnya Mama lagi bingung nih! Waalaikumsalam, deh!"


Kiki, memang orangnya galak. Bukan galak yang asal galak, tapi lebih cenderung pada sikap tegas. Ketika melihat ada yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, maka dia akan menegur dengan keras. Jadinya, Mama Amel takut dengan Kiki. Itulah sebabnya dia malas jika harus tinggal dengan anak sulung yang itu meski sudah di ajak beberapa kali.


"Ada apa sih Ma? Kok kayaknya bingung begitu?"


"Eeemmm, Ki, Mama boleh ya minta uang dia juta sama kamu. Boleh ya Ki, please!"

__ADS_1


Kening Kiki seketika berkerut.


"Dua juta? Buat apa Ma? Bukannya kemarin Kiki sudah transfer uang bulanan buat Mama seperti biasanya! Kalau cuma buat makan mah, itu sudah lebih dari cukup. Listrik dan Wifi juga udah Kiki bayarin. Apalagi rendra juga ngasih uang bulanan buat Mama."


"Iya sih, Rendra ada ngasih uang buat Mama. Tapi kan cuma satu juta aja, ki."


"Satu juta kok di bilang cuma sih, Ma? Kalau digabung sama uang dari Kiki kan jadinya tiga juga, cuma buat makan sebulan aja uang segitu udah banyak Ma."


"Masalahnya, Ki. Uangnya itu mau Mama buat bayar cicilan uang nunggak! Ups!"


Mama Amel uang keceplosan langsung memukul mulutnya sendiri.


"Eh, maksud Mama bukan itu, Ki. Mama itu habis kecopetan tahu nggak?"


Kening Kiki berkerut, telinganya jelas mendengar jika uang itu akan digunakan untuk membayar cicilan.


"Cicilan? Cicilan apa Ma?"


"Eh, bukan apa-apa Ki. Tadi salah ngucap. Yang sebenernya itu Mama habis kecopetan. Mama sudah minta sama Rendra tapi nggak dikasih."


"Mamaaa... Mama... nggak berubah juga udah tua. Ma, ucapan itu adalah doa lhoo! Memangnya Mama mau kecopetan beneran?"


"Eh, ya enggak lah, Ki! Amit-amit deh!"


"Berarti, beneran nggak kecopetan kan? Ayo ngaku! Mau dibuat apa duitnya?"


"Emmm, itu.... anu... "


"Anu, itu apasih Ma? Jawab yang jelas!"


"Itu, duitnya mau buat bayar cicilan sofa dan tivi di tempat Bu Arini. Orangnya sudah nagih soalnya. Kalau nggak bayar, nanti barangnya bakal di tarik sama dia. Kan malu kalau sampai di tarik beneran, Ki. Mau di taruh dimana muka Mama ini, iya kan? Memangnya kamu mau nanti ada gunjingan, itu loh, Mamanya si Kiki, padahal suaminya seorang manager, tapi sofa dan televisi Mamanya di tarik gara-gara nggak bisa bayar cicilan. Iiih... amit-amit, malu-maluin kan, Ki!"


Mama Amel mencoba merayu Kiki. Namun bukan Kiki namanya kalau tidak memberikan jawaban menohok untuk Mamanya.


"Ya sudah, tinggal kembalikan saja toh sofa sama televisinya. Bereskan? Mama juga nggak bakal di kejar-kejar lagi. Toh, sofa dan televisi itu juga bukan kebutuhan primer. Jadi nggak usah pusing lah dengan barang-barang itu. Dan soal omongan orang, terus terang saja ya Ma. Kiki nggak peduli tuh! Terserah mereka mau ngomong apa, kecuali mereka mau bayarin hutang-hutang Mama yang Mama buat sendiri, baru Kiki mau menampung omongan mereka semua. Sudah ya, Ma. Kalau telpon Kiki cuma mau ngomong hal kayak gini aja mending Mama nggak usah telpon sekalian. Yang penting, Kiki sebagai anak sudah berusaha membantu dan bertanggung jawab atas kebutuhan pokok Mama. Tapi kalau Mama menuntut kami sebagai anak untuk menuruti gaya hidup hedon Mama itu, maaf ya Ma. Kiki sebagai anak tidak bisa dan tidak akan pernah mau. Silahkan saja Mama minta sama Arya. Si anak kesayangan Mama itu. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


#Ngibulin siapa lagi ya habis ini.....?????


__ADS_2