
Setelah kepulangan Rendra yang mampir sejenak di rumahnya, Mama Amel tampak sangat gelisah. Waktu janjian dengan Bu Arini semakin dekat. Tetapi dia belum juga mengantongi uang untuk membayar cicilannya. Ya, semua memang salahnya yang tidak bisa menggunakan uang kiriman anaknya dengan bijak. Terlebih dengan musibah yang baru saja dia alami. Tapi, saat ini bukan waktunya menyesali semua keadaan yang saat ini dia alami. Semua memang karena kesalahan yang dibuatnya sendiri. Tetapi otak Mama Amel belum cukup terbuka jika semua yang dia alami saat ini murni karena kesalahannya sendiri. Dia terus saja mencari kambing hitam untuk membenarkan semua perbuatannya.
"Sial! Bagaimana caranya aku bayar cicilan ke Bu Arini? Mau ditaruh mana mukaku kalau sampai nggak bisa bayar cicilan dan barang-barang itu di tarik," gumam Mama Amel lirih sambil berjalan mondar mandir di ruang tamu rumahnya.
Tidak lama kemudian, pulanglah Arya. Entah darimana dia, yang jelas dia heran melihat kelakuan sang Mama.
"Kenapa Mama mondar mandir seperti setrikaan kayak gitu?" tanya Arya saat melihat sang Mama yang mondar mandir. Terlebih lagi ada tempelan koyo di keningnya, menambah aroma orang tua menguat dalam diri Mamanya. Kurang aroma minyak gosok saja, biar lebih afdol.
Mama Amel berdecak. "Mama tuh bingung tau nggak, Ar! Besok, Bu Arini datang mau ambil cicilan. Kalau Mama nggak bisa bayar, sofa dan tivi Mama bakal di ambil lagi." keluhnya pada Arya berharap jika putra kebanggaan nya itu bisa memberinya solusi agar bisa keluar dari masalah cicilan.
Namun Arya malah terlihat sangat santai, ia berjalan gontai, lalu mendudukkan dirinya di sofa. Sekolah kegelisahan Mamanya itu bukanlah sesuatu yang berarti.
"Kamu kok santai gitu sih, Ar?" tanya Mama Amel kesal saat melihat reaksi putranya yang terlihat sangat santai.
"Lah, terus Arya mesti gimana? Harus koprol gitu? Kan Arya sudah bilang, Mama jual aja perhiasan Mama yang banyak itu."
Seketika Mama Amel cemberut saat mendengar ucapan Arya. Ia bukannya tidak memikirkan hal itu sebagai solusi. Akan tetapi dia merasa berat jika harus menjual perhiasan yang sangat dia sayangi itu. Selagi ada jalan lain, Mama Amel akan menempuhnya. Ia sangat tidak rela jika harus menjual emas simpanannya.
"Tapi kan.... "
"Mama kan udah coba minta uang ke Mbak Kiki sama Mas Rendra. Emang Mama bisa dapat uang darimana lagi sih selain dari mereka?"
"Mungkin aja... "
"Nggak mungkin kan Mama mau pinjam uang lagi, itu nggak akan menyelesaikan masalah tapi malah nambah masalah, Ma! Atau kalau ngilang ya balikin aja tivi sama sofa yang ke Bu Arini."
"Enak aja! Mau ditaruh di mana muka Mama nanti?" sentak Mama Amel yang kesal.
Wanita itu tidak bisa membayangkan seberapa malunya dirinya nanti saat barang-barang yang pernah dia sombong kan di tarik kembali oleh si pemberi pinjaman. Belum lagi nanti saat dia yang mendapat arisan, maka teman-temannya itu yang akan mendatangi rumahnya lalu tidak ada sofa dan tivi mahalnya. Hah, Mama Amel benar-benar tidak bisa membayangkan hal tersebut.
"Sudahlah,MA. Jual aja emasnya, itu saran dari Arya sih. Kalau Mama mau ikuti ya syukur, kalau nggak ga terserah Mama sih."
Sialnya, semua yang dikatakan oleh Arya itu benar dan tidak ada jalan keluar lagi. Akhirnya Mama Amel menyetujui saran Arya daripada dia nanti merasa malu pada teman-temannya.
Maka dia akan lebih marasa malu lagi.
"Tadi Rendra kesini!"
"Terus?"
"Kamu terima aja deh, pekerjaan dari kantor Rendra. Daripada kamu nganggur nggak ngapa-ngapain."
Mama Amel mulai melancarkan bujuk rayunya. Kan nanti jika Arya bekerja, lelaki itu bisa memberikan separuh dari gajinya, jadi Mama Amel tidak akan bingung dan pusing lagi memikirkan cicilan bulan depan.
"Masak iya Arya jadi OB, Ma? Memangnya Mas Rendra nggak bisa gitu mengusahakan yang lebih baik lagi? Gak malu apa adiknya kerja jadi OB di kantornya?" tanya Arya sambil memukul bantal sofa di samping nya karena kesal.
Mama Amel memukul kepala Arya karena kesal. Sekarang bukan waktunya untuk memilih pekerjaan. Apalagi, zaman sekarang sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan.
__ADS_1
"Kamu kira itu perusahaan milik Kakak kamu? Kalau adanya lowongan cuma jadi OB, Rendra bisa apa, Ar?"
"Ya, tapi gengsi lho Ma. Masak kerja jadi OB. Secara kerjaan ku dulu itu jauh di atasnya. Masa iya sekarang malah jadi OB?"
"Makan tuh gengsi! Emang gengsi bisa buat beli beras? Bikin perut kamu kenyang. Gak ada pilihan lain lagi, pokoknya kamu harus terima pekerjaan itu." Ucap Mama Amel kesal lalu melenggang meninggalkan putra kesayangannya yang masih uring-uringan.
Mama Amel tidak peduli dengan perasaan Arya, yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya mendapatkan uang untuk menyambung hidup dan bayar cicilan.
Tidak lama kemudian, Mama Amel pergi untuk menggadaikan emas simpanannya, mumpung harus masih sore dan kantor pegadaian masih buka. Karena takut akan kecopetan lagi, maka Mama Amel minta tolong kepada tetangga agar mau mengantarkan nya, tentu saja dengan imbalan. Yaaa, anggap saja sebagai sedekah kepada orang yang sedang membutuhkan.
Sepanjang malam, Mama Amel mengabaikan Arya. Dia menganggap Arya seperti makhluk yang tam kasat mata. Bahkan dia memasak makan malam hanya untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan Arya.
Mama Amel sedang menikmati sarapannya saat Arya keluar dari kamar dengan pakaian rapi dan wangi. Ia hanya melihat sekilas pada Arya. Seolah-olah sudah tidak peduli lagi pada Arya.
"Arya mau ke kantor Mas Rendra. Kan kita butuh makan buat kehidupan kita sehari-hari. Daripada Arya nganggur terus kan?"
Mama Amel tersenyum lebar lalu bangkit dari duduknya.
"Sarapan dulu, Ar. Ini sudah Mama siapkan nasi goreng spesial buat kamu." ucap Mama Amel sambil menyodorkan sepiring nasi goreng buatannya yang sudah dia nikmati tadi.
Arya memutar bola matanya malas. "Katanya khusus buat Arya? Kok malah Mama yang makan tadi?"
"Eh, Mama cuma ngicipin aja kok! Rasanya udah pas apa belum." ucap Mama Amel.
Arya menatap nasi goreng yang tinggal separuh itu, ia sangat yakin jika Mamanya itu bohong. Namun dia terlalu lapar karena semalam tidak makan malam. Akhirnya, dia meraih piring yang disodorkan Mamanya itu. Lumayan, hitung-hitung buat ganjal perutnya pagi ini.
"Ongkos," ucap Mama Amel sambil menyelipkan uang ke kantong baju Arya.
"Mama emang paling pengertian!"
Selang beberapa jam, Bu Arini datang untuk mengambil uang cicilan beserta bunga keterlambatan bayar saat Mama Amel sedang asyik menari zumba di ruang tengah mengikuti gerakan presenter olahraga di TV.
Dor....
Dor....
Dor.....
"Bu Amel.... Bu Amel.... " teriak Bu Arini memanggil sambil menggedor pintu rumah Mama Amel. Terlihat sangat tidak sabaran, karena sudah memanggil-manggil dari tadi tapi si pemilik rumah belum keluar juga.
Akhirnya, Bu Arini mengintip dari jendela dan mendapati jika Mama Amel sedang asyik menari zumba dengan suara yang sangat keras.
"Amel.... Amel!" panggil Bu Arini dengan suara yang sangat kencang.
"Tunggu!" jawab Mama Amel sambil berteriak dan mematikan televisi.
Mama Amel terburu-buru berlari keluar untuk membukakan pintu, jangan sampai pintu rumahnya itu roboh karena ulah wanita itu.
__ADS_1
"Kamu mau robohin pintu rumahku?" tanya Mama Amel dengan wajah garang.
"Ck... ya salahmu sendiri. Kenapa dipanggil daritadi nggak keluar-keluar! Ini nggak dipersilahkan masuk?"
"Oh, iya. Mari masuk!"
Mama Amel mengajak bu Arini masuk ke dalam rumah dan mempersilahkan duduk. Lalu wanita itu menuju dapur dan mengambilkan minuman dingin rasa jeruk yang sudah dia sediakan di kulkas.
"Aih, Bu Amel ngerti aja kalau tenggorokan ku ini sudah kering karena teriak-teriak tadi."
Entah ucapan Bu Arini ini sindiran atau pujian untuk Mama Amel. Tapi yang jelas, Mama Amel tidak peduli akan hal tersebut.
"Jadi ada urusan apa kamu kesini?" tanya Mama Amel saat Bu Arini sudah menghabiskan minumannya.
"Ternyata olahraga tidak membuat ingatanmu jadi kuat ya! Kan sekarang waktunya kamu bayar cicilan tivi sama sofa!" ucap Bu Arini sambil memandangi Mama Amel dari atas sampai bawah.
Mama Amel tentu saja masih ingat dengan cicilan yang sudah jatuh tempo. Hanya saja dia berharap jika Bu Arini yang lupa. Memang benar jika masalah uang memang nggak bisa dilupakan.
"Aku kan cuma becanda, Bu! Bentar ya aku ambilkan uangnya!" ucap Mama Amel sambil terkekeh dan mengusap tengkuknya." Tenang aja, udah aku siapin kok uangnya Malah udah aku siapin buat tiga bulan sekaligus!"
Wajah Bu Arini seketika berbinar saat mendengar akan mendapatkan uang yang lebih besar dari jumlah yang dia tagih. Tanpa menunggu lama, Mama Amel segera masuk ke kamar untuk mengambilkan uang cicilan.
"Ini Bu, uangnya." ucap Mama Amel pada Bu Arini sambil menyerahkan beberapa lembar uang.
"Loh, uangnya kok cuman segini? Nggak salah?" protes Bu Arini saat uang yang diterima ternyata hanya untuk cicilan satu bulan ini.
"Looooh, bukannya satu bulan memang segitu ya?"
"Kan kamu sendiri yang bilang kalau sudah siapkan uangnya buat tiga bulan! Terus uang dendanya mana?"
"Kan aku cuma bilang udah siapkan uang angsuran buat tiga bulan. Aku nggak ada bilang kan mau bayar langsung buat tiga bulan?"
"Heh, aku nggak tanya itu ya! Cepetan kamu bayar buat bulan ini plus dendanya, jangan lupa dan jangan berkelit lagi!! Kalau kurang aku ambil sekarang juga tivi dan sofa kamu sekarang juga!"
"Ck.... iya... iya. Gitu aja kok sewot? Nih duitnya!"
Sreeetttt....
Bu Arini menarik lembaran merah dan biru dari tangan Mama Amel.
"Ingat!!! Bukan depan jangan sampai telat lagi!! aku akan datang sesuai dengan tanggal bayarnya. Awas, jangan sampai telat karena aku tidak akan segan-segan buat menarik semua barang yang sudah kamu ambil dari jualan ku!!" ucap Bu Arini memperingatkan.
Bu Arini lalu pergi meninggalkan Mama Amel dengan wajah masaknya karena sudah gagal mendapatkan suntikan cicilan tiga bulan sekaligus.
"Haaah! Dasar lintah darat, kalau bukan karena terpaksa nggak bakalan sudi aku ngambil barang jualan kamu yang mahalnya selangit. Pagi-pagi udah bikin kesel aja!"
Braaakkkk
__ADS_1
Mama Amel menutup pintu rumahnya dengan kencang.