
Sialan! Pasti mereka semua itu satu komplotan. Sialan!" ucap Mama Amel yang sedetik kemudian kembali menangis meraung-raung.
"Ku sumpahin perutmu meledak saat akan melahirkan hey pencuri wanita!!!" pekik Mama Amel geram.
Tanpa dia sadari jika apa yang dia alami saat ini adalah akibat dari ucapannya yang berbohong pada kedua anaknya saat itu. Dan Tuhan pun langsung memberikan bayaran tunai tanpa cicilan pada Mama Amel.
Sore pun mulai menyapa. Dan Mama Amel semakin merasa tidak tenang karena terus berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membayar cicilan. Ia tidak rela jika Bu Arini sampai mengambil kembali sofa dan televisi yang cicilannya sudah hampir lima puluh persen itu.
Tok....
Tok..
Tok....
Suara ketukan pintu terdengar saat Mama Amel sedang duduk di pinggir ranjang sambil menyumpahi komplotan pencuri itu.
Mama Amel segera beranjak dari tempatnya duduk lalu melangkah keluar. Ia segera berjalan ke arah pintu, dan begitu pintu terbuka terlihat Rendra yang berdiri di depannya.
Melihat kedua mata Mama Amel yang tampak sembab membuat Rendra mengerutkan keningnya.
"Mama habis nangis?" tanya Rendra.
Dari wajah Mama Amel memang terlihat jelas jika wanita itu telah menghabiskan waktunya dengan menangis.
"Mama habis kecopetan, Ren!"
"Tadi siang! Mana Mama butuh banget duitnya!"
"Mama kecopetan kemarin apa tadi siang?" tanya Rendra.
"Ya tadi, waktu Mama ambil uang kiriman dari kamu itu!"
"Berarti Mama kecopetan dua kali?"
__ADS_1
"Ya enggak, baru tadi Mama kecopetan!" ucap Mama Amel kemudian buru-buru menutup mulutnya karena sadar telah keceplosan.
"Loh?" tanya Rendra. "Berarti yang Mama katakan kemarin kalau uang Mama hilang berarti bohong ya?" tanya Rendra lagi pada sangat Mama dengan tatapan mata menelisik tajam mencari kejujuran dari wanita paruh baya beranak tiga di depannya.
"Sudahlah Ren, Mama itu lagi pusing lhooo. Kamu jangan banyak tanya sama Mama!"
"Banyak tanya gimana maksud Mama? Ini baru pertanyaan kedua lho, Ma!"
Mama Amel hanya bisa berdecak kesal.
"Makanya Ma, kalau ngomong itu yang bener. Mama juga bilang kalau habis kecopetan sama Mbak Kiki kan? Nah, akhirnya kejadian beneran kan?"
Mama Amel memutar bola matanya malas.
"Kamu mau ngapain kesini?" Mama Amel mengalihkan pembicaraan. Sebab, saat Rendra mulai bertausiah, saat itu pula gendang telinganya terasa gatal seolah akan pecah.
"Arya mana, Ma?"
Tampak sepasang Ibu dan Anak itu duduk di sofa ruang tamu. Seketika, ingatan tentang aduan Arya perihal lowongan pekerjaan sebagai OB terngiang di telinga.
"Ren, Arya tadi bilang sama Mama, katanya lowongan yang ada di perusahaan kamu adanya cuma OB aja?"
"Iya, Ma. Adanya memang cuma itu aja." jawab Rendra santai.
"Apa kamu nggak bisa mengusahakan yang terbaik buat Arya, Ren? Secara, kamu kan sudah lama bekerja di sana. Masa iya sih, masukkan adik kandungnya jadi OB?"
"Lah... adanya memang itu, Ma. Biarpun Rendra sudah lama bekerja di sana, memangnya Rendra bisa berbuat apa. Kalaupun seandainya bisa, ya Rendra bakal memposisikan diri Rendra jadi manager seperti Mas Rifki."
Rendra menghela nafasnya dalam-dalam. Begitupun dengan Mama Amel.
"Selagi nunggu kerjaan baru, suruh saja Arya terima kerjaan jadi OB."
"Tanpa kamu bilang pun Mama sudah tahu, Ren!"
__ADS_1
Rendra terlihat mencebikkan bibir tipisnya saat respon dari Mamanya terdengar sangat ketus.
...*****...
Di tempat lain, terlihat kendaraan roda empat berwarna hitam masuk ke dalam halaman rumah milik Nissa. Dan setelah mobil berhenti, beberapa detik kemudian suara deru mesin tak terdengar lagi tampak seorang lelaki tampan keluar dari sana.
Marvell.
Ya, lelaki itu adalah Marvell. Dia datang hendak menjemput Nissa untuk diajaknya pergi makan malam berdua.
Sebelum melangkah, lelaki itu menyempatkan diri melihat penampilannya dari kaca spion mobil. Dia memastikan jika penampilan nya saat ini sudah sempurna dan tidak terkesan memalukan.
Tok....
Tok...
Marvell mengetuk pintu yang saat ini sudah terbuka dengan lebar.
"Assalamu'alaikum," ucap Marvell.
Tidak lama kemudian, seorang wanita yang usianya tidak lagi muda namun masih memancarkan aura kecantikan yang luar biasa nampak muncul dari dalam sana. Wanita itu berjalan ke arah pintu masuk tempat Marvell berdiri saat ini.
"Wa'alaikumussalam," jawab Mama Imelda.
"Selamat Malam, Tante." ucap Marvell lalu mencium takzim punggung tangan wanita itu
"Masuk, Vell, Nissa nya masih di kamar biar tante panggilkan dulu." ucap Mama Imelda.
Marvell hanya mengangguk lalu melangkah masuk.
"Sebentar ya, Tante panggilkan dulu." ucap Mama Imelda setelah Marvell duduk di sofa ruang tamu.
"Iya Tante, terimakasi," jawab Marvell.
__ADS_1