
Jantung Vina dan Rendra terasa berdebar-debar saat menunggu hasil tes dokter. Sesaat setelah menunggu, dokter itu kembali mendatangi mereka dengan membawa alat tes kehamilan. Seulas senyum tampak di bibir lelaki yang memakai snelli itu.
"Bagaimana, Dok?" tanya Rendra saat lelaki itu sudah duduk di kursi kebesaran nya.
"Alhamdulillah, Ibu Vina memang benar sedang hamil." jawab sangat dokter sambil menunjukkan tes pack yang tadi digunakan untuk mengetes urine Vina. Alat itu dengan jelas menunjukkan hasil dua garis.
Vina membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tangan nya. Dia tak percaya, kedua kelopak matanya kembali berkaca-kaca.
Begitupun dengan Rendra. Lelaki itu ingin bertanya dan memastikan. Namun tenggorokannya tercekat.
"Sa.... saya hamil, Dok?"
Dokter itu mengangguk, Rendra dan Vina saling berpandangan hingga akhirnya mereka saling berpelukan. Dengan kedua sudut mata yang mengeluarkan air mata. Bukan air mata kesedihan, tetapi air mata kebahagiaan.
"Mas, akhirnya aku hamil, Mas! Setelah sekian lama kita menunggu," Vina tak kuasa menahan tangis. Sangat dokter yang melihat itupun ikut terharu. Meski bukan pemandangan pertama kali tapi tetap saja membuatnya ikut terlarut dalam suasana seperti ini.
"Iya, Alhamdulillah Sayang. Setelah penantian kita bertahun-tahun. Terima kasih ya Allah."
"Iya, Pak. Dari hasil test pack menunjukkan jika Vina sedang mengandung, untuk lebih jelas berapa bulannya, Bapak bisa langsung ke dokter SPOG, disana bisa sekalian USG."
Rendra dan Vina mengangguk paham. Setelah dokter memberikan resep, Rendra, Vina dan juga tetangga yang ikut membantu membawa Vina ke klinik tadi keluar dari ruang periksa dan menuju ke apotek untuk mengambil obat dan juga vitamin yang diresepkan oleh dokter tadi.
...*****...
"Terima kasih ya, Sayang. Akhirnya kamu mengandung anak kita." ucap Rendra sambil memeluk Vina dari belakang. Wanita cantik itu saat ini sedang membersihkan wajahnya di depan cermin yang menempel di pintu lemarinya. Vina pun ikut meletakkan tangannya di atas tangan suaminya yang kini melingkar di atas perut nya yang masih rata.
Wanita cantik itu berbalik dan menatap wajah tampan suaminya. "Ini juga berkat kerja keras kamu, Sayang. Kalau nggak ada kamu, nggak mungkin dia tumbuh disini." ucap Vina sambil mengusap perutnya.
Hampir saja Rendra tertawa mendengar jawaban polos istrinya itu. Namun karena tidak ingin merusak momen romantis saat ini, dia memilih untuk tersenyum saja.
Cup
Sekilas Rendra mengecup bibir merah alami istrinya yang terasa manis.
"Ini berkat kerja keras kita, Sayang. Yang pasti, Tuhanlah Maha pemberi segalanya. Termasuk janin yang saat ini ada dalam rahim kamu. Aku janji akan selalu menyayangimu juga anak kita nanti. Semoga kita selalu bersama hingga nanti di surga-Nya."
"Aamiin."
"Terus?"
"Terus apa?" tanya Vina tidak paham. "Terus apa, Mas?"
__ADS_1
"Boleh?" tanya Rendra sambil menatap penuh arti pada Vina. Bahkan seru nafas lelaki itu terasa hangat menerpa wajah bahkan sudah tidak beraturan lagi.
Kali ini Vina paham, kemana arah pembicaraan suaminya kali ini. Pasti dia mau minta haknya.
"Apakah boleh?" tanya Vina pelan.
"Aku janji akan pelan-pelan, Sayang. Nanti saat kamu merasa tidak nyaman, aku janji akan berhenti."
Rendra berbisik di telinga Vina. Deru nafasnya membuat bulu kuduk istrinya itu berhenti.
"Anggap saja aku mau menjenguk junior, Sayang. Biar dia nanti kenal sama Papanya. Boleh kan, Sayang?"
Vina tertunduk, sedangkan Rendra kembali mengangkat wajahnya hingga akhirnya mereka bertatapan selama beberapa detik. Kemudian bibir sepasang kekasih halal itu saling bertaut, menciptakan getaran-getaran rasa di dalam dada.
Sore itu di kamar yang tidak terlalu besar, kedua sejoli yang sudah halal itu kembali mereguk manisnya madu asmara dalam satu bingkai hubungan yang halal.
...*****...
"Sudah pulang Ma, In?" tanya Papa Nando saat melihat dia wanita kesayangannya masuk ke dalam rumah.
"Ya sudah dong, Pa. Kan orangnya sudah ada disini!"
"Oh, Papa kira ini makhluk astral yang menyamar!" ucap Papa Nando lalu tertawa saat melihat putri itu cemberut.
Mama Sofie tersenyum, Ia merasa bahagia karena akhirnya keluarganya kembali hangat setelah beberapa waktu yang lalu dikacaukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab yang mengganggu keharmonisan keluarga kecilnya.
"Gimana Pa? Kita cantik nggak?" Indri kembali bertanya sambil memutar badannya layaknya seorang top Model. Rambutnya yang dulu panjang kini hanya sebatas pundak saja. Dia pun menambahkan sedikit poni di bagian depannya. Membuat Indri terlihat lebih imut, apalagi dengan postur tubuhnya yang v tidak terlalu tinggi.
Papa Nando mengangkat dua jempol tangannya setelah menilai penampilan baru putri kesayangan nya itu.
"Tadi, kakaknya Arya datang kesini."
Mendadak suasana menjadi hening dan sepi.
"Mau apa dia kesini, Pa?" tanya Indri memecah keheningan.
"Dia datang mengantarkan semua persyaratan yang kita minta agar Arya dan Mamanya itu bisa bebas."
"Oooh, jadi sekarang semua diberikan ke Papa? Apa Papa yakin, dengan semua syarat itu mereka tidak akan menggangu keluarga kita lagi?"
"Sangat yakin!"
__ADS_1
"Terus, video klarifikasi itu untuk apa?"
"Untuk di sebar di sosmed lah, masak iya cuma buat simpanan aja?"
"Maksud Papa?"
"Negara kita inginkan punya kekuatan netizen yang bisa dikatakan kuat. Papa yakin, dengan kejadian seperti ini saja mereka tidak akan kapok. Menurut Papa, video ini harus disebarkan biar mereka viral sekaligus untuk membersihkan nama baik keluarga kita, tentunya juga untuk memberikan sanksi sosial bagi mereka berdua. Bisa saja kan, nanti saat mereka keluar rumah, mereka ketemu dengan orang yang tidak mereka kenal tapi malah mereka dihajar. Itu pasti akan membuat mereka jadi malas untuk keluar."
Indri dan Mama Sofie mengangguk paham dengan maksud Papa Nando.
"Ya Papa benar. Papa memang yang terbaik, bisa berpikir sampai kesana untuk membalas mereka."
"Menurut Papa, orang seperti mereka itu tidak cukup hanya dengan hukuman penjara saja, Ma. Enak di mereka dong, di penjara mereka kan makan gratis. Nah, jika dikeluarkan terus mereka malah mendapatkan sanksi sosial, gimana? Bisa kalian bayangkan bukan? situ pasti akan lebih kejam lagi. Marvell pasti akan memecat Arya saat dia kembali bekerja nanti. Mereka tidak akan punya penghasilan lagi dan tidak berani keluar rumah. Kita lihat saja apa yang akan mereka lakukan setelah itu. Menurut Papa itu hukuman yang pantas untuk mereka."
"Papa emang paling kereeen. Terus kapan kira-kira mereka akan keluar dari penjara? Apa setelah ini?"
"Enak aja! Biarkan saja mereka mendekam di sana satu atau dua minggu lagi, baru kita keluarkan mereka. Paling tidak mereka tahu seperti apa rasanya. mendekam di penjara."
"Indri sih setuju saja, kalau Mama gimana?"
"Setuju banget lah! Masak iya nggak setuju!"
jawab Mama Sofie.
Ketiganya kemudian tertawa bersama mentertawakan tingkah mereka sendiri.
Oh, iya In. Kamu nggak ada niatan gitu buat minta maaf sama mantan tunangan Arya? Sikap kamu dulu kan kurang baik sama dia." ucap Mama Sofie mengingatkan.
Indri hanya diam lalu menundukkan kepalanya.
"Kenapa? Kamu pernah punya salah sama mantannya Arya, Nak? Kalau Iya, sebaiknya kamu segera minta maaf," ucap Papa Nando.
"Indri sebenarnya juga ingin minta maaf, Pa. Tapi... " Indri menjeda ucapannya sambil menggigit bibir bawahnya.
"Tapi kenapa?"
"Tapi Indri malu, Pa. Indri dulu sudah sangat keterlaluan pada Nissa. Dia pasti marah besar nanti."
"Kan belum dicoba, Nak! Minta maaf itu bukanlah satu hal yang memalukan. Saat kita melakukan kesalahan maka kita wajib meminta maaf. Urusan di maafkan atau tidak itu bukan tanggung jawab kamu. Yang terpenting niat dan hati kamu sudah tulus.
...**•̩̩͙✩•̩̩͙*˚ 𝐻𝑎𝑝𝑝𝑦 𝑅𝑒𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 ˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚*...
__ADS_1
...*****...