Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Video laporan


__ADS_3

"Istri kamu itu benar-benar perempuan sialan! Wanita pembawa sial! Nyesel Mama dulu nyuruh kamu nikahi Indri kalau akhirnya ternyata seperti ini. Mama tadi hampir dibunuh pakai pisau daging tahu nggak?" omel Mama Amel.


"Itulah Ma, kalau kita nggak lihat bibit, bebet, dan bobotnya lebih dulu. Jadinya seperti ini, kita tertipu."


"Terus ini gimana, Ar! Kamu udah bonyok eh malah ditambahin sama si Indri sialan itu. Kalau kelamaan nggak kerja Mama takutnya kamu bakal dipecat lagi, Ar!"


"Terus gimana Ma? Masak aku masih bonyok kayak gini udah disuruh kerja? Mama kan masih ada simpanan perhiasan yang dibelikan Indri waktu itu kan?"


"Kenapa! Nggak ya, gak ada jual-jual perhiasan punya Mama. Dapetnya aja susah, Mam nggak mau kalau dijual begitu saja." jawab Mama Amel.


"Ya terus mau gimana, Ma? Uangku sudah habis, sudah nggak ada lagi. Sedangkan perempuan yang kita harapkan karena kekayaannya ternyata malah zonk."


"Gimana ya?.... Ah, nggak tahu lah. Mama juga pusing, Ar!"


Mama Amel mondar mandir mirip setrikaan. Dia mencoba berpikir, mencari solusi untuk permasalahan mereka saat ini. Hingga akhirnya sebuah ide konyol tercetus dari Mama Amel.


"Kita datangin aja rumah sakit tempat Papa Indri di rawat, terus kita minta uang dari dia!"


"Mama mimpi ya? Mana mungkin dia mau ngasih, Ma!"


"Kita bikin rusuh aja di kamar rawat Papanya, biar aja Papanya mati, terus warisannya jatuh ke Indri. Kan nantinya kamu juga yang merasakan!"


"Tapi kita nggak tahu lho Ma, dimana Papanya Indri itu dirawat!"


"Kita datangin aja rumah ria bangka itu! Gampang kan!"


"Mau apa? Mau ngemis? Nggak sudi aku, Ma!" jawab Arya.

__ADS_1


"Dengerin Mama dulu! Jangan bodoh kamu jadi orang! Kan kita bisa tanya sama satpam atau ke pembantunya dimana tua bangka itu dirawat. Nanti sampai rumah sakit Mama bakal buat drama heboh dan pura-pura menangis histeris seolah Mama ini adalah mertua yang disakiti. Biar dia malu sama akhirnya mau mengeluarkan uangnya!"


"Iya juga yaa, bener kata Mama. Ya sudah sana, Mama jalan."


"Enak aja, sama kamulah! Gimana sih?"


"Mau naik motor gitu? Aduh enggak deh, Ma! Buat berdiri sama jalan aja masih ngilu banget rasanya. Haaah, nasib.... nasib. Belum juga ngrasain enaknya masuk sangkar, udah di bejek-bejek aja nih burung. Indri bener-bener keterlaluan. Awas aja kalau aku udah sehat. Bakal aku balas dia!"


"Duh, bener ya! Kamu menang ganteng diang tapi bodohnya nggak ketulungan! Rugi Mama sekolahin kamu tinggi-tinggi. Naik taksi lah, Ar!"


"Emang Mama ada duitnya?"


"Tadi kan Mama habis ambil uang Indri. Lumayanlah, ditambah uang Mama sendiri. Cukuplah buat ongkos taksi nanti."


"Ya udah deh, Mama pesen taksi online nya."


Mama Amel memesan taksi online agar bisa segera melaksanakan rencana yang telah ia susun bersama Arya tadi. Dia sangat yakin jika rencana akan berhasil dan akan mendapatkan uang dari Indri karena dia percaya orang seperti Mama Sofie dan Papa Nando sangat menjunjung tinggi yang namanya harga diri dan nama baik. Dengan begitu akan mudah bagi mereka untuk untuk meminta apapun yang mereka mau.


Di lain tempat, terdengar ponsel milik Papa Nando yang ada di atas nakas berdering, ada pesan masuk disana. Dan nama Zian, nama lelaki yang ditugaskan oleh Papa Nando untuk mengawasi pergerakan Arya juga Mama Amel terpampang sebagai pengirim.


"In, tolong ambilkan ponsel Papa."


Saat ini dikamar rawat itu hanya ada Indri dan Papa Nando. Sedangkan Mama Sofie sedang keluar ke minimarket terdekat untuk membeli beberapa kebutuhan mereka.


"Ini Pa," ucap Indri menyerahkan ponsel Papa Nando tanpa melihat layar yang saat ini berpendar.


Papa Nando segera mengambil alih ponsel dari tangan Indri. Ternyata Zian mengirimkan video berdurasi hampir dua puluh menit.

__ADS_1


Dengan cepat Papa Nando menekan tombol buka. Hingga terputar video pertikaian Indri dengan Arya dan juga Mama Amel.


Papa Nando sangat geram saat mendengar umpatan demi umpatan yang ditujukan pada putri kesayangannya. Bahkan tidak hanya itu, kedua orang itu dengan mudah dan ringanmya melayangkan tangan pada anaknya Sedangkan dia orang tua kandungnya tak pernah sedikitpun melakukan kekerasan fisik pada anaknya.


Tanpa sadar Papa Nando menggenggam erat ponsel yang saat ini dia pegang. Nampak rahang Papa Nando yang mengeras karena gejolak amarah yang saat ini sedang dia tahan karena ada Indri di dekatnya.


"Ada apa, Pa?" tanya Indri saat melihat perubahan ekspresi wajah Papanya.


"Bagaimana bisa mereka memperlakukan kamu seperti ini? Bahkan Papa saja tidak pernah melakukan hal seperti itu!" ucap Papa Nando sambil menunjukkan layar ponselnya pada Indri.


Seketika kedua mata Indri terbelalak. "Papa dapat rekaman itu darimana?" tanya Indri.


"Dari orang suruhan Papa yang memantau kamu atas perintah Papa." ucap Papa Nando yang sudah tidak bisa menahan lagi melihat putri kesayangannya diperlakukan sedemikian rupa.


Indri dijambak, lalu diseret kemudian ditendang. Hingga akhirnya Papa Nando menekan tombol keluar pada ponselnya lalu meletakkan ponselnya dengan asal.


"Papa menyuruh orang melaporkan semua yang mereka lakukan padamu, In. Bahkan saat mereka merampas gaji dan uang pesangon kamu pin, Papa juga tahu."


Indri terdiam. Dadanya bergemuruh, emosi ya kembali terbakar saat hinaan dan umpatan serta cacian kembali terngiang dalam ingatan nya. Bahkan sikap kasar Arya dan Mama Amel kembali terbayang di pelupuk mata Indri.


"Orang yang merampok Arya tempo hari juga orang suruhan Papa. Dan tujuan Papa bukan cuma ingin mengambil kembali uang ya g sudah mereka rampas darimu Tapi, Papa juga ingin membalas tamparan yang kamu terima waktu itu. Papa tidak terima jika mereka memperlakukan kamu seperti itu. Tapi ternyata mereka semakin menjadi, Papa tidak kuat melihat video itu sampai akhir."


"Maafkan Indri, Pa." ucap Indri sambil kembali memeluk Papa Nando yang terbaring dibatas brankar rumah sakit.


"Sudahlah, semua sudah berlalu. Dan percayalah setelah ini Papa akan membalas semua yang telah mereka lakukan. Papa akan membalas setiap rasa sakit yang mereka berikan padamu. Bila perlu, akan Papa patahkan tulang-tulang Arya."


"Pa, tidak perlu. Papa fokus saja pada proses penyembuhan Papa. Indri cuma mau kita cepat pulang dan kembali hidup bersama seperti dulu lagi. Jangan membuat Indri semakin merasa bersalah karena melihat Papa terbaring seperti ini lebih lama lagi."

__ADS_1


"In, obat dari sakit Papa adalah kamu. Besok Papa pasti sudah di izinkan pulang oleh dokter. Papa yakin itu," ucap Papa Nando.


Indri tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya .


__ADS_2