
"Ya sudah, tinggal kembalikan saja toh sofa sama televisinya. Bereskan? Mama juga nggak bakal di kejar-kejar lagi. Toh, sofa dan televisi itu juga bukan kebutuhan primer. Jadi nggak usah pusing lah dengan barang-barang itu. Dan soal omongan orang, terus terang saja ya Ma. Kiki nggak peduli tuh! Terserah mereka mau ngomong apa, kecuali mereka mau bayarin hutang-hutang Mama yang Mama buat sendiri, baru Kiki mau menampung omongan mereka semua. Sudah ya, Ma. Kalau telpon Kiki cuma mau ngomong hal kayak gini aja mending Mama nggak usah telpon sekalian. Yang penting, Kiki sebagai anak sudah berusaha membantu dan bertanggung jawab atas kebutuhan pokok Mama. Tapi kalau Mama menuntut kami sebagai anak untuk menuruti gaya hidup hedon Mama itu, maaf ya Ma. Kiki sebagai anak tidak bisa dan tidak akan pernah mau. Silahkan saja Mama minta sama Arya. Si anak kesayangan Mama itu. Assalamu'alaikum."
Panggilan telepon itu dimatikan begitu saja oleh Kiki tanpa menunggu jawaban dari sang Mama. Mama Amel yang mendapat perlakuan seperti itupun merasa kesal sampai-sampai dia membanting benda pilih yang ada dalam genggaman tangannya.
"Kenapa anak-anakku jadi berani melawan kayak gini sih?" gerutu Mama Amel berkali-kali. Wanita itu menghirup nafas dalam-dalam kemudian dia hembuskan perlahan.
Kini, sudah tidak ada lagi yang bisa dia harapkan. Rendra, sudah menolaknya mentah-mentah. Dan sekarang, Kiki anak pertama nya juga melakukan itu. Entahlah, saat ini dia merasa jika dia adalah seorang ibu yang paling menderita sedunia.
(lebay nya..... 🤣🤣🤣)
Tampak Mama Amel yang saat ini mengusap-usap wajahnya dengan kasar. Otaknya kembali bekerja dengan keras bagaimana caranya dia bisa bayar cicilan tanpa harus mengurangi jumlah perhiasan yang dia simpan di laci makasih dekat tempat tidurnya.
"Ambil yang ada sajalah. Siapa tahu nanti Bu Arini mau ngasih keringanan." ucap Mama Amel lirih.
Wanita itu segera beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan keluar dari rumah dengan membawa dompet yang baru saja dia ambil. Dengan mengendarai kendaraan roda dua yang dia pinjam dari tetangga samping rumahnya, Mama Amel pergi ke mesin ATM terdekat. Butuh waktu kurang lebih sekitar sepuluh menit untuk sampai di sana.
Sebelum Mama Amel mengambil uang yang ada di rekeningnya, wanita itu menekan menu cek saldo terlebih dahulu. Dadanya terasa sesak saat melihat saldo rekening yang muncul di layar mesin ATM tersebut yang tidak lebih dari enam ratus ribu saja. Padahal kedua anaknya itu telah mentransferkan uang yang jumlahnya tidak sedikit, ditambah lagi Rendra yang kembali mengirimkan uang sebesar lima ratus ribu tapi nyatanya semua itu sudah habis untuk membeli barang-barang yang tidak berguna.
Setelah lima lembar uang pecahan seratus ribuan itu dia masukkan ke dalam dompet, Mama Amel segera keluar dari ruangan kecil itu. Ternyata sudah ada empat orang yang mengantri di sana. Selain itu ada juga satu orang wanita dengan perut buncit hendak masuk saat Mama Amel hendak keluar dari ruangan tersebut.
"Permisi, Bu. Apa bisa tarik tunai?"
"Bisa Mbak, coba saja. Saya juga barusan ambil kok."
Iris hitam wanita berperut buncit itu sekilas melirik ke arah dompet yang ada di saku baju Mama Amel. Saku baju yang tepat ada di bagian samping tubuhnya.
Sreeetttt....
Tiba-tiba saja seorang lelaki mengambil dompet itu dengan kasar. Dan hal itu membuat Mama Amel terkejut, dan seketika menoleh sambil berteriak, "Maliiiing.... Maliiiiiing... "
__ADS_1
Dua orang lelaki lainnya segera berdiri.
"Ada apa Bu?"
"Iya, ada apa Bu?"
"Itu... Maling! Dia habis ambil dompet saya!"
Mama Amel menjawab sambil tergagap dan menunjuk ke arah lelaki yang berpakaian serba hitam yang sedang berlari menjauh.
"Maliiing.... Maliiiiiing....!" teriak Mama Amel. Dia hendak berlari mengejar lelaki yang baru saja mengambil dompetnya itu.
"Bu, tenang. Ibu tunggu saja di sini. Biar kami yang mengejar malingnya." ucap salah satu lelaki itu dengan wajah panik. Kemudian wajahnya beralih memandang wanita dengan perut buncit yang berdiri di depan Mama Amel.
"Mbak, bantu tenangkan Ibu ini dulu ya. Biar kami yang kejar."
"Iya, Mas."
Mama Amel terus berteriak histeris sambil menyebut kata maling sedari tadi di sela-sela isak tangisnya.
"Ya ampun, uangku.... " ucap Mama Amel.
Beberapa orang yang datang ke mesin ATM hendak bertransaksi pun menghentikan langkah mereka sekejap untuk sekedar bertanya apa yang terjadi.
Wanita berperut buncit itu tak henti-hentinya menenangkan Mama Amel yang terus menangis sedari tadi meski ia tahu jika usahanya itu hanya sia-sia saja karena hingga sepuluh menit berlalu Mama Amel masih saja menangis tersedu.
Dreeet....
Dreeet...
__ADS_1
Ponsel wanita yang sedari tadi menemani Mama Amel itu bergetar. Ada panggilan masuk yang membuat wanita itu mengambil benda pipih dari dalam tas kemudian mengusap layar datar itu ke atas. Hingga tak butuh waktu lama sambungan itupun terhubung.
"Hallo, ada apa?" tanya wanita itu.
"Apa? Ibu jatuh? Ya sudah, Pak. Saya pulang sekarang!"
Tuuut.
Wanita itu tampak mematikan sambungan telepon nya, lalu memasukkan benda pipih itu ke tempatnya semula.
"Bu, saya pamit dulu ya. Ibu saya jatuh din depan rumah." ucap wanita itu.
Mama Amel tidak menjawab. Dia hanya mengangguk saja saat mendengar ucapan wanita asing yang ada di depannya itu.
Wanita itu segera berdiri dan berjalan menjauh dari Mama Amel menuju ke kendaraan matic yang dia parkir tak jauh dari tempat tersebut. Dan tak lama kemudian, kendaraan roda dua itu melesat menjauh dari tempat Mama Amel yang saat ini masih menangis tersedu dengan perasaan pilu.
Lima menit berlalu, tiga orang lelaki dengan satu orang perempuan tadi terlihat sedang duduk di depan sebuah minimarket. Terlihat lelaki berpakaian serba hitam itu mengeluarkan benda pipih berbentuk persegi panjang dari dalam saku jaketnya. Kemudian segera membuka dan melihat isinya.
"Haiiis.... cuma enam ratus ribu aja!"
"Nggak apa-apa lah, lumayan itu daripada zonk!" jawab wanita berperut buncit si sebelah nya.
Belasan menit pun telah berlalu, bahkan hampir tiga puluh menit lamanya Mama Amel duduk menunggu dia orang lelaki yang katanya mengejar pencopet tadi di depan ruangan mesin ATM. Namun hingga saat ini mereka belum kembali juga, hingga membuat Mama Amel merasakan sesuatu yang tidak beres.
Wanita itu tampak mengusap air matanya untuk yang kesekian kalinya. Dan pikiran burukpun mulai menyapa. (Hai Mama Amel... 🤣🤣🤣🤣)
"Sialan! Pasti mereka semua itu satu komplotan. Sialan!" ucap Mama Amel yang sedetik kemudian kembali menangis meraung-raung.
"Ku sumpahin perutmu meledak saat akan melahirkan hey pencuri wanita!!!" pekik Mama Amel geram.
__ADS_1
Tanpa dia sadari jika apa yang dia alami saat ini adalah akibat dari ucapannya yang berbohong pada kedua anaknya saat itu. Dan Tuhan pun langsung memberikan bayaran tunai tanpa cicilan pada Mama Amel.