Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Sandiwara yang sempurna


__ADS_3

Mata Mama Sofi menerawang, sejauh ini dia tak mengetahui siapa saja yang dekat dengan putrinya itu. Setahu dia, putrinya itu memilik teman baru. Arya, anak dari sahabatnya.


"Arya?" Mama Sofi menyebut satu nama lalu menatap pada Marvel yang di balas anggukan oleh lelaki itu.


"Arya itu anak sahabat baik Tante, Vel. Dia anaknya baik kok!"


Kedua mata Marvel sempat membelalak sebelum akhirnya kembali seperti biasanya. Marvel meminta Mama sofi untuk menceritakan awal mula pertemuan Arya dan Indri.


"Begini Tan, dari info yang Marvel dapat, Arya dan mamanya itu bukan orang yang baik, mereka keluarga toxic Tan. Bahkan, Arya pernah gagal tunangan kan?"


"Iya, Tante tahu itu. Semua karena tunangan Arya yang berselingkuh bukan?"


Tanpa sadar tangan Marvel terkepal.


"Sialan ternyata bajingan itu!"


"Arya kenapa Vel? Setahu Tante dia orangnya baik."


"Nggak Tan, Tante salah!"


Akhirnya mengalir lah cerita dari Marvel. Tak mudah untuk Mama Sofi bisa menerima cerita dari Marvel. Sebab, sudah belasan tahun dia mengenal Mama Amel. Apalagi semenjak mereka bersahabat tak pernah berselisih paham ataupun mendengar berita buruk tentang Mama Amel.


Marvel menceritakan tentang penyebab batalnya pertunangan Arya hingga Arya yang dipecat dari perusahaan. Nampak Mama Sofie yang hanya manggut-manggut mencoba memahami cerita dari Marvel.


Mama Sofie bukanlah gadis muda yang sedang jatuh cinta. Ia tidak serta mertua mengabaikan cerita Marvel seperti Indri. Bagaimanapun juga Mama Sofie menginginkan yang terbaik untuk Indri, putri semata wayangnya. Jadi dia harus benar-benar menyeleksi calon jodoh Indri, bukan dari segi materi tapi dari perilakunya.


"Terimakasih Vel, kamu sudah memberi tahu Tante. Nanti biar Tante yang memberi tahu Indri. Meskipun Amel adalah sahabat Tante nggak seharusnya juga Tante langsung percaya seperti apa katamu tadi."


Obrolan seputar Indri pun beralih ke usaha-usaha yang saat ini sedang digeluti oleh mama sofi dan suaminya. Akhirnya setelah puas ngobrol, Marvel pun berpamitan.


...*****...


Suara denting piring yang beradu dengan sendok memenuhi ruang makan rumah mama Sofi, tak ada pembicaraan di antara mereka. Mama Sofi dan Indri tengah fokus dengan makanan yang ada dihadapannya. Sesekali perhatian Indri beralih pada benda pipih yang ia letakkan di samping nya. Sampai-sampai ia mengabaikan makanannya ketika berbalas pesan dengan Arya.


Untung saja saat ini mereka sedang makan berdua saja karena Pak Gunawan sedang keluar kota. Jika saja ada sang Papa, tentu benda pipih itu sudah hancur berkeping-keping kena banting Papanya.


"Sayang, bagaimana hubungan kamu dengan Arya?" tanya Mama Sofi.


Kepala Indri yang semula menunduk karena sedang berbalas pesan dengan Arya sedikit terangkat dan menatap sang Mama.


"Baik Ma! Mas Arya lelaki yang sangat baik kok!" ucap Indri sambil tersenyum lebar.


"Mama hanya berpesan, jangan terlalu buru-buru mengambil keputusan jika Arya menyatakan cinta atau mengajakmu menikah."


ucap Mama Indri.

__ADS_1


Ucapan Mama Sofie sukses membuat Indri bingung. Akhirnya dia letakkan ponselnya, keningnya terlipat hingg alisnya bertaut.


"Kamu harus cari tahu betul-betul bagaimana karakter Arya yang sebenarnya dulu ya, Sayang," lanjut Mama Sofie.


"Loh, Mama kok jadi ngomong kayak gitu? Bukankah kata Mama kalau Mas Arya itu anak yang baik? Kok sekarang jadi begini? Ada apa Ma?" tanya Indri penasaran. "Apanda seseorang mengatakan yang tidak-tidak tentang Mas Arya? Apa Mas Marvel datang menemui Mama lalu mengatakan hal yang buruk tentang Mas Arya?"


"Em, anu...itu..."


Fix, melihat gelagat sang Mama, Indri yakin pasti Marvel sudah datang menemui sang Mama dan menjelekkan Arya.


"Mama nggak usah nutupin, dari gelagat Mama saja Indri sudah paham kalau Mas Marvel pasti sudah nemuin Mama kan?"


"Tapi apa yang dikatakan Marvel itunada benarnya, In! Meski Amel teman Mama dan Mama pernah bilang kalau Arya itu baik, bukan berarti kamu telan mentah-mentah kan, In! Ibarat kata, yang bakal menjalani kan juga kamu."


"Nah, itu Mama tahu kalau yang menjalani itu aku. Baik dan buruknya Mas Arya, biarlah aku yang akan menanggungnya nanti." jawab Indri.


Sungguh Mama Sofie tidak menyangka jika putrinya yang manja dan kolokan itu mengatakan siap menghadapi apapun resiko yang akan dia terima. Namun berbeda dengan Mamanya, sebagai orang tua dia sangat ingin yang terbaik untuk Indri.


Masa iya anak gadis yang ia rawat dan ia sayang sejak kecil harus berakhir di tangan keluarga toxic macam Arya dan Amel. Tapi, belum tentu juga apa yang dikatakan Marvel itu benar.


"Ma, mungkin Mas Marvel sudah mengatakan versi yang menurutnya benar. Tapi bukankah aku juga mengatakan hal yang sama sesuai dengan versiku sendiri. Mama harusnya carintahu sendiri dulu tentang kebenarannya sebelum meminta Indri untuk menjauhi Mas Arya. Sedangkan kemarin Mama sendiri yang mendekatkan Indri dengan Mas Arya."


Ucapan Indri benar-benar masuk ke dalam pikiran Mama Sofie. Hingga tadi dia yang benar-benar percaya pada ucapan Marvel justru berbalik mendukung anaknya.


"Yah, Mama pikir benar juga apa yang kamu katakan, In! Mungkin, Mama yang terlalu cepat percaya begitu saja pada ucapan Marvel. Mungkin saja malah Marvel yang terhasut dengan wanita itu."


Mama Sofie menarik nafas dalam dan menghembuskan nafas perlahan.


"Baiklah, apapun yang membuatmu bahagia dan menurutmu benar maka Mama akan mendukung kamu. Siapapun yang membuatmu sedih meski itu adalah keponakan Mama sendiri, maka Mama tidak akan segan-segan untuk melawan."


Indri tersenyum penuh kemenangan, karena sang Mama akhirnya kembali membelanya.


...*****...


"Ar, bagi duit dong! Mama mau bayar arisan nih!" ucap Mama Amel sambil menadahkan tangannya dihadapan Arya.


Arya yang sedang menyuapkan nasingireng ke mulutnya mendadak menghentikan suapannya dan menatap lekat sang Mama.


"Kok minta sama Arya, Ma? Bisanya kan sama Mas Rendra?" tanya Arya.


"Ya kan kamu tahu sendiri, Rendra sudah pergi sama menantu sialan itu!"


"Ya gampang sih Ma, tinggal telpon aja ke Mas Rendra terus bilang minta duit. Dia pergi kan bukan berarti mengurangi jatah uang buat Mama kan?"


"Hemmm, kamu bener juga Ar, tapi bagaimana kalau dia nggak mau kasih uangnya?" tanya Mama Amel lagi.

__ADS_1


"Ya datangi aja ke kontrakan nya, Ma!"


"Arya anak Mama yang ganteng, Mama kan nggak tahu dimana kontrakan Mas mu sama istri sialannya itu!" ucap Mama Amel semakin kesal.


Arya menepuk jidatnya dan kembali berkata, " Mama bener juga, kita kan nggak ada yang tahu dimana kontrakan Mas Rendra. Ya udahlah, Mama datengin aja ke kantornya Mas Rendra. Mama kan tahu alamatnya!"


"Ah, bener! Ya udah kamu anterin Mama ke kantor Rendra ya! Kan satu arah sama kantor kamu!"


"Iya satu arah Ma, tapi kan lebih jauh kantor Mas Rendra. Mas iya aku bolak balik, Ma? Udah Mama naik taksi online aja!"


"Jangan bantah Mama, Ar! Cepat antar Mama atau Mama kutuk kamu jadi bonsai! Tinggal anterin aja susah amat sih, kalau bukan minta tolong sama kamu, Mama mau mintabtolong sama siapa lagi coba? Anak Mama tinggal kamu aja lho, Mbak sama Mas mu itu sudah jadi anak durhaka semuanya. Mereka sudah lupa sama Mama, pada pelit semuanya. Kamu mau ikutan mereka, pelit sama Mama?"


Arya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena Mamanya sudah mengeluarkan jurus andalannya. Menangis.


"Ya udah aku antar Mama ya! Tapi aku cuma drop Mama aja habis itu aku tinggal ke kantor. Nanti Mama pulangnya pakai taksi online aja! Aku nggak mau sampai telat masuk kantor, bisa-bisa Indri ilfeel sama aku. Mama mau, Indri nanti menjauh karena ilfeel sama aku?"


"Ya udah iya. Nanti Mama pulangnya pake taksi online aja yang penting kamu yang bayarin!"


"Iya-iya, Ma! Ya sudah sana Mama ganti baju dulu. Aku mau terusin sarapan aku."


Mama Amel gegas masuk kamarnya dan bersiap-siap lalu kembali menemui Arya yang sudah selesai sarapan dengan muka cerah dan sumringah. Merekapun bersiap untuk berangkat ke kantor Rendra.


...*****...


Sepuluh menit lamanya motor yang dikendarainya Arya membelah jalan6uang belum terlalu macet. Saat tiba di kantor Rendra mereka berdua celingukan, tapi belum melihat ada motor Rendra yang terparkir.


"Kayaknya Mas Rendra belum datang, Ma! Lebih baik Mama tunggu di pos satpam aja dulu. Arya mau berangkat ke kantor dulu, takut telat," ucap Arya.


"ya udah kamu hati-hati. Mama tunggu Rendra di pos satpam aja."


Arya kemudian mencium punggung tangan mama Amel dengan takzim lalu segara menstarter motornya untuk berangkat ke kantor tempatnya bekerja.


Sementara Mama Amel berjalan menuju pos satpam yang tak jauh dari tempatnya tadi berdiri. Sesampainya disana dia bertanya tentang Rendra, dan benar saja Rendra memang belum datang.


"Pak, saya numpang nunggu anak saya disini, boleh kan?"


"Oh, silahkan Bu! Kalau boleh tahu, ada keperluan apa ya Bu, kok sampai datang ke kantor? Biasanya kan datang ke rumah atau ke kontrakan biar lebih santai begitu," ucap Trisman, satpam yang terkenal kepo dan mulut lemes meskipun dia laki-laki.


Mandapatkan pertanyaan seperti itu, Mama Amel lekas memasang wajah sedih dan tiba-tiba saja meneteskan air matanya.


"Lho Bu, ditanya kok malah nangis?"


"Gimana saya nggak nagis Pak? Orang saya datang kesini ini terpaksa. Kalau saya datang ke kontrakan mereka juga percuma soalnya istrinya Rendra itu galaknya bukan main. Yang ada malah saya di usir. Makanya saya datang kesini biar istrinya itu tidak tahu."


"Maaf kalau boleh saya tahu ada masalah apa ya? Siapa tahu nanti saya bisa bantu!"

__ADS_1


Sandiwara Mama Amel mulai berhasil mempengaruhi Pak Trisman yang mulai kasihan karena melihat air mata Mama Amel yang berderai hingga membasahi kedua pipinya.


"Saya mau pinjam uang sama anak saya buat biaya berobat saya. Soalnya... soalnya dokter memvonis saya sakit ginjal dan harus rutin cuci darah setiap minggunya. Sayangnya, menantu saya itu tidak terima jika uang suaminya saya pakai buat berobat."


__ADS_2