Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Drama Lagi


__ADS_3

𝘓𝘢𝘨𝘪 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘯𝘪𝘩, 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘉𝘢𝘣 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘶𝘱𝘭𝘰𝘢𝘥 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘰𝘳𝘦 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘦𝘯 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘫𝘢𝘮 09.49 𝘴𝘵𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘳𝘦𝘷𝘪𝘦𝘸. 𝘚𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘱𝘭𝘰𝘢𝘥 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘣𝘢𝘣𝘯𝘺𝘢.


...******...


Singkat cerita, Mama Amel dan Arya sampai di rumah sakit tempat Papa Nando dirawat. Setelah turun Arya dan Mama Amel beranjak pergi begitu saja setelah membayar ongkos taksi online tadi. Namun dengan cepat, sang sopir tadi segera memanggil Mama Amel dan menagih ongkos mencari kunci yang sudah dijanjikan tadi.


"Bu, tunggu dulu!"


"Ada apa lagi, kan saya sudah bayar ongkos taksi tadi?" jawab Mama Amel.


"Iya, ongkos taksinya sudah bayar. Tapi ongkos jasa cari kuncinya mana?" tagih sopir taksi itu.


"Jangan sok lupa ya, Bu!" imbuh sopir taksi itu.


"Astaga, kamu ini perhitungan banget jadi orang! Cuma bantu nyari kunci aja minta bayaran. Sudah anggap saja sedekah!" ucap Mama Amel enteng.


"Ya nggak bisa gitu dong, Bu! Namanya sedekah itu nggak bisa dipaksakan. Harus ikhlas dari hati. Kalau tahu Ibu ingkar, mending tadi saya cancel aja orderan dari Ibu. Waktu nyari kunci tadi lama banget lho Bu! Nggak sesuai sama ongkos taksi ini. Ibu sudah buang-buang waktu saya!" jawab sopir taksi itu geram.


"Iya... iya, bentar saya ambil duit dulu. Ar, kamu berdiri sendiri sebentar ya, Mama mau ambil uang dulu!"


Arya hanya mengangguk menjawab ucapan Mama Amel. Mama Amel melepaskan tangan yang ada di pinggang Arya. Ia mengambil dompetnya dan mengeluarkan satu lembar uang berwarna coklat dari dompetnya lalu menyerahkan uang itu pada sopir taksi tersebut.


"Nih, ongkos nyari kuncinya!"


Sopir itu melongo melihat satu lembar uang lima ribuan yang diserahkan Mama Amel sebagai ongkos mencari kunci tadi. Lalu saat tersadar, dia segera mengejar Mama Amel.


"Bu.... Bu tunggu dulu!" panggil sopir itu.


"Haduuuh, ada apa lagi sih? Kan duitnya aduah saya kasih! Saya lagi sibuk nih, Pak!"


"Iya, dikasih sih dikasih Bu. Yang bener juga dong! Mas iya lima ribu. Jajan anak SD aja lebih dari segini. Buat beli cilok aja mana kenyang Bu!" ucap sang sopir misuh-misuh.


"Yang penting kan sudah dibayar!" jawab Mama Amel judes.

__ADS_1


"Nggak bisa Bu! Kurang, anak SD aja dikasih segini minta nambah!"


"Kamu pikir saya peduli gitu? Yang penting kan saya sudah bayar!"


"Saya nggak mau tahu! Pokoknya harus ditambahin. Minimal Lima puluh ribu. Enak saja! Waktu saya adalah uang, Bu! Ibu pikir gratisan apa?"


"Enak saja lima puluh ribu cuma buat nyari kunci aja!"


"Kasih nggak? Atau muka Ibu mau saya buat viral di medaos?" ancam sopir itu sambil mengambil ponsel dan menghadapkan nya ke arah Arya dan Mama Amel.


"Udah lah Ma, kasih aja. Pusing Arya dengerinnya, malu juga tuh udah banyak yang lihatin kita. Bisa jatuh nanti kasta Mama cuma gara-gara uang lima puluh ribu aja." ucap Arya.


Seketika Mama Amel tersadar dan melihat ke sekelilingnya, ada banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Bahkan beberapa diantaranya mulai mendekat agar bisa mendengar lebih jelas apa sebenarnya yang sedang mereka ributkan.


"Iya juga ya, ya udah nih saya tambahin!" ucap Mama Amel kembali membuka dompet dan mengambil kekurangan uang.


"Nah, daritadi kek! Ngapain mesti pakai ribut-ribut dulu! Gini kan sama-sama enak!" ucap sopir itu sambil berlalu pergi.


Setelah mendapatkan informasi yang dia inginkan, Ibu dan anak itu segera menaiki lift menuju ke kamar rawat Papa Nando di lantai empat sambil mendorong kursi roda yang diduduki Arya.


Tok.... Tok... Tok....


Mama Amel mengetuk pintu kamar. Sementara Indri yang sedari tadi duduk di kursi sebelah ranjang Papanya segera bangkit dan berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu kamar rawat Papanya.


Perlahan Indri membuka pintu itu. Matanya terbelalak saya melihat dua orang yang ada di hadapannya.


"Mau apa kalian kesini?" pekik Indri yang emosi saat melihat dua orang yang sudah melukainya baik secara fisik maupun batin.


"Siapa sayang?" tanya Papa Nando ya g belum tahu siapa yang datang karena tertutup tubuh Indri yang saat ini berdiri tepat di depan pintu masuk dan pintu juga tidak terlalu lebar dibuka.


Indri menoleh ke arah Papa Nando yang ternyata sudah duduk bersandar. Indri segera bergeser dan membuka pintu lebih lebar. Hingga akhirnya, Papa Nando melihat wajah dua orang yang sangat dia benci saat ini karena sudah menyakiti putri kesayangannya.


Wajah Mama Amel yang semula angkuh, seketika berubah jadi memelas. Wanita itu mulai menjalankan aksi drama kolosal nya.

__ADS_1


"Segera tutup pintunya, In! Jangan biarkan dua keparat itu masuk!"


Indri segera menutup pintu itu, tapi masih kalah cepat dengan Mama Amel yang mendorong kursi roda Arya yang sudah setengah bagian masuk melewati pintu hingga Indri tidak bisa menutup pintu kamar rawat Papa Nando.


"Ada siapa, Pa? Kenapa Papa teriak-teriak?" tanya Mama Sofie yang baru saja keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamar rawat tersebut.


"Ada Arya dan Mamanya!" jawab Papa Nando singkat.


Mama Sofie menoleh ke arah pintu, terlihat putrinya yang saat ini berjalan ke arahnya.


"Mereka datang, Ma. Entah mau apa lagi mereka datang kesini!"


"Kamu nggak perlu takut sayang! Ada Mama yang akan melindungi kamu disini!" ucap Mama Amel menenangkan.


Indri dan Mama Amel akhirnya membiarkan kedua benalu itu masuk.


"Cepat katakan! Apa tujuan kalian datang kemari!" ucap Papa Nando tanpa basa-baai dan dengan nada dingin.


Wajahnya masih pucat, tapi tidak membuat suasana horor dalam ruangan itu lenyap. Justru semakin menambah suasana horor dalam ruangan rawat itu. Sebenarnya Arya takut jika harus berhadapan dengan Papa mertuanya itu. Tapi mengingat kondisi Papa mertuanya yang sedang sakit, Arya berpikir jika Papa Nando tidak akan bisa melakukan apapun padanya.


"Kami kesini untuk minta uang untuk pengobatan Arya sebagai bentuk pertanggungjawaban. Lihat! Apa yang sudah putri kalian lakukan pada putra kesayangan ku!" ucap Mama Amel dengan nada angkuh dan senyum smirk yang menghiasi wajahnya.


"Minta uang untuk pengobatan? Atas apa yang dilakukan putriku yang sudah menginjak pusaka Arya? Semua itu gara-gara ulah anakmu yang menyakiti putriku bukan?"


Mata Mama Amel terbelalak karena apanya g terjadi di luar ekspektasi nya. Semula dia ingin mengatakan cerita bohong pada kedua orang tua Indri.


"Apa maksudmu Pak Besan? Mana mungkin putraku ini menyakiti putrimu? Anakku ini sangat mencintai Indri, putrimu. Sofie, kamu tahu kan gimana aku? Nggak mungkin kalau aku ataupun Arya tega menyakiti Indri. Aku sudah menganggap Indri seperti putri kandungku sendiri!" elakkan Mama Amel.


Mama Sofie berdecih, dia sudah muak mendengar drama yang dilakonkan oleh wanita yang sudah dianggap sebagai mantan sahabatnya itu.


"Sudahlah, Mel! Berhentilah kamu berdrama di depanku dan juga suamiku! Karena kami sudah tahu semua kelakuan busukmu dan juga putra kesayangan mu itu. Wajar jika Indri menghajar putramu, karena doa harus mempertahankan dirinya. Masih untung ousaka anakmu tidak dibuat putus! Bisa kamu bayangkan, perempuan mana yang akan mau menerima putramu itu jika pusakanya putus!" ucap Mama Sofie kesal.


Wajah Arya dan Mama Amel memerah menahan amarah karena bagi mereka, ucapan Mama Sofie tadi adalah sebuah penghinaan bagi mereka.

__ADS_1


__ADS_2