
"Kamu yang sabar Niss, kamu nggak usah mikirin dan dengarkan apa kata mereka. Menikah itu kalau bisa cukup sekali untuk seumur hidup, carilah pria yang benar-benar baik dan bertanggung jawab. Karena setia san mapan saja tidak cukup. Tapi kalau memiliki tanggung jawab uang kuat, Mama dan Papa yakin jika lelaki itu akan selalu memperlakukan kamu dengan dengan baik hingga nantinya kalian menua bersama."
Nissa menghela nafas. Apa yang Mamanya katakan ada benarnya. Toh ia juga tidak minta makan pada orang-orang yang julid itu.
Akhirnya Nissa memantapkan hati untuk ikut datang ke acara arisan keluarga nanti sore. Ia pun melanjutkan obrolannya dengan kedua orang tuanya. Sesuatu yang hanya bisa ia lakukan di hari libur seperti sekarang. Karena di hari biasa kedua orang tuanya sama-sama disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing.
"Eh, Niss. Papa denger si Arya udah nikah ya? Memangnya ada perempuan yang mau sama laki-laki mokondo modelan kayak Arya itu. Belum lagi, Mamanya yang pengeretan?" tanya Papa Bram.
"Ish, Papa nih. Ngomong apa sih, kayak tahu aja mokondo itu apa!" ucap Mama Imelda.
"Tahu lah, enak aja! Gini-gini Papa paham lah bahasa gaul anak muda jaman know!" jawab Papa Bram sambil terkekeh pelan.
"Tapi ini beneran? Ada gitu yang mau sama laki-laki modelan kayak gitu? Papa aja ngelihat kelakuan mereka. Untung aja kamu nggak jadi nikah sama dia. Bukannya Papa mau menghina mereka ya, menurut Papa ini ya, mereka itu belagu dan sombongnya minta ampun. Mereka nggak sadar apa, sebenarnya apa yang mereka sombongkan? Malah kesannya itu mereka kayak orang yang nggak tahu diri gitu lho!" ucap Papa Bram.
Nissa menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Papa nya.
"Tapi beneran udah nikah itu si Arya?" tanya Mama Imelda.
"Udah Ma, Pa. Yang kemaren Nissa nemenin Marvell kondangan itu kan ke nikahannya Arya. Dia nikah sama sepupunya Marvell."
"Kamu serius Nis?" tanya Mama Imelda tak percaya.
"Itu sepupu nya Marvell waras kan?" tanya Papa Bram.
"Papa ih, ngomongnya! Jahat banget!" tegur Mama Imelda.
"Habisnya, Papa heran aja! Kok masih ada perempuan yang mau sama laki-laki modelan kayak Arya!"
"Iya, bener kok Ma, Pa!" jawab Nissa. Lalu dia mulai menceritakan permasalahan yang ada antara dia dan Indri akibat fitnahan yang dibuat oleh Arya dan Mamanya.
__ADS_1
"Ya sudahlah, biarkan saja. Senyumin aja. Namanya juga orang lagi bucin. Iya toh Ma? Mau di ingatkan seperti apapun dia nggak bakalan bisa terima, nanti suatu saat pasti kebenaran akan terungkap dan dia pasti akan menyesal," ucap Papa Bram.
Nissa kembali mengangguk membenarkan ucapan Papanya. Karena bukan cuma dia yang sudah memperingatkan. Marvell pun melakukan hal yang sama dan berujung renggang nya hubungan persaudaraan antara dia dan Indri.
...*****...
Sore hari, Nissa sudah siap berangkat dengan penampilan yang sederhana namun elegan. Tapi aura kecantikan tetap memancar dari gadis cantik itu.
"Udah siap Nis?" Tanya sang Mama yang saat ini sedang duduk santai di ruang keluarga, tempat mereka biasa bersantai bersama selain di halaman belakang. Mama Imelda juga terlihat sangat cantik.
"Udah Ma, tapi sebenernya Nissa masih males datang ke acara itu." ucap Nissa.
"Udah, kamu tenang aja ya sayang. Nanti biar Mama yang atasi, kalau ada yang menghina kamu, biar Mama yang balas. Tangan Mama i i sudah gatal pingin meremas dan menarik bibir orang-orang yang julid sama kehidupan orang lain." ucap Mama Imelda sambil terkekeh membuat Nissa menggelengkan kepalanya.
"Kita tunggu Papa di depan aja yuk, tadi si Papa masih telponan sama rekannya.Sebentar lagi selesai kayaknya."
"Sudah siap? Nggak ada yang ketinggalan?" tanya Papa Bram sambil melihat sang istri yang duduk di samping nya, lalu menoleh pada nissa yang duduk di bangku penumpang. Kali ini Papa Bram memutuskan menyetir sendiri tanpa menggunakan sopir.
"Nggak ada," jawab kedua wanita cantik itu bersama.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di tempat acara arisan keluarga itu diadakan. Mobil yang mereka tumpangi masuk ke halaman yang begitu luas. Disana sudah banyak mobil yang terparkir. Menandakan jika sudah banyak keluarga mereka yang datang.
"Eh, Imel. Cuma sama Nissa aja ini?"
"Nggak, sama suami juga kan? Segede ini masa' nggak kelihatan?" tanya Mama Imelda.
"Calon mantu maksudnya Mel!" jawab Tante Gina. Tuan rumah acara ini. Lalu tatapannya beralih pada Nissa yang sedari tadi hanya diam.
"Mana calonnya Nis?" tanya Tante Gina.
__ADS_1
"Masih ada urusan di luar kota, Tan." jawab Nissa asal. Membuat Tante Gina mencebikkan bibirnya.
Lalu mereka semua masuk dan bergabung dengan semua keluarga yang sudah hadir. Jika Papa Bram bergabung dengan para Bapak-bapak. Maka Mama Imel dan Nissa bergabung dengan Ibu-ibu yang lain. Hingga tak lama ajang pamer pun di mulai.
"Nissa kenapa kok belum nikah juga sampai sekarang, Mel? Nis, jangan terlalu pilih-pilih kali cari suami. Ntar tahu-tahu udah tua aja gara-gara terlalu milih. Trus, dapatnya malah zonk. Ingat lho Nissa, masa subur wanita itu badan batasnya kan? Biasanya sih cuma sampai umur 40 tahun, kalau lebih, nggak tahu bisa bakal punya anak apa nggak!" ujar Tante Gina yang semangat membuka lapak julidnya. Sudah macam para pendemo yang berorasi di kantor DPR😅
"Ya mending pilih-pilih dulu, Gin! Daripada ntar bonyok gara-gara dapat laki-laki yang nggak tepat. Nikah itu kan nggak bisa asal comot aja calonnya!" jawab Mama Imelda.
"Nah, pasti itu yang kemarin bikin gagal nikah! Terlalu milih! Kalau udah kayak gitu kapan nikahnya? Keburu tua," ujar Tante Gina dengan senyum meremehkan.
"Tante? Memangnya kalau Nissa nikah tante mau jadi sponsornya? Mau kasih kado apa? Rumah mewah? Mobil mewah? Atau aset bernilai miliaran lainnya? Atau mau biayain hidup Nissa setelah menikah, begitu?" jawaban Nissa membuat semua orang terdiam. Namun terlihat wajah tidak suka di hadapannya.
"Jodoh, maut, rejeki itu hak mutlak dari Tuhan Tante, nggak ada manusia yang tahu tentang hal itu. Kalau kalian tanya, kapan Nissa akan nikah, jelas Nissa nggak tahu jawabnya. Kalau mau tau, ya silahkan tanya saja sama Tuhan." jawab Nissa lagi.
"Maksud kamu, kamu nyuruh Tante ketemu sama Tuhan, gitu? Kamu nyumpahin tante mati, Nis?" tanya Tante Gina nyolot.
"Memangnya ada kalimat Nissa yang nyumpahin Tante mati? Nggak ada lho Tan! Itu kan cuma pikiran tante sendiri aja!"
Mama Imelda terkejut ketika mendengar putrinya itu mulai angkat bicara. Padahal, selama ini putrinya itu selalu memilih diam dan menganggap angin lalu omongan mereka.
"Pertanyaan yang Tante tanyakan sama akun itu, sama lho dengan kalau aku tanya kapan Tante mau mati? Memangnya, Tante Gina tahu kapan Tante bakalan mati?"
Lagi-lagi pertanyaan Nissa membuat Gina bungkam. Dia memelototkan matanya saat mendengar ucapkan Nissa. Namun bagian yang lain, ucapan Nissa mampu memancing gelak tawa mereka.
"Lain kali, jangan gitu ya, Tan! Tante sellau saja tanya kapan Nissa akan nikah dan julid sama Nissa gara-gara kemaren batal nikah. Kalau aku balik, aku yang tanya kapan Tante bakalan mati, gimana? Nissa kasihan lho sama Tante, takutnya nanti tante nggak bisa tidur cuma gara-gara memikirkan pertanyaan Nissa soal kapan Tante mau mati. Kan nggak lucu kalau ada berita viral seorang wanita mati karena nggak bisa tidur gara-gara selalu ditanya keponakannya kapan mau mati," ucap Nissa. sambil tersenyum.
Mama Imelda uang mendengar ucapan Nissa sampai tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat-kalimat lucu yang keluar dari mulut sang putri.
"Heh Nissa, Tante kayak gitu itu karena Tante perhatian sama kamu! Karena Tante menganggap kamu saudara, kalau tante cuek dan nggak tanya soal itu sama kamu itu artinya Tante nggak sayang dan nggak menganggap kamu sebagai saudara Tante!" ucap Tante Gina membela diri.
__ADS_1