Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Puyeng


__ADS_3

"Tega kamu Mas! Bahkan aku sampai menentang Papa demi membelamu! Inikah balasanmu?" isak Indri sambil memegangi pipinya yang terasa perih karena kerasnya tamparan yang ia terima. Namun rasa sakit di pipinya itu tak sebanding dengan rasa sakit di hati yang di goreskan oleh Arya. Inilah wajah asli suami dan mertuanya? Menyesal? Terlalu cepat untuk Indri menyatakan kalau dirinya menyesali pilihannya.


"Kalau memang seperti itu kenapa? Toh, aku juga tidak menyuruhmu menentang orang tuamu! Kamu mau ngelawan aku? Mau ku hajar kamu hah? Sekarang kamu minta minta maaf sama Mama! Dan ingat! Jangan pernah lagi sakiti Mama dengan ucapan sampah kamu itu!" ucap Arya sambil mencengkeram dagu Indri. Dan setelah itu ia hempaskan tubuh wanita yang baru saja sah menjadi istri nya itu ke arah kaki Mamanya. Mama Amel tersenyum jumawa karena mendapat pembelaan dari sang anak.


"Cepat minta maaf sama Mama! Kalau tidak aku hajar lagi kamu! Mau?" wajah Arya sudah memerah karena terbawa amarah.


Sedangkan mata Indri membulat sempurna saat mendengar apa yang Arya katakan. Belum juga genap sehari dia menikah dengan Arya, tapi kekerasan sudah terjadi, tidak hanya kekerasan fisik saja. Tapi juga dalam bentuk verbal. Indri yang masih ingin bertahan dengan pernikahannya itu.


"Ma, maafkan Indri. Indri salah, Indri minta maaf."


"Bagus! Mama maafkan kamu. Tapi ingat! Uang gaji Arya tetap buat Mama. Sedangkan untuk kamu, terserah bagaimana caramu mendapatkan uang untuk memenuhi semua kebutuhan. Percuma kamu jadi sarjana kalau otak kamu nggak kamu pakai!"


"Benar apa kata Mama! Kamu harus cari peluang usaha yang menghasilkan karena gajiku tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan kita!"


"Lalu aku harus apa Mas? Aku buka usaha ya, aku rasa yang gaji dan pesangon dari Mas Marvell cukup buat dijadikan modal usaha."


"Terserah bagaimana caramu menghasilkan uang! Kamu mau mengemis pun aku tak peduli! Yang jelas kamu harus punya penghasilan sendiri karena aku nggak akan pernah bisa ngasih kamu uang! Paham kamu? Sekarang, mana uang gaji dan pesangon kamu, biar aku saja yang pegang sebelum diambil ayah kamu!" ucap Arya.


"Tapi, Mas... "


Tiba-tiba saja Arya menarik tas yang menggantung di lengan Indri. Kemudian lelaki itu segera mengambil rajin dan pesangon Indri yang tadi dia terima dari Marvell.


"Mas, jangan diambil! Uang itu mau aku pakai buat modal usaha Mas!"


Arya tidak menggubris ucapan Indri, dia tetap memasukkan amplop coklat tebal itu ke dalam tas ransel miliknya. Kemudian dia melemparkan tas Indri tepat mengenai wajah Indri. Dada Indri sesak menahan emosi karena ulah sang suami. Kemudian dia mengambil tas miliknya yang jatuh tepat di kaki.


"Ma, Mama ganti baju. Kitab ke rumah Mas Rendra sekarang aja! Nanti malam Arya mau istirahat aja, nggak mau diganggu!" ucap Arya sambil mengedipkan matanya memberi kode pada sang Mama.

__ADS_1


Mama Amel tergopoh-gopoh masuk ke kamar untuk berganti baju.


"Mas, kamu mau kemana?" tanya Indri.


"Aku sama Mama mau ke rumah Mas Rendra sebentar, ada urusan penting! Kamu di rumah aja, beresin nih rumah! Kamu sekarang kan pengangguran, jangan jadi beban setidaknya kamu bantu Mama beresin kerjaan rumah!" ucap Arya.


Indri hanya mengangguk, ia kemudian melangkah tanpa semangat ke kamarnya. Kepalanya menunduk dalam, air matanya sudah berlinangan jatuh membasahi pipi mulusnya. Indri merasakan sakit dan terluka akibat ulah suami dan Ibu mertuanya, namun hal itu belum juga membuat Indri sadar seperti apa sebenarnya keluarga yang ia bela mati-matian di depan orang tuanya, terutama Papanya.


"Ya Allah,... astaghfirullah... "


Indri beristighfar untuk menenangkan hati dan pikirannya. Wanita itu duduk di tepi ranjang sambil terus menghapus air matanya. Indri menghembuskan nafas perlahan kemudian dia hembuskan.


"Ar, Mama sudah siap! Kita mau kemana?" tanya Mama Amel sambil berbisik.


"Kita ke mall aja yuk Ma. Arya pusing, suntuk lagi di rumah. Setelah nikah kok sial nggak ada habis-habisnya. Habis nikah bukannya hidup makin enak, eh malah makin blangsak." keluh Arya saat sang Mama sudah ada di depannya.


"Nggak lah, Ma! Arya nggak pernah berpikir seperti itu. Arya tahu maksud Mama itu baik. Mama juga nggak tahu kan kalau bakal kayak gini ceritanya, jadi Mama nggak usah nyalahin diri Mama sendiri. Sekarang kita berangkat ke Mall. Kita belanjakan saja uang ini, Mama beli perhiasan saja sekalian. Pokoknya uang ini harus habis daripada nanti di ambil lelaki tua bangka itu!" ucap Arya.


Mama Amel segera mengangguk, matanya berbinar saat mendengar Arya mengijinkan dirinya membeli perhiasan.


Hal ini berbanding terbalik dengan Papa Nando yang saat ini nampak sedang mengepalkan tangannya dan rahangnya mengeras setelah melihat video kiriman orang suruhannya.


Dia geram melihat putri satu-satunya yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang diperlakukan seperti itu.


"Awas saja kamu Arya! Tunggu balasan dariku!" gumam Papa Nando sambil menahan gejolak emosi di dalam dada.


Arya mengendarai motornya dengan kecepatan sedang karena Mamanya akan ngamuk jika dia membawa motornya terlalu kencang. Karena terlalu fokus, dia sampai tidak sadar jika ada motor yang mengikuti mereka di belakang. Hingga saat kondisi jalan yang mereka lalui sepi, motor di belakang mereka segera melaju kencang hingga akhirnya bisa menghadang motor yang Arya kendarai.

__ADS_1


"Hei, siapa kalian? Kenapa memotong jalan kami?" Arya tidak terima karena dia tadi harus mengerem mendadak untuk menghindari tabrakan.


"Ar, sudah! Kita pergi saja dari sini. Mama takut, Jangan-jangan mereka begal!" ucap Mama Amel yang saat ini sedang ketakutan.


"Apa-apaan ini?" pekik Arya saat salah satu dari mereka mencengkram krah bajunya. Untung saja Mama Amel sudah turun dari motornya. Kalau tidak bisa dipastikan wanita paruh baya itu pasti akan terjatuh dari motor.


"to... "


"Diam, jangan berteriak kalau tidak mau isi perutmu terburai disini!" ancam pengendara motor yang tadi duduk di boncengan. Arya bisa merasakan ada benda runcing yang menempel di perutnya. Mama Amel yang melihat itu semakin ketakutan.


"Diam! Atau kubunuh anakmu!" ancam nya lagi pada Mama Amel.


"Cepat berikan!" ucap orang itu sambil menarik tas punggung milik Arya.


"Nggak, nggak bakalan aku kasih tas ini ke kalian!" Arya yang masih mempertahankan tas ransel di punggung nya mendapat bogeman yang bertubi-tubi.


"Lepaskan!" teriak orang yang tadi memegang kemudi sambil mengunci lengan Arya. Membiarkan lelaki yang pertama tadi menghujani Arya dengan pukulan hingga akhirnya tercium bau anyir darah yang menusuk indra penciuman lelaki itu.


Arya meronta, mengayunkan kakinya ke depan sekedar memberi sedikit perlawanan. Namun usaha Arya sia-sia. Kedua pria itu tertawa terbahak-bahak.


Lelaki itu menendang tubuh Arya hingga akhirnya Arya jatuh tersungkur. Mereka mengambil tas ransel uang di bawa Arya, lalu mengambil amplop coklat tebal yang ada di tas itu. Setelahnya mereka melemparkan tas itu tepat di muka Arya yang saat ini tengah terbaring lemah dan tak berdaya.


Dua orang itu segera melesat pergi sebelum keadaan ramai dan polisi datang. Beberapa menit setelah jauh dari lokasi tadi dan merasa sudah aman, kedua orang tadi menepikan motornya dan berhenti. Lelaki yang duduk di belakang mengeluarkan ponselnya lalu mengirimkan pesan pada seseorang.


[Target berhasil dilumpuhkan!]


Pesan itu di kirim lengkap dengan foto Arya dan kondisi terkininya yang babak belur.

__ADS_1


...-\=₪۩۞۩₪\= нαρρу яєα∂ιηg \=₪۩۞۩₪\=-...


__ADS_2