
Arya masih terbaring di rumah sakit dan belum sadarkan diri, Arya masih terkapar tak berdaya akibat pukulan dan tendangan bertubi-tubi.
Sedari tadi Mama Amel menunggunya di IGD sambil menangis meratap nasib Arya.
"Ya Allah Ar, kamu cepet sadar Nak! Niat kamu pengen menyenangkan hari Mama, malah kamu kena musibah seperti ini, Nak!" ucap Mama Amel sambil mengelus kepala Arya. "Aduh, mana Mama lagi nggak bawa uang lagi. Di dompet kamu juga nggak ada uang sama sekali. Gimana Mama mau bayar biaya rumah sakitnya nanti?" imbuhnya masih terus bicara sendiri karena putra tampan kesayangannya belum sadar.
Nampak wanita paruh baya itu mengambil ponsel Arya yang sedari tadi tersimpan di dalam tas ransel uang Arya bawa. Kemudian dia mencari kontak ponsel milik Indri.
Panggilan belum terhubung, masih berdering.
"Hallo Mas?"
"Heh! Darimana saja kamu? Ditelpon dari tadi nggak di angkat. Kamu pasti tidur ya! Mentang-mentang Mama dan Arya nggak ada di rumah, terus kamu bisa santai-santai gitu?"
ucap Mama Amel kesal karena Indri tidak segera mengangkat panggilannya.
"Maaf Ma, Indri tadi masih di belakang beresin cucian. Dan ponsel Indri ada di kamar nggak Indri bawa ke kebelakang, Ma."
"Alasan aja kamu ini! Arya sekarang di rumah sakit! Kamu cepat kesini bawa uang buat bayar biaya rumah sakitnya nanti! Habis ini Mama kirim alamatnya!"
"Mas Arya kenapa Ma? Tadi kan nggak Papa pas mau berangkat?" tanya Indri karena khawatir dengan suaminya.
"Tadi Arya dihajar sama begal. Makanya tadi Mama bilang kamu cepat kesini! Nggak ada uang sama sekali, ini Mama nggak bisa bayar biaya perawatan Arya di rumah sakit! Kamu kesini bawa uang yang banyak! Dan jangan datang kalau nggak bawa banyak uang! Ngerti!" ucap Mama Amel ketus.
__ADS_1
"Iya Ma, Indri ngerti!" jawab Indri pelan.
Panggilan di putus begitu saja oleh Mama Amel. Saat ini yang diingat Indri hanya kedua orang tuanya saja. Hanya mereka yang isa membantu Indri saat ini. Karena Indri pun sudah tidak memegang uang banyak. Uangnya sudah di ambil oleh Arya tadi.
Indri segera mencari ojek online di aplikasi yang ada di ponselnya. Setelah menunggu balasan menit, akhirnya ojek online itu tiba. Indri segera keluar dan naik ke boncengan motor ojek online yang tadi dia pesan.
"Bang, minta tolong agak cepat ya!"
"Iya Neng!"
Beruntungnya jalan saat ini sedang sepi. Kendaraan roda dua itu bisa melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Hingga akhirnya Indri sampai di rumah orang tuanya.
"Pak tunggu sebentar disini ya! Nanti ongkosnya saya tambahin," ucap Indri sambil menyerahkan helm milik pengemudi ojek online itu. Setelah itu Indri segera berlari masuk ke rumah dan mencari kedua orang tuanya.
"Mama, Papa!" teriak Indri saat sudah masuk ke rumahnya.
Setelah sampai di kamarnya, Indri segera mengambil beberapa perhiasan miliknya ya g ia simpan di dalam laci nakas. Dia berniat menjual perhiasan itu untuk membayar biaya rumah sakit Arya.
"Dimana sih aku menyimpan nya! Kok nggak ada. Rasanya aku simpan disini!" gumam Indri.
Brak
Indri menutup laci dengan kasar. Indri mencari di semua laci. Namun tetap tidak dia temukan. Padahal dia ingat jika selalu menyimpan perhiasannya di nakas. Indri mendesah, wanita itu tampak membelakangi pintu dengan kedua tangannya ada di pinggang. Karena posisinya yang membelakangi pintu dia tidak sadar jika kedua orang tuanya tengah berdiri di depan pintu sambil menatap dirinya.
__ADS_1
"Kamu cari apa, In?" tanya Mama Sofie membuat Indri memutar badan menghadaonke arah sumber suara. Indri mendekat ke arah kedua orang tuanya seperti orang linglung karena karena bingung dan khawatir yang menjadi satu.
"Ma, Mama tahu nggak dimana kotak perhiasan milik Indri?"
"Sudah Papa amankan!" jawab Papa Nando singkat.
Mendengar ucapan Papanya, mata Indri seketika membelalak. "Lho! Kenapa jadi semua Papa ambil? Sekarang mana perhiasan itu, Pa? Indri butuh sekali saat ini!" ucap Indri sambil menahan emosinya. Wajahnya mengiba, memohon belas kasih dari kedua orang tuanya.
"Papa nggak bisa kasihkan, In. Belum sehari kamu jadi istri Arya kamu sudah mulai menjual barang berharga milikmu!" ucap Papa Nando yang seketika membuat emosi Indri meledak.
"Mau Papa apa sih sebenarnya? Kalau Papa nggak mau Indri jual perhiasan Indri, makanya Papa balikin semua buku tabunganku dan amplop dari para tamu itu!" ucap Indri dengan suara yang tinggi. Hal yang tidak pernah istri lakukan selama ini pada orang tuanya. Sebelumya Indri adalah anak yang sangat manis, dan sopan pada kedua orang tuanya. Tidak pernah sekalipun dia meninggikan suaranya.
"Nggak! Papa nggak akan pernah ngembalikan semua meski kamu bersujud di hadapan Papa!"
"Oh, begitu? Jadi Papa ingin rumah tangga Indri berantakan terus Indri jadi janda begitu? Atau, Papa mau suami Indri mati di rumah sakit karena tidak bisa membayar biaya perawatan nya? Begitu Pa? Papa dan Mama mau lihat Indri gila karena di tinggal sama Mas Arya? Begitu mau kalian?" Indri terus berteriak di depan orang tuanya.
"Ya Allah, astagfirullah.... " Mama Sofie sampai mengelus dada melihat perubahan sikap Indri. Dia tidak menyangka jika Indri akan berubah secepat itu.
"Lakukanlah Pa, Ma. Jika itu akan membuat kalian bahagia. Kalian egois, sama sekali tidak memikirkan kebahagian dan perasaan Indri sedikitpun. Sebagai orang tua kalian harusnya mendukung anak, bukannya seperti ini. Lanjutkan saja smeuanya kalau memang Papa dan Mama ingin IndriIndri terus seperti ini!"
Papa Nando menghela nafasnya. Dadanya terasa sangat sesak. Putri yang selama ini dia jaga, dia rawat, dan dia besarkan selama ini dengan penuh kasih tega menghardiknya berkali-kali hanya demi membela lelaki yang belum genap sehari dia nikahi. Inilah definis cinta bisa membuat orang jadi gila. Contohnya Indri, demi cintanya yang tidak mencintainya Indri rela melakukan apa saja agar cinta itu dapat ia raih. Entah dia itu bodoh atau terlalu polos.
Sedangkan Mama Sofie dari tadi tidak berhenti meneteskan air mata sejak Indri mencaci maki penuh emosi. Dia sangat menyesal karena telah mengenalkan Indri dengan sahabatnya yang ternyata malah tega menusuknya dari belakang hingga meninggalkan rasa sakit yang tak terkira.
__ADS_1
Mama Sofie menangis kala melihat foto dan video kiriman orang suruhan Papa Nando. Bahkan dia sampai menutup mulut tidak percaya melihat bagaimana Indri diperlakukan oleh mertua dan suaminya. Belum genap sehari mereka sudah bermain menampar putih kesayangannya. Dia yang orang tuanya, tak pernah sekalipun berbuat kasar seperti itu.
"Sayang, tidak bisakah kamu berpikir kenapa kami sampai melakukan hal ini? Apa yang kami lakukan jnji semua demi kebaikan kamu, sayang! Kami hanya ingin melindungi kami, suami dan mertua kamu itu bukan orang yang baik, In. Mereka hanya ingin memanfaatkan kamu saja!" ucap Mama Sofie berusaha membuat Indri sadar dan berpikir.