
"Hai, In. Itu bukan hukuman. Melainkan sebuah pelajaran untuk kamu. Aku sudah memaafkan kamu sejak lama kok, kamu nggak usah takut seperti itu." ucap Nissa.
Indri menatap Nissa penuh rasa haru hingga matanya berkaca-kaca.
"Jadi, mulai hari ini kita berteman. Kamu mau kan?" tanya Nissa.
"Kamu serius, Nis?" tanya Indri tak percaya. Ternyata, Nissa benar-benar wanita yang baik. Setelah semua yang dia lakukan, nyatanya Nissa masih mau memaafkan bahkan mengajaknya berteman. Indri sampai terharu hingga dia menitik kan air mata. Dalam benaknya kembali berputar saat dia memaki, menghina bahkan merendahkan Nissa hanya untuk membela mati-matian seorang lelaki seperti Arya. Sungguh, dia sangat menyesal.
"In, kenapa nangis? Apa ada ucapan ku yang salah atau menyakiti hatimu?" tanya Nissa dengan kening berkerut.
"Nggak, Nis. Ucapan mu nggak ada yang salah."
"Terus?"
"Aku hanya malu dan terharu, karena kamu ternyata seorang yang sangat baik. Padahal, aku sangat jahat sekali sama kamu."
Nissa dan Marvell saling tatap dan keduanya melemparkan senyuman.
"Itu semua sudah berlalu, In. Yang paling penting saat ini kamu sudah menyadari semua nya. Bukankah aku pernah mengatakan, biarkan saja waktu yang menjawab semuanya. Dan benarkan? Waktu sudah membuktikan semuanya."
"Ya, kamu benar, Nis. Semua ini karena Arya dan Mamanya. Karena mereka hidupku hancur. Apa kamu mau membantuku membalas perbuatan mereka, Nis?"
Nissa menelan salivanya, bukan takut atau apa. Nissa hanya sudah malas jika harus berhubungan dengan keluarga parasit seperti Arya dan Mamanya.
"Duuuh, gimana ya, In. Bukan aku tidak menghargai kamu dan tidak mau membantumu. Tapi aku sudah malas berurusan dengan orang seperti mereka. Dan aku pikir, kamu tidak perlu balas dendam lagi pada mereka. Hilangkan saja rasa dendam yang tumbuh dalam hatimu. Hidup kamu nggak akan pernah tenang jika menuruti dendam. Ikhlaskan saja semua yang terjadi. Dan pasrahkan semua pada Allah, semua pasti akan ada balasannya. Kamu tidak perlu membuang-buang waktu dan mengotori tanganmu untuk membalas mereka. Anggap saja itu ujian untukmu naik kelas. Yoh, kamu juga belum di apa-apa in sama dia kan?" tanya Nissa sambil tersenyum penuh arti pada Indri. Tapi, Indri paham apa maksud dari ucapan Nissa.
"Haah.... untungnya sih belum, coba kalau sudah. Terus aku hamil anak parasit sinting itu. Iiiih... amit-amit."
"Hahahaha.... Gaya mu, In. Kemarin aja kamu mati-matian membela upil biawak itu. Sekarang bilang amit-amit."
"Iiih, Mas Marvell mah nggak asik. Kemarin kan pikiran aku lagi ketutup sama cinta." bela Indri.
__ADS_1
"Iya, saking ketutup nya sampai-sampai kamu buta dan semua kami sikat habis, kamu tendang-tendangin. Eeeeh... sekarang yang tadinya kamu tendang malah mau kamu pungut lagi. Ya pastinya udah ambyar to... "
Yah, aku akui saat itu aku benar-benar bodoh bahkan bisa dikatakan aku tolol. Tapi setelah sadar aku malah menyesal. Dan akupun merasa jijik saat mengingat wajahnya. Untung saja aku dan dia belum..... "
"Belum apa?"
"Ish, gitu aja juga masih tanya? Payah nih Mas Marvell, kelamaan jomblo sih!"
"Ya kan emang kita ini masih jomblo, hal kayak gitu emang harus dijelasin lah!"
"Ya gituan Mas!" jawab Indri sambil menggabungkan kedua jarinya membentuk kerucut menyerupai orang yang sedang berciuman.
Marvel dan Nissa tergelak bersama karena berhasil mengerjai Indri.
"Cie...... janda perawan nih yeeee....." ujar Marvell kembali menggoda Indri.
"Mas Marvell ihhh..... awas aja ya! Aku bakal hasut Nissa biar dia nanti nolak cinta kamu!"
Sekarang ganti Indri yang tergelak melihat tingkah Nissa dan Marvell.
"Ciyyee..... ada yang salah tingkah nih.... ciyyeeeee..... "
Ketiganya saling tatap kemudian sama-sama tertawa seolah kejadian barusan itu sangat lucu.
...******...
Alarm yang berasal dari ponsel Rendra terdengar berdering. Suaranya mengganggu Rendra yang sedang tidur nyenyak. Lelaki itu meraba-raba sekitarnya mencari ponsel. Dan begitu menemukannya, ia itu segera mematikan bunyi alarm dari ponsel miliknya sambil sedikit membuka kelopak mata.
Baru saja dia memejamkan mata, dia ingat jika semalam berniat untuk bangun lebih dulu daripada istrinya. Karena sejak semalam, Vina merasakan mual tapi tidak bisa muntah. Dan itu berlangsung hingga hampir dini hari.
Rendra yang merasa kasihan dengan istrinya itu, berniat akan bangun lebih pagi dan membiarkan Vina terbangun sendiri. Mengingat hal itu, Rendra seketika terjaga. Dia mengubah posisi tidurnya menjadi miring, hingga akhirnya dia dapat memandangi wajah cantik alami sangat istri.
__ADS_1
Sebenarnya, dia sangat ingin menghujani istri cantiknya itu dengan ciuman, tetapi dia tidak mau mengganggu waktu tidur istrinya. Lelaki itu hanya mengulurkan tangannya untuk merapikan anak rambut istrinya yang terlihat berantakan. Setelah itu, Rendra segera bangun dari ranjang dan melangkah pelan-pelan keluar dari kamarnya.
Karena azan subuh belum berkumandang sebab sekarang masih pukul tiga, Rendra segera menuju ke tempat keranjang baju kotor setelah mencuci muka sebelumnya. kemudian memasukkan baju kotor tersebut ke dalam mesin cuci. Sambil menunggu mesin itu selesai mencuci, Rendra memutuskan mencuci piring dan gelas kotor bekas makan mereka semalam.
Karena biasa dia hanya membantu Vina sekedarnya saja untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, Rendra belum bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumah secara bersamaan.
"Cuci piring sudah, sekarang saatnya masak nasi." ucap Rendra penuh semangat. Apalagi saat membayangkan wajah Vina yang berseri saat melihat semua pekerjaan rumah sudah selesai membuat lelaki itu semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan semua pekerjaannya.
Tiga jam berlalu, Rendra sudah menyelesaikan semua pekerjaan kecuali mengepel lantai kamar. Rendra berhasil menyelesaikan semua pekerjaannya tepat jam enam pagi.
Hangatnya bisa sinar matahari masuk lewat sela jendela kamar. Hal tersebut membuat tidur Vina jadi terganggu. Wanita itu mengerjapkan matanya. Dan begitu terbuka, dia tidak melihat keberadaan suaminya. Vina melirik jam dinding yang tergantung di sisi kanannya. Seketika Vina langsung bangkit dari ranjang saat menyadari jika dia sudah kesiangan. Dia gegas melangkah keluar dari kamar.
"Ya Allah.... Mas, kamu yang mengerjakan ini semua?" tanya Vina saat melihat sangat suami yang sudah duduk di meja makan yang menyatu dengan area dapur. Didepan lelaki itupun sudah ada secangkir kopi buatannya sendiri.
"Iya, sayang. Biar kamu nggak kecapekan." jawab Rendra.
"Tapi, Mas. Hari ini kamu kan kerja. Nanti kamu sudah capek duluan kalau ngerjain pekerjaan rumah lebih dulu." ucap Vina khawatir.
"Enggak lah, kan Mas ngerjainnya atas kemauan Mas sendiri. Beda ceritanya kalau di suruh, pasti jadi beban." jawab Rendra membuat Vina tersenyum.
"Mas, harusnya tadi bangunin Vina. Sekarang sudah hampir jam berangkat kerja. Gimana coba Vina masaknya?"
"Sudah jangan khawatir, goreng telur saja ya, Sayang. Kasih irisan bawang sama cabe."
"Gitu doang?"
"Iya, tapi buat bekal saja ya! Mas mau siap-siap dulu. Mas mau mampir ke kantor polisi dulu sebelum berangkat ke kantor."
Vina mengangguk, kemudian dia segera membuatkan telur dadar sesuai permintaan suaminya tadi.
...**•̩̩͙✩•̩̩͙*˚ 𝐻𝑎𝑝𝑝𝑦 𝑅𝑒𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 ˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚*...
__ADS_1