Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Nissa


__ADS_3

Belum sempat Nissa bertanya lagi, tapi dia melihat kode dari mata Indri agar melihat ke arah belakang. Dan ternyata, Marvell sudah berlutut sambil menunjukkan sebuah cincin dalam kotak beludru berwarna merah.


"Apa ini?" tanya Nissa di tengah kebingungan nya.


"Rin, kebahagiaan ku saat ini adalah di saat kata aku dan kamu menjadi KITA."


Satu kalimat yang mampu membuat darah dalam tubuh Nissa menjadi berdesir seiring dengan detakan jantungnya yang semakin bertambah kencang.


"Maukah kamu menemaniku menuju kebahagian itu?" tanya Marvell.


"Vell....?" Nissa tidak bisa berkata apa-apa.


"Aku sudah lama memendam perasaan ini, Nis. Tapi maaf, kali ini aku sudah tidak bisa memendamnya lagi."


Nissa nampak gusar.


"Aku tahu, kamu pernah terluka karena masa lalu. Akupun tahu, kamu pernah terluka karena cinta. Tapi, izinkan aku untuk mengobati semua itu, Rin!"


"Vell, maaf.... "


Marvell berdiri dari posisinya semula yang berjongkok di depan Nissa.


"Tidak apa, Nis. Setidaknya hati ini tak lagi tersiksa dengan perasaan yang selama ini terpendam di dalamnya. Tapi percayalah, aku tidak akan diam dan menerima semua begitu saja," ucap Marvell sambil tersenyum. Dia berusaha menunjukkan jika saat ini dia baik-baik saja dengan penolakan dari Nissa.


"Namanya juga berlian, Mas. Pasti akan susah buat mendapatkan nya." ucap Indri menyemangati.


"Bukan begitu Vell, In. Tapi, berikan aku sedikit waktu untuk memikirkan semua nya," jawab Nissa.


Secerah harapan muncul membuat wajah Marvell tampak berbinar.


"Tidak masalah, Rin. Kamu butuh waktu berapa lama untuk memikirkan semuanya? Satu minggu? Satu bulan?"


"Secepatnya, saat hatiku sudah menemukan keputusan yang tepat maka aku akan segera memberikan jawabannya." jawab Nissa.


Marvell mengangguk, dia paham akan kekhawatiran yang saat ini dirasakan oleh Nissa.

__ADS_1


"Kalau begitu, tolong kamu simpan ini." ucap Marvell sambil mengulurkan kotak beludru berwarna merah itu. "Kamu boleh memakainya nanti jika jawabnya 'Iya' tapi jika tidak kamu boleh membuang atau mengembalikannya." imbuh Marvell.


"Nggak mungkin aku buang lah, Rel. Masak iya, barang berharga aku buang. Biarkan aku berpikir lebih dahulu, ya. Kamu kan tahu sendiri, aku pernah terluka karena cinta."


"Ya.... aku sangat paham. Makanya aku tidak akan memaksamu." ucap Marvell.


Akhirnya, tiga orang dewasa ini duduk di satu meja.


"Kamu sudah makan, In?" tanya Nissa.


"Sudah dong, aku dari tadi tuh duduk disana." jawab Indri sambil menunjuk satu tempat yang ada di pojok ruangan.


"Iya kah? Kok aku sama sekali nggak nyadar ya." ucap Nissa.


Wajar saja dia tidak menyadari jika ada Indri di sana karena sejak awal datang, perhatian nya sudah tersita dengan semua pemandangan yang ada di sekitarnya.


"Wajar aja kamu nggak nyadar. Kamu kan terlalu terpesona dengan kegantengan Mas ku ini." ucap Indri membuat wajah Nissa dan Marvell bersemu merah.


"Jadi ini semua adalah rencana kalian, sengaja ngajak aku ke tempat ini buat ngasih aku surprise?" tanya Nissa sambil menatap Marvell dan Indri bergantian.


"Maafkan aku ya, Vell. Aku akan secepatnya memberikan jawaban atas pertanyaan kamu tadi." ucap Nissa menyesal.


"It's Okay. Tidak masalah, Rin." jawab Marvell.


Nissa sedikit merasa bersalah, karena tidak bisa menjawab saat itu juga. Tapi dia juga harus tetap memikirkan dulu semuanya sebelum mengambil sebuah keputusan. Dia berjanji akan memikirkan dan menanyakan semuanya pada kedua orang tuanya nanti. Karena bagaimana pun, restu orang tua itu sangat penting untuk mengawali sebuah hubungan.


...*****...


Jarum jam di dinding kamar Nissa sudah menunjukkan pukul dua balas malam. Namun hingga saat ini, Nissa masih saja terjaga dan belum terlelap.


Wanita itu tampak berbaring di atas ranjang dengan pandangan yang menatap lurus pada langit-langit kamar. Sesekali dia tersenyum saat teringat perlakuan manis Marvell.


Sebenarnya Nissa tidak meragukan karakter dan sifat dari seorang Marvell. Pertemanan nya yang lama sejak mereka masih duduk di bangku kuliah membuat Nissa sangat paham dengan karakter dari Marvell, lelaki yang baru saja menyatakan cinta padanya.


Ada yang bermekaran, tapi bukan bunga... Apa coba?

__ADS_1


"Marvell memang sosok lelaki yang baik, tapi apa dia adalah sosok lelaki yang tepat untuk


menemani di masa depan?" gumam Nissa.


Pintu kamar Nissa yang masih terbuka di jam yang terbilang larut malam, membuat Mama Imelda yang sedang melintas dapat melihat keadaan di dalam kamar putri semata wayangnya tersebut.


"Ehm," Mama Imelda berdehem saat berdiri di ambang pintu kamar Nissa melihat Nissa yang belum tidur. Bahkan senyum tipis yang sempat tercipta di bibir manisnya sempat tertangkap oleh kedua iris mata Mama Imelda .


Sedangkan Nissa yang tiba-tiba mendengar suara deheman itu segera melihat ke arah sumber suara. Dan terlihatlah Mama Imelda yang sedang berjalan mendekat ke arah ranjang Nissa. Nissa segera mengubah posisinya menjadi bersila saat sang Mama sudah duduk di pinggiran ranjang.


"Kok belum tidur?" tanya Mama Imelda.


"Belum, Ma. Belum ngantuk."


"Ehm, nggak biasanya. Pasti sudah ada sesuatu yang terjadi."


Nissa tersenyum kemudian dia berbaring di atas paha sang Mama.


"Marvell tadi ngungkapin perasannya sama Nissa, Ma."


"Oh, ya? Bagus dong!"


"Kok bagus?" tanya Nissa.


"Iya, entah kenapa kok Mama merasa yakin kalau Marvell itu adalah lelaki yang tepat buat kamu, Nis." jawab Mama Imelda. Sedangkan Nissa tampak berpikir dengan jawaban dari Mamanya.


"Pikirkanlah semuanya baik-baik. Kamu bukan lagi seorang remaja yang menjalin hubungan hanya until sekedar pacaran, Rin.Sekarang, Mama tanya sama kamu. Menurut kami, Marvell itu lelaki yang seperti apa?"


"Marvell itu lelaki yang baik, Ma. Sangat baik malahan. Dia terkenal sebagai atasan yang baik dan tidak semena-mena. Dia tidak pernah membedakan seseorang hanya dari segi jabatan dan harta semata. Selain itu, Nissa juga tidak pernah mendengar Marvell berganti-ganti pacar. Sejauh yang Nissa kenal, Marvell itu adalah lelaki yang baik. Sosok lelaki yang sempurna."


Nissa berucap sambil tersenyum, dan hal itu membuat senyum sang Mama juga ikut terlihat.


"Nah, itu maksud Mama. Jadi menurut Mama, sudahi rasa takut dan cemas kamu yang berlebihan itu. Karena tidak semua pria itu seperti Arya dan keluarga nya."


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2