Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Sebuah Pencerahan


__ADS_3

"Mau kemana kau!" pekik Mama Amel saat melihat Indri berlari ke arah dapur.


Untung saja tadi pagi Indri ya g memasak, sehingga wanita itu tahu dimana tadi dia meletakkan pisau bekas dia mengiris daging yang kini ada dalam genggaman tangan Indri.


Kini berganti Indri yang tertawa lebar.


"Wanita gila!" seru Mama Amel ngeri mendengar tawa Indri.


Indri mendekat ke arah Amel dengan wajah yang menyeramkan. " Letakkan balik itu atau pisau ini kulempar tepat ke kepalamu!" titah Indri.


Wajah Amel memucat karena saat ini dia tidak bisa mundur lagi. Punggungnya sudah membentur dinding dapur.


"Letakkan!" teriak Mama Amel yang melihat Indri terus melangkah.


Tangan dan kaki Mama Amel gemetar, kemudian dia menuruti perintah Indri dan meletakkan balik kayu itu di dekat kaki Indri.


"Berikan kunci itu!"


"Kau... "


"Ah, sepertinya Mama mertuaku yang cantik ini ingin tahu bagaimana rasanya dicincang hidup-hidup. Seperti berita kemarin yang viral itu, Mama mau coba?" ucap Indri dengan senyum menyeringai lalu tertawa tergelak membuat Mama Amel semakin ketakutan.


Sring.... sring


Indri nampak mengadu pisau daging dengan pisau sayur yang baru saja dia temukan.


"Mana?" ucap Indri sambil mengulurkan tangannya.


Dengan cepat, Mama Amel menyerahkan kunci pintu itu pada Indri.


"Good! Ternyata Mama Masih ingin hidup lebih lama!"


Indri tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut pipi Mama mertuanya itu.


Mama Amel gemetar melihat sisi lain dari seorang Indri yang sangat menyeramkan.


Sambil tetap membawa pisau pemotongan daging, Indri melangkah mundur.

__ADS_1


"Sialan! Wanita gila!" ucap Mama Amel saat Indri sudah melangkah agak jauh.


Tetapi wanita itu berbalik dan kembali melangkah mendekati Mama Amel.


"Maaf, tadi ada kecoak melintas di depan kaki Mama, In!" ucap Mama Amel takut.


"Mama pikir aku tuli? Sayangnya, ada urusan yang lebih penting daripada aku disini mengurusi kalian yang sangat tidak penting!"


Indri memutar tubuh lalu melangkah pergi. Saat melewati Arya yang masih pingsan, Indri kembali menendang tubuh lelaki itu karena masih merasa sangat kesal.


Setelah itu, Indri kembali melangkah pergi. Hingga saat sampai di depan pintu, ia tidak keluar begitu saja. Wanita itu menutup pintu lalu tidak lupa menguncinya dari luar. Kemudian dengan asal dia membuang kunci itu ke halaman. Bisa dipastikan jika Mama Amel dan Arya tidak akan bisa keluar dari rumah kecuali ada orang yang membantu mencari kunci rumah yang tadi dia lempar dan entah jatuh di sebelah mana. Sedangkan pintu belakang rusak dan belum diperbaiki.


...*****...


Saat Indri menunggu taksi online yang dia pesan, ia menghela nafasnya dalam-dalam. Sungguh saat ini dia merasakan sakit vdan kecewa dengan kenyataan yang dia hadapi. Apalagi saat ucapan demi ucapan yang ia lontarkan kepada kedua orang tuanya kembali terngiang dalam ingatanya.


Belum lagi pesan sang Mama yang seakan terpampang nyata di depannya.


"Maafkan Indri, Ma!" ucapnya dengan nada lirih. Tak terasa air mata menetes dari sudut matanya.


Indri gegas melangkah ke depan karena taksi online yang dia tunggu sudah datang.


Sang sopir hanya terdiam samb melihat Indri dari kaca spion tengah yang ada di dalam mobil. Lelaki paruh baya itu tidak banyak tanya, dan membiarkan penumpangnya itu tenggelam dalam pikirannya.


Terdengar hembusan nafas yang sangat berat dari Indri. Wanita itu berusaha meredam semua rasa yang saat ini berkecamuk dalam dada. Semua bukan karena dia yang harus berpisah dari Arya dan menyandang status janda. Rasa sedih itu akibat wajah sedih kedua orang tuanya saat terakhir mereka bertemu kembali terbayang dalam benak Indri.


Indri membuka dan membaca kembali pesan dari sang Mama. Seketika itu dia menangis menyesali semua yang telah ia lakukan pada kedua orang tuanya hanya demi membela lelaki brengsek seperti Arya.


Untuk kesekian kalinya Indie kembali menghela nafas dan menghembuskan nya perlahan. Hal itu membuat sopir yang saat ini sedang mengemudi paham jika penumpangnya saat ini sedang dalam masalah yang sulit.


"Pak, boleh saya tanya?" ucap Indri tiba-tiba. Sang sopir melihat Indri dari spion hingga tatapan mereka bertemu.


"Boleh, Mbak! Tanya saja," jawab sopir tersebut.


"Apa yang Bapak lakukan jika anak Bapak melakukan suatu kesalahan?"


Sopir itu terdiam, dia berusaha mencerna pertanyaan dan mencari jawaban yang tepat.

__ADS_1


"Seburuk apapun seorang anak, orang tua pasti akan selalu membukakan pintu maaf untuk anak-anak nya. Sebesar apapun kesalahan ya g dibuat oleh anaknya pasti akan dimaafkan."


"Sebesar apapun? Meskipun itu kesalahan ya g sangat fatal dan anak itu sudah berani menghina orang tuanya sendiri?"


"Percaya dan yakinlah, Mbak! Sebesar apapun kesalahan seorang anak, orang tua yang baik dan bijak akan selalu membukakan pintu maaf untuk anaknya. Asalkan, kita sebagai anak berani mengakui kesalahan dan dengan tulisan meminta maaf pada orang tua, semua pasti akan melebur dalam waktu sekejap saja." jelas sang sopir. "Jika yang Mbak maksud adalah diri Mbak sendiri, maka segeralah datang dan meminta maaf pada mereka. Jika perlu sujud dan cium kaki mereka sebagai bukti ketulusan permintaan maaf juga penyesalan yang saat ini Mbak rasakan." imbuhnya.


Setelah itu, keadaan terasa hening karena sang sopir online itu membiarkan Indri mencerna kalimat panjang jawaban dari pertanyaan Indri tadi.


"Iya, Pak. Itulah yang saat ini sangat ingin saya lakukan. Semoga orang tua saya masih mau membukakan pintu maaf untuk saya. Meski rasanya sangat malu jika harus menampakkan wajah di hadapan mereka."


"Tidak perlu malu, Mbak. Karena saya yakin, sebenarnya saat ini mereka sedang menunggu perubahan Mbak. Mereka pasti sangat bahagia saat melihat itu semua. Itu yang pernah saya alami dulu dengan orang tua saya. Percayalah! Tidak akan pernah ada rasa cinta dan kasih yang tulus selain dari kedua orang tua kita!"


Indri terus mencerna dan merenungi ucapan sopir itu, dan dia yakin semua itu benar. Nyatanya, disaat sakit Papanya tetap menyebut namanya.


"Terimakasih sudah membuka pikiran saya, Pak. Bisa minta tolong laju kendaraan nya dipercepat, saya tidak ingin datang terlambat lalu akhirnya menyesal."


Sopir itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Kurang lebih lima belas menit kemudian, Indri sudah sampai di rumah sakit tempat Papa Nando dirawat. Setelah membayar Indri segara turun dari taksi, dengan setengah berlari dia berlari masuk ke dalam rumah sakit. Dia menghentikan langkahya dan menuju ke pusat informasi karena baru sadar jika dia belum tahu ruangan tempat Papanya dirawat.


"Ada yang bisa dibantu Mbak?" tanya petugas rumah sakit itu dengan ramah.


"Maaf Mbak. Pasien atas nama Fernando Aditama ada di ruang rawat mana ya?"


"Mohon ditunggu sebentar ya, Mbak. Kami cek dulu."


Indri mengangguk dan menunggu petugas itu memberikan informasi yang dia butuhkan.


"Pak Fernando Aditama dirawat di kamar Anyelir, nomor dua. Ada di lantai empat ya Mbak." jawab petugas itu.


"Baik, terimakasih Mbak!"


Petugas itu menggukkan kepala sambil tersenyum ramah.


Indri segera bergegas menuju kamar rawat sang Papa sesuai info dari petugas jaga tadi. Sesampainya di depan kamar rawat Papa Nando, Indri menghentikan langkahya. Ia menarik nafas berkali-kali lalu menghembuskan perlahan.


Indri menguatkan tekad. Apapun yang terjadi nanti harus dia hadapi. Semua sudah menjadi resiko yang harus dia tanggung karena sudah berani dan durhaka pada kedua orang tua yang selama ini sudah menjaga dan membesarkan nya dengan penuh cinta dan kasih sayang.

__ADS_1


...☆彡彡 ᕼᗩᑭᑭY ᖇᗴᗩᗪIᑎᘜ ミミ☆...


__ADS_2