
"Apa? Tiga puluh lima juta?" Mama Amel dan Arya terkejut mendengar nominal yang ditransfer oleh Indri. Wajah mereka yang bingung terlihat lucu bagi Indri.
"Kurang ya Mas?" tanya Indri yang lugu dengan wajah polos. Arya yang mendengar pertanyaan itu langsung tersadar, wajahnya yang terkejut kini nampak berbinar. Begitupun dengan Mama Amel.
"Eh, enggak In! Justru ini terlalu banyak." ucap Arya dengan wajah tak enak.
"Kalau kurang biar aku transfer lagi!" ucap Indri.
Arya terperangah mendengar ucapan Indri.
"Ternyata aku nggak salah pilih calon istri. Kasih duit tiga puluh lima juta macam kasih tiga puluh lima ribu aja. Enteng banget oey.. "
batin Arya.
"Nggak In, sebenarnya lima juta saja sudah cukup kok." Arya segera mengecek saldo rekening di aplikasi m-banking miliknya lewat ponsel. Kemudian terpampang lah dengan nyata saldo yang tadinya batas minimal menjadi puluhan juta dalam sekejap mata. Ditambah lagi uang itu didapatkan tanpa perlu kerja keras.
"Berapa nomer rekening kamu, In? Biar aku transfer balik sisanya." ucap Arya.
"Nggak udah Mas, mohon maaf sebelumnya ya, bukan bermaksud menghina atau merendahkan. Jujur saja hampir semua keluarga besarku dari kalangan orang berasal Jadi aku tidak ingin Mas Arya nanti dipandang sebelah mata oleh mereka jika hanya membawa barang bawaan yang harganya tidak seberapa. Kalau aku pribadi tidak pernah mempermasalahkan hal itu, apapun yang Mas Arya kasih itu sangat spesial buat aku."
"Aku hanya ingin menjaga kehormatan suamiku dan keluarganya. Itu saja, nggak apa-apa kan?" tanya Indri sambil tersenyum.
Mendengar ucapan Indri membuat Mama Amel memasang wajah terharu lalu memeluk tubuh ramping Indri sambil menangis. "Terima kaish ya, Nak! Kamu memang calon menantu yang terbaik. Entah kebaikan apa yang Mama dan Arya lakukan sehingga Mama bisa memiliki kamu sebagai calon menantu Mama."
Mama Amel menyeringai licik, berbeda dengan Indri yang selalu tersenyum tulus pada mereka. Indri mengusap punggung calon mertuanya itu sambil mengeratkan pelukan pada wanita paruh baya dengan penampilan layaknya babu dadakan.
Mama Amel mengurai pelukannya, kemudian menyentuh lengan Indri. "Memang benar kata orang, Tuhan itu Maha adil. Disaat Arya ditinggalkan oleh wanita yang menentang keinginan Arya untuk terus berbakti pada Mama, lalu Tuhan menggantikan dengan gadis yang tulus dan berhati lembut seperti kamu, sayang!" ucap Mama Amel sambil kembali memeluk Indri agar lebih dramatis. Tentu saja untuk mengambil hari Indri agar terjerat lebih dalam lagi dalam perangkap mereka.
"Udah ah pelukannya, ini orang ganteng dari tadi di kacangin terus sih?" ucap Arya yang disambut tawa kedua wanita beda usia itu.
"Mama ganti baju dulu ya, kita pergi sama-sama." ucap Indri.
__ADS_1
"Jadi, Mama juga diajak?"
"Iya dong Ma! Maska iya kami seneng-seneng sendiri dan ninggalin Mama sendirian di rumah."
"Terimakasih ya, Sayang! Kamu baik banget sih, Nak?" puji Mama Amel.
Pujian yang sedari tadi Mama Amel lontarkan membuat Indri merasa bahagia. Indri pun mengangguk sambil tersenyum. Mama Amel segara pergi bersiap dan meninggalkan Indri yang saling tatap dan tersenyum dengan Arya.
"Entah harus berapa kali aku mengucapkan terima kasih sama kamu, sayang. Rasanya semua itu tidak akan cukup untuk membalas semua ketulusan dan kebaikan kamu yang bisa menerima Mama aku."
"Sudah deh Mas, daritadi kamu sama Mama terus aja muji-muji aku. Nanti kalau kepala aku membesar terus terbang gimana? Bahaya lho itu!" ucap Indri yang disambut tawa oleh Arya.
Belasan menit menunggu, akhirnya Mama Amel sudah siap dan keluar dari kamar. Kali ini Mama Amel hanya berpenampilan biasa saja, hanya baju dan celana saja. Berbeda dari biasanya jika dia pergi ke mall tanpa Indri yang selalu mengenakan pakaian terbaik dan termahal yang dia miliki. Mama Amel sengaja melakukan itu untuk menarik simpati Indri. Siapa tahu nanti Indri merasa iba lalu membelanjakannya baju-baju baru yang bagus.
Arya yang melihat penampilan Mama Amel sempat mengernyitkan keningnya. Namun beberapa detik kemudian dia paham dan mengacungkan jempolnya tanpa sepengetahuan Indri sambil tersenyum penuh arti.
"Kamu nggak malu kan, In? Keluar sama Mama dengan penampilan seperti ini. Mama bisanya cuma beli baju harga seratusan ribu aja, itupun seringnya harus nabung dulu baru bisa beli."
"Ya udah, berangkat yuk!" ajak Arya.
Mama Amel dan Indri mengangguk bersamaan. Ketiganya melangkah keluar dengan Indri yang menggandeng tangan Mama Amel. Sedangkan Arya melangkah di belakang mereka berdua.
"Huff, belum menikah saja aku sudah dilupakan. Mungkin setelah menikah, pasti aku mereka lupakan." gerutu Arya pelan.
Ucapan Arya yang masih terdengar oleh Mama Amel dan Indri membuat mereka menghentikan langkah kaki yang baru saja turun dari teras. Keduanya menoleh ke arah sumber suara, ternyata Arya masih berdiri di ambang pintu rumah.
"Kamu cemburu? Kamu nggak suka Mama dan istri kamu nantinya akur?" tanya Mama Amel sambil memicingkan matanya.
Arya hanya bisa nyengir menanggapi kalimat sang Mama. " Nyerah aja deh, percuma berdebat. Dua lawan satu nggak bakal bisa menang!"
Arya memasang wajah masam sambil melangkah ke arah dua wanita tersebut. Mama Amel segera menarik tangan Indri untuk masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Lah, ini gimana konsepnya sih? Kalian berdua duduk di belakang, emangnya Arya ini sopir gitu?" protes Arya ketika melihat Mamanya sudah duduk di belakang, dan Indri juga hendak menyusul masuk.
"kamu di depan saja In, kasihan Arya dari tadi diabaikan, daripada pada ngambek ntar anak bontot Mama yang paling ganteng ini." ucap Mama amel.
"Iya, Ma!" Indripun langsung melangkah menuju ke kursi bagian depan yang pintunya sudah di bukakan oleh Arya setelah menutup pintu bagian belakang.
"Terimakasih, Mas!"
"Sama-sama." Arya kemudian menutup pintu mobil, kemudian dengan setengah berlari pria itu menuju pintu bagian samping. Tak lama, mobil itupun mulai bergerak keluar dari halaman rumah Mama Amel.
Di sepanjang jalan, mereka terus bercanda bersama. Indri benar-benar dibuat terbang setinggi mungkin sebelum akhirnya nanti akan dihisap hingga habis oleh Arya dan Mama Amel.
Puluhan menit berlalu, kendaraan roda empat yang dikemudikan Arya sudah memasuki kawasan parkir sebuah mall ternama dan terbesar di kota ini. Sebuah pusat perbelanjaan yang serba ada.
"Ayo!" ajak Arya ketika mobil sudah benar-benar berhenti dan terparkir rapi.
Sebelum berbelanja, Arya mengajak Indri dan Mama Amel ke sebuah mesin ATM yang ada di lantai dasar. Arya hendak mengambil uang, tidak banyak hanya lima juta saja sebagai pegangan jika toko tempat mereka berbelanja tidak menyediakan mesin debit.
Mereka bertiga terlihat seperti sebuah keluarga yang bahagia.
...******...
Lebih dari empat jam berlalu, tak terasa tiga orang itu telah menghabiskan waktunya untuk berkeliling di dalam mall tersebut. Kedua tangan mereka telah di penuhi dengan tentengan kantong belanja berisi segala perlengkapan yang Arya butuhkan sebagai bawaan saat melamar Indri.
Tidak hanya itu saja, beberapa helai baju baru yang bisa dikenakan di rumah dan juga untuk bepergian. Tentu saja, baju-baju Mama Amel di beli menggunakan uang yang berbeda dari uang yang sudah di transfer Indri sebesar tiga puluh lima juta tadi.
"Misi berhasil!" batin Mama Amel sambil tersenyum sumringah.
π±πππππ ππππ ππππ π ππ π ππππππππππ ππ..... ππππ πππππ ππππππππ πππππππππππ, π»πππππ πππππ ππππ πππ ππππ ππππ ππππ π ππ πππ ππ πππππππ.
π³ππππππππππππππ nanasπππ
__ADS_1
...βΆβΆβΆβΆβΆ π―ππππ ππππ πππ β·β·β·β·β·...