
"Lakukan Mas! Lakukanlah jika memang itu keinginanmu! Kini aku sadar, jika cinta saja tidak akan pernah cukup untuk kita meneruskan rumah tangga kita ini. Aku yang terlalu bodoh dan naif karena percaya begitu saja dengan ucapan manis dan bujuk rayumu juga Mamamu. Aku abaikan semua peringatan dari orang-orang terdekatku, juga kenyataan yang diungkapkan Nissa saat itu. Aku menyesal, kebodohanku membuat aku jatuh ke jurang yang begitu dalam. Maka lakukanlah, jika menceraikan aku membuatmu dan juga Mamamu hidup bahagia!"
Arya dan Mama Amel terperangah tak percaya,
Indri yang diperlakukan sedemikian rupa tapi dia masih tetap sabar.
"Lihat perempuan pembawa sial itu, Ar! Dia sudah berani menantangmu!" ucap Mama Amel semakin menambah panas suasana.
"Berani kamu Ya!" teriak Arya memekik.
Arya segera bangkit dari tempat duduk. Ia mendorong kursi hingga menimbulkan suara lalu segera beranjak mendekat ke arah Indri.
Wanita yang sudah menikah beberapa hari tapi masih tetap perawan karena belum disentuh sama sekali oleh suaminya karena tragedi di malam pertama mereka tempo hari itupun tetap berdiri tempatnya. Tidak dia pedulikan Arya yang saat ini menatapnya dengan tajam. Dan ternyata, Mama Amel pun mengikuti langkah Arya dengan senyum sinis menghiasi bibir wanita yang tak lagi muda itu.
"Masuk ke kamar!" ucap Arya dengan kedua telapak tangan mengepal.
"Nggak! Kalau kamu mau menceraikan aku, ceraikan saja sekarang! Kamu pikir aku takut kehilangan lelaki nggak berguna macam kamu? "
Plaaaak
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Indri. Menyisakan rasa panas dan perih. Tapi masih lebih sakit lagi hati Indri. Tamparan itu bahkan membuat tubuh Indri terhuyung saking kerasnya. Hampir saja Indri terjatuh jika tidak segera berpegangan pada meja makan yang ada di dekatnya.
Tangan Indri memegangi pipinya yang terasa sakit, rahangnya terasa sedikit ngilu. Ia tersenyum samar, tamparan yang dia terima tidak membuatnya menjadi takut. Tetapi dia malah membuat dia semakin yakin untuk berpisah dengan Arya.
Indri menatap Arya dingin membuat Arya menelan salivanya dengan susah patah untuk kesekian kalinya.
"Ar, kurung saja dia di kamar!" bisik Mama Amel namun masih bisa di dengar jelas oleh Indri. Seketika, Indri menoleh pada wanita paruh baya itu.
"Kenapa kamu melotot sama Mama?"
"Berani kamu sama Mama aku? Dasar istri nggak berguna!" ucap Arya.
Sreeett
Dalam hitungan detik, Arya sudah menggenggam rambut Indri. Dan tanpa perasaan ataupun rasa kasihan dia melangkah sambil menarik rambut perempuan yang baru saja ia nikahi itu. Hingga akhirnya, mau tak mau Indri pun mengikuti langkah suaminya.
"Mas, sakit! Lepaskan!" ucap Indri meronta. Ia melangkah terseok-seok sambil menahan tangan Arya yang menarik rambutnya.
Tiba-tiba saja Mama Amel menerjang tubuh Indri. Membuat tubuh wanita itu tersungkur. Dan karena itulah rambut Indri terlepas begitu saja hingga helaian rambutnya memenuhi genggaman tangan Arya.
Untungnya Indri masih bisa menahan bobot tubuhnya dengan tangan. Kedua telapak tangannya mengepal menahan berbagai rasa yang saat ini bergejolak jadi satu dalam dada. Rasa sakit yang teramat sangat hingga dia tidak bisa menjabarkan seperti apa yang dia rasakan saat ini. Terdengar suara gemelatuk dari gigi Indri menahan gemuruh dalam dada yang semakin membuncah.
"Mau aku seret macam seekor anjing, hah?" seru Arya.
__ADS_1
Indri gegas bangkit dari posisinya. Dia menatap Arya dengan tajam dan lekat. Tangan Arya terlihat terulur hendak kembali menggenggam rambut Indri. Secepat kilat Indri menghindari membuat Arya semakin murka.
"Tutup dan kunci pintunya, Ma!" titah Arya yang dijawab anggukan oleh Mama Amel. Wanita itu gegas memutar tubuh hendak mendahului Mama Amel. Belum sempat ia mengayunkan langkah kakinya, namun dia sudah merasakan genggaman erat di pergelangan tangannya.
"Sialan!" ucap Indri mendesis. Wanita itu meronta sekuat tenaga agar cekalan Arya lepas. Namun tenaganya kalah, cekalan Arya bahkan semakin kuat.
"Lepaskan bangsat!!!"
Bhuuugh!!!
"Argh! Sialan kamu, In!"
Arya terkapar meringkuk di lantai setelah Indri menendang pusakanya.
Melihat Arya yang melemah dan meringkuk, ditambah Mama Amel yang belum kembali, membuat Indri menyeringai.
Bhuuugh
"Ini untuk rasa sakit bdan kecewaku sama kamu!"
"AAARGH!" Arya mengerang kesakitan.
Bhuuugh
Arya kembali mengerang lebih keras dari yang tadi. Membuat Mama Amel yang mendengar segera melangkah ke lebih cepat untuk melihat apa yang terjadi pada putra kesayangannya itu.
Dalam hitungan detik Indri sudah bisa membuat Arya terkapar dengan nafas yang tersengal-sengal. Andai keadaan nya baik-baik saja seperti sebelum masuk rumah sakit, dia pasti bisa melumpuhkan istrinya yang sedang kalap.
Indri tampak kembali mengangkat kakinya dengan posisi tepat di atas pusaka kebanggaan milik Arya membuat lelaki itu mendelik.
"Mau apa kamu? Jangan gila kamu, Indri!" ucap Arya ketakutan.
Bhuuugh
"Arghhh!!!"
Arya mengerang kesakitan karena Indri menekan-nekankan kakinya tepat di pusaka milik Arya. Tubuh lelaki itu meliuk-liuk di atas lantai sebab Indri yang terus menyiksa Arya. Senyum terbit di wajah Indri saat melihat Arya yang meraung kesakitan. Wanita itu menampakkan seringaian yang terlihat sangat menakutkan.
Saat Indri masih menjalankan aksinya, Mama Amel kembali. Wanita beranak tiga itu terkejut melihat aksi menantunya yang sedang menyiksa anak lelakinya. Dadanya berdebar-debar karena tidak bisa membayangkan rasa sakit yang kini dirasakan oleh Arya.
Karena tidak ingin melihat putranya tersiksa lebih lama, wanita itu mendekat pada Indri yang belum menyadari kedatangannya. Dengan gerakan cepat dan kuat, Mama Amel mendorong tubuh Indri hingga terjatuh.
"Berani sekali kau menyiksa putra kesayangan ku!" hardik Mama Amel.
__ADS_1
Indri hanya berekspresi datar.
"Mama marah? Iya? Itulah yang dirasakan oleh orang tuaku jika mereka melihat putri kesayangan mereka disiksa oleh orang macam kalian!" balas Indri. Lalu Indri bangkit dari lantai dan melihat Arya yang pingsan.
"Mama juga mau aku buat seperti itu?" tanyanya sambil menunjuk pada Arya yang pingsan.
"Kau... "
Indri yang sudah berada pada puncak amarah tidak merasakan takut sedikitpun pada Mama Amel. Dia justru meletakkan salah satu kakinya di atas dada Arya. Indri tergelak, suaranya terdengar sangat mengerikan.
"Ini sekali saja Indri tekan, bendera kuning berkibar di depan rumah Mama!"
"Dasar wanita ****** pembawa sial!" umpat Mama Amel.
Mata wanita paruh baya itu melirik, mencari benda yang sekiranya bisa dia jadikan senjata untuk melawan Indri. Hingga pada akhirnya, dia melihat sebuah balok kayu yang teronggok di sudut ruangan.
"Sial!" desis Indri yang melihat Mama Amel sudah memegang balik kayu yang panjangnya kurang lebih satu meter.
Mama Amel terus mendekat ke arah Indri sambil terus menyeringai.
"Biar tangan ini yang membalas rasa sakit yang dirasakan Arya!"
sreeettt
Mama Amel mengayunkan balok yang dia pegang sekuat tenaga. Namun sayangnya, Indri dengan sigap menghindar. Serangan demi serangan dilancarkan Mama Amel dan Indri masih tetap bisa menghindar. Hal itu membuat Mama Amel mengumpat kasar.
Otak Indri bekerja dengan keras, dia berpikir bagaimana caranya dia bisa keluar dari rumah terkutuk ini dengan selamat.
"Kau mencari ini?" tanya Mama Amel sambil menunjukkan kunci yang ada dalam genggaman tangannya. Kemudian wanita itu tergelak saat melihat ekspresi wajah Indri.
"Mau kemana kau!" pekik Mama Amel saat melihat Indri berlari ke arah dapur.
Untung saja tadi pagi Indri ya g memasak, sehingga wanita itu tahu dimana tadi dia meletakkan pisau bekas dia mengiris daging yang kini ada dalam genggaman tangan Indri.
Kini berganti Indri yang tertawa lebar.
"Wanita gila!" seru Mama Amel ngeri mendengar tawa Indri.
Indri mendekat ke arah Amel dengan wajah yang menyeramkan. " Letakkan balik itu atau pisau ini kulempar tepat ke kepalamu!" titah Indri.
Wajah Amel memucat karena saat ini dia tidak bisa mundur lagi. Punggunya sudah membentur dinding dapur.
...◌⑅⃝●♡⋆♡ hׁׅ֮ɑׁׅ℘℘ᨮׁׅ֮ ꭈׁׅꫀׁׅܻ݊ɑׁׅժׁׅ݊ꪱׁׁׁׅׅׅ݊ꪀᧁׁ ♡⋆♡●⑅⃝◌...
__ADS_1