Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Pulang Dari Rumah Sakit


__ADS_3

"Mama tidak mau lagi mendengar Papa bicara seperti itu! Berjanjilah kita akan menua bersama. Menyaksikan anak dan cucu kita hidup bahagia. Berjanjilah, Pa!" ucap Mama Sofie sambil terus terisak di pelukan suaminya.


Mendengar kalimat yang diucapkan Mama Sofie, membuat Papa Nando tidak bisa berkata apa-apa. Apalagi saat mendengar istrinya mengucapakan kalimat itu dengan terbata-bata menahan tangis. Kedua sudut matanya kembali mengeluarkan air mata.


Tangan Papa Nando terulur mengusap jejak air mata di pipi wanita yang selama ini setia menemani hidupnya.


Mendapati perlakuan sang suami seperti itu membuat Mama Sofie semakin menangis, air matanya semakin deras mengalir.


"Sudah, Ma. Jangan menangis lagi. Papa tidak apa-apa. Doakan Papa sehat, panjang umur."


"Aamiin, Mama selalu mendoakan itu, Pa!"


Papa Nando mengangguk sambil tersenyum tipis.


...*****...


"Sudah kamu bayar tagihannya, In?" tanya Mama Amel begitu Indri kembali ke ruangan.


"Sudah Ma," jawab Indri.


"Yuk, Ar! Kita pulang! Tadi dokter sudah pesan kalau urusan administrasi sudah beres kamu boleh langsung pulang. Kamu bisa jalan atau mau pakai kursi roda aja?" tanya Mama Amel.


"Bisa Ma," jawab Arya lirih karena dia tidak bisa membuka mulut terlalu lebar akibat luka yang dia dapatkan.


"Sebentar, Ma. Biar taksi onlinenya datang dulu. Biar nanti kita nggak nunggu terlalu lama di depan."


"Kenapa nggak pesen taksinya dari tadi sih? Pinter dikit kenapa? Punya otak itu buat dipakai bukan cuma buat ngisi tempurung kepala. Astaga!!! Dosa apa yang sudah Mama lakukan sampai-sampai Mama punya menantu seperti kamu! Baru juga sehari, tapi rasanya tekanan darah Mama sudah sangat tinggi. Nanti kalau sudah satu bulan, mungkin Mama stroke dan mati!"


Dada Indri serasa sesak saat mendengar kalimat hinaan dari Mama Amel. Mama Amel benar-benar wujud dari manusia yang tidak memiliki hati. Begitu lancar kalimat hinaan dan cacian meluncur dari mulutnya. Apalagi saat itu ada orang asing disana. Dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan Indri. Hingga akhirnya Indri menundukkan kepalanya karena malu dengan sikap Mama Amel.


Masih terekam jelas dalam ingatan Indri pujian yang dilontarkan Arya dan Mama Amel bergantian sesaat sebelum mereka menikah. Namun kali ini yang terjadi sungguh berbeda.


Indri tersadar dari lamunannya saat ponselnya berdering. Indri menatap layar ponsel yang menampilkan nomor tanpa nama. Tanpa ragu, Indri menerima panggilan itu yang ternyata dari sopir taksi online yang dia pesan memberitahukan jika dia sudah sampai dan menunggu di depan.

__ADS_1


"Taksinya sudah datan, Ma!"


"Hm," jawab Mama Amel singkat tak acuh pada Indri. Lalu dia melemparkan senyum manis pada sosok seorang gadis yang tadi memberikan bantuan membawa Arya ke rumah sakit.


"Sekali lagi, tante ucapkan terimakasih karena kamu tadi sudah bersedia membantu membawa Arya ke rumah sakit. Entah bagaimana jadinya putra tante yang ganteng ini kalau tidak ada kamu!" ucap Mama Amel. Cara bicaranya halus dan lembut, mirip seperti dulu saat bicara dengan Indri sebelum kedua orang tuanya mengambil semua yang dia miliki.


"Iya tante, sama-sama. Kalau begitu saya pamit dulu. Ada pekerjaan yang harus segera saya selesaikan." ucap Hana.


"Semoga dilancarkan semua urusannya ya, terimakasih bantuannya."


"Aamiin," ucap Hana lalu mengangguk pada Indri dan Arya sebagai bentuk penghormatan lalu mulai melangkah pergi.


Dengan diapit oleh Mama Amel dan Indri di sisi kanan dan kiri, Arya berjalan keluar rumah sakit menuju ke taksi online yang sudah menunggu. Butuh waktu belasan menut untuk mereka bisa sampai ke mobil taksol yang dipesan karena kondisi Arya yang tidak bisa berjalan cepat.


Begitu mereka sudah sampai dan naik, kendaraan roda empat itu segera meluncur membelah ramainya jalan raya dengan membawa tiga orang penumpang itu.


Puluhan menit berlalu, mobil itu mulai sedikit melambatkan lajunya saat alamat yang di tuju sudah ada di depan mata. Hingga beberapa menit kemudian kendaraan itu sudah mulai masuk ke halaman rumah Mama Amel.


"Ini Pak, ongkosnya." ucap Indri sambil menyerahkan satu lembar uang seratus ribuan. Dan si sopir dengan sigap memberikan kembalian ongkos taksi online.


"Langsung masuk ke dalam rumah saja ya, Ma! Arya mau langsung istirahat!"


Mama Amel yang mendengar permintaan putranya segera mengangguk lalu merapat Arya hingga sampai di kamarnya. Setelah lelaki itu duduk di sisi ranjang, terlihat dia membaringkan tubuhnya perlahan. Sebab terbentur sedikit saja rasanya seperti di pukul dengan kayu balok berukuran besar.


"In, buat makanan untuk Arya sekarang. Dia harus minum obatnya. Dan sebelumnya dia harus makan dulu!" titah Mama Amel.


"Iya, Ma!" jawab Indri. Dia segera meletakkan tasnya di atas nakas lalu segera pergi ke dapur.


Mama Amel melongok kan kepalanya keluar memastikan jika menantunya itu benar-benar sudah pergi.


"Ar, Mama penasaran. Berapa kira-kira uang yang di dapat Indri?" tanyanya pada Arya. "Pasti banyak! Secara dia jual kalung pemberian orang tuanya. Pasti mahal!" imbuhnya dengan nada berbisik karena takut jika sang menantu mendengar apa yang dia bicarakan.


"Mama lihat saja sendiri. Tas nya kan ada di situ! Arya lagi sakit ini, jangan diajak mikir dulu!" jawab Arya sambil menunjuk tas yang tadi dipakai Indri.

__ADS_1


Senyum Mama Amel merekah mendengar ucapan Arya. Tangannya perlahan mulai terulur menyentuh tas milik Indri. Namun baru ujung jarinya menempel, terdengar suara derap langkah kaki mendekat. Mama Amel cepat menarik tangannya sambil merutuk kesal. Akhirnya Indri masuk sambil membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya.


Mata mama Amel membelalak saat melihat isi piring yang di bawa oleh Indri.


"Astaga Indri!!" pekik Mama Amel sambil menoyor kepala IndriIndri membuat kepala wanita itu terhuyung.


"Kamu ini goblok atau gimana sih, In? Kamu bisa lihat kan kondisi Arya gimana?" pekik Mama Amel sambil mendorong kepala Indri hingga berjarak sekitar sepuluh senti dari wajah Arya.


"Kamu lihat kan luka yang ada di bibir Arya? Mana bisa dia makan nasi dengan sayur seperti itu! Goblok banget sih jadi orang!" hardik Mama Amel tidak ada habisnya.


Indri ingin menangis, namun ia tahan kuat-kuat. Dia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh kedua orang tuanya. Jangankan memaki, nada keraspun tidak pernah ia dengar dari kedua orang tuanya.


"Buatkan Arya bubur! Astaga! Anak orang kaya, sarjana pula, tapi bodohnya luar biasa!" Mama Amel kembali memaki Indri sambil berkacak pinggang.


"Mama bisa bantu ajarin Indri masak bubur nggak? Indri belum pernah buat soalnya." ucap Indri ragu dan segan pada mertuanya yang sedang ngereog.


"Heh, wanita bodoh! Kamu kan bisa mencari semuanya di ponsel!" jawab Mama Amel sambil melotot membuat Indri semakin takut.


Indri mengangguk kemudian bergegas mengambil tas yang ada di atas nakas kemudian membawanya ke dapur. Tak lupa dia juga membawa piring yang tadi berisi makanan untuk Arya.


Air matanya menetes setelah tadi dia menahannya di hadapan Mama Amel dan Arya. Indri menangis, dia terduduk di lantai dapur sambil memeluk kedua lututnya. Indri benar-benar merasakan sakit yang teramat dalam.


Setelah dia puas mencurahkan rasa sakit di hatinya, Indri kemudian bangkit. Dia menghela nafas panjang lalu dikeluarkan pelan-pelan. Indri segera mengambil ponsel miliknya dari dalam tas. Kemudian dia membuka salah satu aplikasi untuk mencari tutorial membuat bubur.


Setelah menemukan video yang dia rasa pas, dia segera mengeksekusi.


Puluhan menit berlalu, hingga akhirnya satu mangkok bubur kini sudah ada di tangannya. Indri segera membawa ke kamar, tempat dimana kini suaminya sedang beristirahat. Saat sampai di kamar, Indri sedikit bernafas lega karena dia tidak melihat keberadaan sang Mama mertua.


"Makan dulu, Mas," ucap Indri. Kemudian dia meletakkan mangkok bubur yang dia bawa atas nakas. Kemudian dia membantu Arya duduk dan menumpik beberapa bantal di belakang punggung Arya agar dia bisa bersandar. Setelah itu Indri mengambil mangkok bubur yang masih mengeluarkan kepulan asap.


"Makan Mas!" Indri mengulurkan sendok yang separuhnya berisi bubur. Lelaki itu tamoak membuka mulut. Tapi, tiba-tiba....


Cuih

__ADS_1


Arya menyemburkan suapan pertama itu hingga mengenai wajah Indri. Wanita itu tampak terkejut.


"Kenapa Mas?" tanya Indri gugup sambil. membersihkan wajahnya yang terkena semburan bubur Arya.


__ADS_2