Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Makan Gengsi?


__ADS_3

"Emangnya ada posisi apa, Ma? Kalau cuma pegawai rendahan mah ogah, nggak level. Apalagi cuma staff biasa seperti Mas Rendra. Males banget!"


"Halah, nggak usah kebanyakan gaya. Waktu di kantor Indri kamu juga cuma staff biasa kan?"


"Ya tapi kan, staff keuangan Ma. Nggak kayak Mas Rendra, nggak ada gaya-gaya nya sama sekali."


"Kita nggak makan gaya Arya! Kita makan nasi, nasi dari beras dan beras dibelinya pakai uang! Kalau kamu nganggur, dapat uang darimana buat makan? Emangnya perut bisa kenyang cuma makan gaya aja? Sudah sana, kamu siapkan surat lamaran kerja buat ke kantor Rendra."


"Emangnya posisinya apa, Ma?" tanya Arya.


"Mama nggak tahu, Rendra cuma bilang nanti bakal di infokan sama orang HRD."


"Hah, ya udah deh, Arya mau tidur dulu. Ngantuk!"


Blaaamm


Arya kembali menutup pintu agak keras sehingga menimbulkan suara yang sedikit mengagetkan.


"Ya ampun, punya anak bungsu modelan kayak gitu, untung sayang. Kalau nggak udah aku pites, aku masukin lagi dalam perut."


...*****...


Keesokan harinya, sesuai titah sang Mama. Arya sudah siap dengan kemeja kerjanya yang nampak rapi dan juga amplop coklat khas orang yang mau melamar pekerjaan. Arya berjalan ke meja makan hendak sarapan. Dan setelah sampai, Arya melihat hanya ada nasi hangat dan telor dadar saja.


"Ma, nggak salah ini kita cuma sarapan ini aja? Mana ada gizinya, Ma!" protes Arya.


"Gak usah protes! Emangnya kamu ngasih uang ke Mama buat belanja? Enggak kan?Semenjak Rendra keluar dari rumah ini, nggak ada lagi yang biayain kebutuhan kita. Jadi semuanya terpaksa pakai uang Mama."


"Lagian Mama juga sih, ngapain pakai di usir waktu itu. Kalau udang begini kan kita jadinya yang repot. Biasanya makan nasi goreng seafood, atau kalau nggak gitu menu makan komplit. Eeeh... sekarang malah kayak makanan di penjara. Sehat nggaaak..... cacingan yang iya.... " keluh Arya.


"Yaaa.. habis gimana ya, Ar! Mama terlanjur kesel sama si Vina waktu itu. Mama tuh bawaannya pengen ngeludahin aja tiap lihat mukanya itu. Lagian, si Rendra itu, ngapain juga cari perempuan miskin dan kampungan kayak gitu! Dah lah, kamu cepetan sarapan, nanti kamu telat."


Arya tak lagi membantah, ia segera menghabiskan sarapannya meski tenggorokan nya terasa seret untuk menelan sarapan paginya kali ini. Tapi dia tetap berusaha menelan dengan mendorong makanan itu menggunakan air putih agar bisa lolos melewati tenggorokan nya.


Selepas sarapan, lelaki itupun segera pamitan pada sang Mama.

__ADS_1


"Kalau sudah keterima nanti kerja yang bener! biar bisa cepet naik jabatan. Dan kalau perlu, gaet lagi perempuan yang kaya di kantor Rendra. Kalau bisa sih, jangan sampai menikah biar nggak ribet urusannya. Cukup porotin aja duitnya, punya muka ganteng itu mesti dimanfaatkan!"


"Iya... iya Ma, bawel banget sih! Dah ah, Arya berangkat dulu!" ucap Arya sambil mencium tangan Mamanya. Kemudian lelaki itu segera berangkat ke kantor Rendra.


Setalah 20 menit perjalanan membelah jalanan yang lumayan padat dan sedikit macet, Arya sampai di kantor tempat Rendra bekerja.


Mata Arya menatap gedung yang tidak terlalu tinggi di hadapannya itu. Ya, tentu saja jika dibandingkan dengan perusahaan milik Marvell atau Nissa, perusahaan tempat Rendra bekerja ini tidak ada apa-apa nya.


"Ck, perusahaan kecil begini, berapa sih mau gaji karyawannya. Kalau saja aku nggak lagi nganggur, nggak sudi aku kerja di tempat seperti ini." umpat Arya sambil terus berjalan menuju lobi perusahaan hingga akhirnya dia berhenti di depan meja resepsionis ia pun si tanyai keperluannya oleh petugas yang sedang berjaga.


"Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"


"Mbak, kata kakak saya yang bekerja disini, kantor ini sedang membuka lowongan pekerjaan ya?"


"Kalau boleh tahu, siapa nama Kakaknya?"


"Namanya Rendra, Mbak. Kalau nggak salah, dia staff administrasi."


"Oooh, Pak Rendra. Iya benar, Pak. Disini sedang membuka lowongan pekerjaan. Apa Bapak membawa persyaratannya?"


"Baik, kalau begitu langsung saja saya antar ke ruang HRD ya, Pak. Soalnya posisi itu memang sedang sangat dibutuhkan di perusahaan ini. Jadi tidak perlu melewati proses seleksi lagi."


Arya mengangguk kemudian melangkah mengikuti resepsionis sambil matanya terus memandang apa saja yang ada di sekelilingnya.


"Silahkan, Pak. Bapak kepala HRD sudah menunggu di dalam."


Arya kembali mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu dia masuk dan duduk di kursi yang ada di depan meja kerja sang pemilik ruangan.


Setelah menunggu beberapa menit karena sang kepala HRD yang bernama Pak Soni sedang membaca CV milik Arya. Akhirnya, pria yang berusia kurang lebih empat puluh lima tahunan itu pun membuka suara.


"Sudah siap bergabung di perusahaan ini?"


"Siap Pak, saya akan bekerja dengan giat demi memajukan perusahaan ini." jawab Arya.


"Bagus! Saya suka semangat kamu! Saya acungi jempol. Tapi, apa kamu tahu posisi apa yang akan kamu isi di perusahaan ini?"

__ADS_1


"Belum Pak, tapi saya yakin kakak saya tidak akan memberikan posisi sembarangan pada saya, karena posisi saya di tempat sebelumnya adalah supervisor. " jawab Arya dengan penuh percaya diri. Sedangkan Pak Soni hanya manggut-manggut saja.


"Ya, saya sudah tahu dari CV yang tadi saya baca. Tapi sayang, posisi yang Anda sebutkan tadi sedang tidak membuka lowongan."


Kening Arya tampak berkerut kemudian kembali berkata, "Oh, mungkin posisi staff keuangan atau administrasi seperti kakak saya barangkali. Ya, nggak masalah sebenarnya karena saya juga pernah diposisi itu juga."


Pak Soni kembali tersenyum, "Sayangnya bukan posisi itu juga yang dibutuhkan saat ini."


"Lalu, posisi apa yang Bapak maksud?"


"Office Boy, perusahaan ini sangat membutuhkan OB. Karena memang kami kekurangan tenaga OB. Bagaimana? Apa masih bersedia? Kalau memang bersedia, maka hari ini juga Anda bisa mulai bekerja."


"Apa? O Be?"


Arya terperangah, dia tak percaya. Bagaimana bisa sang kakak memasukkan dirinya ke dalam perusahaan dengan posisi office boy?


Tampak, Arya menelan salivanya dengan sudah payah. Bahkan terlihat tangan kanannya yang menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Bagaimana? Apa Anda masih tertarik?" tanya Pak Soni sekali lagi.


"Pak, apa nggak ada posisi lain selain Office Boy?" tanya Arya.


"Sekali lagi mohon maaf, saat ini tidak ada posisi kosong sebagai staff ataupun posisi lainnya. Yang ada hanya sebagai Office Boy saja, bagaimana? Jika Saudara masih berkenan, kita bisa langsung tanda tangan kontrak kerja. Namun, jika masih ingin memikirkan lagi, juga nggak apa-apa. Tapi karena perusahaan kami membutuhkan cepat, jadi saya tidak akan memberi waktu lama untuk berpikir."


Arya terdiam, dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Disatu sisi, dia sangat membutuhkan pekerjaan. Tapi di lain sisi rasa gengsinya meronta-ronta dengan posisi yang saat ini ditawarkan.


"Saya pikir-pikir dulu Pak. Sebab kakak saya tidak mengatakan posisi apa yang saat ini dibutuhkan."


"Baik, tidak masalah. Tapi saya hanya akan memberikan waktu sampai besok saja. Jika Anda berminat silahkan besok pagi datang, tapi jika besok pagi tidak datang maka perusahaan akan segera mencari orang lain."


"Iya, Pak. Saya akan segera memberikan keputusan."


Tampak Pak Soni hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, Anda bisa segera keluar dari ruangan saya." Ucap Pak Soni pelan tapi terdengar tegas.

__ADS_1


Arya mengangguk kemudian lelaki itu segera beranjak dari duduknya lalu melangkah keluar setelah menjabat tangan tangan kepala HRD.


__ADS_2