
Perasaan Arya menjadi tak enak sebab lelaki itu belum pernah bertemu dengan Pak Nando. Calon ayah mertuanya. Arya khawatir jika calon Papa mertuanya menentang rencana pernikahan mereka yang terkesan sangat terburu-buru.
"Tapi besok jadi kan, In?" tanya Arya memastikan.
"Ya jadilah, Mas. Mas Arya tenang saja ya, meski Papa belum pernah bertemu sama Mas Arya, Papa pasti setuju kok dengan pilihan aku." ucap Indri.
"Iya, In. Aku hanya memastikan saja. Takutnya Mama sudah bilang sama semua kerabat, eh malah batal. Kan nggak enak sama mereka nantinya."
"Nggak lah Mas. Mas Arya tenang saja. Aku langsung pulang ya Mas, Ma!"
Tiga orang dewasa yang ada di mobil segera bergerak keluar setelah mesin mobil benar-benar mati. Indri mencium punggung tangan calon mertuanya itu, lalu saling mencium pipi kiri dan kanan. Setelah itu Indri berjalan ke sisi mobil ketika Arya mengeluarkan semua barang belanjaan dari dalam bagasi mobil. Gadis itu nampak membuka pintu sisi pengemudi lalu menyelinap masuk ke dalamnya. Hingga sedetik kemudian kendaraan roda empat itu mulai bergerak pelan. Dan sebelum memacu mobilnya, Indri menekan klakson mobil sebagai salam perpisahan mereka.
"Wah, habis borong nih Bu Amel?" tiba-tiba saja tetangga samping rumah Bu Amel terdengar. Wanita paruh baya seusia Mama Amel itu memandangi belasan kantong belanjaan yang berjejer di teras.
"Iya, Bu Monik. Besok Arya mau melamar kekasihnya. Jadi harus disiapkan dari sekarang. Rencananya mendadak soalnya."
"Wah, cepat sekali ya Bu, Arya dapat pengganti tunangannya yang cantik itu. Padahal, perasaan baru kemaren hubungan mereka selesai."
Arya memutar bola matanya malas mendengar ucapan tetangganya yang mulai julid. Lelaki itu segera mengambil beberapa paper bag kemudian dia tenteng begitu saja, bahkan lelaki itu harus beberapa kali mengulang karena saking banyaknya belanjaan mereka hari ini.
"Alhamdulillah, Bu. Namanya juga jodoh. Nggak ada yang tahu kan?"
"Iya sih Bu, bener. Apa gadis yang tadi itu Bu, calon istrinya si Arya?"
"Iya Bu Monik, nggak kalah cantik kan? Namanya indri, Bu. Dia itu manager lho di tempat kerjanya Arya yang baru. Dan orang tuanya itu juga bukan orang sembarangan. Alhamdulillah, Arya diberikan jodoh yang orang tuanya tidak mempermasalahkan keadaan keluarga kami, Bu. Mereka itu dari keluarga baik-baik. Beda banget sama yang dulu."
__ADS_1
"Aamiin, semoga semua lancar ya, Bu. Asal jangan seperti yang kemaren-kemaren. Dulu, awalnya Bu Amel kan selalu memuji dan membanggakan mantan tunangan Arya itu, tapi setelah batal justru melahirkan menjelek-jelekan. Semoga hal seperti itu tidak terulang lagi ya Bu Amel. Ya sudah, saya permisi dulu."
"Sialan itu mulut," gerutu Bu Amel pelan dan tentu saja tidak bisa didengar oleh Bu Monik karena jarak mereka yang terlalu jauh. Lalu ia mengangguk dan Bu Monik berlalu pergi setelah melihat Mma Amel mengangguk.
...*****...
"Papa, kapan pulang?" Indri menyapa sang Papa yang saat ini sedang duduk di sofa berdampingan dengan Mama Sofie dengan wajah tegang. Indri menatap sang Mama seolah bertanya pada yang sedang terjadi.
"Duduk In," titah Mama Sofie.
"Kata Mama kamu sedang menjalin hubungan dengan seorang lelaki, benar begitu In?" tanya Papa Nando.
"Benar Pa, dan besok keluarga mereka akan datang kesini untuk melamar Indri secara resmi." jawab Indri dengan sangat antusias.
Indri pun mengangguk.
"Sejak kapan kamu memutuskan semuanya sendiri, In?"
Wajah yang sedari tadi berbinar kini meredup. Senyum yang terukir perlahan sirna.
"Berumah tangga itu bukan soal sepele, kata Mama mu kalian baru sebentar saling mengenal. Memilih lelaki sebagai suami itu harus teliti In, tidak bisa asal tunjuk lalu oke begitu saja!" seru sang Papa dengan suara yang sangat lantang. Sang Papa sangat tidak setuju dengan keputusan yang dibuat Indri.
"Papa saja belum pernah bertemu dengan dia. Dan kamu main setuju saja untuk diadakan lamaran. Lelucon macam apa ini Indri?"
"Setelah Papa bertemu dengan Mas Arya, apa Papa bakal setuju?"
__ADS_1
"Nggak, Papa nggak akan pernah setuju kalau kamu sama dia. Buka matamu In, keluarga dia jauh berbeda dengan keluarga kita. Setidaknya kamu cari yang setara. Dan yang lebih parahnya lagi kamu mengenal lelaki itu belum genap satu bulan, In! Papa tekankan sekali, Nak! Pernikahan itu bukanlah hal yang bisa dibuat mainan."
Wajah Indri nampak lesu dan bibirnya mengerucut. Dia tidak suka dengan ucapan Ayahnya.
Mama Sofie yang melihat ekspresi wajah putri kesayangannya segera mendekat dan memeluknya dari samping.
"Papa tenang saja, Arya itu anak dari sahabat baik Mama saat SMA. Jadi, Mama tahu betul bagaimana mereka. Arya itu lelaki yang baik kok, Pa!" ucap Mama Sofie yang saat ini masih saja ada di pihak sang anak meski tadi suaminya sudah menjabarkan alasan ketidak setujuannya sebelum Indri datang.
"Ma! Kamu mau anak kamu hidup bersama mereka? Dari kecil dia selalu hidup serba kecukupan, Ma! Apa Mama yakin kalau pria itu sanggup memenuhi semua kebutuhan Indri? Apa Mama yakin laki-laki itu bisa membahagiakan anak kita? Ma, meskipun Ibu dari pria itu adalah sahabat baik Mama, jangan membuat Mama percaya begitu saja lalu mengorbankan Indri seperti itu!"
"Tapi Indri cinta sama Mas Arya Pa!" teriak Indri.
"Nggak! Papa nggak akan pernah restuin hubungan kalian. Sekarang kamu telpon laki-laki itu dan katakan kalau acara lamaran besok dibatalkan.Kalau kamu nggak mau! Jangan salahkan Papa jika besok saat mereka datang Papa akan membuang semua seserahan yang mereka bawa!"
"Ma.... " Indri merengek pada Mamanya.
"Pa! Papa nggak bisa egois seperti itu dong. Kebahagian itu tidak melulu hanya soal materi. Toh, Indri juga bekerja. Andaikata gaji Arya hanya cukup untuk makan, Indri bisa membeli apa yang dia inginkan dengan gajinya sendiri Pa. Jangan hanya karena ambisi Papa yang menginginkan menantu kaya, lalu Papa menentang dan menolak hubungan anak kita dengan lelaki dari kalangan biasa. Yang egois itu Papa tahu nggak?" ucap Mama Sofie hingga nafasnya tersengal karena terlalu kerasnya suara yang dia keluarkan.
"Ini semua bukan sekedar ambisi, Ma! Tapi semua demi kebahagiaan Indri, anak kita Ma!"
"Jika Papa memikirkan kebahagiaan Indri, restui saja pilihan dia. Terima lelaki yang dia percaya akan membuat dia bahagia. Bukannya malah menentang seperti ini!"
"Iya Pa. Indri mencintai Mas Arya. Soal materi
bisa dicari bersama-sama. Bukankah roda itu berputar, Pa? Dan nasib seseorang kedepannya pun tidak ada yang tahu. Jika saat ini Mas Arya bukan berasal dari keluarga kaya dan bukan lelaki yang sesuai dengan kriteria yang Papa inginkan, siapa tahu di masa yang akan datang, Mas Arya adalah sosok menantu yang Papa harapkan!"
__ADS_1