
Rendra dan Vina menghentikan langkahnya ketika mendengar sumpah serapah yang mengalir begitu lancar dari mulut Mama Amel. Mereka membalik badan dan menatap Mama Amel.
"Rendra nggak nyangka kalau Mama bisa ngomong seperti itu sama anak Mama sendiri."
Mama Amel melipat tangan di dada sambil tersenyum pongah penuh kemenangan. "Kenapa? Takut kan kalau sampai jadi anak durhaka? Makanya jangan sok kalau sama orang tua! Sudah bagus Mama mau nampung kalian dirumah ini. Kalau kamu masih tetap nggak mau dengarkan apa kata Mama, silahkan kamu kembalikan air susu Mama yang sudah kamu minum selama kamu bayi!"
Vina melotot mendengar ucapan Mama Amel. Sumpah demi apa? Bagaimana bisa seorang Ibu berbicara seperti itu pada anaknya. Sedetik kemudian Vina menoleh menatap Rendra, suaminya. Seketika Vina merasa kasihan pada suami tampannya yang dia yakin saat ini pasti perasaannya hancur dan sedih mendengar ucapan Ibu kandungnya sendiri.
Vina tidak habis pikir, bagaimana seorang ibu bisa meminta kembali air susu yang telah dia berikan pada anaknya. Sungguh, Vina tidak paham bagaimana jalan pikiran mertuanya itu. Bukankah seorang anak tidak minta untuk dilahirkan? Tapi, orang tua lah yang menginginkan kehadiran seorang anak.
Jika kehadiran anak hanya untuk terus di ungkit segala yang sudah orang tua berikan, Lantas untuk apa mereka dilahirkan? Apakah hanya untuk memenuhi obsesi orang tuanya saja?
"Mama meminta aku ngembalikan air susu yang sudah mama berikan?"
"Iya, kenapa? Nggak bisa kan?" ucap Mama Amel sambil tersenyum sinis. Begitu juga dengan Arya, yang merasa di atas angin karena sang Mama yang selalu membelanya.
"Aku memang tidak bisa mengembalikan air susu yang sudah Mama berikan padaku. Tapi aku tidak pernah mengharapkan dilahirkan ke dunia ini Ma, ingat Ma! Kehadiranku di dunia ini adalah karena keinginanmu."
Suara Rendra bergetar dan penuh penekanan. Setengah mati dia menahan emosinya dari tadi. Jika saja dia tidak ingat yang dihadapi sekarang adalah Ibu kandungnya, mungkin sudah dari tadi dia bungkam mulutnya.
"Ayo Degk, kita pergi dari sini. Tidak masalah aku tidak dianggap anak lagi. Allah maha melihat dan mendengar, doa yang buruk tidak akan pernah diijabah." ucap Rendra sambil menggandeng tangan Vina lali keduanya berbalik dan pergi.
Mata Mama Amel melebar melihat kepergian Rendra. Sebenarnya dia ingin memohon pada Rendra agar jangan pergi. Tapi rasa gengsi membuatnya enggan melakukan hal itu. Namun lagi-lagi ucapan Mama Amel membuat Rendra dan Vina kembali berbalik.
"Kurang ajar kamu Rendra! Dasar anak durhaka! Mama kutuk kamu melarat tujuh turunan."
Suara Mama Amel yang menggelegar menorehkan luka batin tersendiri bagi Rendra. Vina, yang mendengar sumpah serapah mertuanya itu seketika meneteskan air mata. Tidak hanya Vina, Rendra yang sedang menunduk menyembunyikan tangisnya dari Vina.
"Maafkan aku Ma, kalau aku harus berbuat seperti ini sama Mama. Akupun berjanji tidak akan menginjakkan kakiku lagi di rumah Mama. Kalau air susu yang Mama minta untuk dikembalikan. Aku mohon maaf, aku tidak bisa Ma!" ucap Rendra sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.
__ADS_1
Ucapan Rendra membuat Mama Amel kaget. Padahal yang Mama Amel harapkan adalah putranya yang akan bersimpuh dan memohon maaf padanya. Namun yang terjadi, putranya benar-benar pergi. Bahkan putranya itu juga mengucapkan sumpah Yeng membuat dadanya sesak. Bagaimanapun Mama Amel tidak ingin kehilangan sang putra. Terlebih, dari gaji Rendra lah semua kebutuhan keluarga terpenuhi.
"Pergilah Rendra! Pergi dan jangan pernah kembali! Jangan pernah datangi Mama walau hanya sekedar minta maaf jika suatu saat hidupmu susah. Hidupmu akan benar-benar hancur! Kuharamkan air susu yang telah mengalir di tubuhmu itu!"
Lagi-lagi Mama Amel menyumpahi putra yang selama ini selalu berbakti padanya. Vina tidak menyangka jika pertengkaran malam ini akhirnya melebar kemana-mana. Vina menoleh, melihat suaminya yang memejamkan mata. Vina tahu, Rendra kini sedang terluka dan hatinya hancur berkeping-keping.
Vina mengulurkan tangan, diusapnya punggung Rendra untuk memberi kekuatan. Rendra membuka mata lalu menghela nafas panjang perlahan. Kepalanya mengangguk perlahan sebelum akhirnya kembali berjalan dan melangkah pergi dari rumah orang tuanya.
Langit yang cerah tiba-tiba menjadi mendung hingga rintik hujan menyapa menemani kepergian Rendra dan sang istri. Seolah bumi pun ikut menangis kala sosok seorang Ibu memberikan sumpah serapah pada anak kandungnya yang terdengar sangat mengerikan.
"Maafkan aku ya Mas! Gara-gara aku hubungan kamu sama Mama jadi tidak baik." lirih Vina sambil melihat suaminya yang kini terluka. Bahkan saat Vina menatap mata suaminya, ia bisa melihat jika mata sang suami berkaca-kaca. Namun sedetik kemudian Rendra membuang pandangannya untuk menghindari tatapan sang istri.
"Tidak perlu minta maaf degk, tidak perlu kamu sesali. Ini memang sudah keputusan Mas, dan Amas sudah tahu apa konsekuensi yang akan Mas terima sebelum akhirnya membawa kamu keluar dari rumah Mama."
Vina mangangguk, ada dua rasa dalam dadanya. Di satu sisi dia merasa sedih melihat hubungan sang suami dengan orang tuanya yang renggang. Di satu sisi dia bahagia karena merasa dicintai. Vina berjanji tidak akan pernah meninggalkan Rendra dalam keadaan apapun.
Sementara itu, di rumah Mama Amel....
Mama Amel sebenarnya cemas, aoanyang dia ucapkan sangat berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam hatinya. Namun, rasa gengsi yang terlalu besar dan sangat di agungkan membuatnya menyumpahi masa depan putranya. Meski ia tak serius tapi langit dan bumi sudah mencatat sumpahnya.
"Sudahlah Ma, biarkan saja dia pergi. Toh masih ada Arya kan?" ucap Arya enteng. Padahal dia hanya berniat menghibur Mamanya yang sudah ditinggalkan oleh anak pertama dan keduanya. Namun masih ada dirinya, anak. bungsu yang selamanya akan menemani.
"Masalahnya selama ini semua kebutuhan rumah Rendra yang nanggung, Ar! Memang kamu bisa nanggung semuanya? Apalagi kamu baru aja kerja dan belum tahu juga kan bakal dapat gaji berapa?"
Arya terdiam, sebab yang dikatakan Mamanya benar.
"Ya udah Mama cari aja alamat kontrakannya, datengin ke sana terus minta duit. Beras kan!" ucap Arya memberi solusi yang tidak masuk akal untuk Mama Amel.
"Masalahnya, Mama tadi udah nyumpahin mereka bahkan Mama tadi juga mengatakan kalau sampai mati tidak akan memaafkan mereka meski mereka bersujud. Masa iya Mama kesana minta uang. Malu lah!"
__ADS_1
"Emangnya bakal kenyang Ma? Kalau nurutin malu?" celetuk Arya kemudian melangkah menuju sofa di rumah tamu. Ia duduk di sana dengan kaki yang menopang meja.
Mama Amel mengikuti langkah Arya duduk di sana, dia duduk persis di sebelah Arya. Wanita itu diam dan memikirkan ucapan putranya. Pikiran dan batinnya berperang, antara membenarkan ucapan sang anak atau terus mengagungkan gengsinya.
"Sudahlah Ma nggak usah dipikirin. Arya masih ada uang kalau hanya untuk sekedar makan saja."
"Terus yang masak, beres-beres rumah, cuci baju siapa? Yang ngerjain kerjaan rumah lainnya?" tanya Mama Amel.
"Ya Mama lah, masak aku? Mama di rumah kan nggak ngapa-ngapain? Kalau capek nyuci ya bawa aja ke Loudry, males masak ya tinggal beli aja. Gitu aja kok repot Ma?" celetuk Arya lagi. Dan lagi-lagi Mama Amel membenarkan apa yang dikatakan Arya.
Wanita itu menghembuskan nafasnya kemudian menuju ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa diolah, perutnya sudah terus berbunyi meminta haknya untuk di isi. Namun mama Amel tidak menemukan apapun di dapur. Untuk kesekian kalinya Mama Amel menghembuskan nafas beratnya dan pertama kalinya dia kembali berkutat dengan perala6dapur setelah kedatangan Vina.
"Masak apa Ma?" tanya Arya.
"Cuma dadar telor, yang ada tinggal itu aja. Itupun cuma sisa beberapa biji." ucap Mama Amel sambil meletakkan telor dadar di piring.
Mendengar itu, Arya segara mengambil dua lembar pecahan seratus ribuan dari dalam dompetnya lalu menyerahkan ke Mama Amel.
"Buat belanja besok ya Ma!" ucapnya.
"Ini buat satu hari?" tanya Mama Amel.
"Ya nggak lah Ma, mama atur biar itu bisa jadi beberapa hari!"
Mama Amel mengambil uang yang diberikan Arya.
"Iya, besok kamu mau di masakin apa? Biar Mama nggak bingung mau belanja apa!"
"Terserah Mama aja, yang penting jangan telur dadar kayak gini. Susah Ma nelen makanan kayak gini!"
__ADS_1
Mama Amel hanya mengangguk lalu kemudian ikut duduk di kursi meja makan setelah mengambil nasi yang ada di kamar Vina.