
"Maaf Mbak. Pasien atas nama Fernando Aditama ada di ruang rawat mana ya?"
"Mohon ditunggu sebentar ya, Mbak. Kami cek dulu."
Indri mengangguk dan menunggu petugas itu memberikan informasi yang dia butuhkan.
"Pak Fernando Aditama dirawat di kamar Anyelir, nomor dua. Ada di lantai empat ya Mbak." jawab petugas itu.
"Baik, terimakasih Mbak!"
Petugas itu menganggukkan kepala sambil tersenyum ramah.
Indri segera bergegas menuju kamar rawat sang Papa sesuai info dari petugas jaga tadi. Sesampainya di depan kamar rawat Papa Nando, Indri menghentikan langkahnya. Ia menarik nafas berkali-kali lalu menghembuskan perlahan.
Indri menguatkan tekad. Apapun yang terjadi nanti harus dia hadapi. Semua sudah menjadi resiko yang harus dia tanggung karena sudah berani dan durhaka pada kedua orang tua yang selama ini sudah menjaga dan membesarkan nya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Tok
Tok
Tok
Indri mengetuk pintu kamar rawat Papa Nando. Dia pegang handle pintu lalu memutarnya ke bawah hingga pintu itu terbuka.
Matanya berkaca-kaca saat melihat pemandangan menyedihkan di depan matanya. Tampak Papanya yang terbaring dengan infus ditangan, juga wajah yang pucat. Jelas terlihat tubuhnya yang lebih kurus dari saat terakhir mereka bertemu. Padahal baru beberapa hari kemarin.
Indri tak dapat lagi menahan air matanya. Mengalir begitu saja menganak sungai di pipinya. Ia berjalan mendekat ke ranjang Papanya, sambil mengusap lelehan air matanya dengan kasar.
"Papa!"
Panggil Indri lirih membuat Mama Sofie yang tidur sambil menelungkupkan kepalanya di sebelah Papa Nando terbangun. Mata Mama Sofie membulat melihat kedatangan Indri. Ia mengucek matanya berkali-kali karena menganggap itu hanya ilusi karena terlalu mengharapkan kedatangan Indri. Nyatanya sosok yang ada dihadapannya nyata, memang benar itu adalah Indri.
Air mata Mama Sofie tak dapat dibendung lagi. Ia berjalan mendekat lalu memeluk erat putrinya. Begitupun dengan Indri. Mereka saling berpelukan, merasakan rindu yang teramat sangat dalam. Padahal baru beberapa hari saja mereka tidak bertemu.
"Maafkan Indri Ma! Indri sudah berani melawan Papa dan Mama. Indri sudah tidak nurut sama Papa dan Mama. Sekali lagi, maafkan Indri Ma!" ucap Indri lalu bersimpuh di kaki Mamanya. Ia menangis tersedu-sedu mengingat semua yang telah dia lakukan kepada kedua orang tuanya.
"Maafkan Indri, Ma. Indri menyesal. Kalian boleh menghukum Indri apapun tapi tolong maafkan Indri." kaki Mama Sofie terasa basah karena air mata Indri yang mengalir. Mama Sofie memegang bahu putrinya itu lalu mengajaknya berdiri sejajar dengannya.
"Mama sudah memaafkan kamu, Sayang. Mama dan Papa tidak pernah benar-benar marah sama kamu nak. Kami hanya kecewa dengan sikap kamu kemarin. Mama lega akhirnya kamu sadar dan datang kesini. Mama pikir kamu tidak akan pernah datang meski Mama sudah mengirim pesan seperti tadi. Maafkan Mama juga ya, kalau Mama sudah berkata kasar."
Indri menggeleng, "Justru karena pesan Mama Indri jadi bisa berpikir dan sadar jika hanya Papa dan kaMama yang mencintai dan menyayangi Indri dengan tulus tanpa syarat."
__ADS_1
"Jadi?"
"Iya Ma. Indri sudah menyadari semua kesalahan Indri. Karena itu Indri datang, Indri nggak mau jika nantinya Indri akan menyesal. Maafkan Indri Ma, Indri salah, Indri khilaf."
"Alhamdulillah kalau kamu sudah sadar, Nak. Mama sangat bahagia kamu sudah kembali seperti dulu, putri kesayangan dan kebanggaan Mama." ucap Mama Sofie sambil memeluk Indri.
"Ma, gimana keadaan Papa? Kenapa Papa belum bangun?"
"Papa baru saja minum obat, Nak! Mungkin itu efek dari obatnya. Papa terus saja mwnggigau memanggil nama kamu. Papa juga nggak mau makan mesti Mama suapin, jadi harus pakai selang untuk memasukkan makanannya."
Tampak gurat kesedihan di wajah indri saat mendengar cerita Mamanya. Ia merasa sangat menyesal karena sudah durhaka pada kedua orang tua yang sangat menyayanginya.
Indri menggenggam tangan Papanya dan menciumi nya berkali-kali hingga akhirnya Papanya tersadar dan perlahan membuka matanya. Papa Nando menoleh karena menyadari ada yang memegang tangannya. Matanya berkaca-kaca saat melihat siapa yang saat ini menggenggam tangannya.
"Indri... "
Indri seketika mendongak saat mendengar suara Papanya.
"Papa, maafin Indri ya Pa. Indri sudah salah, Indri sudah durhaka sama Papa. Indri janji akan meninggalkan Mas Arya dan akan selalu nurut sama Papa." ucap Indri sambil menangis sesenggukan.
"Benar apa yang kamu katakan Nak?" tanya Papa Nando.
sadar jika Mas Arya dan Mamanya benar-benar ular berbisa. Dan aku tidak akan pernah memafkan mereka yang sudah menghancurkan hidupku Ma!"
"In, itu.... " tangan Papa Nando terulur menyentuh luka lebam pada wajah Indri.
Mama Sofie mendekat dan melihat wajah Indri Dia terkejut melihat wajah putrinya karena tadi saat Indri datang dia tidak terlalu memperhatikan.
"Indri, muka kamu kenapa Nak? Mereka mukulin kamu, iya?"
Indri tersenyum lalu menjawab, "Iya Ma, Pa. Tapi tengah saja, Indri sudah membalas mereka semua. Bahkan lebih dari apa yang sudah mereka lakukan pada Indri"
Mama Sofie menutup mulutnya. Sungguh ia tidak menyangka jika Indri bisa se bar-bar itu.
"Ya ampun sayang, ini pasti sakit kan, Nak?"
"Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang ada di dalam sini Ma," ucap Indri sambil menunjuk dadanya. "Dan mereka harus merasakan apa yang aku rasakan sebelumnya."
"Ya sudah, yang penting sekarang kamu sudah ada disini, Nak. Yang penting saat ini, kita fokus untuk kesembuhan Papa dulu saja."
Indri mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Mama Sofie.
__ADS_1
"Papa sudah makan?"
"Sudah, sayang!"
"Papamu itu nggak mau makan, In! Mama sampai bingung lho gimana cara bujukin nya." ucap Mama Sofie.
Indri kembali menghela nafasnya saat menyapa Papa Nando karena merasa sangat bersalah pada orang tuanya.
"Kalau begitu sekarang Papa makan dulu ya. Indri suapin, mau?"
Papa Nando mengangguk. Mama sofie lega akhirnya Papa Nando mau makan. Siap demi suap masuk ke dalam perut Papa Nando. Sambil menyuapi Papanya, Indri kembali mengenang kisah-kisah indah mereka hingga tak terasa bubur satu mangkok itu habis tak bersisa.
"Alhamdulillah, akhirnya habis juga. Cepet sembuh ya, Pa. Buat bisa pulang ke rumah."
"Kamu ikut pulang ke rumah kan, Nak?" tanya Papa Nando.
Indri mengangguk sambil mengelus tangan Papa Nando. "Iya Pa, Ma. Tapi, Indri masih boleh kan pulang ke rumah Papa dan Mama?"
"Tentu saja sayang, itu rumah kamu. Nggak mungkin Papa dan Mama akan membiarkan kamu kembali pulang ke rumah terkutuk itu!" jawab Papa Nando.
"Setelah apa yang Indri lakukan pada kalian?"
Mama sofie menghela nafas lalu menatap suaminya. Papa Nando hanya mengangguk.
"Indri, Sayang dengerin Mama ya Nak! Tidak ada satupun orang tua yang rela melihat anaknya menderita, apapun dan sebesar apapun kesalahan yang diperbuat anaknya, orang tua akan selalu memaafkan. Bahkan sebelum anak itu minta maaf. Mungkin ada beberapa orang tua yang tidak bisa berbuat seperti itu. Tapi percayalah, kami bukan orang yang seperti itu. Kami sangat menyayangimu melebihi jiwa dan raga kami."
"Kami merasa khilaf yang kamu lakukan kemarin karena kamu masih labil sayang. Salah kami juga yang dulu terlalu keras dan sangat membatasi pergaulan kamu hingga akhirnya kamu kurang pengalaman dan tidak bisa membedakan mana yang benar-benar tulus dan mana yang cuma modus. Mama rasa kali ini bukan cuma kamu yang tertipu, Mama juga sempat percaya karena sandiwara mereka begitu sempurna. Untung saja ada Papa yang kemarin menyadarkan Mama. Jadinya Mama tidak sampai membantumu saat kesulitan kemarin. Maafkan kami yang terkesan terlalu kejam karena kemarin kami menyita semua milik kamu."
"Ma, Ma dan Papa jangan minta maaf. Indri sekarang tahu apa yang kalian lakukan kemarin hanya untuk melindungi apa yang Indri perjuangkan sejak gadis dulu."
"Gadis? Emang anak Mama sekarang sudah tidak gadis lagi ?" goda Mamanya.
"Hah, semenjak malam pertama itu Mas Arya tidak pernah menyentuh Indri, Ma!"
"Justru itu lebih bagus. Kamu tidak harus mengandung benih kadal buntung itu!" jawab Papa Nando.
"Yah, Indri juga mikirnya seperti itu, Pa!"
Mereka terus mengobrol sampai akhirnya dokter datang untuk mengecek kondisi Papa Nando.
...-\=₪۩۞۩₪\= нαρρу яєα∂ιηg \=₪۩۞۩₪\=-...
__ADS_1