
Papa Nando semakin terdiam, melihat hal itu Indri semakin gencar membela dirinya karena tidak mau jika pernikahannya dengan Arya sampai batal. Dia terlanjur mencintai pria itu, Bisa gila jika dia harus batal menikah dengan Arya.
Akhirnya Indri bersimpuh di kaki Papanya sambil menatap penuh harap. Tangannya terulur memegang kaki Papa Nando. "Pa, restui hubungan Indri sam Mas Arya, please! Bukankah selama ini aku selalu menuruti semua keinginan Papa? Termasuk untuk bekerja di kantor Mas Marvell sedangkan Papa sendiri tahu kalau aku ingin menjadi seorang WO. Akupun tidak pernah dekat dengan lelaki manapun sesuai keinginan Papa yang ingin melihatku lulus dengan nilai terbaik. Baru sekarang ini kan aku minta sesuatu sama Papa. Untuk kali ini saja Pa, ijinkan Indri menentukan pilihan Indri sendiri. Indri sangat mencintai Mas Arya Pa, please restui Indri menikah dengan Mas Arya."
Didikan Papa Nando yang keras membuat Indri menjadi gadis yang kurang pergaulan, terutama dengan lawan jenisnya. Disaat teman-teman seusianya sudah mengenal cinta dan berganti- ganti pasangan, atau sekedar berkumpul dan menghabiskan waktu malam minggu dengan kumpul bersama teman-teman nya, Indri bahkan tidak pernah melakukan hal itu.
Papa Nando masih diam dan menatap lekat Indri. Bukan maksud Papa Nando untuk mengekang Indri seperti apa yang dipikirkan oleh putri semata wayangnya itu. Hanya saja, sebagai orang tua Papa Nando merasakan punya tanggung jawab menjaga Indri hingga nanti Indri menikah dan tanggung jawab itu berpindah pada suaminya. Papa Nando hanya takut jika Indri terbawa pergaulan anak muda jaman sekarang yang cenderung bebas.
"Pa, jawab dong jangan diam saja. Turuti saja permintaan Indri kali ini. Dia tidak pernah kan minta sesuatu sama Papa dan dia juga selalu menuruti semua keinginan Papa." ucap Mama Sofie yeng merasa kasihan dengan Indri.
Papa Nando menghela nafasnya, "Baiklah, Papa restui pilihan kamu. Kapan rencananya dia akan datang?"
"Besok Pa, besok dia dan Mamanya akan datang untuk melamar Indri secara resmi." jawab Indri.
Indri merasa sangat lega. Akhirnya jalan menuju pelaminan bersama pria yang dia cintai sudah ada di depan mata. Aura kebahagian benar-benar memancar dari seorang Indri.
"Kenapa cepat sekali?"
"Iya, maaf ya Pa. Sebenarnya rencana ini sudah dari lama. Dan beberapa hari kemarin kami mulai menyiapkan. Bukankah niat baik itu harus di segara kan? Agar kami tidak terlalu lama menjalin hubungan yang tidak halal."
"Baiklah, persiapkan saja untuk besok. Tapi bukan berarti Papa sepenuhnya menyetujui. Urus saja segala sesuatunya dengan Mama karena Papa sibuk."
"Iya Pa. Biar Mama yang bantu Indri untuk persiapan besok." ucap Mama Sofie.
"Ya sudah, Papa mau ke kamar dulu."
Setelah Papa Nando masuk ke kamarnya Mam Sofie dan Indri saling pandang lalu senyum terbit di sudut dia wanita beda usia tersebut.
"Indri, selamat ya sayang. Akhirnya kamu nikah juga Nak!" ucap Mama Sofie sambil memeluk putri kesayangannya.
"Terimakasi, Ma. Ini juga berkat usaha Mama yang membuat Papa luluh. Tadinya Indri sudah pesimis Papa bakal kasih restunya."
"Emang kalau Papa nggak kaish restu, kamu bakal pisah gitu sama Arya?" tanya Mama Sofie.
"Ya nggak lah Ma!" jawab Indri sambil menggelengkan kepalanya.
"Terus?"
"Kawin lari lah!"
"Hahahaha! Ada-ada saja kamu In!"
kedua wanita itu tergelak bersama. Mereka tidak terlihat seperti Ibu dan Anak. Melainkan seperti sahabat.
__ADS_1
"ya sudah sekarang kamu masuk kamar dan istirahat. Kamu siap-siap buat besok. Dan besok ijin saja tidak usah masuk kerja."
Iya Ma, besok kita undang saudara-saudara juga nggak?" tanya Indri.
"Kayaknya nggak usah dulu ya.! Nanti aja pas acara pernikahan. Lagian mendadak juga, mereka pasti sibuk."
"Ya udah deh. Yang penting kan Mama dengan Papa. Kalau saudara kan hanya selintas saja." Jawab Indri.
...*****...
"Ma, Pa? Belum tidur?" Tanya Nissa saat baru saja sampai di rumah. Ia mencium punggung tangan Mama dan juga Papanya.
"Belum Nak, kamu baru pulang?" tanya Papa Bram.
"Iya. Pa, Ma, tadi marvell ada nitip salam buat Mama sama Papa. Dia juga minta maaf nggak bisa mampir. Tadi tiba-tiba ada urusan mendadak katanya, dan juga ini sudah sore."
"Nggak Papa Nak. Anak Mama dipulangin utuh aja Mama udah seneng kok!"
"Papa lihat kamu sekarang sering keluar sama Marvell. Apa kalian punya hubungan khusus?" tanya Papa Bram.
"Belum Pa!" jawab Nissa sambil tersenyum.
"Kenapa?" Papa Bram mengernyitkan dahinya.
"Iya belum, karena untuk saat ini Nissa masih ingin sendiri setelah gagalnya hubungan Nissa dengan Arya."
"Tidak semua pria itu brengsek seperti Arya, dan tidak semua keluarga pihak laki-laki itu seperti mantan calon mertuamu yang gila harta itu. Jangan pernah berpikir untuk hidup sendiri selamanya. Kamu masih muda, kamu bisa bebas memilih, Nak! Buat Papa kebahagianmu adalah segala-galanya asalkan, pria itu jelas bibit, bobot, dan bebetnya. Dan Papa lihat, Marvell sepertinya pria yang baik dan bertanggung jawab. Dia juga berasal dari keluarga baik-baik. Papa tahu siapa dia dan keluarganya. Dan sepertinya, Marvell itu suka sama kamu!"
"Ah, Papa. Kan Nissa sudah bilang pengen sendiri dulu. Lagian Nissa belum berpikir ke arah sana."
"Dipikirin dari sekarang juga nggak masalah sayang, kan nikahnya masih bisa nanti-nanti. Asal kalian sudah merasa saling cocok kan tinggal menghalalkan saja nanti!"
"Papa ini ngomong apa sih? Aku sama Marvell itu sekarang lagi ada kerjasama. Dan kita tuh cuma berteman. Jadi ya wajarlah kalau sekarang aku dekat sama dia."
"Ya... wajar.... Papa... percaya kok!" Papa Bram kembali menggoda Nissa. Nissa yang sebal memukul pelan dada sang Papa.
"Ish! Papa nih suka bener kalau godain anaknya! Lihat itu pipi Nissa udah merah kayak tomat!" goda Mama Imelda.
"Tomat apa Ma? Tomat busuk ya?" tanya Papa Bram lalu tertawa terbahak.
"Ih, gak mau lah aku kawan sama Papa lagi." ucap Nissa merajuk sambil melihat kedua tangan di dada dengan bibir cemberut.
...*****...
__ADS_1
Ddrrttt...... ddrrttttt.
Arya yang baru saja memejamkan matanya untuk beristirahat karena badannya yang terasa sangat lelah hari ini mengurungkan niatnya karena mendengar getaran dari ponselnya yang ia letakkan diatas nakas samping tempat tidur.
"Indri!" gumam Arya saat melihat siapa yang mengirimkan pesan. Dengan cepat Arya menggeser layar ponsel nya dan membalas pesan dari Indri.
[Mas, kamu lagi apa? Aku ganggu nggak?]
Tangan Arya dengan cepat menari dibatas layar ponsel membalas pesan dari Indri.
[Baru mau tidur, In. Enggak, kamu nggak ganggu kok! Ada apa? Apa kamu dimarahi Papa kamu?]
Arya gelisah menunggu jawaban dari Indri. Bukan karena cemas tidak bisa bersatu dengan Indri karena bukan itu tujuannya mendekati Indri selama ini. Arya hanya cemas jika rencana yang sudah dia susun tidak membuahkan hasil.
[Bukan, aku mau kasih kabar baik buat kamu Mas, Papa merestui hubungan kita. Jadi besok Mas Arya sama Mama Amel datang ke rumah buat melamar aku secara resmi ya!]
Hampir saja Arya terlonjak dari duduknya saat membaca pesan dari Indri.
[Kamu serius?]
Indri tidak membalas pesan Arya. Tapi, dia langsung menghubungi Arya lewat sambungan video call.
Kini wajah keduanya terlihat di layar ponsel masing-masing setelah panggilan terhubung.
"Hai cantik, lagi ngapain sayang?"
Sapaan Arya membuat semburat merah di pipi Indri terlihat jelas.
"Baru selesai ngobrol sama Papa dan Mama, Mas!"
"Jadi gimana? Kamu serius kan? Kamu nggak dimarahi sama Papa kamu tadi?"
"Awalnya sih memang dimaahin Mas," jawab Indri.
"Teruss?" tanya Arya tak sabar.
"Ya untungnya aku bisa merayu Papa dan beliau akhirnya merestui hubungan kita Mas. Makanya tadi kan aku bilang di chat. Kalau besok Mas Arya sama Mama datang aja ke rumah buat melamar aku secara reami."
"Kamu serius?" tanya Arya sekali lagi. Dan Indri menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Sayang. Mas bahagia banget mendengar kabar ini. Mas janji akan selalu membahagiakan kamu dan memberikan cinta juga kasih sayang yang tulus buat kamu."
"Terimakasih ya, Mas. Karena hadirmu hidupku sekarang jadi lebih berwarna. Awalnya aku mengira akan selamanya hidupku diatur oleh Papa. Tapi ternyata sekarang Papa memberikan aku kesempatan untuk memilih pilihanku sendiri. Hah, aku sudah tidak sabar segera jadi istri kamu, Mas. Aku pasti akan sangat bahagia nanti saat kita bersanding di pelaminan."
__ADS_1
"Ya, aku juga sudah tidak sabar untuk segera menikah denganmu. karena setelah itu, keuangan mu aku yang akan mengendalikan dan aku akan dengan bebas menggunakannya. Karena setelah menikah nanti aku punya alasan jika surga kamu ada di bawah kakiku." batin Arya.
"Oh, iya In. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." wajah Arya berubah jadi serius.