Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Syarat Dari Papa Nando


__ADS_3

Ada apa Mbak Ina?" tanya Indri pada ART itu.


"Maaf, Pak. Maaf Bu, Mbak Indri. Di depan ada tamu yang mencari."


Ketiga orang itu saling pandang.


"Siapa Mbak?" tanya Indri lagi.


"Em, katanya Pak Santo, kakaknya Mas Arya. Sudah saya suruh usir, tapi katanya ada hal penting yang ingin disampaikan."


"Maksudnya, Mas Rendra atau kakaknya yang lainnya?" tanya Indri. Meskipun dia belum pernah bertemu secara langsung tapi dia sudah pernah mendengar ceritanya dari Mama Amel dan juga Arya. Yang katanya durhaka dan pergi karena lebih memilih istrinya yang pembangkang.


"Mungkin, Non. Soalnya tadi Pak Santo tidak menyebutkan namanya."


Papa Nando, Mama Sofie, dan juga Indri saling pandang hingga akhirnya Papa Nando menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, suruh saja dia masuk. Kami akan segera keluar!" jawab Mama Sofie.


"Baik, Bu. Permisi!" ucap Mbak Ina lalu keluar dari kamar Papa Nando dan menyampaikan pada Pak Santo jika Rendi dan Vina boleh masuk.


Tak berselang lama, security itu kembali dan mengatakan jika Rendra dan Vina boleh masuk ke dalam. Dan tak lama kemudian, Rendra dan juga Vina yang telah duduk ditemui oleh sang pemilik rumah.


"Sebelumnya saya mohon maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu istirahat Om dan Tante. Saya, ingin membicarakan soal Arya dan juga Mama Saya." ucap Rendra.


"Apa yang kamu ingin bicarakan? Saya rasa itu sudah tidak penting lagi. Meskipun kalian bersujud sekalipun, kami tidak akan pernah melepaskan Mama dan adik kamu. Apa yang mereka lakukan sudah keterlaluan. Jangan karena kamu keluarga mereka lalu kamu membela mereka."


"Saya tahu, adik dan Mama saya salah. Tapi apa tidak bisa kita selesaikan secara kekeluargaan dan Om sekeluarga bersedia mencabut laporannya?"


"Nggak, keputusan kami sudah bulat. Awalnya, kami sudah berusaha bersikap baik, tetapi Mama dan Adik kamu itu terus saja mencari gara-gara."


Rendra terdiam. Ia hafal sekali bagaimana perangai sang Mama yang suka sekali berbuat nekat tanpa memikirkan apa resiko yang harus ditanggung.


"Ada syarat jika Mama kamu ingin lepas dari sana." ucap Papa Nando tiba-tiba.

__ADS_1


"Pa!" ucap Mama Sofie dan Indri bersama.


"Sudah, kalian tenang saja. Papa sudah memikirkan ini semua."


"Maaf, Om. Kira-kira apa syaratnya? Nanti biar saya bicarakan dengan Mama saya." tanya Rendra sedikit merasa lega karena ada solusi dari permasalahan yang saat ini dihadapi keluarganya.


"Arya harus membuat surat pernyataan, jika dia bersedia menceraikan Indri secara Negara. Dengan alasan, Arya yang tidak bisa menafkahi baik lahir maupun batin pada Indri. Dan juga pernah melakukan kekerasan fisik dan juga verbal pada Indri." ucap Papa Nando.


"Selain itu, Arya dan juga Mama kamu harus membuat video permintaan maaf, dan harus membuat surat perjanjian resmi hitam di atas putih, jika mereka tidak akan pernah lagu mengusik kehidupan Indri dan keluarga kami lagi. Jika itu terjadi lagi, Saya tidak akan segan-segan menjebloskan mereka kembali ke dalam penjara dan Saya pastikan mereka tidak akan pernah keluar lagi."


"Kalau Arya setuju, kami akan segera mencabut laporannya. Tapi jika menolak, ya sudah. Nikmati saja hukuman yang akan mereka terima."


"Baik, Om. Saya akan membicarakan ini dengan Arya dan juga Mama saya." ucap Rendra.


Papa Nando hanya mengangguk hingga akhirnya Rendra dan Vina pamit pergi.


"Pa, apa Papa yakin?" tanya Mama Sofie.


"Yakin, Ma. Dengan begini gugatan Indri akan berjalan lancar dan lebih cepat."


"Bukan hanya itu saja syarat yang Papa ajukan pada Rendra. Papa tadi juga minta Arya dan Mama nya membuat video permintaan maaf atas semua kekacauan yang telah mereka buat. Dan jangan lupa surat perjanjian jika mereka tidak akan mengusik lagi kehidupan Indri dan juga keluarga kita. Jika mereka mengulangi lagi kesalahan nya, maka tidak akan ada ampun lagi. Melihat karakter mereka, Papa tidak yakin jika mereka akan diam saja setelah bebas. Papa hanya tidak mau kita capek harus bolak balik ke kantor polisi hanya untuk mengurusi satu permasalahan dengan orang yang sama."


"Ya, sudah. Mama ikut saja apa kata Papa. Mama yakin, semua yang Papa lakukan itu buang terbaik untuk keluarga kita."


...*****...


"Mas, apa kita kembali ke kantor polisi malam ini juga?" tanya Vina sambil menyedot minuman kemasan yang tadi doa beli di Minimarket. Kini, ia dan suaminya sedang beristirahat di teras sebuah minimarket dekat rumah Indri.


Rendra menghela nafasnya. Ia yang sebenarnya capek karena setelah pulang kerja sore tadi, dia belum sempat beristirahat sama sekali. Niatnya yang hanya sekedar ingin menjenguk sang Mama malah berakhir dengan mengurus permasalahan yang rumit seperti ini.


"Mas sebenarnya juga capek banget. Tapi kalau nggak cepet, Mama bisa ngamuk-ngamuk nggak jelas. Kamu tahu sendiri kan gimana Mama?"


"Mas, coba sekali-sekali kamu jangan turuti Mama kamu itu. Toh sejatinya mereka yang butuh pertolongan kita. Malah kita yang nggak tahu apa-apa jadi kena imbasnya seperti ini."

__ADS_1


Rendra mengusap puncak kepala Vina sekilas. sambil tersenyum. "Maafin keluarga Mas, ya! Mereka sering sekali membuat kamu capek."


"Ya... kalau bukan karena kamu suami aku, aku sih ogah Mas! Jadi ya, mau nggak mau karena mereka kan keluarga kamu. Saranku, lebih baik kita pulang saja dulu. Besok saja kita lanjutkan ngurus masalah ini, besok kan hari Minggu, Mas kan libur. Biarkan untuk malam ini mereka menginap di penjara. Siapa tahu setelah ini mereka tobat dan jadi orang baim."


"Kamu benar juga. Ya sudah, kita langsung pulang saja. Besok kita langsung ke kantor polisi baru kembali ke rumah Indri lagi untuk menyampaikan keputusan apa yang mereka ambil." ucap Rendra.


...*****...


DRrrrttt....


Dddrrrrrrtttt...


Ponsel Nissa bergetar. Membuat pemilik ponsel yang sedang asyik melihat tayangan di televisi menoleh lalu mengambil ponsel tersebut dan membuka pesan yang masuk.


Senyuman terbit di bibir merah Nissa saat melihat nama Marvell di sana. Namun senyuman itu seketika berganti dengan kerutan di dahi saat membaca pesan yang dikirim oleh Marvell.


[Nissa, apa kamu sudah tahu jika Arya dan Mamanya masuk tahanan di kantor polisi?]


Dengan cepat, Nissa membalas pesan yang dikirim oleh Marvell.


[Oh, ya? Kenapa? Aku baru tahu dari kamu ini, Vell.]


[Kasus KDRT pada Indri. Dan sekarang Indri sudah sadar. Dia melaporkan Arya dan Mamanya ke polisi.]


Nissa menghela nafasnya, dia sudah mengira jika rumah tangga Indri dan Arya tidak akan bertahan lama dan pasti akan berantakan. Tapi untuk kasus KDRT, itu sungguh diluar perkiraannya.


"Huft, untung saja aku tidak jadi menikah dengan kadal buntung itu. Kalau tidak, pasti rumah tangga ku saat ini yang berantakan." gumam Nissa.


[Aku turut prihatin atas apa yang terjadi pada Indri. Tapi untuk KDRT, ini benar-benar tidak pernah aku kaget dan tidak menyangka. Pasalnya, selama bersamaku dia baik, dan sebelum menikah dengan sepupu mu dia juga baik sekali kan sama Indri.]


[Wajah asli mereka ketahuan saat Om Nando menarik semua fasilitas dan juga aset milik Indri. Tapi, syukurlah. Dengan begitu indri jadi lekas paham dan sadar dari kebodohannya selama ini.]


Nissa tidak lagi membahas pesan Marvell. karena dia sadar itu bukan kapasitasnya untuk memberi komentar. Cukup baginya tahu, seperti apa wajah asli mantan calon suami dan mantan calon mertuanya itu. Beruntung dia tidak jadi menikah dengan lelaki itu. Dan hal itu sangat dia syukuri.

__ADS_1


...☆彡彡 нαρρу яєα∂ιηg ミミ☆...


__ADS_2