Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Kamu bukan anakku lagi!


__ADS_3

Indri tersenyum dengan dua rona merah di pipinya. Wanita mana yang tidak tersipu jika dihujani pujian, apalagi yang memuji adalah sosok lelaki yang kita sukai.


"Terimakasih ya In, kamu sudah lebih percaya sama aku daripada Nissa." ucap Arya.


"Iya, Mas! Aku tahu, dia pasti sakit hati karena pertunangannya batal, jadi dia berusaha untuk menjelekkan kamu agar tidak ada wanita yang mau sama kamu, Mas!"


Perbincangan terus terjadi, dan selama itu Arya selalu memuji dan meyakinkan Indri bahwa dia adalah lelaki idaman yang baik sepanjang masa.


"Ternyata asik juga ya ngobrol sama kamu, sampai nggak kerasa waktu istirahat udah habis. Balik yuk!" ajak Arya.


Indri mengangguk Arya. Kemudian Arya melangkah menuju kasir untuk membayar tagihan makanan mereka. Karena tidak mungkin di awal perkenalan Indri yang mengeluarkan uang untuk makanan mereka.


Dengan beriringan mereka melangkah kembali ke kantor. Sepanjang jalan mereka tak hentinya tersenyum, bercanda dan saling puji. Hal itu membuat Indri semakin jatuh hati pada sosok Arya. Langkah keduanya terpisah karena Arya akan ke toilet lebih dulu, sedangkan Indri langsung ke ruangannya


"Sialan kamu Nissa," umpat Arya begitu dia sudah sampai di toilet. Lelaki itu sedang berdiri di depan cermin dan menatap geram seolah Nissa ada di hadapannya. Dia segera mengambil ponsel di saku celananya, kemudian mencari nomer kontak Nissa.


Dilain tempat, konsentrasi Nissa terpecah karena dering ponselnya. Nissa hanya melirik saja dia sudah bisa membaca nama pemanggil di ponsel yang dia letakkan di sebelah kanan laptop yang masih menyala.


"Arya? Ngapain dia telepon? Apa Indri sudah mengadu ke lelaki mokondo itu?" gumam Nissa.


Wanita itu mengalihkan jemari dari keyboard dan meraih ponsel yang terus menyala lalu bersandar di kursinya. Panggilan dari Arya terhubung hanya dengan sekali usap. Nissa menempelkan benda pipih itu di telinga kanannya.


"Bicara apa saja kamu sama calon istriku, Hah?"


"Aku? Memangnya aku bicara apa?" nada suara Nissa begitu tenang, membuat Arya semakin terbakar emosi.


"Jangan berlagak bodoh kamu Nis, kamu bicara yang tidak-tidak kan sama Indri?" ucap Arya dengan penuh emosi.


"Yang tidak-tidak bagaimana maksudmu? Aku mengatakan yang sebenarnya loh, bukannya kamu yang sudah memfitnahku karena batalnya pertunangan kita. Mana ada seorang Nissa ditinggalkan lelaki sepertimu! Hahahhaha, ada-ada aja kamu itu!" Nissa mentertawakan sikap Arya.


"Kau!!"


"Kenapa? Nggak terima karena kebusukan kamu aku bongkar? Santai saja, nggak usah marah kalau yang aku katakan nggak benar, seperti aku yang diam saja meski sudah kamu fitnah. Buang-buang energi saja kalau harus meladeni hal kecil kayak itu!" celetuk Nissa.


Arya semakin murka, susah payah dia berusaha meredam gejolak dalam dadanya. Ditariknya beberapa kali nafas panjang dan dalam untuk mengurai emosinya.


"Bilang saja kamu tidak terima aku dekat dengan wanita lain. Kamu belum bisa move on dari aku kan?" ucap Arya dengan percaya diri tingkat dewa.


Seketika tawa Nissa meledak, saking kerasnya hingga Arya menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Astaga....Arya.... Arya! Sekarang coba katakan, apa kelebihan kamu yang membuat aku sudah move on dari kamu? Nggak ada Arya! Cuma kekurangan uang kamu punya! Sampai sini paham?"


"Sialan kamu Nissa!" geram Arya.


Nissa terbahak-bahak seolah mendengar lawakan dari Arya.


"Satu kelebihan kamu Ar, biar aku sebutkan...."


Nissa sengaja menjeda ucapan nya, sedangkan Arya diam mendengarkan, membiarkan Nissa melanjutkan kalimatnya.


"Satu-satunya kelebihan kamu itu mulut lemes kamu yang kayak perempuan. Kamu dan Mamamu sama saja, sama-sama suka nyinyir dan bisanya hanya menuntut saja!" ucap Nissa


Mendengar ucapan Nissa membuat harga diri Arya seperti tercabik-cabik.


"Nissa..."


"Apa tidak terima?" potong Nissa."Itu, buktinya bibirmu begitu lincah menebar fitnah tentang aku. Kurasa, akulah satu-satunya wanita yang bahagia karena gagal bertunangan! Sudah dulu ya, aku sangat sibuk hari ini!"


Saat Nissa akan mematikan panggilan, terdengar Arya berteriak meminta agar jangan mematikan sambungan telepon terlebih dahulu.


"Aku peringatkan sekali lagi Nis! Jangan pernah ikut campur lagi dengan urusanku, apalagi tentang Indri! Hubungan kita sudah selesai dan kuharap kamu mengerti soal itu!"


"Tidak! Siapa yang ikut campur? Terserah kamu mau dekat dan menikah dengan siapapun, aku tidak peduli! Dan tunggu, siapa yang sebenernya tidak terima? Aku atau kamu?"


"Bagus! Awas saja aku dengar Indri ngomong yang tidak-tidak lagi!" ucap Arya lalu segera mematikan sambungan telepon.


Nissa dibuat takjub melihat sikap mantan tunangannya itu. Pandangan Nissa beralih pada jam, yang ternyata sudah menunjukkan waktu istirahat makan siang.


Nissa akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah makan yang letaknya tidak jauh dari kantornya. Saat dia tengah bersiap tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangannya.


"Masuk!"


Ternyata security yang bertugas di bawah, dia masuk sambil membawa sebuah paper bag.

__ADS_1


"Maaf Bu Nissa, ini ada kiriman dari Pak Marvel." ucapnya sopan.


"Marvel?" tanya Nissa sambil menerima paper bag itu yang dijawab dengan anggukan oleh security itu.


"Oh, ya sudah terimakasih ya Pak," ucap Nissa lalu security itu keluar.


Setelah itu, Nissa membuka paper bag yang isinya ternyata makan siang untuknya. Terdapat secarik memo di atas kotak makan itu.


'Selamat makan siang,'😊


Tanpa sadar, Nissa tersenyum ketika membaca memo singkat itu. Hal seremeh itu sudah bisa membuatnya bahagia, tidak perlu barang-barang yang mewah. Cukup dengan perhatian kecil seperti ini saja.


Tanpa menunggu lama, Nissa segera menyantap makan siang yang dikirim Marvel.


...*****...


Hari pun berganti, matahari yang tenggelam memancarkan semburat kekuningan di langit yang mulai gelap. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul enam sore, waktu yang biasanya digunakan keluarga Arya untuk makan malam bersama.


Mama Amel yang sedari tadi bersantai di depan tv beranjak menuju kamar Arya lalu mengetuk pintu kamarnya.


"Makan Ar,"


"Iya Ma, bentar! Arya ganti baju dulu!" jawab Arya dari dalam kamarnya.


Wanita itu kemudian menuju ke ruang makan yang menyatu dengan dapur meninggalkan Arya.


"Loh, kok nggak ada?" gumam Mama Amel ketika melihat meja makan yang kosong. Jangankan makanan, secangkir kopi dan teh hangat yang wajib Vina hidangkan juga tidak ada di sana. Hanya ada botol saos dan kecap yang memang selalu ada di atas meja makan.


"Apa Vina belum masak? Ah, kayaknya tadi udah selesai," gumam Mama Amel. Wanita itu hafal betul jam berapa biasanya Vina selesai menyiapkan semua hidangan. Tapi tidak dengan sore ini. Padahal jelas tadi dia melihat Vina sedang memasak. Bahkan Mama Amel sempat mencicipi masakannya.


"Hah, berulah lagi dia," gumam Mama Amel.


Dengan nafas memburu Mama Amel segera menuju kamar yang ditempati Vina.


Brak!Brak! Braak!


"Vina! Buka pintunya!" teriak Mama Amel sambil menggedor pintu kamar Vina.


"Vina buka!" teriak Mama Amel lagi karena Vina tak kunjung membuka pintu kamarnya. Dari depan pintu kamar, dia mendengar sayup-sayup denting sendok yang beradu dengan piring.


Tak berselang lama pintu kamar terbuka dan Vina hanya membuka sebatas bahunya saja. Mama Amel mendorong pintu itu agar terbuka lebar.


Seketika emosinya meledak melihat pemandangan yang ada di kamar Vina. Beberapa peralatan makan dan menu makan malam ada di sana.


"Apa-apaan kamu ini Vani?" teriak Mama Amel.


"Aku lagi makan malam, Ma. Kenapa? tanya Vina dengan tenang. Dan itu sukses membuat Mama Amel terperangah tak percaya.


"Ngapain kamu makan malam disini? Mana makan malam untuk Mama dan Arya?" Mama Amel sudah bersungut-sungut.


Rendra yang sedari tadi menyelesaikan makan malamnya sambil duduk lesehan di lantai segera berdiri menghampiri Vina dan Mamanya.


"Vina cuma masak buat untuk Vina sama Rendra saja, Ma!" ucap Rendra.


"Lalu untuk Mama dan Arya?"


Vina hanya mengangkat bahunya membuat Mama Amel semakin meradang.


"Kenapa diam? Mana makanan buat Mama dan Arya? Bukankah itu sudah jadi tanggung jawabmu selama di rumah ini, hah?"


Vina tersenyum sinis menanggapi ucapan Mama Amel. "Siapa bilang kalau menyiapkan makan malam untuk Mama dan Arya tanggung jawabku? Memangnya aku istri Arya? Tugasku hanya mengurus Mas Rendra, suamiku!" Jawa. Vina tegas dengan mata yang menatap tajam.


Sungguh, aura pemberani Nissa yang Vina lihat tempo hari memberikan efek positif baginya. Vina yang biasanya diam saja ketika keluarga suaminya menghina, menghardik, dan mencaci makinya kini sudah berani melawan. Beruntungnya suaminya mendukung karena dia tipe lelaki yang tahu mana yang benar dan mana yang salah. Meskipun dia tahu sampai kapanpun surganya ada di telapak kaki ibunya, tapi itu tidak membuatnya menjadi seorang suami yang zalim.


Terkadang Vina heran, bagaimana bisa suaminya memiliki keluarga seperti ini. Sungguh sifat dan karakter mereka sangat bertolak belakang.


"Kenapa kamu bertanya? Bukankah itu sudah jadi tugasmu selama menjadi menantu di rumah ini?" tanya Mama Amel.


"Tugas dari siapa memangnya, Ma? Tugas dari Mama kan? Bukan dari Mas Rendra, dan meskipun itu dari Mas Rendra aku tetap berhak untuk menolaknya karena itu bukan tanggung jawabku!" bantah Vina.


"Hai! Kamu nggak tahu agama ya! Aku ini ibu dari suamimu! Sudah seharusnya kamu juga patuh pada apa yang kukatakan!" teriak Mama Amel.


"Mama mertuaku yang cantik! Makanya, mama ikut kajian jangan cuma bisa nyinyiran orang saja. Akhirnya memakai tameng agama buat pembenaran dari apa yang Mama lakukan! Aku, hanya akan menuruti suami ku selama perintahnya tidak melenceng dari kaidah agama. Kalau aku patuh sama Mama, itu tidak lebih dari rasa hormat dan penghargaan ku pada Mama sebagai Ibu dari suamiku. Jadi, Mama bisa kan membedakan mana kewajiban dan mana menghormati?" ucap Vina mengeluarkan unek-uneknya selama ini.

__ADS_1


Wajah Mama Amel memerah, karena baru kali ini Vina berani melawannya.


"Sudah mulai berani ya kamu sama Mama! Rendra, apa ini hasil didikan kamu? Sudah berani dia melawan Mama, Mama ini mertuanya lho! Sudah seharusnya Vina menuruti apa yang Mama katakan!" Mama Amel menatap nyalang pada Rendra.


"Apa yang dikatakan Vina itu semua benar Ma! Kewajiban Vina memang hanya patuh padaku, dan aku membebaskannya memilih mana yang harus dia kerjakan dan mana yang tidak, atau hanya sekedarnya saja. Lagipula cuma soal makanan saja toh? Mama bisa masak kan, bahan makanan juga sudah siap tinggal diolah saja di dapur. Sekalian Mama masak untuk anak kesayangan Mama itu, buat tidak kelaparan!" jawab Rendra.


"Apa maksudmu Mas? Kenapa bawa-bawa aku?" tanya Arya.


"Ya karena kamu itu benalu dalam rumah tanggaku dan Vina, Ar! Sudah Bangkotan masih aja dibawah ketiak Mama. Kalau mau makan ya usaha! Jangan bisanya babuin istri aku aja, Vina aku nikahi bukan buat jadi babu di rumah ini!"


"Siapa yang babuin istri kamu, Mas? Jangan baperan jadi laki!" jawab Arya pongah.


"Sudah-sudah, kenapa kalian malah ribut sendiri? Vina, ini semua salah kamu! Harusnya kamu itu tahu diri, udah numpang masih juga jadi benalu di rumah ini!" ucap Mama Amel.


"Iya nih! Mbak Vina udah numpang ga tahu diri, malah jadi benalu di rumah Mama. Bilang aja kamu malas kan, mau jadi ratu kan dirumah ini?" ketus Arya.


Vina mengulas senyumnya. Betapa nikmat ujaran-ujaran kebencian yang dilontarkan mertua dan adik iparnya. Entah apa salahnya, padahal selama ini dia sudah melakukan semua yang Mama Amel perintahkan.


"Udahlah menumpang, pemalas, tidak menghasilkan, benalu, eh mandul pula. Benar-benar paket komplit!" ujar Mama Amel.


Air mata yang sejak tadi dibendung Vina, kini tumpah sudah mendengar ucapan Mama Amel. Rendra yang melihat air mata sang istri akibat ucapan sang Mama pun tidak terima.


"Kenapa Mama ngomongnya seperti itu? Mama ini seorang wanita lho! Harusnya Mama mengerti perasaan sesama wanita." ucap Rendra.


"Lha, dimana letak salahnya? Kan bener apa yang Mama ucapkan! Kalian sudah berumah tangga dua tahun tapi mana hasilnya? Itu artinya istri kamu mandul Ren! Perempuan kayak gitu kok dibelain! Kayak nggak ada perempuan lain saja!" Mata Mama Amel melotot dan menatap tajam pada Vina.


"Kalau memang Mama menganggap Vina hanya benalu di rumah ini, baik! Alunakan membawa Vina pergi dari sini. Silahkan Mama hidup berdua sama Arya di rumah ini dan minta sama dia buta mencukupi semua kebutuhan Mama yang selama ini Rendra tanggung! Akupun sudah muak mendengar kalian menghina istriku, padahal dia sudah melakukan semua yang terbaik untuk kalian!"


Rendra pun menutup pintu kamarnya dengan keras hingga meninggalkan bunyi berdebum yang mengagetkan Mama Amel dan Arya.


Mama Amel seketika khawatir setelah mendengar ucapan Rendra. Bagaimanapun memang Rendra yang memenuhi semua kebutuhannya selama ini, tidak hanya buat kebutuhan Mama Amel saja, kebutuhan rumah tangga pun Rendra yang menanggung semuanya. Malah dengan tidak tahu diri Mama Amal malah menghina Vina, padahal selama ini hak yang seharusnya jadi milik Vina dirong-rong oleh Mama Amel.


"Rendra buka pintunya! Kamu nggak bisa pergi begitu saja dari rumah ini, Ren! Kamu mau jadi anak durhaka?" teriak Mama Amel sambil terus menggedor pintu kamar Rendra dan Vina.


Rendra tak kunjung membukakan pintu, pria itu malah membantu Vina berkemas malam itu juga.


"Mas, kamu serius kita pergi dari rumah ini?"


Rendra mengangguk sambil mengelus puncak kepala Vina. "Serius sayang, Mas nggak tega dan sudah nggak tahan lagi melihat perlakuan Mama sama kamu. Sudah cukup kita selama ini mengalah, toh Mama juga lebih membela Arya."


"Terus kalau kita pergi, gimana sama Mama? Siapa yang mencukupi semua kebutuhannya?"


"Seperti yang tadi Mas katakan, biar saja si Arya yang mencukupi semua kebutuhan Mama. Selama ini hanya kesombongan yang dia gaungkan di depan kita. Tapi kenyataannya apa? Zonk kan? Omong kosong besar semuanya!"


"Tapi Mas, bagaimanapun beliau tetap Mama kamu, meski kita pergi dari sini, tiap bulan kamu wajib menafkahi Mama, Mas."


Rendra tersenyum menatap istri cantiknya. Sungguh ia merasa sangat beruntung memiliki istri seperti Vina. Tidak hanya cantik parasnya saja, tapi juga hatinya.


"Percuma degk, ntar kalau Mas kasih uang ujung-ujungnya juga bakal di kasih ke Arya lagi."


" Ya, belikan sembako ajalah Mas, jangan kasik mentahnya,"


"Em, bener juga! Ya udah, nanti tiap bulan setelah gajian kita belikan sembako aja buat Mama."


Vina mengangguk dan kembali mengemasi barang-barangnya. Setelah kurang lebih satu jam mereka selasai beberes dan segera keluar dari kamar mereka. Namun sebelum itu, Vani kembali bertanya pada suaminya.


"Mas, memangnya kamu udah tahu kitabmau kemana?"


"Sebenarnya Mas udah pikirin ini sejak lam, mas pengen kontrak dan tinggal berdua aja sama kamu. Jadi habis gajian kemaren Mas udah depe kontrakan buat kita berdua. Tapi maaf ya, kalau rumahnya nggak sebesar dan sebagus rumah Mama."


Vina tersenyum lalu memeluk erat Rendra. "Makasih ya Mas, asal sama kamu aku mau tinggal di mana saja." jawab Vina.


"Sama-sama sayang," Rendra mengulas senyuman tulus untuk istri tercintanya itu. Merak berdua keluar dari kamar lalu berpamitan pada Mama Amel. Terserah akan seperti apa tanggapannya, mereka hanya menghormati Mama Amel sebagai orang yang lebih tua.


"Jadi kalian benar akan keluar dari rumah ini?" tanya Mama Amel ketika melihat Rendra dan Vina keluar dari kamar sambil membawa kopernya.


"Jadilah, Ma! Ini sudah siap semua. Bagaimanapun Rendra memang harus keluar dari rumah ini. Tidak baik jika dalam satu rumah ada dua ratu."


"Pokonya Mama nggak ikhlas kamu keluar dari rumah ini! Kalau mau keluar, silahkan w aita itu saja! Kamu tetap di sini!" titah Mama Amel.


" Maaf Ma, Rendra nggak bisa! Kalau Vina keluar Rendra juga keluar. Karena Vina tanggung jawab Rendra!" jawab Rendra.


Mata Mama Amel melotot mendengar jawaban yang Rendra berikan.

__ADS_1


"Sekali saja kamu melangkah keluar dari rumah ini, Maka aku tidak akan pernah menganggap kamu anak lagi! Dasar anak durhaka!"


__ADS_2