Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Gajian


__ADS_3

"In, kamu nggak ada niatan masukin gugatan cerai kamu ke pengadilan?" tanya Papa Nando saat mereka nonton siaran televisi bersama di ruang keluarga. Kebetulan saat ini Indri sedang tidak masuk kantor karena kelelahan. Beruntungnya, perusahaan itu adalah milik kakak sepupu nya. Jadi dia tidak terlalu pusing masalah ijin.


"Eemmm... sudah kok Pa. Papa tenang aja ya." jawab Indri.


"Oh ya? Kapan? Kok Papa nggak tahu?"


"Ya kan memang Indri nggak ngomong apa-apa sama Mama dan Papa. Makanya Mama sama Papa nggak tahu."


"Kapan memangnya?"


"Udah satu minggu yang lalu, ditemani sama Mas Marvell."


"Terus, kapan jadwal sidangnya?"


"Dua minggu lagi, Pa."


"Kok lama, kenapa kamu nggak pakai jasa pengacara? Daripada kamu repot-repot datang ke sidang."


"Pakai kok, Pa. Rekomendasi dari Mas Marvell juga pengacaranya. Tapi ya, karena yang antri sidang banyak jadinya ya jadwal sidangnya juga lama. Itu sih yang dikatakan sama pengacara kemarin."


"Hemm, ya sudah kalau begitu. Papa kita kamu belum ajukan gugatan. Sebaiknya memang lebih cepat, biar status kamu lebih jelas. Nggak kayak begini. Dan biar dia juga nggak bisa ganggu kamu lagi kalau sudah resmi berpisah."


"Iya Pa, aku paham kok. Papa tenang aja ya!"


Papa Nando akhirnya merasa lega karena putrinya akhirnya berpisah dengan menantu nya yang bajingan tengik itu.


Papa Nando mengambil ponsel dari saku bajunya. Ia pun mencari nomer seseorang yang beberapa waktu belakangan ini selalu ia hubungi untuk pekerjaan baru.


[Gimana? Berhasil?]


Pesan itu Papa Nando kirimkan pada nomer tersebut. Tidak berselang lama sudah ada balasan dari nomor tersebut.


[Tenang saja, Pak. Semua berjalan sesuai rencana]


[Bagus! Kerjakan apa yang harus kamu kerjakan! Kamu paham maksud saya?]


[Sangat paham, Pak. Itu sudah menjadi bagian dari tugas saya.]


Seringaian mengerikan terlukis di wajah tampan Papa Nando.

__ADS_1


"Papa kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Mama Sofie saat tidak sengaja melihat suaminya itu sedang tersenyum sendiri. Sungguh mencurigakan.


"Aaahhh... enggak, Ma. Ini lhoo, Papa habis lihat postingan lucu di grup whatsapp, makanya Papa senyum-senyum sendiri."


Nama Sofir hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti ucapan suaminya itu. Ia pun kembali melanjutkan menonton acara televisi yang sedang seru saat itu.


...*****...


[Lagi sibuk nggak hari ini?]


Sebuah pesan terkirim dari ponsel milik arah ke salah satu kontak yang ada di ponselnya dengan nama Hanna. Seorang wanita cantik yang terbilang anggun dan lembut. Tatapannya yang begitu teduh membuat wanita itu mendapat tempat tersendiri di hati Arya. Si Upil biawak yang tidak tahu diri.


Lelaki itu masih setia duduk di atas motor sambil menunggu pesan balasan dari Hanna.


[Enggak, ada apa?]


Seulas senyum jelas terlihat di bibir Arya. Padahal itu terbilang hanya sebuah balasan yang sangat biasa saja, tapi entah kenapa hati Arya jadi berbunga-bunga.


Jangankan membaca pesan balasan dari Hanna, melihat nama wanita itu sebagai pengirim pesan sudah membuat Arya ingin koprol dan berlari memutari lapangan sepak bola.


[Nanti malam keluar yuuuk, makan atau nonton gitu.]


[Boleh, nanti malam ya.... Kalau besok aku sangat sibuk.]


Seketika Arya merasa ingin melompat dan berteriak histeris andai saja dia tidak ingat saat ini sedang berada di parkiran perusahaan. Oleh sebab itu dia hanya bisa meluapkan kebahagiaan nya dengan tersenyum sambil meremas ponsel miliknya.


[Oke, siap! Mau aku jemput atau bagaimana?]


[Kita langsung ketemu di Mall aja ya. Kebetulan ada beberapa list film yang pengen aku tonton. Aku pengen nonton romance komedi. Kamu suka nggak?]


[Jangankan romance komedi, horor pun bakal aku lihat asalkan sama kamu.]


Arya membalas pesan Hanna dengan menyelipkan sedikit gombalan. Wajahnya tampak berbinar, tidak dapat menyembunyikan kebahagiaan nya.


[Hahahhaha... bisa aja. Ya udah, kita ketemu besok malam jam tujuh langsung di tempat nya ya!]


[Siap!]


Pesan yang di kirim Arya dalam sekejap berubah menjadi centang berwarna biru. Arya masih menatap layar ponsel nya berharap ada pesan balasan dari Hanna. Namun hingga lima menit tak kunjung ada balasan, hingga akhirnya Arya menyimpan kembali ponsel miliknya ke dalam tas ransel yang selalu dia bawa kemudian duduk di atas jok motor matic kesayangannya.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama kendaraan roda dua itu segera bergerak meninggalkan area parkir, dan semakin melesat saat masuk di jalan raya.


Sepanjang jalan bibir Arya mengulas senyuman. Entahlah, Arya sendiri juga tidak paham apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Tidak biasanya, dan ini pertama kalinya dia mengalami yang seperti ini.


Puluhan menit, motor Arya membelah jalan raya hingga akhirnya sampai di rumah Mama Amel.


Mama Amel yang semula duduk di kursi sambil menonton televisi segera mematikan nya. Ia pun melangkah ke depan. Tampak wanita itu saat ini sedang berdiri di depan pintu. Dia menatap sang putra yang sedang melepaskan helm.


"Hari ini gajian kan, Ar?" tanya Mama Amel sesaat setelah Arya menapakkan kakinya di lantai atas teras.


"Mana?" pintar Mama Amel yang sudah mengulurkan tangannya dengan telapak tangan yang terbuka.


"Baru juga pulang, Ma. Belum juga duduk dan nyimpan tas. Mama udah main todong aja." jawab Arya. Dan kalimat yang keluar dari bibir Arya itu membuat Mamanya heran.


"Kan biasanya juga gitu, Ar! Kok sekarang malah protes?"


"Ya bukan protes gitu, Ma. Paling tidak kasih kesempatan Arya buat istirahat sebentar aja. Mama tenang aja, Arya bakal tetep ngasih gaji Arya ke Mama kok!" jawab Arya sambil menepis pundak wanita itu agar sedikit menyingkir dan tidak menghalangi jalannya.


Tampak lelaki itu berjalan menuju ke kamarnya. Ia segera duduk di tepian ranjang. Namun saat baru saja hendak melepas tas punggungnya, pintu kamar pun terbuka dan menampakkan wajah sang Mama.


"Mana, Ar?"


"Sebentar, Ma. Ini Arya ambilkan." jawab Arya dengan nada yang sangat santai. Sedangkan sang Mama yang sudah tidak sabaran sudah mengulurkan tangannya di depan Arya.


Tidak lama kemudian, lima lembar uang oecaham seratus ribuan sudah berada di tangan Arya. Dan lelaki itu segera menyerahkan kepada sang Mama.


Mama Amel terperangah melihat jumlah uang yang diberikan oleh Arya. Anak kesayangannya itu.


"Nggak salah kamu ngasih uang Mama cuma segini?" tanya Mama Amel sambil mengucek matanya, barangkali dia yang salah lihat. Namun lembaran yang dia lihat masih sama saja jumlahnya.


Lima lembar uang pecahan seratus ribuan!!!


"Gaji Arya sekarang itu cuma dua juta lima ratus aja lhoo, Ma."


"Iya, Ar. Mama tahu, kamu kerja sekarang cuma jadi OB. Tapi masa' iya kamu cuma kasih Mama seuprit ini aja? Lalu mana yang dua juta? Kenapa nggak kamu kasih ke Mama?"


"Ya buat keperluan Arya, Ma. Buat ongkos jalan, buat pergi sama teman. Masa iya semua harus Arya kasih ke Mama."


"Kamu ngasih Mama segini mana cukup, Arya. Buat makan kamu sebulan sudah pasti kurang."

__ADS_1


__ADS_2