
Jam, menit, dan detik kini sudah berlalu. Indri pun kini sudah siap dan tampak cantik mempesona dengan dress juga riasan tipis. Sementara itu, Arya dan Mama Amel yang baru saja tiba di halaman rumah Indri mulai turun dari mobil.
"Ar, gimana penampilan Mama? Udah oke belum?"
"Oke dong Ma! Kalau nggak kan sia-sia dandan pakai MUA, bayar mahal pula!"
Mama Amel tertawa pelan. "Iya juga sih, kitab masuk sekarang yuk. Jangan lupa itu barang bawaannya kamu bawa masuk."
Arya mengangguk, dia membawa satu persatu hantaran yang kemaren dia beli di mall dengan Indri.
Suara bel terdengar di telinga Indri, Mama Sofie, dan juga Papa Nando yang memang menunggu kedatangan Arya dan Mama Amel.
Indri gegas menuju pintu utama lalu membukanya. Ia membantu membawa apa yang ada di tangan Mama Amel karena melihat wanita paruh baya itu tampak kesulitan.
"Mari,silahkan masuk Ma, Mas Arya. Papa dan Mama sudah menunggu."
Ketiganya langsung menuju ruang keluarga, selain tempatnya yang lebih luas, tempat itu adalah favorit Papa Nando.
"Jadi, tujuan kalian datang kemari untuk melamar anaka saya Indri, secara resmi?" tanya Papa Nando pada Arya dan Mama Amel tanpa basa basi. Keduanya mengangguk sambil terasa sebagai jawaban.
"Kalau boleh tahu, apa pekerjaanmu?" Suara Papa Nando yang terdengar sangat tegas di telinga Arya membuat dia susah menelan salivanya.
"Gila, Papanya Indri galak bener, mirip sama herder," batin Arya.
"Saya.... sebagai staff HRD dan satu kantor juga dengan Indri, Pak!" jawab Arya.
Papa Nando menganggukkan kepalanya.
"Jadi, sebelum saya menolak ataupun menerima lamaran kamu, saya ingin bertanya serius terlebih dahulu,"
Papa Nando kembali menjeda kalimatnya membuat Arya semakin tegang dan gugup hingga bulir-bulir keringat dingin di dahi Arya. Sementara Indri juga tampak gelisah, gadis itu takut Arya tidak dapat menjawab pertanyaan Papanya dengan benar dan membuat hubungan mereka tidak direstui sang Papa.
"T-Tanya apa Pak?"
"Apa kami sungguh mencintai putri saya dengan tulus tanpa ada embel-embel ataupun tujuan apapun selain membina rumah tangga dengan Indri?" tanya Pak Gunawan sambil menatap lekat Arya yang saat ini sedang menunduk.
Arya mendongakkan wajahnya hingga akhirnya bertemu pandang dengan Papa Nando. Lalu ia kembali menundukkan pandangan karena menurut Arya tatapan mata Papa Nando sangat menyeramkan.
__ADS_1
"I... iya Pak, saya mencintai Indri. S.. saya janji akan membuat Indri bahagia, saya akan menyayangi dan mencintainya dengan segenap jiwa raga saya." jawab Arya.
Indri dapat bernafas lega saat Arya dapat menjawab pertanyaan Papa Nando.
"Baik, kalau begitu kamu pastinya sudah siap menerima persyaratan dari saya sebelum saya menerima lamaran kamu bukan?"
Arya terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Papa Nando. "Insya Allah saya siap, Pak!"
Kali ini Arya sudah terlalu gugup seperti sebelumnya. Dia merasa yakin jika persyaratan dari calon mertuanya tidak akan terlalu sulit. Mungkin hanya meminta untuk mencintai dan menyayangi anaknya dan seandainya sudah tidak cinta bisa dikembalikan pada kedua orang tuanya, begitulah yang ada di pikiran Arya seperti kisah percintaan di novel yang pernah dia baca.
"Baik, tunggu sebentar!" ucap Papa Nando yang kemudian berlalu pergi.
Baik Indri dan Mama Sofie, juga Mama Amel dan Arya saling pandang karena tidak paham dengan maksud Papa Nando.
Setelah menunggu kurang lebih lima menit lamanya, Papa Nando kembali dengan membawa selembae kertas dan bolpoin di tangannya.
"Kalau kamu merasa yakin dengan jawaban kamu, makan tanda tangani surat perjanjian pranikah ini!"
"Surat perjanjian pranikah? Maksudnya apa ya Pak?"
"Pa... " Indri yang ingin protes kembali terdiam karena melihat kode dari sang Papa yang tidak ingin dibantah.
Begitu juga dengan uang dan harta yang dia dapat dari orang tuanya. Ditambah lagi, kamu harus memberikan nafkah yang layak sesuai gaji yang kamu terima setiap bulan. Tidak harus banyak, karena saya juga mengerti kapasitas seseorang. Disini saya hanya ingin melihat sejauh mana kamu bertanggung jawab sebagai seorang laki-laki dan kepala keluarga."
Papa Nando memberikan tekanan pada setiap kata yang dia ucapkan. Dia menatap lekat mata laki-laki yang ada dihadapannya itu.
Papa Nando ingin membaca ekspresi dari calon menantunya itu. Arya nampak gugup, bahkan terlihat jelas jika dia dan Mama Amel menelan salivanya dengan susah payah.
"Syaa tidak meminta kamu menandatangani surat perjanjian pra nikah itu sekarang. Syaa akan memberikan kamu waktu tiga hari untuk berpikir. Jika kamu memang setuju dan benar-benar mencintai putri saya tulus tanpa ada modus apapun silahkan kembali datang kesini dan menandatangani surat perjanjian ini. Namun jika yang saya katakan tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hatimu, maka kamu tidak perlu datang kesini dan mengatakan apapun itu." ucap Papa Nando tegas.
Indri harap-harap cemas. Dia takut jika Arya akan membatalkan pernikahan mereka. Namun apa yang ada di kepala Papa Nando dan Indri sangat jauh berbeda.
Jika Arya enggan menandatangani surat perjanjian itu, maka sudah bisa dipastikan jika dia hanya mengincar harta saja. Menikahi putrinya hanya karena sebuah tujuan tertentu. Namun berbeda dengan Indri. Baginya jika Arya enggan menandatangani surat perjanjian artinya lelaki itu tersinggung dengan sikap Papa Nando.
Indri benar-benar gambaran seorang gadis yang sedang di mabuk asmara hingga dia tidak bisa lagi menggunakan logika sebagaimana mestinya.
"Baca dan pahami lebih dulu isi dari surat perjanjian ini!" titah Papa Nando.
__ADS_1
Papa Nando menyerahkan selembar kertas yang berisi perjanjian pranikah. Selain yang sudah disebutkan Papa Nando tadi, ada satu poin yang membuat Arya bergidik ngeri bahkan dalam batinnya sudah memutuskan untuk mundur saja."
Dalam perjanjian itu ada satu point yang menyebutkan jika Arya atau pihak keluarga Arya ketahuan menggunakan uang ataupun harta pribadi milik Indri, maka Arya wajib mengembalikan semua yang telah terpakai sesuai kesepakatan. Jika Arya tidak mau memenuhi, maka dari pihak Papa Nando berhak dan dibebaskan untuk melakukan apapun. Menyita harta milik Arya ataupun bahkan membawa kasus tersebut ke tanah hukum.
Setelah Arya membaca semua isi perjanjian, perhatian Arya terpusat pada nama yang tertera di bagian bawah. Papa Nando tidak main-nakn dalam mempersiapkan semuanya . Setiap nama yang ada tertempel sebuah materai nominalnya sepuluh ribu.
Dibawah ada nama Arya dan Indri sebagai mempelai. Dan juga nama kedua orang tua mereka sebagai saksi.
Melihat ekspresi Arya, Indri jadi semakin cemas hingga kedua tangan gadis itu saling meremas. Mamanya yang ada di sampingnya berusaha menenangkan kekhawatiran Indri.
"Tenang saja, In. Arya pasti akan menandatangani surat perjanjian pra nikah itu. Dia kan benar-benar cinta sama kamu."
"Iya Ma," jawab Indri sambil tetap fokus menatap kekasih hatinya.
Arya menoleh ke Mama Amel, tatapannya mengisyaratkan jika dia meminta masukan.
"Baik Pak Nando, tiga hari lagi kami akan kembali kemari untuk memberikan keputusan." ucap Mama Amel dengan tenang memberikan keputusan. Arya yang menatapnya pun menjadi bengong.
"Baik, jika Arya bersedia menandatangani surat perjanjian tersebut, maka rencana pernikahan bisa dilanjutkan dan saya akan menerima lamaran Arya untuk putri saya satu-satunya.
" Baik Pak!"
Satu jam lamanya pertemuan dia keluarga itu berlangsung. Setelah selesai makan malam bersama Mama Amel dan Arya memutuskan untuk pamit pulang.
"Papa itu kenapa sih, Pa? Kenapa harus ada surat perjanjian pranikah seperti itu? Kalau nanti Mas Arya membatalkan pernikahan gimana, Pah?" Indri protes pada sang Papa dengan suara bergetar menahan tangis setelah Mama Amel dan Arya pamit pulang. Indri merasa jika Papanya benar-benar sudah keterlaluan.
"Apa yang Papa lakukan semua itu demi kebaikan kamu, In!"
"Demi kebaikan apa, Pa? Semua yang aku lakukan dari dulu hanya untuk kebaikan Papa, bukan untuk kebaikanku! Selama ini, aku selalu menuruti semua yang Papa mau karena ingin menjaga nama baik Papa, supaya Papa bisa membanggakan akun di depan semua kolega-kolega bisnis Papa. Tidak bisakah sekali ini saja Papa menuruti keinginan Indri. Bukankah Indri tidak pernah meminta sesuatu yang sulit pada Papa?"
"Menikah itu bukan untuk main-main, In! Kalau bisa menikah itu sekali untuk seumur hidup. Seandainya kamu ini pintar, kamu pasti paham maksud Papa."
"Memangnya apa maksud Papa selain ingin mempermalukan Mas Arya?"
"Picik sekali pikiran kamu, In? Papa sama sekali tidak pernah bermaksud seperti itu. Maksud Papa justru bagus jika Arya tidak mau menandatangani surat perjanjian itu. Itu artinya dia tidak tulus sama kamu In! Bukankah syarat dari Papa tidak berat? Apa yang Papa lakukan hanya karena ingin melindungi apa yang seharusnya jadi milik kamu agar tidak jadi hak mereka dengan dalih atau alasan apapaun!"
"Terserah! Pokoknya sampai Mas Arya membatalkan pernikahan denganku, lebih baik aku mati saja!"
__ADS_1
Indri pun meninggalkan Papa dan Mamanya yang tercengang mendengar perkataannya.
...☆࿐ཽ༵༆༒ 𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈 ༒༆࿐ཽ༵☆...