
Di tempat lain, Arya menjadi murka saat membaca satu persatu komentar para netizen atas video yang dia unggah tadi.
[Dasar playing Victim! ]
[Halah, video pencitraan cap ikan asin! Video kalian di rumah sakit sudah lebih dulu viral dan netizen bukan orang bodoh yang gampang percaya begitu saja dengan drama receh macam ini!]
[Mukanya lapis beton nih, kagak tahu malu!]
Dan masih banyak lagi video yang menyudutkan dan menghujat Arya dan Mama Amel.
Tok... tok.... tok...
"Haduh, siapa sih?" Mama Amel menggerutu sambil menatap pintu yang masih tertutup.
Wanita itu berdiri dari tempat duduknya lalu melangkah membuka pintu. Matanya membelalak saat melihat dua orang berseragam coklat susu berdiri di depannya dan salah satunya membawa sebuah surat.
"Maaf, cari siapa ya Pak?" tanya Mama Amel.
"Benar dengan Ibu Amel?"
"Iya, benar Pak. Saya sendiri."
"Kami mendapat tugas untuk menjemput Ibu Amel dan juga Saudara Arya, untuk segera dibawa ke kantor polisi guna dimintai keterangan tentang kasus KDRT ya g dilaporkan oleh saudara Indri."
Mata Mama Amel membulat bahkan mulutnya sampai menganga lebar. Dia merasa heran, karena tidak mendengar suara sirine ataupun suara deru mobil tapi terlihat ada mobil polisi yang parkir di depan rumahnya. Dan tiba-tiba saja sudah ada dua orang polisi berdiri di depan pintu rumahnya. Sudah bisa dia pastikan jika itu mengundang perhatian tetangganya untuk mendekat dan mencari tahu.
"Ma... Maksud Bapak, bagaimana ya? Siapa yang sudah melakukan KDRT? Sudah pasti Bapak salah rumah, dan sudah pasti itu bukan saya ataupun anak saya." jawab Mama Amel mencoba berkelit.
"Kami tidak salah rumah ataupun salah orang. Di surat tugas sudah jelas tertulis alamat rumah dan juga nama Ibu serta anak Ibu. Sebaiknya, Ibu dan anak Ibubikut kami sekarang juga Saya sarankan untuk tidak mempersulit karena jika terbukti, maka hukuman kalian akan lebih berat lagi."
"Eh, Pak! Nggak ada ya kejadian seperti itu. Menantu saya itu sudah memfitnah saya dan anak saya, Pak!" pekik Mama Amel.
Suara pekikan itu membuat Arya yang masih ada di dalam rumah menjadi heran. Dmehan berjalan tertatih dia berusaha keluar menyusul Mamanya yang saat ini masih ada di depan pintu utama.
"Ada apa Ma, kok teriak-te.... ri.... ak...?" ucapan Arya tersendat saat melihat dua orang berseragam khas menyambangi rumah sang Mama. Ia menelan salivanya dengan susah patah, bahkan matanya sampai melotot seakan hendak keluar dari tempatnya.
"Eeh... kok ada polisi disini?" tanya Arya dengan wajah sok polos bin cengo.
"Kami kesini untuk menjemput Ibu Amel dan juga Saudara Arya, karena ada laporan kasus KDRT dari saudari Indri. Jadi kami sangat berharap kalian kooperatif dan jelaskan semuanya nanti di kantor.
" Nggak bisa gitu juga dong, Pak. Bapak nggak lihat kondisi saya seperti apa. Ini semua juga karena ulah si Indri, Pak. Seharusnya yang kalian tangkap itu Si Indri, bukan malah saya dan Ibu saya." Arya protes karena merasa tidak terima dengan laporan yang dibuat oleh Indri.
"Maaf, Pak. Kami hanya menjalankan perintah saja. Bapak bisa menjelaskan semuanya nanti di kantor polisi. Sebaiknya, segera ikut kami ke kantor."
Salah seorang polisi itu memberi perintah pada rekannya untuk meringkus Mama Amel. Sedangkan salah satu rekan mereka yang masih ada di mobil terpaksa turun untuk membantu meringkus Arya.
__ADS_1
"Nggak! Saya nggak mau ikut, harusnya ya g kalian bawa itu Indri. Bukan saya dan Arya!" protes Mama Amel. "Eh, jangan pegang-pegang ya! Saya nggak mau ikut kalian! Saya nggak salah! Lepaskan saya!" pekik Mama Amel sambil meronta berusaha lepas dari cekalan petugas. Tiba-tiba saja tubuhnya bergetar membayangkan dirinya akan mendekam beberapa waktu di dalam penjara.
"Ar,.... Arya. Tolongin Mama Ar!" teriak Mama Amel. Dan hal itu hanya sia-sia saja karena Arya juga sudah diringkus oleh polisi.
"Bawa mereka berdua ke dalam mobil!" perintah salah satu di antara ketiga polisi itu.
Akhirnya Mama Amel dan Arya pun digiring masuk ke mobil polisi yang sedari tadi sudah stan by parkir di depan rumah mereka dengan sedikit paksaan karena keduanya melawan.
Setelah menutup pintu dan tak lupa menguncinya, Arya dan Mama Amel segera dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Para warga dan tetangga membubarkan diri setelah drama penangkapan malam itu berakhir.
...*****...
Ddrrttt......
Dddrrrrrtttt.....
Ponsel milik Indri berdering. Ia yang baru saja sampai di rumah Papa Nando karena hari ini sudah diijinkan pulang oleh dokter langsung mengambil ponselnya. Dahinya berkerut saat melihat nomor tidak bernama menghubungi nya.
"Siapa, In?" tanya Mama Sofie yang sedang menemani suaminya yang sedang duduk bersandar di atas ranjangnya yang empuk.
"Gak tahu, Ma. Belum ada namanya soalnya." jawab Indri.
"Coba saja diangkat, siapa tahu penting!" ucap Mama Sofie.
Indri mengangguk, lalu ia menggeser icon warna hijau ke atas.
"Selamat malam, dengan saudari Indri? Kami dari kepolisian mau menyampaikan jika dua orang terlapor saat ini sudah berada di kantor polisi. Apa saudari Indri bisa datang untuk memberikan keterangan lebih lanjut?"
"Bisa Pak, satu jam lagi mungkin saya akan sampai disana."
"Baik, kami tunggu kedatangannya."
"Iya, Pak. Terimakasih."
"Siapa In? Polisi?" Mama Sofie kembali bertanya setelah sambungan telepon terputus.
"Iya, Ma. Katanya Arya dan Mamanya sudah ditahan di kantor polisi." jawab Indri sambil mengangguk.
"Wah, cepet juga ya kerjanya. Baru tadi siang kamu lapor, eh... sekarang sudah ditahan aja."
"Iya, Ma. Kan tadi aku sekalian infokan kalau mereka ada di rumah."
"Baguslah, terus kamu mau kesana sama siapa? Ini sudah malam, In. Mama nggak ngijinin kamu kesana sendirian. Mereka pasti nekat meski disana banyak petugas."
"Biar aku saja yang antar Indri, Tante."
__ADS_1
Lagi-lagi, Marvell bersedia menemani Indri meski wanita itu pernah berselisih dengannya.
"Tapi ini sudah malam, Vell. Apa kamu nggak dicariin sama Mama kamu?"
"Biar nanti Marvell telepon ke Mama, Tante. Marvell. Nanti Marvell bilang kalau masih ngantar Indri."
"Ya sudah, tolong kamu dampingi Indri, ya. Tante khawatir kalau dia pergi sendirian kesana."
"Iya, Tan. Tenang saja. Aku pasti bakalan dampingi dan ngejaga Indri kok. Yuk In, keburu malam nanti."
Indri mengangguk lalu berpamitan pada Mama dan Papanya.
"Ma, apa... aku pergi dulu ya."
"Hati-hati ya, Nak. Kalau sudah selesai lekas pulang."
"Iya, Ma, Pa." jawab Indri. Lalu Indri berlalu bersama Marvell menuju ke mobil yang diparkir di halaman rumah Indri.
...****...
Tidak butuh waktu lama untuk Indri dan Marvell untuk sampai di kantor polisi tempat dia melaporkan Mama Amel dan Arya tadi siang.
"Ayo, In. Pesanku, didalam nanti jangan sampai kamu terbawa emosi." ucap Marvell saat mereka sampai dan hendak turun dari mobil yang dikendarai Marvell.
"Iya, Mas. Indri paham, yuk!"
Indri dan Marvell pun turun kemudian berjalan ke ruang penyidikan setelah membuat laporan terlebih dahulu.
"Selamat malam, Pak!" ucap Indri saat berdiri di depan ruang penyidikan. Semua orang yang ada di dalam sana pun menoleh ke arahnya.
Mama Amel uang melihat Indri seketika bangun dari duduk nya. Wanita itu berniat menyerang Indri, karena menurutnya gara-gara laporan Indri, ia jadi ditahan di kantor polisi. Belum lagi drama penjemputan yang disaksikan warga dan tetangga sekitar perumahan tempat tinggal Mama Amel.
"Dasar menantu kurang ajar, pembawa sial! Berani-beraninya kamu melaporkan suami dan mertuamu sendiri! Dasar menantu durhaka!" Hardik Mama Amel.
Marvell yang melihat Mama Amel yang hendak menyerang Indri, segera berdiri di depan Indri untuk melindungi sepupu nya itu.
"Minggir kamu! Aku nggak ada urusan sama kamu, ya!" teriak Mama Amel sambil tangannya terulur mencoba meraih rambut Indri. Tapi dengan sigap pula, Marvell mendorong Mama Amel hingga wanita itu jatuh tersungkur.
Arya merasa tidak terima saat melihat Mamanya diperlakukan seperti itu. Ia langsung bangun dan menolong Mama Amel. Setelah Mama Amel berdiri, Arya siap melayangkan pukulan ke arah Marvell namun dihalangi oleh dua orang petugas yang ada disana dan segera menarik tubuh Arya menjauh dari Marvell.
"Jangan pernah sakiti Mamaku. Kamu memang Bos ku kalau di kantor. Tapi diluar, kamu hanya orang asing! Jangan pernah ikut campur dengan urusan rumah tanggaku!" ucap Arya geram.
"Kami dan aku memang hanya sebatas orang asing! Tapi jangan pernah lupa jika Indri adalah saudara sepupuku. Yang artinya, sakit yang dia rasakan, aku pun ikut merasakan." Marvell tersenyum sinis sambil menatap tajam pada Arya.
"Cih, aku tidak peduli dengan ucapanmu! Hai wanita sialan! Cabut laporanmu sekarang juga. Atau aku jamin hidupmu bakal sengsara selama! Kupastikan kamu tidak akan bisa mencium bau surga jika durhaka pada suami! Dasar ******." ucap Arya.
__ADS_1
Para petugas dan juga Marvell tertawa. Bahkan salah satu petugas sampai geleng-geleng kepala melihat tingkat kepercayaan diri Arya yang over limit.
Ngaji mu kurang jauh Leeee...... dekengane pusat oe........... 🤭🤭🤭🤭🤭