Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Cemburu? Bilang Bos!


__ADS_3

Hasan geram ketika mendapatkan tatapan seperti itu dari Arya. Mereka sama-sama dewasa, jadi Hasan paham betul jika arti tatapan dan senyuman sinis Arya adalah suatu bentuk ejekan.


Bahkan kedua telapak tangannya mengepal kuat karena emosi hingga membuat otot-otot yang ada pada tangannya nampak menyembul.


Melihat Hasan yang tengah emosi membuat batin Arya bersorak. Kemudian pandangan lelaki itu beralih pada Indri yang nampak berbinar karena lamaran dadakan dari Arya.


"Pasti Mama bakal seneng kalau denger Mas Arya lamar aku, terlebih Mama kita adalah sepasang sahabat. Pastinya mereka akan sangat bahagia jika tahu semua ini!" ucap Indri antusias, sementara Arya hanya menganggukkan kepalanya pertanda jika dia setuju dengan apa yang dikatakan Indri.


Tanpa diduga, tiba-tiba saja Indri berdiri dari duduknya. Sedetik kemudian, Indri berucap dengan nada yang begitu lantang hingga membuat semua pengunjung kantin mendengar dan menoleh ke arah Indri dan Arya.


"Karena hari ini adalah hari yang sangat spesial buat saya, sebab lelaki yang ada di hadapannya saya ini sudah melamar saya. Maka makan siang kali ini, kami yang akan membayarnya!"


Seketika ucapan Indri menyita perhatian semua pengunjung. Semua mata tertuju ke arahnya. Entah siapa yang memulai, tepuk tangan pun menggema memenuhi ruangan yang cukup luas itu.


Jika para pengunjung kantin merasa senang karena untuk makan siang kali ini tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar makan siang, berbanding terbalik dengan wajah Arya yang kian memucat. Sesaat setelah indri melihat ke segala penjuru, pandangannya kembali tertuju ke arah Arya. Gadis itu melihat perubahan ekspresi wajah lelaki yang ada di hadapannya itu.


Indri tersenyum dan kembali duduk di kursinya.


"Mas Arya tenang aja, aku yang bakal bayar semuanya." Ucap Indri seolah-olah tahu apanyamg dipikirkan Arya. Seketika lelaki itu bernafas lega. Tebakan Indri sama sekali tidak meleset.


Dalam pengucapannya pun gadis itu menggunakan suara yang setengah berbisik. Ia tak mau jika ada orang lain yang mendengar ucapannya, hingga membuat harga diri sang calon suami jadi terkoyak-koyak.


"Maaf ya, kali ini kami harus mengeluarkan uang untuk merayakan moment spesial kita," ucap Arya dengan wajah sendu dan merasa bersalah. Berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalam hatinya saat ini.


"Nggak apa-apa Mas, tidak perlu minta maaf seperti itu. Apalagi aku yang memang ingin mentraktir mereka. Dan semua bukan karena suruhan kamu."


Arya hanya mengangguk.


Puluhan menit berlalu, silih berganti para pengunjung kantin itu mendatangi meja mereka sekedar untuk mengucapkan selamat atas kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini dan terimakasih atas traktiran yang baru saja mereka terima.


"Selamat ya, Bu Indri dan Arya, semoga semua berjalan lancar." Kali ini berganti dengan Hasan, pengunjung terakhir kantin. Hasan menyalami Indri biasa saja. Berbanding terbalik saat menyalami Arya. Ia memberikan remasan pada tangan lelaki itu. Mendapati hal itu, Arya semaki tersenyum penuh kemenangan.


Sebenarnya Hasan tak memiliki rasa iri ataupun tak suka jika Indri menerima lamaran Arya, sebab ia cukup tahu diri. Wajahnya yang kurang mumpuni, ditambah kasta yang jauh berbeda. Andaikan Indri tidak sedang dekat dengan lelaki manapun, Hasan juga tidak akan mengungkapkan rasa cintanya. Ia lebih suka menatap kagum pada Indri. Wanita cantik yang sangat pintar, dan sebagai atasan dia juga sangat loyal pada bawahannya. Bisa dikatakan Indri adalah seorang wanita muda yang menjadi inspirasi banyak karyawan. Hasna hanya merasa geram dengan ejekan yang diberikan Arya saja.


Setelah di kantin itu hanya menyisakan Indri dan Arya saja, gadis itu segera melangkah menuju kasir lalu menanyakan berapa jumlah yang harus dia bayar. Indri segera membayar tagihan sesuai jumlah yang disebutkan kasir tadi.


"Ini seratus ribu, anggap saja sebagai bonus." ucap Indri sembari menyerahkan lembaran terakhir yang ada di tangannya.


"Wah, terima kasih banyak, Bu! Semoga hubungan kalian langgeng lancar sampai nanti hari H." ucap sang kasir memberikan doa tulus.


"Aamiin,"


Setelah itu Arya san Indri kembali ke kantor karena jam makan siang telah habis.


...*****...


Kendaraan roda empat yang baru saja memasuki garasi sudah tak lagi mengeluarkan deru mesin. Sedetik kemudian, sang pengemudi bergerak keluar.


Pengemudi itu adalah Indri, gadis itu baru saja pulang dari tempatnya bekerja. Di sepanjang perjalanan tadi tak henti-hentinya dia tersenyum lebar selebar bintang iklan pasta gigi. Bahagia, itulah yang dirasakan gadis itu saat ini. Bahkan kebahagiaannya, membuat gadis itu nyelonong masuk begitu saja tanpa mengucapkan salam ataupun yang lainnya. Bahkan Indri tak tahu jika Mama nya yang sedang duduk di sofa sampai mengerutkan alis karena melihat tingkahnya.


Mama Sofie' melihat perubahan Indri. Jika biasanya dia sepulang kerja berjalan dengan langkah gontai, namun tidak dengan hati ini. Jika biasanya wajahnya nampak lelah, namun kali ini nampak berbinar.


"Apa yang membuat kamu bahagia, Nak! Sampai-sampai tidak sadar jika ada Mama di sini, dan Mama lihat sedari tadi kamu selalu tersenyum."


Tiba-tiba saja Mama Sofie bersuara membuat langkah Indri terhenti. Gadis itu memutar hingga bisa melihat dengan jelas Mamanya melangkah mendekat ke arahnya. Indri langsung mengangkat tangannya ke depan wajah hanya untuk memamerkan cincin yang tadi siang disematkan Arya di jari manisnya.


"Arya melamar kamu?" tanya Mama Sofie yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Indri.


"Wah, Mama benar-benar tidak menyangka jika akan secepat ini! Selamat ya, Sayang! Semoga Arya memang lelaki yang tepat untuk kamu."

__ADS_1


ucap Mama Sofie.


Wanita yang usianya tak lagi muda itu menarik tubuh sang putri salam pelukannya. Tak lama, pelukan itupun terurai.


"Sebenarnya, tadi Mas Arya ngajak Indri pulang ke rumahnya untuk memberitahu kabar bahagia ini sama Mama Amel,..."


"Ciyyeee, yang biasanya panggil Tante Amel, sekarang ganti jadi Mama Amel." goda Mama Sofie.


"Ish, Mama. Jangan gitu dong!"


Mama Sofie hanya terkikik geli.


"Sebenarnya, tadi Mas Arya ngajak Indri pulang ke rumahnya untuk memberitahu kabar bahagia ini sama Mama Amel, tapi Indri nolak, biar besok aja main ke rumah Mama Amelnya. Indri menolak juga karena tidak sabar ingin membagikan kabar ini sama Mama! Apa Mama bahagia mendengar kabar ini?" tanya Indri.


"Tentu saja sayang, kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan Mama."


"Terima kasih, Ma "


Indri kembali menghambur ke pelukan Mama nya.


...******...


Kabar mengenai Indri yang menerima lamaran si Arya akhirnya terdengar juga di telinga Marvell. Lelaki itu benar-benar tidak habis pikir dengan adik sepupunya itu yang terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Terlebih lagi keputusan mengenai masa depannya untuk berumah tangga.


"Bagaimana bisa Indri yang selama ini terkenal sebagai pribadi yang pintar dan selalu berpikir menggunakan logika, bisa termakan begiyubsaja oleh rayuan kadal buntung itu?" lirih Marvell yang baru mendengar kabar itu.


Marvell merasa bimbang, di satu sisi ia tak rela jika adiknya jatuh dalam dekapan Arya. Namun di satu sisi dia juga kesal pada adiknya yang tidak mau mendengar apapun tentang Arya dari orang lain.


Batin Marvell bergejolak, ia akhirnya memutuskan untuk menghubungi Indri. Panggilan pertama di tolak oleh Indri. Gadis itu sepertinya tahu apa yang akan Marvell katakan dan tanyakan. Belasan menit, Marvell tak berniat mengulang lagi panggilannya hingga membuat Indri yang menghubunginya.


"Halo, Mas Marvell. Ada apa? Maaf tadi kepencet, padahal mau angkat panggilan malah salah Klik tombol merah." ucap Indri berbohong. Marvell tahu hal itu, tapi dia tak ingin mempermasalahkan hal yang sepele.


"Mas, jika tujuan mas Marvell menelepon hanya untuk menyatakan ketidaksetujuan Mas Marvell dengan keputusanku menerima lamaran Mas Arya mending telepon ini dimatikan saja. Tau nggak sih, Mas Marvell itu sudah terjebak sama omongan wanita licik itu. Nissa hanya ingin mencari simpati dari Mas Marvell saja!"


Dari nada suaranya saja, Marvell bisa menebak jika gadis itu sedang dilanda emosi tingkat dewa.


"Aku hanya bertanya dan ingin memastikan saja. Jadi rasanya tidak perlu membawa-bawa nama Nissa!"


"Ya, aku memang menerima lamaran Mas Arya dan Mama juga sudah setuju. Dalam kehidupanku hanya kedua orang tuakulah yang berhak menentukan mau menerima atau menolak. Orang lain tidak ada hak sedikitpun." Kalimat terakhir Indri ucapkan dengan penuh penekanan. Gadis itu ingin mengingatkan Marvell agar tidak melampaui batasannya.


"Jika Mama atau Papa menentang keputusanku aku saja berani melawan dan menentangnya, apalagi jika penolakan itu berasal dari orang lain?"


Ucapan Indri membuat dada Marvell bergemuruh. Sedikitpun Marvell tidak mempunyai niat buruk. Marvell hanya tak ingin sangat sepupu salah ambil jalan.


"Tenang saja, In! Aku tidak berniat ikut campur, sebagai kerabat aku hanya ingin mengucapkan selamat. Semoga hubungan kalian langgeng."


"Makasih!" jawab Indri ketus.


"Ya sudah, hanya itu saja yang ingin aku katakan!" ucap Marvell.


Tanpa memberi respon, Indri langsung mematikan telepon itu begitu saja.


Untuk yang kesekian kalinya Marvell menggelengkan kepalanya melihat perubahan sikap Indri setelah mengenal Arya. Marvell pun menghembuskan nafas kasar lalu meletakkan ponsel nya di atas nakas.


...*****...


"Bagaimana Ar? Apa Indri menerimanya?" tanya Mama Amel saat ia bersama sangat putra duduk di meja makan. Saat ini mereka tengah makan malam berdua di rumah.


"Pasti diterima dong Ma! Siapa sih yang sanggup menolak pesona Arya? Nggak ada yang bisa, Ma!" ucap Arya yang terkesan sombong. Tapi bagi Mama Amel itu hal biasa.

__ADS_1


"Memang kamu anak Mama yang paling the best, Ar! Terus kenapa Indri nggak diajak kesini?"


"Katanya besok aja, Ma! Mungkin dia capek."


"Hadeh, padahal Mama sudah menyiapkan rencana sedemikian rupa."


"Rencana apa?Jangan bilang kalau Mama mau minta sesuatu sama Indri! Bukannya Arya sudah bilang jangan tergesa-gesa!"


"Astaga Ar, buruk banget sih pikiran kamu sama Mama. Rencana yang Mama jalankan itu, itu tuh!" ucap Mama Amel sambil menunjuk ke sudut ruangan dengan dagunya.


Arya menoleh ke arah tersebut, keningnya berkerut menatap sang Mama dengan sorot mata tak mengerti. "Sapu, pel, kemoceng, untuk apa semua alat itu? Mama mau ajak Indri kerja bakti?" tanya Arya asal.


"Ya enggak lah, sudah kamu jangan banyak tanya! Lihat saja besok! Sudah segera habiskan makanan kamu!"


Karena tidak mau pusing dengan ucapan sangat Mama, Arya segera masuk kamar untuk membersihkan diri.


Namun belum sempat membersihkan badan, pria itu mengambil ponsel dari dalam tasnya. Pria itu mendaratkan tubuhnya di atas kasur, sedangkan tangannya tengah menggeser-geser layar ponsel hingga menemukan satu nama, Nissa.


Arya berniat menghubungi Nissa untuk memamerkan jika dirinya baru saja diterima oleh Indri.


Satu kali panggilan tidak ada jawaban.


Dua kali panggilan tetap tak ada jawaban.


Baru di panggilan ke empat barulah terdengar suara merdu dari seberang sana.


"Mau apa kamu telepon aku? Belum cukup kamu usik hidup aku selama ini?" ucap Nissa ketus.


Sungguh dia terpaksa menerima telepon dari sang mantan. Meski nomornya pernah ia blokir tapi nyatanya Arya sampai rela membeli nomer baru dan kembali mengusiknya lagi hingga akhirnya Nissa pasrah dan membiarkan semua seperti ini.


Untuk mengganti dengan nomer baru itu bukan hal yang mudah. Banyak nomor-nomor penting yang harus ia hubungi dan itu membuang-buang waktunya. Ditambah laginitu sangat mengganggu karena akan berisik.


"Aku hanya ingin mengabarimu jika aku sudah berhasil melamar Indri tadi di kantor. Dan kamu tahu? Dia menerimaku dengan pancaran bahagia di wajahnya."


"Oh ya? Baguslah! Setidaknya setelah ini kamu akan berhenti mengusik hidupku." Nissa memutar bola matanya malas saat mendengar Arya pamer tadi.


"Apa kamu tidak cemburu?" tanya Arya.


Nissa tersenyum sinis meski tahu Arya tidak akan bisa melihatnya.


"Kenapa percaya dirimu begitu tinggi? Untuk apa aku harus cemburu? Sedangkan saat aku bersamamu saja, namamu tidak sepenuhnya terukir di hatiku! Jadi stop terlalu percaya diri karena itu sangat amat menjijikkan!" jawab Nissa penuh penekanan di akhir kalimatnya.


"Hallah, ngaku saja kalau kamu cemburu! Aku tidak masalah kok! Dan asal kamu tahu, aku tidak akan berhenti mengusik hidupmu Nissa. Karena kamu, hidupku jadi begini. Aku harus kembali menjadi karyawan biasa saja. Padahal tadinya aku sudah menjadi supervisor di tempatmu."


"Sudah? Hanya mau menyampaikan itu saja kan? Kalau sudah biar aku tutup teleponnya."


"Tunggu dulu! Jangan terburu-buru, masih ada yang mau aku katakan!"


"Cepatlah! Karena telingaku tidak cukup ruang untuk mendengarkan omong kosong mu itu."


"Meskipun kamu kaya, kamu cantik. Tapi faktanya Indri lah yang terbaik menurutku. Dia wanita yang lembut, perhatian, dan tidak sombong. Dan pastinya dia lebih menerima Mama aku dibandingkan kamu!"


"Em, baguslah kalau begitu. Aku harap otaknya Indri masih terus sengklek ya! Karena kalau dia sudah sadar dia pasti tidak akan mau hidup bersama keluarga toxic dan benalu seperti dirimu. Sekali lagi, aku ucapkan selamat, dan sampaikan juga salamku buat Indri. Selamat masuk di gerbang penderitaan."


Klik.


Sambungan telepon pun ditutup, Arya menggeram kesal lalu melemparkan ponsel nya ke atas kasur. Ia mengacak-acak rambutnya kemudian meninju angin.


"Nissa sialan! Kenapa kamu nggak cemburu sih? Harusnya kan kamu cemburu kemudian sadar kalau aku ini memang berarti buat kamu. Seandainya kamu mau balik lagi sama aku, dengan senang hati akupun akan menerimamu kembali. Karena bagaimanapun, kamu tetap nomer satu buatku, Nis. Lagian apa susahnya sih, kamu tinggal berikan apa yang Mamaku mau. Toh, perusahaan kamu itu lagi naik-naiknya. Ah, dasar Nissa nya aja itu yang pelit! Huh!"

__ADS_1


Arya pun akhirnya menuju kamar mandi sembari membawa handuk dari gantungan di balik pintu.


__ADS_2