
Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan antara Ibu dan anak itu. Keduanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya kendaraan roda empat sewaan yang dikemudikan Arya mulai masuk halaman rumah. Berhenti, hingga akhirnya suara deru mesin tak terdengar lagi.
Braaakkkk!
Arya menutup pintu dengan kasar membuat Mama Amel yang baru saja turun dari mobil berjingkat kaget. Arya langsung melangkah masuk tanpa mempedulikan Mama nya yang masih berdiri di tempat sambil geleng-geleng kepala.
Mama Amel menghembuskan nafas berat saat melihat Arya yang duduk di sofa sambil bersandar di punggung kursi. Kepalanya mendongak dengan mata terpejam, ditambah kedua tangannya yang merentang di sandaran sofa menandakan jika dia sedang berfikir dengan keras.
"Kamu masih memikirkan perjanjian pranikah itu? " tanya Mama Amel sambil duduk di sofa yang ada di seberang Arya. Arya kemudian membuka kelopak matanya kemudian menegakkan kepalanya meski masih dalam posisi bersandar. Pandangannya tertuju pada Mama Amel.
"Iya lah, Ma. Perjanjian macam apa itu, jika kita menggunakan harta yang didapat Indri sebelum menikah, maka Arya harus mengganti semuanya. Bahkan mereka berhak menyeret Arya ke jalur hukum. Dasar orang kaya, konyol sekali jalan pikiran mereka." gerutu Arya melampiaskan kekesalannya. Lelaki itu menghirup nafas dalam-dalam.
"Mama juga! Kenapa kayak gitu? Menyanggupi jika dia hari lagi kita akan kembali kesana tiga hari lagi. Padahal Arya niatnya membatalkan pernikahan saat itu juga. Untuk apa dilanjutkan sedangkan kita tidak berhak apapun atas milik Indri? Sedangkan tujuan Arya menikahi Indri ua untuk itu!"
"Sudahlah Ar, jangan terlalu memikirkan itu, perjanjian kan cuma sebatas tulisan di atas kertas saja. Kita tetap bisa menikmati semua milik Indri! Bukankah dia sangat bucin sama kamu? Tenang saja! Asal Indri tidak mengatakan apapun pada mereka. Pasti semua akan aman-aman saja! Bukan begitu?"
Arya terdiam meresapi setiap kata dan kalimat yang diucapkan sang Mama.
"Bucin dan bodoh itu beda tipis. Yang penting kita puji terus saja Indri. Kamu juga harus terus bersikap baik pada Indri. Maka gadis itu akan semakin jatuh cinta sama kamu. Buktinya sekarang dia yang membiayai semua pengeluaran dari lamaran sampai menikah, bukankah itu sudah cukup menjadi bukti kalau si Indri itu sangat bucin sama kamu?"
"Jadi maksud Mama, aku setuju saja sama perjanjian bodoh itu?"
Mama Amel mengangguk dengan sangat yakin.
"Tapi bagaimana bisa Ma? Rasanya sia-sia saja kan? Kita nggak bisa menikmati apa yang Indri punya. Kalau harus merintis dari awal, malas lah Ma!"
"Ish, kamu ini Ar! Percuma kamu sekolah tinggi-tinggi kalau soal beginian saja kami nggak paham!" ucap Mama Amel gemas pada Arya.
"Ya Mama juga sih! Makanya ngomong tuh yang jelas gitu lhoo!"
__ADS_1
"Sini Mama kasih tahu kamu. Setelah menikah nanti kan kamu bakal ajak Indri tinggal disini sama kamu, nah selama disinilah kamu bisa bermain cantik. Beri dia kasih sayang dan perlkukan dia seperti ratu, sedangkan Mama akan selalu menampilkan kebaikan si depan gadis itu. Selama itu pula kamu harus memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya. Kamu minta saja beli mobil misalnya, atau rumah dengan alasan rumah tangga sebaiknya punya hunian sendiri. Nah, nanti namakan semua aset atas nama kamu. Jadi nanti pas cerai kamu nggak rugi-rugi amat, kan kamu bisa alihkan semua atas nama Mama."
"Kok pakai nama Mama? Jadi punya Mama dong! Arya dapat apaan coba!"
"Makanya dengerin dulu jangan asal ngegas aja jadi orang. Jadi kenapa dialihkan pakai nama Mama? Biar tidak masuk gugatam harta gono gini nanti pas kalian cerai! Paham Gak?"
"Nanti kalau Papanya Indri gugat aku ke pengadilan gimana Ma? Gak maulah aku di penjara!"
"Gak akan kalau nggak ada bukti di beli pakai uang anaknya."
"Caranya?"
"Caranya ya kamu minta uang cash sama Indri. Jangan mau kalau di transfer. Itu bisa jadi bukti kalau uang itu dari dia. Dan nanti kamu bisa beralasan jika itu berasal dari uang tabungan kamu, makanya pakai nama Mama. Makanya Mama bilang minta aja cash, misalnya lima puluh juta dulu gitu. Nanti kamu masukkan setoran tunai atau lewat teller. Nah, gitu aja terus sampai uangnya terkumpul buat beli apa yang kamu inginkan! Paham kan maksud Mama?"
Arya menganggukan kepala membenarkan omongan Mamanya. Kini Arya merasa beruntung karena tadi tidak gegabah dan memilih membatalkan rencana pernikahannya dengan Indri.
"Ya sudah berarti rencana kita lanjut ya, Ma?"
"Betul! Anggap saja sebagai batu loncatan kita untuk menjadi setengah kaya. Nanti kalau ada yang lain lagi, yang lebih oke daripada Indri bisa lah nanti kamu jerat lagi. Punya wajah tampan buat apa kalau tidak dimanfaatkan?" ucap Mama Amel sambil terkekeh geli.
"Baiklah Ma, kalau gitu Arya ke kamar dulu, mau istirahat," jawab Arya.
Arya bangkit dari duduknya, kemudian pemuda tampan itu melangkah menuju kamarnya. Begitu didalam dia merogoh kantong celananya mengambil ponsel.
Lelaki itu lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi telentang, jemarinya menari di atas layar ponsel mencari kontak Indri.
[Besok aku ke rumahmu untuk bertemu Papamu, In. Tidak perlu menunggu hingga tiga hari lagi.]
Nampak centang dua abu-abu. Sang pemilik ponsel belum membuka pesan yang dia kirim.
__ADS_1
Sambil menunggu pesan itu mendapat balasan, Arya segera berganti dengan baju rumahan biasa. Setelah itu ia kembali berbaring dan kembali mengecek ponselnya yang ternyata bersamaan dengan pesan balasan dari Indri masuk.
[Alhamdulillah, aku lega Mas. Daritadi aku cemas, aku takut jika Mas Arya akan membatalkan rencana pernikahan kita.]
[Kenapa kamu harus takut dan cemas? Apa kamu meragukan ketulusan cinta dan kasih sayangku? Apa kamu juga berpikir jika aku menikahimu hanya karena harta yang kamu miliki, sama seperti Papa kamu? Astaga, In. Aku tidak segila itu. Aku tulus ingin menikah dengan mu karena aku benar-benar mencintaimu dengan tulus. Bahkan, jika orang tua kamu benar-benar menyita semua rekening ataupun uang dan aset yang kamu miliki sebelum kita menikah, aku tidak masalah. Sekali lagi akun tekankan, meski hal itu terjadi aku tidak akan menyerah dan mundur. Semua karena apa yang aku rasakan padamu itu tulus, In. Tanpa ada embel-embel apapun. Percayalah, kamu tidak perlu khawatir soal itu. Andai saja jarak rumah kita dekat, saat ini juga pasti aku udah kembali datang menemui Papamu, In.]
Arya membalas pesan Indri dengan kalimat yang sangat panjang sekali. Dan pastinya itu semua hanya bualan saja agar target tetap ada di pihaknya.
Sedangkan Indri sekarang tengah tersenyum setelah membaca pesan dari Arya. Andai logikanya bisa bekerja dengan baik dan benar, sudah pasti saat ini dia mual dan muntah setelah membaca pesan dari Arya.
[Sebenarnya, aku tidak memiliki perasaan seperti itu Mas. Aku hanya takut Mas Arya tersinggung dengan sikap Papa tadi lalu membatalkan pernikahan kita.]
"Astaga, bodoh sekali gadis ini. Ya Tuhan, masih ada ya jaman sekarang gadis seperti dia."
Arya terperangah tak percaya saat membaca pesan dari Arya. Ternyata Mama nya benar, antara bodoh dan bucin itu bedanya tipis. Akan mudah nantinya bagi Arya untuk meminta segala sesuatu yang dia inginkan pada Indri.
[Enggak sayang, kamu tenang saja ya! Aku dan Mama sama sekali tidak tersinggung dengan sikap Papa kamu. Wajar saja jika Papamu melakukan hal itu. Kami cukup tahu diri kok, In.]
[Maaf ya, Mas.]
[Santai saja, In.]
Indri hanya membaca pesan terakhir dari Arya tanpa membalas. Ia sudah cukup tenang dengan apa yang dikatakan oleh Arya dalam pesan.
Indri yang tak bisa membendung rasa bahagia segera berlari mendatangi kedua orang tuanya yang saat ini masih duduk bercengkerama di sofa ruang tamu. Wajah Indri tampak berbinar dan senyum cerah menghiasi wajahnya. Sangat berbanding terbalik dengan saat Indri meninggalkan kedua orang tuanya tadi.
"Ma, Pa. Besok Mas Arya akan kesini untuk menandatangani surat perjanjian pra nikah tadi. Jadi Papa tidak perlu khawatir dengan ketulusan dan kesungguhan Mas Arya untuk menikahi Indri."
...☆࿐ཽ༵༆༒ 𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈 ༒༆࿐ཽ༵☆...
__ADS_1