Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Lagi-lagi Drama


__ADS_3

"Sudahlah, Mel! Berhentilah kamu berdrama di depanku dan juga suamiku! Karena kami sudah tahu semua kelakuan busuk kamu dan juga putra kesayangan mu itu. Wajar jika Indri menghajar putramu, karena doa harus mempertahankan dirinya. Masih untung pusaka anakmu tidak dibuat putus! Bisa kamu bayangkan, perempuan mana yang akan mau menerima putramu itu jika pusakanya putus!" ucap Mama Sofie kesal.


Wajah Arya dan Mama Amel memerah menahan amarah karena bagi mereka, ucapan Mama Sofie tadi adalah sebuah penghinaan bagi mereka.


"Tutup mulut sampahmu itu, Sofie! Anakmu itu liar, pembawa sial! Sekarang juga, berikan yang untuk pengobatan anakku!" ucap Mama Amel emosi.


"Tidak akan ada uang, dan tidak akan ada pengobatan! Itu hukuman setimpal untuk manusia seperti kalian! Sekarang juga, kalian segera pergi dari sini!"


Mama Sofie berjalan dengan cepat ke arah Mam Amel dan Arya tanpa mereka berdua sadari. Dengan cepat, Mama Sofie mendorong kursi roda yang Arya duduki hingga sampai di pintu kamar. Dengan sekali gerakan, Mama Sofie menutup pintu itu. Arya berusaha menahan dengan tangannya. Tapi karena kondisinya yang tidak memungkinkan membuat Arya gagal menahan pintu kamar rawat mertuanya itu. Ditambah lagi, Mama Sofie dibantu Indri menutup pintu itu.


Dan hal itu membuat geram Arya dan Mama Amel, mereka merasa harga diri mereka sudah dikoyak. Belum apa-apa tapi mereka sudah ditolak.


"Oke! Kita jalankan rencana yang tadi sudah kita rancang, Ar!" ucap Mama Amel yang segera diangguki oleh Arya.


Mama Amel segera mengambil obat tetes mata yang sudah dia siapkan sebelumnya dari dalam tas tangan yang dia bawa. Kemudian, wanita itu menetaskan pada kedua sudut matanya.


Dengan cepat, Mama Amel mendudukkan pantatnya di atas lantai rumah sakit. Kemudian dia mulai memasang wahah menyedi9lalu menangis.


"Apa slah dan dosaku Tuhan! Aku sudah memperlakukan menantuku dengan baik. Tapi kenapa dia tega melakukan ini semua?" ucap Mama Amel mulai meraung mencari perhatian orang-orang yang ada disekitarnya. Dan tanpa diketahui keluarga Indri, usaha Mama Amel berhasil menyita perhatian orang-orang.


"Ma, sudah. Jangan seperti ini. ... " ucap Arya sambil mengusap lembut pundak Mamanya yang sedang duduk di lantai dan menangis tersedu-sedu.


"Jangan seperti ini bagaimana maksud kamu, Ar? Dia sudah keterlaluan lho! Mama sudah meratukan dia di rumah, tapi lihat apa yang sudah dia lakukan padamu?"


"Ada apa ini?" tanya salah seorang yang saat ini sedang berkumpul melihat drama yang disutradarai Mama Amel. Arya dan Mama Amel semakin memelaskan wajahnya.


"Sebenarnya ini urusan keluarga kami Pak, Bu. Maafkan jika Mama saya sudah mengganggu semuanya dengan suara tangisnya." ucap Arya.


Kini Arya mensejajarkan tubuhnya dengan sang Mama yang masih bersimpuh di lantai.


"Ma, sudah. Ayu kita pulang saja. Malu dilihat banyak orang. Jangan menangis lagi." ucap Arya sambil mengulurkan tangan mencoba membantu Mamanya berdiri. Dan tentu saja uluran tangan itu ditepis kasar oleh Mama Amel demi menambah kesan meyakinkan drama yang saat ini mereka perankan.


"Biarkan saja, Arya! Biarkan semua orang tahu bagaimana kelakuan istri kamu dan keluarganya itu. Biarkan saja semua orang tahu betapa zalim nya mereka pada kita berdua. Mama benar-benar sakit hati pada istrimu itu, Ar! Sesak dada Mama karena perlakuan istri kamu." Mama Amel kian memainkan sandiwara nya. Bahkan, ia menyempurnakan kisahnya itu dengan memukul-mukul lantai di sampingnya.


"Ma, sudahlah. Kita pulang saja ya. Semua bisa dibicarakan baik-baik, Ma!" ucap Arya sok bijak.

__ADS_1


Sungguh, adegan yang Mama Amel dan Arya suguhkan lebih menarik daripada sinetron yang biasa tayang di stasiun ikan terbang.


Mama Amel dan Arya makin bersorak meski dalam hati karena semakin banyak orang yang mengerubungi mereka demi menyaksikan tontonan yang saat ini mereka sajikan.


Mama Amel kemudian berdiri dan melihat Arya dengan tajam. "Kamu masih membela mereka setelah apa yang mereka lakukan pada kita?" tanya Mama Amel pada Arya sambil menunjukkan daun pintu kamar rawat Papa Nando yang saat ini tertutup rapat.


Wanita itu menarik nafas dalam-dalam menghayati peran yang ia mainkan.


"Orang tua mana yang tega melihat anaknya diperlakukan seperti ini? Coba katakan orang tua mana, Ar? Mama yang sudah melahirkan dan membesarkan kamu tidak pernah sekalipun Mama menyakiti kamu. Tapi apa? Coba lihat! Apa yang sudah istri dan keluarganya lakukan padamu! Lihat, dia sudah membuatmu babak belur seperti ini, sampai untuk berjalan pun kamu kesusahan hingga harus duduk di kursi roda. Dan kamu masih saja membelanya, Ar?" pekik Mama Amel pura-pura memarahi Arya.


Pengunjung yang mengerubungi Mama Amel dan Arya mulai bisa menarik kesimpulan hingga terdengar kasak kusuk. Dan semua yang ada disana merasa sedih, tidak tega melihat kondisi Arya dan Mamanya. Bahkan beberapa diantara mereka ada yang mengutuk perbuatan istri Arya.


"Sudah habis kesabaran Mama melihat perlakuan istri kamu, Ar! Sudah membuatmu bonyok seperti ini, bahkan sekarang dia membawa lari semua uangmu untuk membiayai perawatan mertuamu itu. Sakit hati Mama, Ar. Bahkan untuk biaya berobat kamu saat ini saja, kamu sampai tidak punya uang." Mama Amel terisak semakin keras, dan kasak kusuk pun semakin terdengar.


Ucapan penuh sandiwara itu terdengar jelas di telinga keluarga Papa Nando. Sedari tadi mereka memang lebih memilih diam dan mendengarkan sandiwara yang saat ini dimainkan oleh Mama Amel dan Arya. Namun kali ini, Mama Sofie sudah tidak bisa lagi membendung amarah yang dia rasakan.


"Wah, main sandiwara dia In. Ayo kita beri mereka pelajaran."


"Ma, In. Maaf ya, Papa nggak bisa bantu kalian. Kepala Papa masih pusing, dan badan Papa rasanya masih lemas."


"Sudah Pa, Papa tenang saja. Biarkan ini menjadi urusan emak-emak. Papa percaya kan dengan slogan " The Power of emak-emak!" jawab Mama Sofie sambil terkekeh menenangkan suaminya yang masih dalam proses pemulihan. "Mama pastikan mereka akan menyesal sudah berani datang kemari dan membuat drama menjijikkan disini." lanjut nya.


Mama Sofie menyingsingkan kedua lengan bajunya. Kemudian dia melangkah ke depan diikuti oleh Indri.


"Ma, tunggu!" panggil Papa Nando membuat langkah Mama Sofie dan Indri terhenti lalu menoleh ke arah Papa Nando.


"Stop Pa! Jangan larang Mama meremas moncong mereka!"


"Siapa yang mau menghalangi Mama. Papa justru mau memberikan semangat dan dukungan buat Mama."


"Terus kenapa tadi Papa manggil Mama?" tanya Mama Sofie.


"Mereka playing victim Ma. Mereka membuat sandiwara seolah-olah Indri yang berbuat jahat pada mereka. Putar video ini dan keraskan volumenya. Tunjukkan pada mereka semua yang ada disana. Papa sangat yakin jika di depan sama sangat ramai."


Papa Nando menyerahkan ponselnya pada Mama Sofie. Wanita itu mengangguk kemudian melangkah mendekat dan mengambil alih ponsel yang di ulurkan oleh suaminya itu.

__ADS_1


Setelah ponsel berpindah tangan, Mama Sofie kembali melangkah. Dan benar saja, saat pintu dibuka disana ada belasan orang berkerumjn didepan nya.


"Lihatlah, kalau Mama tidak melakukan ini keluarga istrimu itu tidak akan pernah keluar." bisik Mama Amel di telinga Arya. Senyuman sinis terbit dari kedua bibir mereka mesti tipis dan samar.


"Oooh, jadi ini istrinya. Cantik siiiiih, tapi...... "


"Nampaknya sih orang kaya dan berada, dirawat pun di kamar VVIP, tapi kok biaya rawat nya masih ngambil dari uang menantunya ya... "


Berbagai kalimat gunjingan pun terdengar di telinga keluarga yang saat ini jadi pusat perhatian banyak orang yang berkumpul saat ini.


Arya dan Ma Amel tersenyum saat melihat orang-orang ada di pihaknya. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Indri dan Mama Sofie.


"Kalian percaya dengan apa yang dikatakan dia orang iblis berwujud manusia itu? Iya?" Mama Sofie menatap tajam satu persatu orang yang ada depannya saat itu.


"Kalian percaya jika putriku di ratukan di rumahnya? Asal kalian tahu, putriku ini adalah korban dari sikap busuk mereka! Jangan pernah menghakimi seseorang dan mengeluarkan pendapat yang menjatuhkan jika kalian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi!"


Mama Sofie menatap tajam pada Mama Amel.


"Asal kalian tahu, di Istana mereka, putriku ini diperlakukan dengan kejam dan biadab layaknya hewan, lihat wajah putriku yang penuh lebam itu! Lihat!" teriak Mama Sofie. "Apa mereka memiliki dan menunjukkan bukti dari apa yang mereka katakan tentang putriku? Tapi aku punya buktinya, semua terekam jelas disini!" ucap Mama Amel sambil menunjukkan ponsel milik Papa Nando tadi.


Kini, ganti Mama Sofie yang menatap Mama Amel dan Arya dengan tatapan yang mematikan.


Sedetik kemudian dan hanya dengan sekali sentuh, berputar sebuah video dengan suara yang kencang maximal.


"Gila ya! Tadi kirain korban, eh ternyata malah pelaku utama! Fix ini pengikut sinetron ikan terbang."


"Iiih, jahat banget! Maling teriak maling ini mah! Udahlah benalu, masih aja belagu pakai sikda istrinya. Eh masih juga fitnah istrinya!"


Dan masih banyak lagi cibiran yang keluar dari mulut netizen yang sedari tadi sudah meluangkan waktu untuk melihat drama kolosal karya Mama Amel dan Arya.


Mendadak wajah Mama Amel dan Arya menjadi pucat, mereka bingung dan berpikir keras. Bagaimana bisa kejadian tadi pagi bisa sampai dan ada di tangan Mama Sofie? Belum tahu saja mereka, jika tidak hanya satu video yang ada di tangan Mama Sofie. Jika disatukan, mungkin hasilnya mirip sinetron berkah.


"Kenapa? Apa kalian bingung darimana aku dapat video seperti ini? Kalian tidak perlu membuang tenaga dan repot berpikir darimana aku bisa dapat rekaman video seperti ini. Aku dan suamiku mengetahui semua yang sudah kalian lakukan pada putri kesayanganku. Tapi saat ini aku belum tertarik untuk mengurusi hal macam ini karena suamiku sedang sakit. Tapi ingat! Jangan pernah kalian mengusik Indri ataupun keluargaku sekalipun itu hanya sehelai rambutnya. Jangan panggil namaku Sofie jika aku tidak bisa membuat hidup kalian serasa di neraka!"


Dengan nafas tersengal Mama Sofie menatap besan sekaligus mantan sahabatnya dan juga menantunya yang sebentar lagi bisa dipastikan jika mereka akan berganti status. Keduanya bahkan tidak berkutik sedikitpun dengan bukti yang telah dibeberkan oleh Mama Sofie di hadapan semua orang yang berkerumun dari tadi.

__ADS_1


Mama Sofie berjalan mendekati Mama Amel, kemudian dia berbisik di telinga besannya itu. "Cepat bawa anakmu yang nggak berguna itu pergi dari sini! Jika tidak, maka aku tidak akan segan-segan lagi melaporkan semua yang telah kalian lakukan pada putriku. Dengan semua bukti yang kupunya, aku yakin kalian berdua akan sukses membusuk di penjara!"


...-\=₪۩۞۩₪\= нαρρу яєα∂ιηg \=₪۩۞۩₪\=-...


__ADS_2