
š Waktu terlewat begitu saja, aku memintal rindu menyesali mengapa kata cinta itu tak pernah terucap. Kini kedua netra ini hanya mampu menatapmu bagai bayangan, dipenuhi kedukaan melepas kasih yang tak pernah sampai š
Ayunda Kirana
- Flashback on Abimana -
Mentari kembali ke peraduan, berganti hadirnya sang dewi malam dengan keindahan sinar cahaya kartika nan gemerlap. Kidung kerinduan sang pemilik alam terdengar menggema. Para hamba bersujud, ruku' dengan khusyuk.
Selepas isya, Abimana dan Kirana pergi ke mini market milik sahabat mereka dikala SMA, Fahrie. Mereka berdua berboncengan dengan mengendarai sepeda motor milik si gadis konyol.
Sesampai tempat tujuan, Abimana menaruh sepeda motor milik Kirana di parkiran. Begitu memasuki mini market, betapa terkejutnya mereka melihat pemandangan yang membuat hati lara. Nampak sepasang suami istri sedang bercengkrama dengan sangat mesra. Beruntung mereka berdua memakai masker untuk menutupi wajah.
Kirana bersegera mengajak Abimana untuk berjalan menjauhi sepasang suami istri itu.
"Bima, apa kamu sanggup melihat Alya dan Raikhan yang terlihat sangat mesra?"
Tangan Abimana mengepal dengan erat, mata si pria tampak memerah karena luapan api cemburu. Abimana menjawab pertanyaan Kirana dengan suara gemetar, "Sebenarnya aku tidak sanggup, Kiran. Namun luapan kerinduan ini sudah tidak mampu terbendung. Demi Alya, aku akan berusaha kuat menahan perasaan yang sesakit apapun."
Kirana membuang nafas kasar, "Hufff, rupanya aku tidak sekuat dirimu Bim. Melihat mereka berdua yang teramat mesra, ingin rasanya aku berlari meninggalkan planet ini. Andai aku seorang Dewi Candra Kirana, pastinya akan segera terbang menembus langit ketuju."
"Hissshhhh, dalam keadaan seperti ini masih saja sok puitis Ran."
"Siapa yang sok puitis?? Memang ucapanku kan selalu puitis, tidak sepertimu ... kaku."
"Hemmmmzzz. Ran, apa perasaanmu teramat sakit melihat Raikhan begitu mesranya memperlakukan Alya?"
"Jelas, sangatttttt sakit Bim. Tapi apalah dayaku mencintai tanpa dicintai." Kedua netra Kirana nampak berkaca - kaca. Terbayang olehnya kenangan indah saat duduk di bangku SMA bersama Raikhan. Mereka berdua selalu menghabiskan hari dengan bercanda. Bahkan, Kirana selalu membawakan bekal makanan untuk sahabatnya yang teramat dicintai. Bila ada teman yang bertindak kasar pada Raikhan, tidak segan - segan si gadis tomboy mengeluarkan jurus bogem mentahnya.
Namun karena Raikhan selalu menganggap Kirana hanya sekedar sahabat sekaligus teman berkelahi, si gadis tomboy memilih memendam perasaan cintanya yang teramat tulus hingga saat ini.
Tak terasa buliran - buliran bening menetes membasahi wajah cantik Kirana. Abimana yang menyadari sahabatnya sedang menangis segera mengeluarkan sapu tangan dari saku celana, dan bersegera menghapus tetesan air mata yang membasahi wajah si dokter cantik.
"Sudah Kiran, jangan menangis lagi! Kamu yang menyuruhku untuk ikhlas dan tegar menerima kenyataan pahit ini, mengapa si gadis tomboy malah terlihat tidak bisa tegar?"
"Aku hanya seorang wanita yang memiliki sisi lemah dan rapuh Bim. Meski berusaha ikhlas dan tegar, namun luapan kesedihan tak mampu terbendung." Jawab Kirana dengan terisak.
"Aku memahaminya Kiran. Lihatlah, mereka sudah keluar dari mini market!"
Pandangan kedua netra mereka tertuju pada Raikhan dan Alya yang tengah berjalan menuju pintu keluar mini market, dengan saling melingkarkan tangan di pinggang.
Ada guratan rasa kecewa, sedih, cemburu yang terukir diraut wajah mereka berdua.
"Bim, kita temui Fahrie sekarang yuk!" Ajak Kirana dengan menarik pergelangan tangan sahabatnya.
__ADS_1
"Baiklah Ran."
*****************
Setelah bertanya kepada kasir mini market yang bernama Nara, Abimana dan Kirana menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Nampak Fahrie sudah menunggu di ruangan kantor admin mini market.
"Asalamu'alaikum." Kirana mengucapkan salam sebelum mereka berdua memasuki ruangan.
"Wa'alaikumsalam. Ehhh dokter cantik sudah datang. Silahkan masuk Bu Dokter dan Pak Dosen!" Fahrie membalas ucapan salam Kirana sembari mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk ke dalam ruangan.
Abimana dan Kirana melangkahkan kaki memasuki ruangan.
"Silahkan duduk!" Fahrie mempersilahkan keduanya untuk duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut. Mereka pun beranjak duduk.
"Abim, bagaimana kabarmu Sob? Sudah lama kita tidak bertemu." Fahrie dan Abimana saling berjabat tangan.
"Hemmm, tidak terlalu baik Rie."
"Bersabarlah Bim! Kirana sudah menceritakan semuanya kepadaku. Sahabat lamamu ini akan mendukung dan membantu rencana yang sudah kalian atur. Namun ada syaratnya ...." ucap Fahrie dengan mengerlingkan mata nakalnya ke arah Kirana.
"Syaratnya apa Rie?" tanya Abimana dengan mengerutkan kening.
"Syaratnya, Kirana harus bersedia menjadi istri ketigaku, hhhhhhahahaha."
Kirana memilih diam, karena sangat mengerti kebiasaan Fahrie yang suka membuat lelucon receh.
"Hishhhh, santai Bro! Aku hanya bercanda. Kalaupun serius, aku yakin Kirana juga tidak akan berkenan, meski itu demi sahabat yang sedang bernasib malang, seorang Abimana." Fahrie semakin tertawa lebar.
"Cihhhh, candaanmu sungguh tidak lucu Rie. Awas saja kalau kamu berpikiran serius untuk menjadikan Kirana istri ketiga. Lebih baik rencana ini dibatalkan." Kedua mata Abimana memerah, menampakan kemarahan, karena candaan Fahrie yang terkesan keterlaluan.
"Hhhehe, aku minta maaf Bim. Amarahmu membuatku teramat takut. Okey, aku benar - benar akan membantumu tanpa persyaratan dan pengajuan balas jasa apapun. Namun maaf, selama kamu menyamar sebagai karyawan di mini market ini, aku hanya bisa membayar kinerjamu dengan separuh gaji, tanpa makan siang."
"Aku bersedia, asal kamu tidak mengajukan persyaratan yang aneh - aneh."
"Baiklah Abimana. Mmm, bagaimana Kirana, kamu juga menyetujuinya?"
"Jika Bima sudah mantap dengan rencana ini, aku juga akan menyetujuinya. Soal makan siang, biarlah aku yang akan memesankan makanan untukmu Bim. Jadi jangan khawatir akan kelaparan selama bekerja rodi di mini market yang sebenarnya kurang banyak pelanggannya." Cibir Kirana.
"Haaahhhh, kamu memang ahlinya bersilat lidah Ran."
"Jangankan hanya bersilat lidah Rie, bersilat dalam artian sebenarnya pun aku bisa mengalahkanmu." Ucap Kirana dengan nada santai namun seolah mengancam.
__ADS_1
Fahrie bergidik ngeri, manakala terbayang bogem mentah khas sang jawara kelas, Kirana si gadis tomboy.
"I ... iya, aku percaya kamu memang selalu menang."
"Selama Bima melakukan penyamaran, jangan coba - coba memberikan pekerjaan yang terlalu berlebihan! Dan ingat, jangan sampai ada yang mengetahui rencana kita!"
"Bbbaa ... baik Kiran. Mungkin aku hanya akan memberi tau Nara, supaya ia bisa membantu Abimana."
"Hemmm, asal kamu bisa menjamin gadis itu tidak ember."
"Aku jamin, Kiran."
"Baiklah, aku pegang ucapanmu. Kapan Bima bisa memulai penyamarannya?"
"Besok juga bisa, terserah Abimana, kapan pun bisa."
"Okay, Bima akan memulainya besok pagi."
"I ... iya, silahkan! Aku sudah mempersiapkan seragam untuk Abim." Fahrie menyerahkan paper bag yang berisi seragam untuk Abimana. Kirana menerima paper bag itu dengan menyunggingkan seulas senyum.
"Trimakasih Babang Fahrie. Kami pamit dulu, karena sudah semakin malam."
"Sama - sama Kirana. Maaf aku tidak bisa mengantarkan kalian sampai ke lantai bawah."
"Tidak masalah Fahrie, karena aku yakin, kamu masih gemetaran membayangkan kelihaianku dalam hal bersilat." Kirana memperlihatkan senyuman miring pada Fahrie, salah seorang sahabat dari SMA yang sering bertingkah kurang menyenangkan.
Fahrie hanya bisa menunduk dan tidak berani menatap gadis cantik namun tomboy, yang masih berada di hadapannya.
Abimana dan Kirana beranjak dari duduk, kemudian si pria tampan mengucapkan salam, "Asalamu'alaikum Fahrie."
"Wa'alaikumsalam, Bim. Hati - hati di jalan!"
Abimana membalas ucapan Fahrie dengan menganggukan kepala disertai senyuman khasnya yang menawan.
Abimana dan Kirana melangkahkan kaki keluar dari ruangan. Perlahan mereka menuruni anak tangga, dan berjalan menuju pintu keluar.
Setelah keluar dari mini market, Abimana dan Kirana tertawa lepas mengingat raut wajah Fahrie yang tegang.
Angin malam semakin menusuk hingga ke relung rasa. Dengan berboncengan, mereka berdua kembali pulang ke rumah, menembus keramaian kota Jogja.
ššššššššššššš
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, komentar, rate 5, dan vote jika berkenan mendukung author.
Trimakasih ššš