Cinta Gadis Biasa "Alya"

Cinta Gadis Biasa "Alya"
[POV.AUTHOR] Bertemu Dia...


__ADS_3

Setelah acara tasyakuran dan pengajian tujuh bulanan selesai, Raikhan beserta keluarga melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah, di Mushola.


Usai menjalankan sholat, mereka mampir ke Puri Mataram, yang letaknya berdekatan dengan Kampung Flory.


Raikhan berjalan dengan tangannya yang selalu menggenggam tangan sang istri, begitu juga dengan Papa Abraham, tangan beliau menggenggam tangan Mama Shela dengan erat....


Sedangkan Ibu, berjalan dengan diapit kedua putri cantiknya. Mereka berdua, memegang lengan beliau.


Rombongan keluarga itu, secara bergantian melewati jembatan gantung yang menghubungkan antara Kampung Flory dan Puri Mataram.


"Mas, jembatan gantung ini terbuat dari bambu yang berkesan sangat artistik ya..." Mata Alya berbinar, nampak senyum merekah menghiasi wajah ayunya.


"Iya Sayang.., ada ranting – ranting bambu yang juga menjadi hiasan. Ditambah lagi ornamen bambu yang dapat berbunyi ketika tertiup angin.... Sehingga menjadi daya tarik, bagi siapa pun yang melewatinya..."


Mereka terus berjalan, hingga sampailah di ujung jembatan. Kemudian, mereka melangkahkan kaki menikmati keindahan alam yang tersaji di Puri Mataram. Di tempat itu terdapat kebun bunga yang sangat menawan. Nampak hamparan bunga yang bermekaran, layaknya taman kerajaan. Ada juga taman kelinci, wahana air, joglo, pasar Ndelik, dan masih banyak lagi wahana dengan konsep alam lainnya.


"Pa, kita ke pasar Ndelik yukkk...! Mama mau beli jajanan pasar..."


"Baiklah Ma.., ajak yang lain juga ya...!"


"Iya donk Cintakuhhh..." Mama Shela mengajak rombongan keluarganya, untuk mencicipi jajanan pasar yang dijual di pasar Ndelik.


"Alya sayang, mau makan apa nich..?" Mama Shela bertanya pada menantu kesayangan, dengan seulas senyum menghiasi bibirnya.


"Alya ingin makan klepon dan cenil..., Ma.." Balas Alya dengan penuh semangat.


"Baiklah Sayang..." Mama Shela pun bertanya pada Ibu dan kedua putrinya. Mereka memesan pisang goreng, jenang, dan pecel.


Sebelum Mama Shela membayar semua makanan yang dipesan, Raikhan mendahuluinya terlebih dahulu.


"Ma..., bayarnya bukan dengan uang yang bernilai rupiah...."


"Lohhhh, terus pakai apa Rai....?


"Pakai ini lho Mama...." Raikhan memperlihatkan uang pandel yang ia bawa.


Mama nampak keheranan. Raikhan dan Alya yang melihat ekspresi Mama Shela, tersenyum lebar.


"Ini namanya uang pandel Ma... Uang yang terbuat dari kayu, digunakan sebagai alat tukar di Pasar Ndelik. 1 pandel bernilai Rp 1.000, yang dapat ditukarkan sebelum masuk ke Pasar Ndelik. Sisa pandel tidak dapat diuangkan kembali, namun dapat digunakan untuk hari kemudian...., Ma..."


"Owhhhh...., hhhhahhhaha... Mama jadi malu.. Biasanya Mama yang lebih pintar dari kamu Cintakuhhh...."


"Hmmmm..., lebih pintar dalam hal apa dulu...?" Raikhan menyindir sang Mama, ia pun segera membayar semua pesanan makanan dengan uang pandel.


Mereka duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu, sambil menikmati berbagai macam jajanan pasar yang telah dipesan.


"Mbak Alya, si dedek gerak-gerak..." Ucap Asti, sedikit berteriak. Sontak membuat pandangan mata yang lainnya pun, tertuju pada perut Alya yang sudah nampak membesar, dan terlihat tonjolan yang berpindah-pindah.

__ADS_1


Nampak binar kebahagiaan terpancar dari pandangan mata mereka.


Raikhan segera mengelus perut sang istri dengan kasih sayang.


"Hai putri kecil.., gerakanmu lincah sekali... Pasti Putri kecil Papa dan Mama, suka ya makan jajanan pasar...?" Ingin rasanya Raikhan menciumi perut istrinya, namun ia malu jika menjadi pusat perhatian.


"Iya Papa tamfannn....." Balas Alya menirukan suara anak kecil.


Mereka yang mendengarnya pun tertawa... Nampak sekali kebersamaan diantara semua anggota keluarga yang dinaungi kebahagiaan serta kehangatan. Dan anugerah ini..., semoga bukan hanya sesaat dapat dirasakan....


"Mas..., sepulang dari Puri Mataram, kita ke rumah Ibu dulu ya...! Alya merindukan gubug Ibu..."


"Iya Sayang... Nanti kita ke rumah Ibu dulu.." Balas Raikhan dengan menatap sang istri, bibirnya menampakan senyuman yang menawan.


Setelah selesai menikmati semua jajanan pasar, mereka pun mulai beranjak dari duduk, dan berjalan beriringan meninggalkan Puri Mataram.


*********************


Raikhan dan keluarga sudah sampai di rumah Ibu yang sangat sederhana, kecuali Papa Abraham dan Mama Shela. Kedua pasangan yang tak lagi muda itu, memutuskan untuk langsung pulang ke rumah mereka.


Raikhan dan istrinya, tengah berada di kamar yang dulu sebagai tempat tidur Alya. Mereka duduk di pinggir ranjang sembari bercengkrama.


"Mbak Alya..., ada tamu..." Suara Hana dari luar kamar.


"Siapa Hana..?" Balas Alya sedikit berteriak.


Raikhan memanggil Alya dengan suaranya yang terdengar lembut..., hingga membuyarkan lamunan istri tercinta.


"Sayang...."


"Eh..., oh... Iya Mas..."


"Kenapa malah melamun..? Ada tamu yang sudah menunggu lho..."


"Iya Mas.., ayo kita menemuinya Mas..!" Alya beranjak dari duduk dan diikuti oleh Raikhan.


"Sayang..., siapa si Dimas itu?" Tanya Raikhan dengan menatap Alya, dengan tatapan menyelidik.


"Dia sahabatku dari kecil Mas..."


"Owhhh..., Mas kira mantan Sayang, atau pengagum istriku tercinta..." Alya hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya.


Mereka pun berjalan keluar kamar, menuju ruang tamu. Nampak Dimas beserta seorang wanita cantik dan seorang anak laki2 berumur sekitar dua tahun.


"Dimas..." Mata Alya berkaca-kaca melihat sahabatnya. Ia tidak pernah menduga bisa bertemu dengan pria itu lagi, setelah terakhir pertemuan mereka di bandara. Ketika itu, Alya mengantar Dimas ke bandara. Betapa sedihnya saat melepas kepergian sahabatnya dulu..., namun beruntung ada Mas Abi yang tiba2 datang untuk menghibur Alya. Saat itulah, untuk pertama kalinya Alya bertemu dengan sosok pria perfect, Abimana.


"Alya... Wuiichhhh, akhirnya kamu menikah dengan pria tampan Sob..." Mata Dimas pun nampak berbinar. Kebahagiaan tergambar dari raut mukanya.

__ADS_1


"Hhhehe, iya Dim.... Kog kamu tau, aku sedang berada di rumah Ibu, Sob...?"


"Asti yang memberitahu, karena dua hari yang lalu, kami sudah mengunjungi rumah Ibu. Kebetulan kami sedang liburan di Jogja, selama seminggu Al..."


"Hmmm.., selamat berlibur untuk kalian.." Alya menampakan seulas senyum kebahagiaan.


"Iya, trimakasih Al..." Balas Dimas, yang juga disertai senyuman.


Raikhan dan Alya menjabat tangan Dimas, dan istrinya, Sofia.. Alya maupun Dimas, tidak lupa memperkenalkan pasangan mereka masing2.


Kini mereka berempat duduk dengan saling berhadapan.


"Ini putra kalian..?" Tanya Alya sembari mentowel-towel pipi gembul anak lelaki kecil nan imut. Pipinya yang gembul terlihat seperti bakpao.


"Iya Al.., itu putra kami. Istriku ini juga tengah mengandung buah hati kami lho Sob..."


"Oya...? Berapa bulan Fi usia kandunganmu..?" Alya melontarkan pertanyaan yang membuat istri Dimas tersenyum penuh kebahagiaan.


"Baru menginjak usia tiga bulan Al..."


"Alhamdulillah..., semoga kita diberi kemudahan dan kelancaran ya Fi, ketika melahirkan nanti..."


"Aamiin, iya Al...."


Sungguh tidak dapat Alya percaya, Dimas yang sekarang, terlihat sangat bahagia bersama keluarga kecilnya. Teringat saat ia harus memutuskan hubungannya dengan Dimas, yang hampir menuju ke jenjang pernikahan, karena rahasia pria itu terbongkar. Sosok Dimas yang merupakan sahabat sekaligus kekasih Alya, ternyata sudah menghamili seorang wanita, anak dari direktur, atasan Dimas. Meski kejadian itu, sepenuhnya bukan kesalahan Dimas. Saat itu, ia dijebak oleh Sofia, hingga hubungan terlarang diantara mereka pun terjadi.


Ketika mengetahui kenyataan yang begitu pahit, Alya merasa teramat sakit hati.. Bukan karena rasa cintanya terhadap Dimas, namun ia merasa seolah dibohongi dan dikhianati. Alya menerima Dimas sebagai kekasih, bukan karena perasaan cinta, namun rasa kasihan dan salut atas ketulusan cinta Dimas kepadanya.


********************


Asti nampak berjalan ke ruang tamu dengan membawa nampan yang berisi lima gelas teh hangat dan camilan.


"Silahkan diminum dulu teh nya..., Mbak.., Mas...!" Ucap Asti mempersilahkan mereka.


Setelah mengucapkan trimakasih kepada Asti, mereka pun mulai menyesap kehangatan teh nasgitel....


Dan perbincangan mereka berlanjut.....


šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–


Haiii readerss....


Mohon maaf di episode-episode yang mungkin akan menuju end, author akan mengulas kembali masa lalu Alya yang dipenuhi dengan lika-liku cinta yang terasa rumit, bagi seorang gadis biasa. Hingga kehadiran sosok Abimana, yang membuat Alya merasakan cinta sesungguhnya. Meski, kehadiran Abimana serasa singkat, dan menorehkan luka teramat dalam. Karena kepergiannya yang sangat tragis.


Jangan lupa tinggalkan like šŸ‘, komentar, klik tanda ā¤, klik juga rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐, dan jika berkenan beri vote untuk mendukung author. šŸ˜


Trimakasih... 😘😘

__ADS_1


__ADS_2