
Kehangatan sinar mentari mulai menyentuh. Nampak keindahan Kebun Buah Mangunan yang semakin memukau.
Raikhan dengan perlahan melepaskan pelukannya, dan berdiri tepat di samping sang istri.
"Lihatlah Yank...!! Pemandangan di bawah sana sudah nampak jelas...."
"Masya Allah Mas... Begitu indahnya lukisan Sang Pencipta...." Mata Alya tampak berbinar melihat pemandangan yang terlihat dari gardu pandang.
Saat kabut tersebut mulai naik dan menghilang akibat paparan mentari, terlihat aliran Sungai Oyo yang meliuk-liuk laksana ular raksasa.
"Yank..., ketika melihat pemandangan di bawah sana, banyak orang berujar inilah pemandangan Amazon-nya Indonesia..."
"Iya Mas..., aku rasa juga begitu..."
"Nahhh..., lihatlah Yank..!! Jembatan berwarna kuning itu juga sudah nampak...." Raikhan menunjukan jembatan Selopamioro yang membentang.
"Huum Mas... Ajak aku ke sana...!" Alya menampakan senyuman yang mengembang disertai binar mata......
Raikhan terdiam dan terpana menatap wajah sang istri yang ia rasa semakin cantik dengan hiasan senyum manis di bibirnya.
Dada pria itu semakin berdegup kencang, melihat Alya kini kembali ceria.
"Mas...."
Suara lembut Alya mengagetkan Raikhan yang tengah menikmati keelokan wajah sang kekasih.
"Ehh.., iya Sayang..."
"Mas.., kog menatapku seperti itu?"
Raikhan membelai lembut pipi sang istri...., dan semakin menatapnya dalam. Mereka kini berdiri saling berhadapan.
"Kamu cantik Al.. Perasaan cintaku semakin bertambah, melihat istriku kembali ceria... Hiasan senyum manis ini jangan pernah menghilang lagi ya Yank..!"
"Iya Mas... Trimakasih atas cintamu yang begitu besar..." Nampak mata Alya berkaca-kaca. Tangan mungilnya menyentuh tangan sang suami yang masih menempel di pipi. Mata wanita itu terpejam, seolah meresapi kasih sayang dan cinta yang diberikan oleh sang suami. Dengan perlahan, Raikhan mulai menurunkan tangannya.
"Yank, yuk kita melanjutkan perjalanan ke jembatan Selopamioro...." Ucap Raikhan sembari meraih dan menggenggam erat tangan sang istri.
"Huum, baiklah Mas..." Mereka berdua mulai melangkah meninggalkan gardu pandang, dan menuruni anak tangga dengan hati2.
******************
Raikhan mulai melajukan mobilnya menuju Jembatan Gantung Selopamioro.
Kali ini ia mengambil jalan ke kanan (ada plang menuju Selopamioro).
Di sepanjang perjalanan menuju jembatan Selopamioro, tatapan mata Alya berbinar, melihat pemandangan yang sangat indah. Nampak sawah yang menghijau dan aliran sungai Oyo.
"Nah..., sudah sampai Yank...." Raikhan menghentikan mobilnya, dan mengajak sang istri keluar.
Terlihat jembatan berwana kuning yang menggantung.
__ADS_1
Mereka melangkah semakin mendekat, dan berdiri di atasnya.
"Yank...., awalnya jembatan ini bukanlah lokasi tempat wisata lho... Hanya berupa jalan yang menghubungkan antara Desa Selopamioro dengan Desa Sriharjo. Namun karena wisatawan terpikat dengan keindahan yang terlihat ketika berdiri di atas jembatan, akhirnya dijadikan salah satu destinasi wisata di Jogja...."
"Iya Mas... Wajar kalau dijadikan tempat wisata. Pemandangannya terlihat sangat memukau, udaranya pun terasa sejuk..."
"Jembatan ini juga sering di jadikan untuk pengambilan foto prewed Yank...."
"Hmmmm.., begitu ya...? Aha..., kita foto berdua di atas jembatan ini ya Mas.... Anggap saja foto prewed...." Ucap Alya dengan memasang wajah puppy eyes, hingga membuat Raikhan tak mampu menolak kemauan sang istri.
"Baiklah Sayang..."
Raikhan meminta tolong pada salah satu pengunjung, untuk mengambil foto mereka berdua.
"Yang romantis Mas.., Mba..!!" Teriak seorang bapak yang sudah memegang kamera milik Raikhan di tangannya, disertai dengan tawa.
Seketika wajah Alya memerah mendengarnya.
Raikhan membantu mengarahkan Alya untuk berpose romantis, seolah mereka pasangan yang akan menikah.
"Nah.., sudah saya foto sepuluh kali Mas..., hhhehe.... So sweet banget, njenengan berdua memang pasangan yang serasi..." Ucap si fotografer dadakan, sembari mengembalikan kamera pada Raikhan.
"Trimakasih ya Pak... Mmm, ini ada sedikit rejeki untuk njenengan..." Raikhan mengeluarkan dua lembar uang kertas yang berwarna merah dan menyerahkannya kepada si bapak.
"Sudah, tidak usah Mas..."
"Tidak apa2 Pak..., mohon diterima ya...!!" Raikhan memaksa si bapak untuk menerima uang pemberiannya.
"Aamiin, matur nuwun atas doa njenengan Pak..." Balas Raikhan disertai senyuman yang mengembang.
"Sami2 Mas...., saya pergi dulu njih... Istri dan anak saya sudah menunggu..., hhhehe.."
"Monggo Pak...! Mohon maaf kami sudah mengganggu dan merepotkan Bapak..."
"Tentu tidak Mas..., saya malahan yang harusnya berterimakasih. Sampun diparingi rejeki.... Nggeh mpun, dilanjut yang berpacaran Mas, Mba...." Si bapak mulai melangkah meninggalkan sepasang kekasih yang masih berdiri di tengah Jembatan Gantung Selopamioro.
"Si Bapak menyangka kita masih pacaran Yank..."
"Hhhhehe..., iyaya Mas. Lucu juga wajah si Bapak...."
"Yank, kita cari makan dulu ya..! Nanti lanjut ke tempat wisata yang lainnya..."
"Baiklah Mas...., nanti kemana lagi kita?"
"Ada dech..." Balas si pria tampan sembari mengerlingkan mata.
Raikhan dan Alya mulai melangkahkan kaki, dengan saling bergandengan tangan....
****************
Raikhan dan Alya menikmati menu makanan di sebuah rumah makan sederhana, yang terletak tidak jauh dari tempat wisata Hutan Pinus Pengger.
__ADS_1
Setelah mereka merasa cukup kenyang, Raikhan segera berjalan ke kasir dan membayar semua makanan yang telah dinikmati.
Sebelum melanjutkan perjalanan untuk menikmati pesona wisata di Hutan Pinus Pengger, mereka menjalankan ibadah sholat Dzuhur di mushola terdekat.
Usai beribadah, keduanya kembali melangkahkan kaki menuju pintu masuk tempat wisata tersebut.
Raikhan menggenggam erat tangan sang istri dan melangkahkan kaki menuju tempat duduk yang terbuat dari kayu.
"Duduk dulu Yank...!"
Raikhan dan Alya duduk bersebelahan. Mereka menghirup udara dalam2, menikmati kesejukan yang tersaji.
Seperti layaknya hutan pinus yang tumbuh di dataran tinggi, suasana sejuk asri dan alami disertai dengan harum aroma getah pinus adalah suasana yang kini tengah menyapa mereka.
Setelah sejenak duduk, Raikhan mengajak sang istri berkeliling di area hutan, melalui jalan-jalan setapak.
Pohon pinus yang rapat dan tinggi memberikan suasana teduh dan sejuk, bahkan nampak suasana remang di beberapa tempat.
Kontur medan di Hutan Pinus Pengger relatif mirip dengan kontur area di Puncak Becici yang berbukit-bukit dan bergelombang.
Untuk memasuki area hutan, Raikhan dan Alya berjalan kaki melewati anak tangga yang terbuat dari tanah.
"Capek ngga Yank...?"
"Lumayan Mas..., hhhehe..."
Raikhan mengusap buliran2 keringat yang terlihat di wajah sang istri dengan jemari tangannya.
"Kita duduk dulu Yank...!!"
"Heem Mas..., sekalian selfie ya..."
"Iya Sayangku..."
Alya dan Raikhan duduk di batang pohon yang kokoh, mereka pun berpose selfie dengan saling menempelkan pipi....
cisss... āā
Usai berselfie, keduanya duduk berhadapan, mereka saling menatap dan terdiam....., seolah terpukau dengan keindahan wajah yang nampak di depan mata... Raikhan mengusap pipi sang istri dengan lembut, bibirnya berucap... "I wiil always love you Alya..."
ššššššššššššššš
Happy reading
Jangan lupa selalu tinggalkan like, pencet ⤠untuk favorit, jangan sungkan2 untuk koment ya readers.., klik rate 5, apabila berkenan klik vote untuk mendukung author.....
Mohon maaf up.nya siang, karena si othor ada tugas di kehidupan nyata... š š
Trimakasih ššš
__ADS_1