
Sinar mentari menyelinap dari celah-celah kaca jendela kamar.... Sepasang kekasih terlihat sedang bercengkrama.
Raikhan duduk bersimpuh di hadapan istri tercinta, sembari mengusap perut Alya yang semakin membesar. Terlihat gerakan-gerakan putri kecil yang ada di dalam rahim.
"Asalamu'alaikum putri kecil Papa dan Mama... Selamat pagi Sayang... Sebentar lagi, kita akan bertemu.. Semoga Mama diberikan kemudahan, kelancaran dan keselamatan saat melahirkanmu Nak... Achh..., Papa sangat tidak sabar ingin melihat wajahmu, yang pastinya dominan mirip Oppa Koreanya Mama..." Raikhan tersenyum lebar, hingga membuat Alya menjadi gemas.
Alya mencubit pipi suaminya....
"Awww..., nyubitnya jangan keras-keras Yank...!" Raikhan mengusap pipinya yang memerah karena cubitan Alya.
"Aku gemasssss Mas..., setiap kamu bilang putri kita lebih dominan seperti wajah oppa Korea... Aku membayangkan, matanya yang agak sipit, kulitnya putih sepertimu, wajahnya cantik, dan hidung yang mancung.. Hmm, pasti lebih sempurna kecantikannya dari pada si Mama..."
"Iya donk Sayang... Kalau lebih jelek, namanya bukan perbaikan keturunan. Ups..., keceplosan..." Raikhan tertawa terkekeh sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Kali ini Alya mencubit hidung mancung suaminya...
"Duhhh..., Sayang hobby sekali menyakiti suami tampannya..."
"Karena kamu tega sekali Mas... Secara tidak langsung, mengatai istrimu ini jelek..." Wajah Alya nampak cemberut.
"Hhhhhaha... Maaf Cintaku.., Suamimu ini hanya bercanda... Kamu selalu cantik Yank... Kecantikanmu bukan hanya terpancar dari wajah nan ayu, namun juga dalam hati..." Raikhan menatap istrinya lekat-lekat.
"Kamu pintar berkata gombal Mas..."
"Tentu tidak Yank... Apa yang aku katakan adalah suatu kebenaran..."
"Hmmmm...., kamu juga sangat tampan Mas.. Karena ketampanan yang terlihat secara lahir maupun batin..."
"Berarti kita cocok donk Yank.., hhhhehe.."
"Cocok nggak cocok Mas..." Alya tersenyum nyengir....
"Tuch kan Sayang..." Wajah Raikhan terlihat tidak senang dengan ucapan istrinya. Alya tertawa terkekeh-kekeh melihat ekspresi wajah sang suami.
Cup...
Alya memberikan kecupan di pipi kiri suaminya dengan tiba-tiba. Mata Raikhan berbinar, karena kecupan dari sang istri.
"Lagi donk Yank...!"
Cup...
__ADS_1
Berganti pipi kanan...
"Kurang Yank.. Selain pipi...!" Raikhan meminta dengan menampakkan wajah puppy eyes seperti yang sering dilakukan oleh Alya.
"Sudah ach... Aku lapar Mas.."
"Mmmm... Baiklah istriku... Ayo kita makan bersama Papa dan Mama...!" Raikhan dan Alya beranjak dari duduknya.
"Heem Mas.. Oiya Yeobo.., hari ini kita jadi kan silaturahim ke rumah orang tua Mas Abi..?"
"Iya Yank.., jadi donk... Kita berangkat setelah sarapan.."
"Huum Mas.. Aku juga sudah bilang ke Bu Arini, kalau akan berangkat sekitar pukul sepuluh pagi..."
"Siiippp... Yuk sini tanganmu....!" Raikhan meraih tangan sang istri, dan menggenggamnya dengan erat.
Mereka melangkahkan kaki keluar dari kamar, dan berjalan menuju ruang makan.
Papa Abraham dan Mama Shela, sudah menunggu putra beserta menantu mereka di ruang makan, untuk sarapan pagi bersama...,
******************
Pria tampan, yang memiliki mata meneduhkan, terlihat sedang merapikan seragam kerjanya. Bu Arini berjalan mendekati putra semata wayangnya itu....
"Bim..., Ibu ingin bicara sebentar..."
Abimana menoleh, dan menatap wajah sang Ibu.
"Apa yang ingin Ibu bicarakan...?"
"Duduk dulu Le...!" Mereka berdua beranjak duduk di sofa yang berada di dalam kamar Abimana.
"Le..., hari ini Alya dan Raikhan akan berkunjung ke rumah kita. Apakah putra kesayangan ibu ini, tidak ingin menemui mereka, dan mengungkap bahwa Abimana masih hidup..?"
Abimana menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari sang Ibu.
"Bu..., belum waktunya mereka mengetahui kenyataan yang ada. Kasihan Alya, pasti jiwanya akan terguncang. Abimana sangat khawatir dengan kondisi kehamilan Alya.... "
"Begitu besarnya cintamu pada Alya, Bim... Teringat oleh Ibu, ketika Alya menangisimu... Wanita itu tidak mau beranjak dari makam. Ibu teramat sedih dengan keadaannya... Jangan pernah menyalahkan Alya atau pun Raikhan ya Bim...! Keputusan Raikhan untuk menikahi Alya, adalah pilihan terbaik saat itu. Jika tidak, wanita yang sangat mencintai putra ibu, mungkin akan mengalami depresi. Seperti yang dialami oleh putri dari sahabat Ibu. Gadis itu mengalami depresi karena kehilangan sang kekasih, hingga ia menderita penyakit yang hanya bisa disembuhkan dengan ketenangan jiwa. Setiap malam, gadis itu imsomnia selama beberapa bulan. Ia hanya bisa tertidur selepas menjalankan sholat lail, sambil memeluk mushaf... Badannya semakin kurus, karena kehilangan nafsu makan. Sahabat Ibu, kemudian berikhtiyar membawa putrinya ke salah seorang ustadz. Alhamdulillah, perlahan gadis malang itu sembuh dari depresinya karena nasehat Pak Ustadz dan doa tulus dari sang Ibu...."
"Alhamdulillah, Alya tidak sampai mengalami depresi yang berlarut-larut seperti gadis itu ya Bu...?"
__ADS_1
"Betul sekali Bim... Alhamdulillah, ada Raikhan dan keluarganya yang ikut menguatkan Alya... Meski, saat ini malah putra Ibu yang mengalami patah hati. Maafkan kami ya Bima...!" Bu Arini memeluk putra kesayangannya. Abimana membalas pelukan beliau.
Bu Arini tidak dapat menahan air mata yang tertumpah dari kedua sudut netranya.
Abimana mencoba menenangkan hati beliau, dengan mengusap punggung ibunya dengan penuh kelembutan. Meski dirinya sendiri juga mengalami perasaan yang teramat menyesakan dada.
"Sudah Bu, tidak ada yang perlu dimaafkan... Semua sudah terjadi, tidak ada yang bisa Bima ikhtiyarkan selain menerima kenyataan dengan berlapang dada. Saya juga bersalah... Harusnya, Bima mendengarkan nasehat Ayah dan Ibu untuk tidak pergi menjemput Oma sendirian. Andai Bima juga mendengarkan keresahan Alya, saat kami vidio call di malam itu, In shaa Allah kecelakaan yang menimpa putra Ibu, tidak akan terjadi. Semua yang Bima alami, murni karena kesalahan putra Ibu sendiri..."
Abimana terisak mengingat awal mula petaka yang menimpanya. Keputusan untuk menjemput Oma, mendekati hari pernikahannya dengan Alya, menjadi penyebab kandasnya cinta mereka... ššš
Bu Arini menarik tubuhnya, dan perlahan melepas pelukan.
"Sabar dan iklas ya putra kesayangan Ayah dan Ibu...! Mungkin jodoh Bima yang tampan dan soleh, bukanlah Alya. In shaa Allah, jodohmu seorang bidadari cantik yang kini sedang dipersiapkan oleh Sang Maha Cinta.."
"In shaa Allah Bu... Tapi hati ini masih untuk Alya..." Bima memegang dadanya yang menyesak.
Bu Arini hanya bisa menenangkan putra kesayangan, dengan mengusap pundak Abimana dengan penuh kasih sayang.
"Hari ini, Bima tidak akan berangkat ke mini market, Bu... Saya akan berdiam di kamar Ayah dan Ibu.. Setidaknya, Bima bisa mendengar suara Alya dari balik pintu kamar...."
*******************
Alya dan Raikhan....
Usai sarapan pagi, Raikhan dan Alya berangkat ke rumah kedua orang tua Abimana.
Raikhan melajukan mobilnya menembus keramaian kota Jogja, dengan kecepatan sedang.
Setelah menempuh perjalanan, kurang lebih selama satu jam.., mereka disuguhi pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Hamparan sawah menghijau, dengan latar belakang Gunung Merapi yang berdiri kokoh.
Raikhan terus melajukan mobilnya, nampak di kanan dan kiri jalan.., kebun salak yang rimbun. Buahnya pun terlihat sudah siap dipetik.
Teringat oleh Alya..., saat ia dan Abimana pertama kali melewati jalanan ini... Bersyukur, kini Alya sudah menerima kisah yang tertera dalam buku takdirnya. Wanita itu selalu berusaha tegar, dan mensyukuri anugerah cinta yang kini merengkuhnya, untuk menggantikan nestapa kehilangan Abimana...
šššššššššššššš
Readers..
Jangan lupa tinggalkan like š, koment, rate āāāāā, dan vote jika berkenan.. š
Trimakasih dan happy reading.. šš
__ADS_1