Cinta Gadis Biasa "Alya"

Cinta Gadis Biasa "Alya"
Semoga Bukan Dia...


__ADS_3

Mas Raikhan terus melajukan mobilnya. Di sepanjang perjalanan, dia hanya terdiam, wajahnya nampak cemas.


Sedangkan aku.., mencoba membuang resah dengan selalu melantunkan dzikir dan doa untuk keselamatan Mas Abi. "Semoga selalu Engkau jaga dia untukku ya Robb..." Pinta seorang hamba mengiba dalam hati.


Setelah menembus keramaian kota, Mas Raikhan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih melewati jalan menuju pedesaan.


Benar apa yang dikatakan sahabat Mas Abi, jalan menuju desa x.., curam dan licin. Andai tidak hafal dengan jalanan yang akan dilalui, mungkin mobil atau kendaraan yang lainnya, akan mudah terperosok ke dalam jurang. Naudzubillah.


"Al..., coba hubungi Bima....!!" Suara Mas Raikhan tiba2 memecah keheningan.


"I..iya Mas, sebentar aku teleponnya..."


Aku mencoba melakukan panggilan ke nomer hp Mas Abi, namun di luar jangkauan. Beberapa kali mencobanya, tetap saja tidak mendapatkan hasil.


"Bagaimana ini Mas Raikhan....?" Tanyaku dengan bibir gemetar karena rasa khawatir yang amat sangat.


"Sabar Al, mungkin Bima sudah sampai di rumah Oma.." Balas Mas Raikhan berusaha menenangkan gadis ini.


Aku terus mencoba mengirim pesan.., tapi tetap nihil.


Mas Raikhan terus saja melajukan mobilnya...


"Astaghfirullah..." Teriak kami seketika. Hampir saja mobil Mas Raikhan beradu dengan truck yang lewat dari arah berlawanan.


Nampak wajah Mas Raikhan pucat, namun ia terus saja berusaha menyetir dengan fokus.


Di jalanan yang berliku, kami kembali dikejutkan oleh bus dari arah berlawanan. Kembali mobil Mas Raikhan hampir bersenggolan.


"Ya Allah, ada apa ini...??" Ucapku lirih. Nampak wajah Mas Raikhan kembali pucat. Tangannya mulai gemetar.


"Mas.., Mas Raikhan baik2 saja kan?" Tanyaku dengan penuh kekhawatiran.


"I..iya Al. Aku baik2 saja. Berdoa ya Al.., semoga kita dan Bima diberi keslamatan..."


"Iya Mas..., Alya selalu berdoa..."


"Mas, aku kog semakin khawatir dengan Mas Abi. Jalanan yang kita lalui sangat berbahaya..." Aku meremas kedua tanganku, perasaan khawatir dan takut berkecamuk.


"Positive thinking Al...!!! Okay..."


"Iya Mas..."


Kuedarkan pandangan ke luar jendela, tiba2 tatapan mata ini tertuju pada segerombol orang yang berdiri di pinggir jurang. Di sana juga terlihat beberapa polisi yang memasang police line.


Perasaanku semakin tidak karuan...

__ADS_1


"Mas..., kita berhenti di sini ya..!"


Mas Raikhan yang mengerti maksudku, seketika menghentikan mobilnya di sisi kiri jalan.


"Al.., biar aku yang melihatnya.. Kamu tunggu di sini ya!!" Ucapnya dengan menatapku.


"Mas, aku ikut... A-aku tidak bisa menunggu.."


"Alya, kali ini please jangan membantah..!! Okey..!!"


"Tetap tunggu di sini, jangan ke mana2...!!"


Tanpa menunggu balasan dariku, Mas Raikhan segera keluar dari mobil. Pria itu mendekat ke arah sekumpulan polisi yang sedang berada di dekat police line.


Aku terus memperhatikannya dari kaca mobil. Nampak wajah Mas Raikhan berubah sendu. Aku semakin tak tahan untuk mengetahui apa yang terjadi di sana.


Tanpa sabar, aku ke luar dari mobil. Terlihat polisi sedang menunjukkan sesuatu pada Mas Raikhan.


Deg...deg..


Semakin aku melangkah, barang yang ditunjukkan semakin jelas terlihat.


"Tasbih biru..." Ucapku lirih.


"Mas..., ada apa ini... Tasbih biru..? Itu bukan milik Mas Abi kan? Mas jawab aku...!!" Pertanyaan yang terlontar dengan nada tinggi, menarik perhatian banyak orang. Seolah mereka memandangku dengan tatapan iba.


"Mas jawab..!! Apa yang terjadi?" Nadaku semakin meninggi.


Nampak buliran bening ke luar dari dua sudut mata Mas Raikhan.


"Al.., tabahkan hatimu...!!" Sahabat Mas Abi berjalan mendekat padaku.


"Apa yang terjadi Mas...? Please, jawab.. Hiks...hiks..."


"Ini tasbih milik Bima kan Al?" Mas Raikhan menyerahkan tasbih kesayangan Mas Abi padaku. Aku menerimanya dengan tangan gemetar. Kuamati dengan seksama..., dan ternyata memang benar milik Mas Abi.


"I...iya, ini tasbih kekasihku Mas... Apa yang terjadi padanya? Hiks...hiks..." Aku terus saja terisak, membayangkan hal buruk terjadi pada Mas Abi.


Mas Raikhan menghela nafas panjang...


"Al..., apa yang kita takutkan terjadi. Mobil Abi masuk jurang dan meledak. Jasad Abi juga ditemukan hancur... Tasbih ini Al yang masih utuh..."


"Arghhhhh..." Badanku seketika lemas, seolah tanpa daya sedikitpun. Aku jatuh bersimpuh. Mas Raikhan mencoba menguatkan dengan merangkul pundakku.


"Al.., kamu harus kuat, yang tegar Alya..!!"

__ADS_1


"Tidak Mas.., aku yakin itu bukan Mas Abi. Jasad yang ditemukan bukanlah Mas Abi.. Aku yakin itu Mas...hiks...hiks.. Pasti bukan dia.. Itu bukan dia...."


"Al.., itu Bima. Kamu harus kuat menerima kenyataan!! Iklas Al...!!"


"Tidak Mas.., hatiku meyakini Mas Abi masih hidup. Dia sudah berjanji tidak akan meninggalkanku. Dia juga berjanji akan selalu menjaga Alya. Mas Abi juga berjanji tidak akan membiarkan calon istrinya ini menangis..hiks...hiks..." Dadaku semakin sesak. Air mata semakin tertumpah. Aku memukul-mukul dada dan memanggil nama Mas Abi...


Mas Raikhan terus berusaha menguatkan aku. Nampak orang2 yang melihat pemandangan ini, juga ikut menangis.


"Ndhuk kuat ya.. Sik sabar, tawakal...!!" Seorang ibu paruh baya, mendekati dan menepuk-nepuk pundakku.


Tangisku semakin menjadi... Mata penuh rasa kasihan terlihat mengitariku.


Tiba2 pandanganku terasa gelap. Tubuhku semakin lemas.


"Alya..." Suara yang terakhir kali aku dengar sebelum diri ini tak sadar dengan apa yang terjadi setelahnya.....


šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–


Curhatan Author:


Hiks...hiks, di episose kali ini author menulis dengan dada yang terasa sesak, teringat akan kenangan yg telah lama berlalu.


Readers..., author pernah merasakan hal sama, yang dialami Alya saat ini, meski kecelakaan yang menimpa tidak semengerikan dalam novel yang author tulis. Dan.., meski perasaan author belum sedalam yang dirasakan Alya pada Mas Abi. Tapi tetap saja, sakitnya... 😭😭😭


Kehilangan seseorang karena kematian, lebih menyakitkan dari pada kita diputus, dikhianati atau ditinggalkan tanpa kata yang pasti.


Hanya iman dan keyakinan, yang membuat diri kita kuat menghadapi segala ujian hidup.


Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu.., author dipertemukan dengan pria yang Inshaa Allah terbaik, sebagai pilihanNya.


So.., jangan mencintai seseorang melebihi cinta kita kepadaNya...


"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (QS Al-Baqarah 2:216)


Terus setia mengikuti kisah Alya ini ya Sob..


Di episode selanjutnya author akan menceritakan kisah Alya dalam menjalani hidup tanpa seorang Abimana, meski di lubuk hati gadis itu masih mengharapkan keajaiban...


Mungkinkah jasad yang hancur itu adalah Abimana?? Atau mungkin.., kekasih Alya masih diberi keselamatan??


Dukung author untuk terus melanjutkan tulisan ini ya Sob, maaf apabila ada salah dalam pengetikan atau penggunaan kata, karena diri ini hanyalah seorang author dhadakan yang termotivasi dengan salah satu karya novel di MT.


Jangan lupa tinggalkan like, vote, rate 5, koment berupa kritik dan saran...


Matur Nuwun... šŸ™šŸ™šŸ™šŸ™šŸ˜šŸ˜šŸ˜

__ADS_1


__ADS_2