Cinta Gadis Biasa "Alya"

Cinta Gadis Biasa "Alya"
[POV.AUTHOR] Kembali Pulang ....


__ADS_3

Ā šŸ’“ Tahukah kasih, ada setitik rasa takut bersemayam di hati. Ketakutan akan pupusnya kisah cinta membuat raga ini seolah kehilangan separuh nyawa. Kasih, aku telah kembali pulang, kan kubawa sebongkah kerinduan dan mengikatmu dalam indah ikatan cinta yang suci šŸ’“


- flasback on Abimana -


Ā 


Sinar mentari memberikan kehangatan bagi jiwa yang semakin memendam kerinduan. Sepoi angin menyejukkan nurani. Suara deru mesin kendaraan tak terdengar riuh di pedesaan. Bahkan gelak tawa para pejalan kaki yang sedang menikmati jalanan tanpa aspal, kadang terdengar sayup.


Pak Tama mendengarkan semua cerita Pak Arya dengan seksama. Bapak dari si gadis manis menjelaskan runtutan kejadian yang menimpa Abimana. Seketika Pak Tama merasa empati kepada si pemuda tampan nan rupawan. Mimik wajahnya berubah sendu. Sepasang manik hitamnya menatap Abimana lekat - lekat. Hati pria itu serasa ngilu tatkala terbayang kejadian yang telah berlalu. Kisah istrinya yang hampir sama dengan Abimana. Namun kecelakaan yang menimpa sang kekasih benar - benar menorehkan luka mendalam.


Pak Tama harus berusaha iklas merelakan kepergian istri tercinta tiga tahun yang lalu, karena kecelakaan tragis. Istri tercinta yang tengah mengendarai sepeda motor, tersenggol badan truck. Tubuh korban beserta motornya terpental ke dalam jurang. Naudzubillah. Si sopir yang menjalankan truck dengan ugal - ugalan seketika meninggalkan korban. Beruntung ada saksi mata yang melihat kejadian naas itu, sehingga si supir truck kini mendekam di balik jeruji besi.


Pak Tama menghela nafas panjang, beliau pun berucap kepada Abimana, "Yang sabar Nak Mas! Dulu istri saya juga mengalami kecelakaan tragis seperti Nak Bima. Namun, nyawa istri saya tidak tertolong. Bersyukurlah Nak Mas, masih diberi kesempatan untuk menikmati anugerah kasih sayang-Nya, berupa kesempatan melanjutkan kehidupan di dunia yang sejatinya fana! Berusahalah membalas kasih sayang Allah, dengan iklas dan sabar dalam menghadapi setiap ujian hidup! Mungkin kelak akan ada ujian yang serasa lebih berat menyapa! Berusahalah tegar, meski hati rapuh!"


Abimana meresapi semua ucapan Pak Tama.


"Benar kata beliau, aku harus bersyukur kepada Allah atas kesempatan hidup yang masih diberikan. Kenyataan apa pun yang akan terungkap, semoga Allah memberi kekuatan dan kelapangan dada." Bisik Abimana dalam hati.


"Iya Pak, saya akan berusaha tegar dan iklas, dengan apa yang digoreskan Allah dalam buku takdir. Namun, saya akan terus merayu-Nya dan berikhtiyar Pak." Balas Abimana dengan menahan gejolak di dada. Terbesit dalam pikiran, bila kenyataan tidak sejalan dengan impian. Tiba - tiba Abimana merasa takut, cinta tulus Alya bukan untuknya lagi. Meski berusaha kuat, namun hati Abimana tidak menerima jika yang ada dipikiran benar adanya.


"Bapak doakan yang terbaik untuk Nak Bima. Semoga setelah kembali pulang, Nak Mas dapat merengkuh kebahagiaan." Pak Tama mendoakan Abimana dengan tulus.


"Aamiin, trimakasih Pak."


Datanglah seorang gadis kecil yang seumuran anak SMP. Si gadis berjalan ke arah mereka, membawa nampan dengan empat cangkir teh hangat gula batu di atasnya. Nampan dan cangkir terbuat dari tanah liat, sehingga terlihat klasik.


"Monggo diminum dulu teh gula batunya selagi hangat!" Si gadis meletakkan nampan di atas meja dan mempersilahkan Pak Tama beserta para tamu untuk meminumnya.


Abimana dan Suci mengangguk dan tersenyum membalas si gadis, sedangkan Pak Arya berucap trimakasih disertai seulas senyum, "Maturnuwun, Ndhuk cah ayu."


"Sami - sami Pakdhe." Balas si gadis dihiasi senyuman manis dari bibirnya, sedangkan tatapan kedua netra mencuri pandang ke arah pemuda tampan nan rupawan.


"Ehm, ehm ... Sukma, masuklah ke kamar!" Perintah Pak Tama kepada putrinya, karena beliau menyadari jika si putri tertarik melihat pemandangan yang jarang tersuguh. Pria tampan nan rupawan bermata teduh, sehingga dapat memikat hati wanita yang tidak kuat iman.


Sukma menunduk malu, ia pun berjalan dan masuk ke kamar.

__ADS_1


Pak Tama dan para tamu mulai menyesap teh hangat gula batu.


"Baiklah Nak Mas, saya akan mempersiapkan mobilnya. Nak Bima tunggu sebentar di sini!"


"Iya Pak, trimakasih sebelumnya."


"Sami - sami Nak Bima."


Pak Tama beranjak dari duduk dan melangkahkan kaki menuju garasi.


******************


Pak Tama dan Abimana sudah bersiap masuk ke dalam mobil. Pak Arya beserta sang putri, berdiri di samping mobil, melepas kepergian si pemuda tampan.


"Hati - hati Pak Tama yang mengendarai mobil! Trimakasih sudah bersedia mengantar Nak Mas Bima."


"Sami - sami Pak Arya."


"Pak, Bima pamit. In shaa Allah, setelah bertemu dengan keluarga dan Alya, saya akan segera datang ke desa ini lagi, untuk menemui Bapak dan Suci."


"Injih Pak, asalamu'alaikum." Abimana mencium punggung tangan Pak Arya sebelum masuk ke dalam mobil. Pria paruh baya itu mengusap pundak si pemuda tampan dengan penuh kasih sayang.


"Wa'alaikumsalam Nak Mas."


Pak Tama dan Abimana membuka pintu mobil, kemudian masuk ke dalamnya.


Suci si gadis berlesung pipi menatap hampa ke arah pemuda perebut hatinya.


"Hati - hati ya Mas!" Ucap si gadis dengan suara lirih.


"Iya Suci." Balas Abimana disertai senyuman yang menawan.


Pak Tama mulai menyalakan mesin mobil dan menjalankannya dengan perlahan melewati jalanan yang belum beraspal.


Nampak sawah - sawah terhampar luas dan tanaman jagung yang sudah meninggi, menambah pemandangan khas pedesaan. Orang - orang berlalu lalang dengan mengendarai sepeda onthel. Setiap berpapasan mereka saling melempar senyum dan salam. Kesan keakraban, sopan, supel, saling menghormati terpancar pada pribadi mereka.

__ADS_1


Pak Tama menjalankan mobilnya melewati jalanan beraspal. Liukan jalan menambah kewaspadaan dan kehati - hatian Pak Tama saat menyetir.


Setelah melalui perjalanan kurang lebih empat jam, mobil yang dikendarai Pak Tama sudah sampai di Sleman. Kebun buah salak nampak di kanan kiri jalan. Pesona Gunung Merapi sebagai latar belakang, menambah keindahan alam yang tersaji.


Selama di perjalanan, Pak Tama dan Abimana saling berbincang.


"Ohhh, Nak Mas ternyata seorang dosen. Wah keren Nak Bima, masih muda sudah menjadi seorang dosen. Pasti banyak mahasiswi yang jatuh cinta."


"Hhhaha, Pak Tama bisa saja. Ya, kadang mereka mencari perhatian Pak. Ada juga yang berani mengirim surat. Tapi, entah mengapa yang ada di hati saya malah sosok gadis biasa, Alya. Bahkan calon istri saya hanya lulusan SMA."


"Hmm, pasti karena kecantikannya yang sempurna. Bukan hanya secara lahiriah, namun batiniahnya juga pasti sangat cantik." Balas Pak Tama dengan menyunggingkan senyuman.


"Betul sekali Pak. Bima sangat berharap, Alya adalah jodoh saya yang sebenarnya."


"Aamiin allohumma aamiin, semoga doa Nak Bima diijabah oleh Sang Maha Cinta."


"Aamiin, iya Pak. Sudah tidak sabar rasanya untuk bertemu dan mendengar suara lembut kekasih hati saya Pak."


"Hhhhaha, bersabarlah Nak!"


"Pak, itu rumah kedua orang tua saya." Abimana menunjuk rumah bercat biru dengan gerbang yang tidak terlalu tinggi.


Jantung Abimana berdegup kencang. Kedua netranya nampak berkaca - kaca. Ada rasa haru yang memenuhi relung rasa.


"Ayah, Ibu ... putramu sudah kembali pulang." Ucap Abimana dengan suara lirih.


Pri muda itu membuka pintu, kemudian keluar dari dalam mobil. Ia berjalan mendekati pagar rumah, dengan kaki gemetar.


Perlahan Abimana membuka pagar, dengan perasaan yang dipenuhi rasa bahagia.


šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–


Readers, trimakasih sudah setia mengikuti kisah Alya.


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan like šŸ‘, berikan komentar, klik ⭐⭐⭐⭐⭐, dan klik vote jika berkenan mendukung author. 😘

__ADS_1


Trimakasih dan happy reading. šŸ˜šŸ˜˜


__ADS_2