
.... Terjebak aku di tempat ini, merindu dan berharap tuk segera bertemu, dengan dia sang kekasih hati, obati rasa hampa yang menyeruak tanpa kehadirannya di sisi ....
.... Flasback On Abimana ....
Selama lima bulan, Abimana terus berusaha mengingat semua hal tentang dirinya. Pria itu terus berikhtiyar dan berdoa di sepertiga malam.
Suara binatang hutan di malam hari, berpadu dengan suara gesekan bambu yang tertiup angin, bagaikan orkestra alam pemecah kesunyian, pengobat keresahan.
Meski perlahan, Sang Maha Kasih Sayang mengijabahi pinta hamba yang dipanjatkan dengan teramat tulus dari dalam hati. Abimana kini dapat mengingat serpihan - serpihan kenangan akan masa lalunya.
"Al, Alhamdulillah aku sudah mulai bisa mengingatmu." Ucap Abimana sembari memandangi foto sang kekasih hati. Matanya nampak berkaca - kaca karena menyimpan kerinduan mendalam.
"Alya, aku merindukan kebersamaan kita, melantunkan kalam cinta-Nya. Tunggu kekasihmu ini! Aku akan berusaha mengingat jalan pulang."
Adzan subuh berkumandang, Pak Arya dan putrinya terbangun. Meski lantunan adzan hanya terdengar sayup - sayup dari gubug mereka, namun tetap mampu memecah sunyi dan membangunkan mata yang terlelap.
Pak Arya dan Suci bergegas mengambil air wudhu. Mereka bersiap menjalankan ibadah sholat subuh berjamaah.
Pak Arya tersenyum menyapa Abimana, "Asalamu'alaikum Nak Jaka. Pasti usai merayu pada-Nya, memohon segala pinta?"
"Iya Pak. Hanya ini yang dapat saya lakukan. Terus berdoa dan berikhtiyar." Balas Abimana juga dihiasi seulas senyum.
Suci terpana melihat senyum Abimana yang sangat menawan, namun ia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang gadis desa, dan Jaka yang dikenal sudah memiliki tambatan hati.
"Semoga Allah segera mengabulkan apa yang Nak Jaka pinta."
"Aamiin allohumma aamiin, trimakasih Pak."
"Sama - sama Nak. Mari kita bersujud kepada-Nya dengan berjamaah!"
"Iya Pak. Saya akan kumandangkan iqomah." Abimana mengumandangkan iqomah dengan suara yang sangat merdu, Pak Jaka bersiap menjadi imam sholat. Suci berdiri di belakang, dan bersiap menjadi makmum.
Usai menjalankan sholat subuh, mereka bertiga melantunkan kalam cinta.
******************
Arunika menyapa, menelusup melalui celah - celah jendela. Abimana mulai bersiap melakukan aktivitasnya di pagi hari. Berjalan - jalan, sembari membantu Pak Arya mencari kayu.
Wajah Abimana nampak cerah di pagi ini. Pria itu sangat yakin akan segera mengingat semua hal tentang dirinya.
"Bismillah, perlahan tapi pasti aku akan mengingat semuanya. Ya Allah, tunjukan jalan pulang dengan segera." Pinta Abimana dalam lubuk hati.
Suci menemani mereka berdua mencari kayu. Si gadis manis merasa ada yang begitu berbeda semenjak kehadiran Abimana. Hatinya sering kali bergetar, jantungnya berdegup kencang bila berhadapan langsung dengan pria tampan nan menawan.
"Ach, mengapa setiap menatap wajah tampan Mas Jaka, hati ini berdebar. Irama jantungku seolah terdengar tidak beraturan. Baru kali ini aku merasakannya. Jangan sampai timbul benih - benih cinta. Mas Jaka sudah memiliki cinta sejati, tidak mungkin pria setampan dirinya membalas perasaan si gadis desa." Ucap Suci dalam hati.
Setelah cukup mengumpulkan beberapa batang kayu, mereka bertiga kembali ke gubug.
*****************
Suci memasak sayuran di dapur, untuk sarapan.
Pak Arya dan Abimana bercengkrama di halaman. Mereka duduk di kursi panjang yang terbuat dari bambu.
"Bagaimana Nak, sudah mulai mengingat semuanya?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, sudah Pak. Tinggal mengingat jalan pulang." Abimana membalas pertanyaan Pak Arya dengan dihiasi seulas senyum kebahagiaan.
"Hmmm, Alhamdulillah. Bapak teramat bersyukur."
"Iya Pak. Bahkan si Jaka ini sudah mengingat namanya sendiri."
Pak Arya menatap Abimana lekat - lekat.
"Siapa nama Nak Jaka yang sebenarnya?"
"Nama saya Abimana Surya Saputra. Putra Ayah Hasan dan Bu Arini, kekasih Alya Putri. Sahabat yang sudah seperti saudara saya bernama Raikhan." Balas Abimana dengan mata berbinar.
Pak Arya yang mendengar semua ucapan Abimana ikut berbahagia. Pria paruh baya itu, memeluk Abimana.
"Nak Abimana. Alhamdulillah ya Allah. Bapak teramat bersyukur dan bahagia. Semoga Nak Bima bisa segera berkumpul dengan keluarga."
Abimana membalas pelukan Pak Arya. "Aamiin yaa Robb .... Trimakasih atas segalanya yang telah Bapak dan Suci lakukan terhadap saya. Abimana tidak akan pernah melupakannya."
Perlahan, mereka pun melepas pelukan. Terdengar suara Suci memanggil kedua pria.
"Bapak, Mas Jaka ... makanannya sudah siap. Yuk kita sarapan dulu!"
Pak Arya dan Abimana beranjak dari duduk dan berjalan memasuki rumah.
Mereka bertiga duduk lesehan di atas tikar yang terbuat dari serat tanaman, sembari menikmati makanan hasil olahan si gadis berlesung pipi.
Setelah menghabiskan semua makanan yang terhidang, Pak Arya, Abimana, dan Suci masih duduk di posisi yang sama. Mereka menyesap teh nasgitel.
Suci mencuri pandang, tatapan mata si gadis manis tidak terlepas dari wajah tampan Abimana. Pak Arya yang menyadarinya pun berdehem, "Ehm, ehm .... "
Pak Arya tersenyum lebar dengan tingkah putrinya. Sedangkan Abimana, seolah tidak menyadari tatapan mata Suci. Pria tampan itu menatap heran ke arah Pak Arya.
" Ada apa Pak? Mengapa Bapak berdehem?"
"Ach, Bapak hanya menggoda Suci. Putri Bapak, seolah terpana melihat ketampanan Nak Bima. Maklum Nak, Suci belum pernah melihat pemuda yang memiliki paras rupawan seperti Nak Bima."
"Bapak terlalu berlebihan," balas Abimana disertai senyuman nan menawan.
Suci semakin menundukan wajahnya. Dengan terbata - bata, si gadis pun berkata, "Pak, jangan bilang seperti itu kepada Mas Jaka! Suci teramat malu."
"Iya Suci, maafkan Bapak. Oiya, mulai saat ini panggil Mas Jaka dengan nama aslinya, Abimana!"
"Hah, Mas Jaka sudah mengingat namanya?" Suci terkejut mendengar ucapan Pak Arya. Si gadis manis mulai mengangkat wajahnya.
"Iya Suci, namaku Abimana." Sahut Abimana membalas pertanyaan Suci.
"Syukurlah Mas. Apakah Mbak Alya benar calon istri Mas Abimana?"
"Iya Suci. Alya Putri adalah calon istriku. Sebelum kecelakaan, kami sudah berencana untuk menikah. Kecelakaan yang menimpaku, terjadi mendekati hari pernikahan kami. Ach, sungguh tidak terbayangkan bagaimana perasaan Alya, ketika hal buruk menimpa calon suaminya ini." Tatapan Abimana menerawang ke langit - langit. Terbayang mimpinya, sebelum kejadian naas menimpa.
"Mbak Alya pasti sangat mencintaimu Mas."
"Iya Suci, yang aku tau Alya sangat mencintaiku. Membicarakan tentang Alya, pria ini semakin merindu senyuman yang menghiasi paras ayunya."
Gleg ....
__ADS_1
Mendengar ucapan Abimana, dada Suci merasakan sakit. Matanya memerah, seolah menyembunyikan kesedihan, karena patah hati.
Suci memiliki perasaan cinta terhadap Abimana. Namun sayang, pria tampan nan rupawan, sama sekali tidak menyambut perasaanya. Abimana tetap setia pada Alya Putri.
********************
musim berganti, hari-hari terasa sepi
resah melanda, ku rindukan belahan jiwa
senja meredup, mendung menaungi hatiku
dingin menyiksa, ku dambakan penawar luka
terjebak ku ditempat ini, terpisahkan jarak dan waktu
berdoa......
dalam kerinduan yang semakin dalam
oh Tuhan jagalah dia kekasih hatiku
saat ku tak ada disisinya
saat ku jauh darinya
karena dia teramat berarti
senja meredup, mendung menaungi hatiku
dingin menyiksa, kudambakan penawar luka
oh Tuhan jagalah dia pujaan hatiku
saat ku tak ada disisinya
saat ku jauh darinya
karena dia begitu berharga
karena dia teramat berarti
karena dia kekasihku
karena dia pujaanku
karena dia... kekasih hatiku....
( Enemy Down )
šššššššššššššš
To readers dan para author yang masih mengikuti kisah Alya, othor tak berbakat ini mengucapkan trimakasih. šš
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like, komentar, rate 5, dan vote untuk mendukung author. šššššš
__ADS_1
Happy reading š