Cinta Gadis Biasa "Alya"

Cinta Gadis Biasa "Alya"
[POV. AUTHOR] Siapa Gadis Itu.....??


__ADS_3

Tangan Raikhan dengan sigap menangkap tubuh Alya yang tiba2 limbung.


"Alya..." Teriak Raikhan seketika.


Raikhan mencoba menyadarkan Alya dengan menepuk pelan pipi gadis itu. Namun Alya tetap tidak sadarkan diri.


Semua orang yang melihat Alya pingsan semakin merasa iba. Bahkan si ibu yang sempat berusaha ikut menguatkan hati Alya pun meneteskan air mata, beliau teramat prihatin dengan apa yang terlihat olehnya. Seorang gadis muda yang malang, harus rela kehilangan pria yang dicintai, sekaligus calon suaminya.


Raikhan segera membopong tubuh Alya dan membawanya ke mobil.


Salah seorang polisi yang merasa empati pada si gadis malang, membantu Raikhan membuka pintu mobilnya.


Raikhan kemudian menaruh tubuh rapuh Alya di jok mobil bagian belakang.


Tak lupa pria yang sedang kalut, cemas memikirkan nasib Alya dan Abimana, dengan tangan gemetar meraih ponsel untuk menghubungi kedua orang tua sahabatnya.


Dalam sekali panggilan Ayah Hasan (ayah Abimana) mengangkat telepon dari Raikhan.


Dengan sangat hati2 Raikhan memberitahu tentang musibah yang dialami Abimana.


Terdengar tangis histeris kedua orang tua sahabatnya. Dengan berat hati, Raikhan menutup panggilan telepon itu, karena dadanya semakin sesak mendengar ratapan yang menyayat. Terbayang olehnya, kesedihan dan nestapa yang dirasakan oleh kedua orang tua Abimana. Seorang dosen muda yang cerdas, tampan, soleh, berbudi baik, dan sebentar lagi akan menikah, harus mengalami nasib tragis di akhir hidupnya.


Sisi lemah seorang pria gagah terlihat, nampak ia menangis meratapi nasib sahabat dan gadis yang dicintainya. Raikhan terus saja berusaha menyadarkan Alya, namun si gadis tak bergeming.


Raikhan memutuskan untuk melajukan mobil dan meninggalkan tempat itu. Meski pikirannya tidak tenang, ia berusaha tetap menyetir mobil dengan fokus. "Jangan sampai aku dan Alya juga bernasib sama dengan Abimana. Naudzubillah...." Bisik Raikhan dalam hati.


**********


Ketika mobil Raikhan berhenti di depan rumah ke dua orang tuanya, segera penjaga membuka pintu gerbang. Dokter muda itu kemudian menjalankan mobilnya memasuki halaman yang luas.


Sampai di depan teras, ia pun menghentikan mobilnya. Dengan segera pria itu keluar, dan berjalan menuju pintu rumah.


Raikhan mengghedor-ghedor pintu itu dengan kuat.


"Ma.., Mama... Buka pintunya!! Cepat Ma...!!"


"Iya Sayang, tunggu sebentar...!!" Suara seorang wanita dari dalam rumah.


KLEKK..


Pintu pun terbuka. Nampak seorang wanita cantik dan elegan, menatap Raikhan dengan penuh keheranan.


"Ada apa Rai? Kenapa wajahmu seperti itu? Bahkan penampilanmu acak-acakan..?"

__ADS_1


"Nanti aku jelaskan Ma.. Tolong bukakan pintu kamar Raikhan ya...!!"


"Hehh.., ada apa ini Rai..?" Tanpa menjawab pertanyaan dari Mama Shela, Raikhan berlalu dan berjalan ke sisi kiri mobil.


Tangannya membuka perlahan pintu mobil bagian belakang. Segera ia meraih tubuh Alya yang masih tidak sadarkan diri di pelukannya.


Dengan sigap Raikhan membopong tubuh si gadis malang. Ia berjalan ke arah kamarnya yang sudah terbuka dan menaruh tubuh Alya di ranjang.


Mama Shela semakin menatap Raikhan dengan heran dan penuh tanda tanya. Beliau juga sangat terkejut melihat anak semata wayangnya itu, tiba2 datang ke rumah dengan membawa seorang gadis yang tak dikenal.


"Rai.., jelaskan pada Mama, siapa gadis itu?" Mama Shela melontarkan pertanyaan dengan nada tinggi.


"Ma, dia Alya.., calon istri Abimana..."


"Mengapa dia seperti itu? Apa yang dilakukan oleh putra Mama yang bodo* ini...hah?"


"Ma..., ini bukan seperti yang Mama kira. Alya pingsan karena Abimana...." Suara Raikhan terdengar lirih. Nampak lagi buliran bening yang keluar dari ke dua netranya. Ia tak mampu melanjutkan kata2.


"Abimana kenapa Rai..?? Beri tahu Mama..!!Apa yang menimpa sahabatmu??"


"Ma..., Abimana telah tiada. Kecelakaan tragis menimpanya...hiks...hiks..." Raikhan menjelaskan apa yang telah dialami Abimana dengan terisak.


"Innalillah.... Ya Allah Rai.." Mama Shela terduduk di pinggir ranjang.


"Iya Ma, Raikhan membawa Alya ke rumah ini karena sangat khawatir dengan keadaannya. Jiwanya sedang terguncang Ma. Raikhan sudah berusaha menyadarkannya berkali-kali, namun tetap saja Alya tidak membuka mata.."


"Ambilkan minyak angin di kotak p3k..!! Mama yang akan berusaha menyadarkan Alya... Kamu seorang Dokter Rai, harusnya kamu tau apa yang mestinya dilakukan..."


"Aku panik Ma..., Raikhan sudah lama menanggalkannya.. Anak Mama ini bukan lagi seorang Dokter..." Ucap Raikhan dengan tatapan sendu. Ia melangkah mencari minyak angin di kotak p3k. Tak lama, Raikhan pun kembali dengan membawa minyak angin, kemudian diserahkannya pada Mama Shela.


"Ini Ma..."


Mama Shela menerima minyak angin dari tangan Raikhan, dan menggosokannya pada telapak kaki Alya. Lagi2 Mama Shela memperlakukan Alya dengan penuh kasih sayang.


"Rai.., hubungi keluarga Alya, beritahu mereka kalau gadis ini ada bersamamu...!!"


"Baik..Ma..., tapi Rai tidak tau nomer telepon keluarga Alya..." Raikhan terlihat bingung dan seolah sedang berpikir.


"Ya Allah... Rai, kamu kan pinter, kenapa tidak digunakan kepintaranmu itu...??" Mama Shela menggeleng-gelengkan kepala sembari menatap Raikhan dengan lekat.


"Maksud Mama..??"


"Astaghfirullah.., putra Mama ini kog..duh.., pening kepala Mama Rai. Jadi anak laki2 kog nggak ngerti juga harus bagaimana..."

__ADS_1


"Ya kamu bisa kan, lihat nomer mereka dari ponsel Alya.."


"Owhh..., iya Ma. Sebentar Rai ambil ponsel Alya di tas..."


***************


Raikhan membuka tas Alya yang sudah dia letakkan di meja kamarnya.


Segera ia menghubungi Asti untuk memberitahukan keberadaan Alya, sekaligus memberi kabar duka yang menimpa Abimana. Lagi2 Raikhan mendengar tangis histeris, kali ini dari keluarga Alya. Hati pria itu makin tersayat. Tubuhnya tak mampu lagi bertahan. Raikhan terduduk di pinggir ranjang bersebelahan dengan Mama Shela. Ia menangis, meratap. Tubuhnya bergetar karena tak sanggup menguasai emosi.


"Dasar pria bodo*..., mengapa kamu pergi sendiri Bim?? Begitukah caramu meninggalkan Alya?? Dasar bodo*.., mengapa tak mengajakku seperti biasanya Bim...?? Hiks...hiks.."


Mama Shela memahami psikologis anaknya saat ini. Beliau mengelus punggung Raikhan penuh kasih sayang.


"Sabar Rai..., iklaskan kepergian Bima..!! Mungkin sudah takdirnya. Mama sebenarnya juga merasakan kepedihan kehilangan Bima. Rai..., kuat ya Sayang...!! Jangan menjadi pria lemah..."


"Iya Ma...."


"Rai, jemputlah keluarga Alya..!! Nanti kita akan pergi bersama ke rumah atau ke pemakaman Bima.." Suara Mama Shela terdengar serak. Wanita itu mencoba untuk tegar, meski di hatinya juga diliputi rasa duka mendalam.


"Iya Ma.., nanti Rai akan jemput keluarga Alya. Tapi sebelum Alya sadar.., Raikhan tidak akan meninggalkan gadis ini Ma..."


"Baiklah, jaga Alya Nak..!! Duduklah di sisi gadis malang ini..!! Mama sudah memberikannya minyak angin..., namun Alya masih juga belum sadar..."


Raikhan duduk mendekat di samping Alya. Pria itu menatap hampa. Air matanya terus mengalir. Ia ikut merasakan apa yang Alya rasa.


Tiba2 kelopak mata Alya terbuka dengan perlahan. Gadis itu bersuara dengan lirih.


"Mas..., Mas Abi di mana? Jangan tinggalkan Alya..!! Alya ikut Mas...hiks...hiks..."


Mama Shela mengusap rambut Alya sembari mengucapkan kata2 untuk menyemangati si gadis malang......


šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–


Tunggu kisah Alya di episode selanjutnya ya Sob... Trimakasih yang sudah berkenan membaca kisah Alya ini.


Jangan lupa tinggalkan like, vote kalau berkenan, koment saran serta kritik.


Matur Nuwun šŸ˜˜šŸ™


Ā 


Ā 

__ADS_1


Ā 


__ADS_2