
Jam empat sore, aku segera bersiap untuk menunggu jemputan mas Abi.
"Bunda, Alya pulang dulu ya.. Assalammu'allaikum.." Aku berpamitan pada bu Marta, dengan mengucapkan salam dan mencium punggung tangan beliau. Seperti apa yang terbiasa aku lakukan pada ibu.., karena bu Martha seperti ibu kedua bagiku.
"Iya Al.., Wa'allaikumsalam. Hari ini dijemput Mas Abi.., pemuda yang selalu kamu ceritakan itu, atau pulang sendiri Al..?" Pertanyaan Bu Martha yang seolah menggodaku...
Aku memang selalu bercerita tentang Mas Abi pada beliau, karena pribadi Mas Abi yang sangat istimewa.., dan membuatku selalu nyaman apabila di dekatnya. Mungkin karena aku merasa bahwa dia sosok kakak yang teramat penyayang dan memahami adiknya. Semenjak kehadiran Mas Abi dalam goresan kisah hidup, aku menjadi lebih tegar, kuat dan dewasa dalam menghadapi lika-liku ujian yang datang mendera...
"Al.., kog malah melamun...??? Sudah nggak sabar ya dijemput pria idamanmu itu...?? Hhhhhehe..." Ucapan dan tawa bu Martha seketika menyadarkanku..
"Eh..., Bunda.. Mas Abi hanya sosok kakak bagi Alya kog..." Aku gelagapan membalas ucapan bu Martha. Kuakui Mas Abi memang sosok yang teramat perfect untuk dijadikan calon imam. Selain tampan dia juga baik, religius dan perhatian.. "Duh.., kog malah terbawa ucapan Bunda..." Gumamku dalam hati.
"Tuch ada mobil avan** silver, sepertinya itu Al, Mas Abimu..., hhhehe.." Ucap bu Martha, jari manisnya menunjuk mobil yang berhenti di seberang jalan. Dan benar saja, nampak sosok pria keluar dari dalam mobil, tersenyum ke arahku.., dia melambaikan tangannya dan memanggil namaku.
"Sana Al.., segera hampiri pria tampan itu..! Selamat bersenang-senang ya Al..." Ucap Bu Martha sambil mencubit pipiku..., gemas.
"Heem.., iya Bunda.. Alya pergi dulu ya..."
"Iya Sayang..."
Aku segera keluar dari toko, dan menyeberang jalan dengan berlari kecil. Sampai di samping mobil, Mas Abi membukakan pintu dan menyuruhku untuk masuk.
"Kita ngobrol di mana Al, enaknya nich..?" Tanya Mas Abi, sembari mulai melajukan mobil.
"Manut Mas Abi aja dech.."
"Kita cari tempat yang teduh aja Al... Ke Alun2 Selatan gimana? Sekalian makan bakwan kawi, atau baso tusuk.., hhhhhehe. Disana juga dekat Masjid.., kalau kita ngobrolnya sampai petang bisa mampir sholat dulu..."
"Okey dech Mas.., aku setuju..." Ucapku dengan tersenyum menatap mas Abi yang masih asik menyetir.
Mas Abi melajukan mobilnya menuju Alun2 Selatan.
"Nahhhh.., sampai juga Al. Kamu menunggu di dekat pohon itu dulu ya..! Aku mau menaruh mobil di parkiran sebentar...."
"Asiap Mas Abi..."
Tak sampai dua menit, Mas Abi sudah berjalan mendekat. "Yuk Al.., kita duduk di pojok sana, dekat penjual bakwan kawi..! Sekalian kita larisin jualannya.., hehe..."
__ADS_1
"Oke dech Mas.."
Kami berjalan beriringan menuju tempat yang dimaksud oleh mas Abi.
****************
"Pak pesan dua mangkuk bakwan kawi ya.., sekalian es teh kalau ada.."
"Baik Mas..." Balas bapak penjual bakwan kawi dengan tersenyum. Kami duduk di kursi panjang, menunggu pesanan yang sedang diracik.
"Al.., mulailah bercerita..! Aku akan mendengarnya.."
"Hmm...., baiklah Mas.. Sebenarnya aku bingung mau mulai dari mana ceritaku..., hhhehe.."
"Terserah Al.., rilekskan dulu pikiranmu...!"
"Huum.... Mas, ternyata dinner kemarin malam yang diadakan Arif, ia tujukan untuk memberi surprise padaku. Aku kemarin bertambah umur Mas..."
"Hah..., kenapa kamu nggak ngasih tau kalau kemarin hari bertambahnya umurmu Al..." Mas Abi terkejut.., nampak matanya sedikit membelalak melihatku.
"Barakallahu fii umrik ya Al.. Semoga jodohmu semakin mendekat, kalau nggak ada juga.., biar aku saja yang mendekat dengan ta'aruf...., hhhhhaha..." Mas Abi tertawa lebar setelah memberi selamat dan mengucapkan perkataan yang sukses membuat wajahku memerah..
"Ihh..., Mas Abi usil..., tapi trimakasih ya Mas atas ucapan dan doanya, semoga Allah mengabulkan.." Ucapku dengan penuh harap dan berusaha meyembunyikan wajah yang masih memerah dengan sedikit menunduk.
"Kembali kasih Alya..." Balas Mas Abi dengan tertawa lebar.
Bakwan kawi pesanan mas Abi sudah selesai diracik. Bapak penjual memberikannya pada kami.
"Dimakan dulu Al...! Kalau dingin kuahnya kurang segeerr..."
"Iya Mas..." Aku mulai memakannya dengan perlahan, sambil meneruskan ceritaku.
"Mas..., sebenarnya aku ragu dengan perasaanku ke Arif, di mataku dia sahabat yang sederhana, perhatian, baik hati.. Selama di SMA, dia juga selalu membantuku. Dulu para guru berharap kelak kami bisa berjodoh, karena terlihat sangat akrab , dan serasi. Tapi itu malah membuatku sebal Mas.. Mungkin saat itu aku tidak memiliki perasaan suka terhadapnya.. Namun Arif selalu saja memberikan perhatian yang istimewa, sehingga membuat hatiku luluh, dan terpesona, apalagi dengan pribadinya yang sederhana.. Saat dia pergi kuliah di LN, aku merasa sedih, saat dia kembali lagi aku teramat bahagia.. Sampai kemarin malam, saat dia memberikan surprise, aku merasa istimewa baginya.. Tapi aku takut mas dengan perasaan ini. Aku takut terlalu berkhayal menjadi seorang Cinderella..." Aku berhenti sejenak, menyesap kesegaran es teh yang sudah ada dihadapanku.
"Teruskan ceritamu Al..!" Ucap mas Abi dengan menatap lembut.
"Mas..., aku tak yakin rasa ini adalah cinta, aku hanya merasa hampa.., ketika mengingat perbedaan kami yang sangat kontras... Di sisi hati yang lain, seolah mengatakan bahwa ini hanyalah kekaguman, yang berubah menjadi rasa sayang.., dan mungkin tidak lebih, karena bila di dekatnya getaran di hati tidak begitu hebat... Hanya rasa kehilangan ketika dia tak ada, namun merasa bahagia bila ia dekat.."
__ADS_1
"Hmmmm..., coba lakukan sholat Istikharoh Al, mohon petunjuk jawaban pada Allah..!! Jangan menerka perasaanmu sendiri, tanpa bertanya pada Sang Maha membolak-mbalikan hati.. Bertanyalah padaNya, tentang perasaanmu yang sebenarnya, mohonlah supaya diberi hati yang istiqomah ketika kelak kamu harus memilih untuk melangkah..!" Ucapan mas Abi bagaikan oase di hatiku yang gersang...
"Mas Abi benar... Aku tidak boleh terlalu terbawa oleh perasaan, bisa jadi.., ini hanyalah ujian dalam menanti cinta yang diridhoiNya ya Mas...?"
"Iya Al... , sudah terdengar adzan Maghrib Al.. Yuk kita mampir sholat dulu..!" Ajak mas Abi sambil beranjak dari duduknya dan memberikan uang pada bapak penjual bakwan kawi.
Kami berjalan menuju Masjid yang berada di sebelah timur Alun-alun Selatan. Aku dan Mas Abi berpisah di halaman Masjid. Mas Abi melangkah menuju tempat wudhu pria, sedangkan aku melangkah menuju tempat wudhu wanita.
Setelah selesai berwudhu, aku berjalan ke dalam Masjid. Kuambil mukena yang ada di dalam tas dan memakainya.
Kami sholat berjamaah dengan khusyu. Setelah selesai salam, aku memohon ampun pada Allah atas segala khilaf dan dosa, aku juga memohon supaya diberikan petunjuk untuk menghilangkan resahku. Setelah merasa cukup, aku melepas mukena dan menyimpannya dalam tas.
Rupanya mas Abi sudah menunggu di serambi Masjid. Aku berjalan mendekatinya.
"Sudah selesai Al...?" Mas Abi memberikan senyuman manis.
"Sudah Mas.." Jawabku yang juga membalas senyumnya.
"Al...., ada sesuatu untukmu.." Mas Abi mengeluarkan sesuatu dari dalam tas selempangnya.
"Simpan pemberianku ini di dalam tasmu, sebagai pengganti Al qur'an dan tasbih yang pernah kamu berikan pada Angga, untuk membuat hatinya tenang..."
Aku menerima Al qur'an kecil bersampul biru muda dan tasbih yang berwarna senada dengan tangan gemetar..
"Trimakasih Mas Abi.." Ucapku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Yuk Al.., aku antar kamu pulang..! Bagaimana perasaanmu sudah mulai tenangkan...??"
"Huum Mas.., trimakasih selalu berada di sampingku ketika aku membutuhkanmu Mas..." Aku menatapnya lekat.
"Iya Al.. Semoga kehadiranku, membuatmu lebih tegar dalam menghadapi ujian hidup, terutama ujian cinta..., hhhhehe..." Tawa Mas Abi membuat hatiku menghangat, aku merasa bahagia... Tanpa kusadari selalu ada getaran bila berada dekat dengan pria perfect ini....
šššššššššššššš
Jangan lupa tinggalkan like, koment, rate 5 ya sobbb.... ššš
.
__ADS_1