
Aku dan Mas Abi mulai berjalan di tiap los Pasar Beringharjo. Mataku tertuju pada sosok nenek yang duduk dengan kursi kayu pendek, di depannya tertata rapi beberapa kendil kecil dari tanah liat, dan satu baskom blirik.
Kami berdua melangkahkan kaki, mendekat pada si nenek.
"Mbah.., es dawete tasih?" (Mbah es dawetnya masih?) Tanyaku dengan berbahasa Jawa.
"Tasih Ndhuk..." (Masih Nak)
"Nyuwun kalih nggeh Mbah...." (Minta dua ya Mbah)
"Nggeh Ndhuk, sekedap.....monggo lenggah rumiyin..!!" (Ya Nak, sebentar...mari silahkan duduk dulu..!!)
Aku dan Mas Abi kemudian duduk di kursi kecil yang terbuat dari kayu. Kami menyebutnya "dingklik"....
Tak lama kemudian, dawet yang kami pesan sudah siap dinikmati. Dawet plus cin cau, serta irisan nangka...., hmmm sueger... Kami menerima mangkuk kecil yang dilengkapi dengan sendok bebek dari tangan simbah, tentu saja sudah berisi dawet lengkap.
"Matur nuwun mbah..." (Trimakasih Mbah)
"Sami-sami... Ndhuk...Nggher..." Ucap Simbah dengan tersenyum ramah.
Di tengah asiknya menikmati cita rasa dawet racikan simbah, beliau bercerita panjang lebar pada kami.
Simbah memperkenalkan namanya, Mbah Hari, sosok penjual dawet yang legendaris.
Semua pengolahan es dawet yang dibuat simbah secara tradisional dan menggunakan bahan-bahan alami. Mbah Hari sudah menjajakan es dawet di pasar ini sejak tahun 1965.
Seporsi es dawet bisa berisi cendol warna-warni, cincau, santan, cairan gula Jawa, potongan buah nangka dan es batu. Harga seporsi es dawet juga sangat terjangkau.
"Seger ya Al..." Ucap Mas Abi sambil menyesap es dawet langsung dari mangkuknya.
"Huum... Dawet Mbah Hari ini sudah terkenal lho Mas..." Balasku juga sambil menyesap es dawet.
"Kog kamu tau Al.., ada dawet yang recommend seperti ini..?"
"Iya donk Mas... Kalau pas main ke pasar bareng Asti, Hana, dan Ibu, kami sering mampir beli es dawetnya Mbah Hari..."
"Owhhh..., berarti kuliner yang recommend lainnya juga tau donk Al...?"
"Iya..lumayan tau Mas...hhhehe.."
"Kalau soto Al...?"
"Soto yang pernah masuk TV.., soto Bu Pujo Mas, ada di lantai dua pasar bagian timur. Soto yang porsi dan dagingnya banyak, soto Pak Muh. Beliau menyisihkan hasil jualannya untuk membangun Masjid lho Mas..."
"Hebat ya Al..."
"Iya Mas.., makannya soto Pak Muh nggak pernah sepi pembeli karena disertai sedekah..."
Mas Abi mengangguk dan tersenyum membalas penuturanku.
"Ada lagi Mas soto yang juga terkenal... Sotonya Mbah galak. Terus kalau yang seger...soto Bu Sudar..."
"Keren yank....kamu bisa hafal...hhhehe..."
"Iya donk Mas..." Jawabku bangga.
"Oooiyaya.., kamu kan hobi makan Al...hhhhahaha...." Mas Abi tertawa lebar meledekku.
__ADS_1
"Tuch..Mas Abi tau..." Jawabku dengan bermuka masam.
"Hhhehe..., meski suka makan..tapi kog tetep aja imut ya? Nggak bisa gemuk?"
"Yaaa..malah disyukuri Mas, nanti kalau Alya gemuk, Mas Abi malah repot..."
"Hhhaha...ya enggaklah Al, meski gemuk pasti tetep manis..."
"Apaan sich Mas Abi, aku nggak mau gemuk tau..." Ucapku sambil memonyongkan bibir.
Tak terasa, dawet yang kami minumpun habis tanpa sisa. Mas Abi memberikan uang pada simbah dengan mengucapkan terimakasih. Beliau membalas dengan senyuman hangat.
"Maturnuwun nggeh cah bagus, ndhuk cah ayu..., simbah sampun dilarisi..."
"Sami-sami Mbah.." Balasku dan Mas Abi dengan memberikan seulas senyum.
***********
Kami berjalan ke kios Bu Mur** ,membeli baju batik untuk buah tangan yang akan diberikan pada calon ayah dan ibu mertua...hhhehe.
Untuk ayah Mas Abi, aku memilih hem batik dengan motif sogan.
Batik yang memang berasal dari Solo dan Yogyakarta ini memiliki ciri khas warna cokelat muda dengan gambar batik beraksen bunga dan titik-titik, serta lengkungan dan garis di dalam motifnya. Sogan sudah ada sejak era nenek moyang dan biasanya digunakan oleh raja-raja di keraton karena warnanya yang elegan, kombinasi coklat dan hitam.
Sedangkan untuk calon ibu mertua, aku memilih gamis batik dengan motif sekar jagad.
Dari namanya, pola batik ini menyimpan arti keindahan yang mampu membuat siapa pun terpesona ketika melihat.
Tentu saja penggambaran yang tepat bagi perempuan yang mengenakan motif batik satu ini, karena gambar batiknya yang indah tentu akan membuat ibu mertua tampak lebih elegan dan mempesona.
Hmmm...ternyata ada yang mengatakan, motif batik sekar jagad terinspirasi dari peta dunia,ย karena gambar batik yang menyerupai pulau-pulau.
"Sudah kog Mas, maaf ya..nunggu lama...hhhehe.."
"Iya Al...buruan yuk, gerah di sini..tambah rame pengunjungnya..."
"Sabar ya Mas.., biar dibungkusin sama mbaknya, sekalian aku bayar dulu..."
"Aku bayarin aja sayang..."
"Nggak usah Mas, kali ini biar aku aja okay..."
"Ya dech, terserah sayang..."
Aku menerima paper bag yang berisi hem dan gamis batik pilihanku, kemudian membayarnya.
"Terimakasih ya mbak..." Ucap karyawan batik Bu Mur** dengan sangat sopan.
"Sama-sama Mbak..." Balasku dengan memberikan senyum manis.
**********
Aku dan Mas Abi mulai melangkah menuju pintu keluar pasar Beringharjo, menembus keramaian pengunjung.
Tiba-tiba ada seorang ibu yang berteriak karrna tasnya kecopetan.
"Copet...copet...tolong....Mas..."
__ADS_1
Dengan sigap Mas Abi berlari mengejar si copet dan meraih kaosnya. Mas Abi menarik kaos bagian belakang si copet dengan sangat kencang.
Buggg...
Mas Abi memberikan tinjunya tepat di pipi si pencopet. Semua pengunjung yang ada di sana berteriak histeris, termasuk aku.
Beruntung petugas keamanan datang dengan cepat, kemudian langsung membawa si pencopet ke kantor.
Mas Abi menyerahkan tas yang telah diselamatkannya pada ibu yang kecopetan.
"Trimakasih ya Mas..." Ucap si ibu dengan bibir yang gemetar.
"Sama-sama Bu, lain kali tasnya jangan ditaruh di samping, lebih aman kalau dibawa di depan Bu..."
"Iya Mas, terimakasih sekali lagi..."
"Iya Bu..." Balas Mas Abi dengan tersenyum, sembari mengajakku meninggalkan tempat itu.
Terdengar sorak sorai dari pengunjung yang memuji keberanian kekasihku ini.
Kami melanjutkan perjalanan menuju parkiran Malioboro Ma**, untuk mengambil mobil Mas Abi.
"Mas..tadi tuch kamu hebat banget lho..."
"Oya..?"
"Huum..., aku nggak nyangka Mas Abi seorang pemberani..."
"Itu belum apa2 sayang..."
"Maksudmu Mas...??"
"Aku akan lebih berani dan nekat, kalau hatimu yang kecopetan....hhhhaha...."
"Hmmm..dasar Mas Abi.."
"Al...., semoga hanya aku ya yang ada di hatimu...."
"Iya Mas..., semoga hanya aku juga yang ada di hatimu..."
"Tapi Al..., seandainya aku pergi dulu...., jangan menutup hatimu untuk menerima hati yang tulus dari pria lain..."
Gleggg....
Mendengar ucapan Mas Abi, seketika langkahku terhenti.
Tiba2 air mataku menetes, membayangkan hal yang buruk akan terjadi ketika aku sudah teramat jatuh hati pada Mas Abi.
"Al..." Mas Abi ikut menghentikan langkahnya.
"Please Mas..., jangan pernah ucapkan kata2 itu lagi, sumpah Mas...aku tak sanggup kehilanganmu...hiks...hiks..."
"Maaf ya sayang..., maafkan ucapanku yang spontan tadi.. Mas nggak bermaksud melukai hatimu Al..." Ucapnya dengan menatapku lekat.
"Janji ya Mas..., jangan ucapkan lagi..." Balasku yang juga menatap Mas Abi.
"Iya sayang, jangan menangis ya...."
__ADS_1
Mas Abi menghapus air mataku dengan sapu tangannya.
Kami melanjutkan langkah kaki hingga sampai ke parkiran mobil.